Menuju konten utama
Horizon

Merayakan Kegagalan Argentina Menjuarai Piala Dunia

Ada banyak alasan untuk menilai bahwa sudah seharusnya Argentina kalah. Dari soal undian, kontroversi pertandingan, sampai statistik buruk di partai puncak.

Merayakan Kegagalan Argentina Menjuarai Piala Dunia
Bek Argentina bernomor punggung 25, Facundo Medina, dan gelandang Argentina bernomor punggung 20, Alexis Mac Allister, setelah Spanyol memenangkan pertandingan final turnamen sepak bola Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 19 Juli 2026. (Foto oleh Jewel SAMAD / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - "Piala Dunia punya juara yang tepat."

Itu bukan perkataan seorang fans, bukan pula seloroh pemain Spanyol setelah berhasil menjuarai Piala Dunia 2026. Itu adalah ucapan pengomentar resmi siaran laga final World Cup 2026 Spanyol vs Argentina. Celetukan itu keluar saat pertandingan menginjak menit 80'-an.

Terlalu dini sebenarnya bagi seorang pengomentar laga resmi, apalagi laga puncak, terlebih duel final ajang sekaliber Piala Dunia, untuk menyimpulkan sesuatu dan memberatkan salah satu tim. Belum lagi, laga tersebut masih berlangsung sehingga segala hal masih mungkin terjadi.

Namun, penyimpulan yang tampak gegabah itu bukannya tanpa argumen kuat. Perkataan itu terlontar ketika statistik permainan Argentina, yang tertampil di layar pada menit 80'-an, sama sekali buruk.

Lionel Messi dan kawan-kawan tak pernah mencatatkan upaya serius mencetak gol (0 attempts). Mereka hanya memarkir bus di sepertiga wilayah lapangan. Jika ditelusuri lebih jauh, La Albiceleste bahkan tak pernah sekali pun melesakkan tendangan ke arah gawang Unai Simon sepanjang 115 menit.

Kesebelasan besutan Lionel Scaloni hanya menorehkan catatan kualitas peluang gol (expected goals/xG) senilai 0,22 sepanjang pertandingan. Angka tersebut menjadi salah satu yang terburuk sepanjang Piala Dunia 2026 berlangsung.

Mereka layak disejajarkan dengan kompatriotnya dari Amerika Selatan, Paraguay, yang tampil memalukan saat bersua Prancis di babak 16 besar, dengan perolehan xG hanya 0,14.

Paraguay dicemooh habis-habisan seantero dunia persepakbolaan, baik di dunia nyata (melalui pengomentar laga dan para analis) maupun dunia maya (melalui media massa dan media sosial).

Oleh karena itu, sudah selayaknya pula Argentina dirayakan kekalahannya. Toh, ada banyak alasan yang membuat mereka problematik, selain statistik buruk di laga puncak, sebagaimana dijelaskan di atas.

Tidak Ada Lawan yang "Sepadan"

Jalan Argentina melenggang hingga babak semifinal relatif mulus. Sampai menjelang fase empat besar, mereka tidak pernah menghadapi tim berperingkat minimal 18 besar ranking FIFA.

Di fase grup, penghambat terberat mereka mentok ada di ranking 24, yakni Austria. Sementara Aljazair hanya duduk di peringkat 28 FIFA, sedangkan Yordania jauh di bawah (ranking 63).

Memasuki babak 32 besar, Argentina dipertemukan dengan Tanjung Verde, yang secara peringkat bahkan lebih buruk dari Yordania. Namun, skuad yang menduduki ranking 67 FIFA tersebut sudah nyaris berhasil menyingkirkan Argentina. Tim debutan di Piala Dunia 2026 itu kalah tipis 3-2 akibat gol bunuh diri Diney Borges pada ke-111.

Uniknya, tak cuma skuad, publik, dan fans Argentina yang ketar-ketir sepanjang laga melawan Tanjung Verde itu. Presiden FIFA, Gianni Infantino, pun sama. Dalam wawancara mendadak dengan DSports, ia sempat keceplosan mengungkapkan perasaannya yang deg-degan selama pertandingan tersebut.

"Salam hangat untuk seluruh Argentina dan selamat, karena malam ini hatiku...," perkataan tercekal tiba-tiba. Ia seolah menyadari ada yang salah dengan perkataannya, dan karenanya buru-buru ia menyusul perkataan lain dengan koreksi.

"Bahkan bagi kami yang netral dan mendukung kedua tim, yah… Luar biasa,” pungkasnya.

Timnas Argentina

Gelandang Argentina #07 Rodrigo De Paul (kiri) dan gelandang #11 Giovani Lo Celso (kanan) setelah kalah dalam pertandingan final turnamen sepak bola Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 19 Juli 2026. (Foto oleh PATRICIA DE MELO MOREIRA / AFP)

Di babak berikutnya (16 besar), laku Argentina tak jauh beda. Sebagai tim berperingkat pertama di FIFA, mereka bahkan kerepotan menghadapi Mesir (rank 29). Messi dan kawan-kawan bahkan nyaris kalah 2-0, sebelum berhasil membalikkan keadaan jadi 3-2 dengan bumbu kontroversi.

Namun, di fase perempat final, Argentina mencoba membuktikan diri, bahwasanya mereka layak menjadi jagoan di Piala Dunia 2026. Sebagai juara bertahan, mereka seolah tak berpangku tangan dan hanya mengandalkan titel "anak emas FIFA", yang tampil tak meyakinkan dan bahkan kesulitan menghadapi tim ranking bawah.

Bersua Swiss (rank 19), La Albiceleste tampil agresif sejak menit awal hingga berhasil membubuhkan gol pada menit ke-10. Namun, toh, Messi gagal memenangkan duel dengan mudah. Butuh 120 menit persis sebelum mereka berhasil mengalahkan Swiss, bahkan meski tim lawan hanya bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-71.

Barulah sejak babak semifinal Argentina dipertemukan dengan lawan "setara" dari segi peringkat FIFA. Inggris, yang berperingkat 4, berhasil mereka singkirkan dengan skor 1-2, sebelum ditundukkan Spanyol di final dengan skor 1-0. Sama seperti saat kontra Mesir, Argentina menang dengan bumbu. Namun, kali ini bumbunya bukan cuma kontroversi, melainkan statistik buruk.

Bandingkan dengan semifinalis lain. Inggris (rank 4), misalnya, mesti berjibaku dengan finalis edisi 2018, Kroasia (rank 11), sejak babak grup. Di babak 32 besar, mereka juga dihadapkan pada perlawanan tuan rumah sekaligus tim berperingkat 14 FIFA: Meksiko. Spanyol, contoh lainnya, mesti menghadapi "keliaran" kualitas regenerasi Portugal (rank 5) dan Belgia (rank 9) sejak fase gugur. Perjalanan Prancis pun cukup menantang: menghadapi gangguan Haaland di Norwegia serta tim berperingkat 7 FIFA, Maroko.

Akan tetapi, bagaimanapun, itu adalah buah dari plot acak.

Penempatan tim-tim peserta di fase grup Piala Dunia 2026 memang merupakan hasil undian. Tapi, itu hanya sebagian. Sejak awal, FIFA sudah mengatur plotnya.

FIFA telah memilih tim-tim yang bakal mereka undi. Pertama, tim empat besar ranking FIFA dipisahkan agar tak bertemu satu sama lain di awal babak gugur, setidaknya sampai semifinal. Kedua, skuad berperingkat satu dan dua, Argentina dan Spanyol, tidak bisa bertemu kecuali di final. Untuk yang terakhir disebut, FIFA jadi harus menukar posisi Argentina ke Grup J dan menempatkan Prancis di Grup I.

Yang terjadi berikutnya kebetulan sesuai dengan strategi itu. Empat tim unggulan teratas berhasil masuk semifinal—pertama kalinya sepanjang sejarah Piala Dunia. Kesebelasan yang berhasil menembus final adalah tim ranking pertama dan kedua, Argentina dan Spanyol.

Kontroversi saat Melawan Mesir

Di babak 16 besar, Argentina sebenarnya sudah layak kalah. Mesir sudah cukup membuat mereka kerepotan, padahal jarak ranking keduanya terlampau jauh. Gawang Emiliano Martinez bahkan bobol tiga kali selama pertandingan tersebut, meski hanya dua yang disahkan wasit.

Sepanjang laga, Mesir sebenarnya tak berkutik—tentu tak seburuk Argentina di final. Mohamed Salah dan kawan-kawan hanya mampu menguasai 36 persen dari keseluruhan aliran bola. Mereka hanya mengandalkan serangan balik cepat.

Namun, itu sudah cukup efektif jika berhadapan dengan Argentina. Mesir bahkan mampu mengungguli Argentina 1-0 sejak menit ke-15, berkat gol Yasser Ibrahim, hingga menjelang medio babak kedua.

Memasuki menit 57, Argentina masih berusaha menyerang. Bahkan, bek tengah Lisandro Martinez sampai repot-repot membantu serangan hingga memasuki ke wilayah belakang Mesir.

Ketika Martinez berupaya menusuk lewat sisi kanan pertahanan Mesir, Mohamed Hany membayanginya, yang kemudian dibantu oleh gelandang Marwan Ateya.

Bola pun lepas dari Martinez. Ateya mengambilnya, lalu mengoper kepada Haissem Hassan. Dari wilayah dekat titik sepak pojok, pemain sayap Mesir itu menggiring bola hingga memasuki area lawan.

Wasit bergeming. Sejak bola berganti kontrol, ia membiarkan permainan berlangsung, melihat Hassan melewati satu-dua pemain Argentina, dari belakang, ke tengah, menuju wilayah Argentina.

Bola beralih ke kaki Moh Salah. Ketika Martinez enyah dari garis pertahanannya dan banyak rekannya fokus menyerang, wilayah Argentina hanya menyisakan dua orang. Mereka jelas kewalahan menghadapi tiga penyerang Mesir sekaligus.

Wasit masih bergeming. Ia hanya berlari dan mengamati permainan di wilayah belakang Argentina.

Moh Salah mengoper bola. Umpan terobosan melewati dua pemain bertahan Argentina yang tersisa. Mostafa Zico menyambut bola dan melesakkannya ke gawang Emiliano Martinez. Gol tercipta. Skor 2-0 untuk Mesir.

Namun, ketika selebrasi Zico sudah lewat satu menit, wasit memutuskan mengecek Video Assistant Referee (VAR).

Insiden perebutan bola antara Martinez, Hany, dan Ateya, dianggap pelanggaran. Dilihat di video, Ateya memang terlihat tak sengaja menginjak kaki Martinez saat mengejar bola yang lepas dari kaki bek Argentina itu.

Gol Zico dianulir. Mesir tidak jadi unggul 2-0—meski akhirnya pemain tersebut berhasil mewujudkannya lewat gol pada menit ke-67, sebelum dibalikkan oleh Argentina jadi 3-2.

Titik itulah yang jadi kontroversi, bahkan setelah 90 menit laga berakhir.

Beberapa pengamat sepak bola beranggapan bahwa perebutan bola itu tidak layak dinilai sebagai pelanggaran. Sejumlah pandit lain menyatakan sebaliknya.

The Daily Star mengulas, merujuk pada peraturan Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), menginjak kaki lawan atau memegang baju lawan merupakan sebuah pelanggaran.

"Jika pemain penyerang melakukan pelanggaran, termasuk akibat sentuhan tangan dan offside, selama fase penguasaan bola yang sama yang menghasilkan gol, gol tersebut harus dibatalkan," demikian surat kabar tersebut menjelaskan.

Dalam konteks tersebut, Ateya dan Hany, yang merebut bola dari Martinez, bukanlah pemain penyerang, sebagaimana disebut oleh The Daily Star. Ateya baru mengoper bola kepada pemain sayap kanan, Hassan, sebelum ke Moh Salah, ketika bola sudah jauh bergulir ke wilayah pertahanan Argentina.

Fernando Guerrero, wasit asal Meksiko sekaligus pengadil laga final Piala Dunia 2022 (yang dimenangi oleh Argentina), menganggap kejadian itu bukanlah pelanggaran. Kalaupun itu dianggap pelanggaran, menurut dia, semestinya tidak ditinjau sebagai bagian dari fase penguasaan menuju menyerang alias Attacking Possession Phase (APP)—fase yang jadi dalih pemrosesan VAR oleh wasit utama.

"Karena Argentina punya banyak waktu, ruang, dan para pemain bertahan mereka berada di posisi tepat. Mereka punya tiga kesempatan untuk merebut bola dan gagal melakukannya," jelasnya, melalui akun X pribadinya, sebagaimana diwartakan Marca.

Pengamat bola cum legenda kiper Inggris, Rob Green, mengecap secara satire kemenangan Argentina sebagai keberuntungan, bahkan sepanjang pertandingan.

"Itu, 100 yard jauhnya, seseorang menginjak jari kaki orang lain bukanlah alasan VAR diperkenalkan ke dalam pertandingan. Kita sekarang telah sampai pada titik di mana kita telah melampaui wewenang yang seharusnya dimiliki VAR. Wasit melihat tekel tersebut, memutuskan untuk tidak memberikannya, dan Mesir, dengan gol serangan balik yang brilian, telah kehilangan keunggulan dua gol," katanya, menukil dari Fox Sports.

Meski nasi sudah menjadi bubur, Mesir tetap tak terima dengan keputusan itu. Pihak federasi mengadukan wasit asal Prancis yang memimpin laga tersebut, François Letexier, kepada FIFA.

Timnas Argentina

Penyerang Argentina bernomor punggung 17, Giuliano Simeone, setelah kalah dalam pertandingan final turnamen sepak bola Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 19 Juli 2026. AFP/oleh PATRICIA DE MELO MOREIRA

Sanksi yang Seharusnya Dijatuhkan

Ketika untuk pertama kali menghadapi tim papan atas ranking FIFA, yakni Inggris, Argentina malah berulah lagi.

Selepas memenangkan duel kontra The Three Lions dengan skor tipis 2-1, Lionel Messi dan kawan-kawan merayakan di tengah lapangan. Tak hanya provokasi ke pemain lawan dan selebrasi berlebihan, sejumlah pemain La Albiceleste tiba-tiba membentangkan spanduk bernada politik praktis.

Spanduk yang diperoleh dari penggemar di tribun lapangan itu berisi pernyataan tendensius, "Las Malvinas son argentinas (Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina)."

Tindakan para pemain tersebut melanggar kode disiplin FIFA.

Menyitir dari buku panduan Kode Disiplin FIFA (2026: 19), semua asosiasi dan klub anggota wajib bertanggung jawab, serta dapat disanksi disiplin serta arahan meskipun mereka dapat membuktikan tidak adanya kelalaian dalam hal penyelenggaraan pertandingan, atas perilaku tidak pantas yang dilakukan oleh satu atau lebih pendukungnya sebagaimana disebutkan daftar pelanggarannya.

Salah satunya yang termasuk dalam daftar itu adalah "...penggunaan isyarat, kata-kata, benda, atau sarana lain apa pun untuk menyampaikan pesan yang tidak pantas dalam acara olahraga, khususnya pesan yang bersifat politis, ideologis, keagamaan, atau menyinggung."

Mereka seharusnya mendapat sanksi disiplin. Dengan penyelidikan yang dibuka sejak Kamis, atau empat hari sebelum partai puncak, mereka sangat mungkin dihukum lebih dulu sebelum laga kontra Spanyol di final.

Menurut Sports Illustrated, jika Argentina divonis bersalah oleh pengadil, ada dua jenis sanksi yang mungkin dikenakan: bisa jadi denda, tapi sangat mungkin juga skorsing pemain. Semuanya punya preseden.

Terlebih, Argentina punya rekam jejak provokatif yang serupa, meski saat itu pelakunya bukan pesepak bola. Pada 2014, Asosiasi Sepak Bola Argentina didenda sekitar 37 ribu dolar AS lantaran mengibarkan banner serupa di laga kontra Slovenia. Itu artinya, mereka tak pernah belajar dari kesalahan.

Untuk yang pelakunya pemain, hukumannya semestinya berbeda dan lebih cepat, menurut preseden lain.

Pada 2024, Rodri dan Morata dikenai sanksi skorsing satu pertandingan Nations League setelah meneriakkan "Gibraltar adalah Spanyol!" selama perayaan Euro 2020.

Jauh sebelumnya, pada 2012, kasus serupa juga berakibat sanksi skorsing. Pemain tim nasional Korea Selatan, Park Jong-woo, dihukum skorsing selama dua pertandingan internasional. Vonis itu dijatuhkan karena dia menunjukkan spanduk politik serupa, setelah timnya berhasil mengalahkan Jepang di Olimpiade London.

Saat itu, FIFA meneken keputusan dengan cukup cepat. Kompetisi belum selesai, tapi Park Jong-woo sudah dihukum larangan bermain. Hanya saja, karena itu merupakan laga terakhir bagi timnya, ia tidak menjalani skorsing di kompetisi tersebut. Namun, pemain berposisi gelandang itu dilarang mengalungi medali perunggu yang dimenangi timnya. Ia bahkan tak boleh sekadar hadir di upacara pemberian medali.

Berkaca dari kasus-kasus di atas, terutama kasus paling identik yang menimpa Park Jong-woo, semestinya sejumlah pemain Argentina dihukum skorsing. Seharusnya seperti Lisandro Martinez, Cristian Romero, dan termasuk Giovani Lo Celso. Merekalah yang mengibarkan banner provokatif itu secara langsung, terang-terangan di tengah lapangan, tampak jelas oleh kamera.

Namun, untuk kompetisi taraf dunia, Piala Dunia 2026, nyatanya FIFA tak segercep itu. Ketika kompetisinya dibekali berbagai teknologi mutakhir, urusan pelanggaran macam itu FIFA masih kalah dibanding lebih dari satu dekade silam—ketika itu presiden FIFA bukanlah Infantino, melainkan Sepp Blatter.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Fadli Nasrudin

tirto.id - Horizon
Penulis: Fadli Nasrudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi