Menuju konten utama
Horizon

Kegagalan Qatar di Piala Dunia 2026 dan Bayang Dominasi Teluk

Kegagalan Qatar di Piala Dunia 2026 menjadi bahan cemoohan para warganet. Negara ini dianggap "anak emas" AFC sehingga kerap merugikan negara Asia lainnya.

Kegagalan Qatar di Piala Dunia 2026 dan Bayang Dominasi Teluk
Para pemain Qatar berpose untuk foto tim sebelum pertandingan Grup B Piala Dunia FIFA 2026 antara Bosnia-Herzegovina dan Qatar di Seattle Stadium pada 24 Juni 2026 di Seattle, Washington. Stu Forster/Getty Images/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Papan skor akhir di Stadion Lumen Field, Seattle, 24 Juni 2026, cukup menyayat penggawa Timnas Qatar. Datang sebagai juara bertahan Piala Asia dua kali beruntun, mereka pulang lebih cepat dengan catatan suram: tanpa kemenangan, satu hasil imbang, dua kekalahan telak, hanya dua gol hiburan, dan sepuluh kali kebobolan.

Skor telak terjadi di Vancouver, saat tuan rumah Kanada menghancurkan mereka enam gol tanpa balas. Drama terjadi di dunia maya. Media sosial Asia ramai bukan dengan simpati, namun justru menjadi perayaan. Meme sarkastis dan komentar puas membanjiri linimasa. Itu terjadi akibat akumulasi kekecewaan panjang terhadap keistimewaan dan keputusan kontroversial yang selama ini menguntungkan Qatar di bawah AFC (Konfederasi Sepak bola Asia).

Juara Asia menjadi Lumbung Gol

Status sebagai juara Piala Asia 2019 dan 2023 seharusnya membuat Qatar disegani, apalagi kali ini mereka lolos melalui jalur kualifikasi resmi, bukan sebagai tuan rumah seperti 2022. Tergabung di Grup B, Qatar sempat menahan imbang Swiss 1-1 di San Francisco. Gol penalti Breel Embolo nyaris mengakhiri asa mereka, sebelum bek Swiss Miro Muheim mencetak gol bunuh diri di menit tambahan. Hasil ini sempat menumbuhkan harapan, namun lima hari kemudian mereka malah terkoyak.

Di Vancouver, Kanada menghancurkan Qatar 6-0. Jonathan David mencetak trigol, Cyle Larin dan Nathan Saliba menambah derita, ditutup gol bunuh diri Mohammed Manai. Frustrasi membuat Homam Ahmed dan Assim Madibo diusir wasit, meninggalkan Qatar bermain dengan sembilan orang.

Laga terakhir di Seattle melawan Bosnia-Herzegovina menutup penderitaan. Hassan Al-Haydos sempat memperkecil skor, tetapi Kerim Alajbegovic dan Ermin Mahmic memastikan kemenangan 3-1. Qatar pulang sebagai juru kunci grup. Pelatih Julen Lopetegui hanya mampu menyebutnya sebagai pengalaman positif, sebuah alasan klise yang tak menutupi kegagalan.

"Anda tidak tahu kapan Anda akan memiliki kemungkinan lain dalam hidup Anda untuk berada di Piala Dunia," katanya, dikutip Skysports.

Ketika Federasi Sepak bola Qatar mengunggah ucapan terima kasih kepada tim nasionalnya, kolom komentarnya dipenuhi sindiran dan ejekan. Warganet India dan Indonesia paling vokal, dengan meme, GIF lucu, dan komentar seperti "money can't buy skills". Sementara beberapa penggemar Jepang dan Korea yang menyoroti rentannya dominasi artifisial Qatar.

"Sungguh, kalau bukan karena bantuan FIFA, kalian nggak bakal punya tempat di sepak bola," ujar seorang warganet asal Irak.

Meski lolos kualifikasi secara sah, rekam jejak Qatar membuat publik apatis.

Rentetan Kontroversi yang Mengiringi Qatar

Belakangan, tuduhan keberpihakan wasit kepada Qatar berulang kali muncul dalam perbincangan suporter Asia. Tuduhan ini berulang kali menguat lewat insiden-insiden yang membuat emosi dan merugikan tim sepak bola negara anggota AFC lainnya.

Salah satu momen paling menyakitkan terjadi pada 11 Juni 2024, ketika India bertandang ke Doha untuk laga penentuan Kualifikasi Piala Dunia 2026. Gol Lallianzuala Chhangte sempat membuka jalan, tetapi momentum berubah pada menit ke-73. Bola yang jelas telah keluar lapangan ditarik kembali oleh pemain Qatar, lalu disahkan sebagai gol oleh wasit Korea Selatan, Kim Woo-Sung.

Tanpa VAR, keputusan itu tak bisa ditinjau ulang. India akhirnya kalah 1-2 dan mimpi mereka hancur. Pelatih Igor Stimac menyebut gol tersebut "ireguler" dan menuduh wasit merampas kerja keras timnya. Usai pertandingan, pelatih asal Kroasia itu menyatakan, "Qatar beruntung malam ini, terutama karena mereka kembali dari 0-1 dengan gol yang tidak teratur. Saya bisa memastikannya sekarang karena saya sudah melihat tayangan ulangnya. Seluruh bola keluar dari permainan dan gol diberikan. Seharusnya tidak terjadi di sepak bola hari ini."

Kekecewaan serupa menimpa Indonesia di Piala Asia U-23, April 2024. Laga pembuka melawan tuan rumah Qatar berubah jadi parodi. Wasit Tajikistan, Nasrullo Kabirov, menganulir keputusannya sendiri lewat VAR untuk memberi penalti kepada Qatar. Di babak kedua, Ivar Jenner diusir karena kartu kuning kedua meski tayangan ulang menunjukkan minim kontak.

Sebaliknya, tekel keras Saifeldeen Fadlalla hanya diganjar kartu kuning. Pelatih Shin Tae-yong menyebut pertandingan itu bukan sepak bola profesional, melainkan komedi menjijikkan.

"Para penggemar menyaksikan pertandingan ini melalui televisi. Jika Anda memakai wasit seperti ini, kalau di Indonesia, itu akan dianggap Anda ingin membuat lelucon. Pelatih juga punya mata, melihat dari bench sepanjang pertandingan," ujar STY.

Pada turnamen yang sama, Jordania juga memprotes kepemimpinan wasit saat menghadapi Qatar karena gol penentu kemenangan lahir setelah masa tambahan waktu yang diperdebatkan. Netizen pun menyerbu akun wasit dan penyelenggara. Ada narasi kuat bahwa melawan Qatar berarti menghadapi lebih dari sebelas pemain.

Penunjukan Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia juga memicu kecurigaan. Keputusan AFC diduga janggal karena berlangsung di kandang negara yang juga ikut bertanding, bukan di venue netral.

Indonesia, Irak, Oman, dan Uni Emirat Arab sempat meminta transparansi serta opsi lokasi netral, tetapi permintaan itu diabaikan. Situasi makin sensitif karena Qatar dan Arab Saudi mendapat jeda pertandingan lebih panjang dibanding lawan-lawannya.

"Kami bermain melawan Qatar dan kami bermain lagi tiga hari kemudian, Qatar bermain enam hari setelahnya, dan mereka sudah mengetahui hasilnya dan apa yang perlu mereka lakukan," ketus pelatih Oman, Carlos Queiroz, kepada The Guardian.

Dari titik ini, tuduhan lama kembali mencuat. Qatar sudah lama dikaitkan dengan praktik sportswashing lewat investasi besar di sepak bola dan penyelenggaraan turnamen internasional. Paul Michael Brannagan dan Danyel Reiche lewat Qatar and the 2022 FIFA World Cup: Politics, Controversy, Change (2023) berpendapat bahwa negara-negara Teluk menggunakan mega-event olahraga sebagai instrumen diplomasi, diversifikasi ekonomi, dan pembentukan citra internasional. Hal ini bukan berarti setiap kemenangan di lapangan merupakan hasil intervensi politik, tetapi olahraga memang menjadi alat kebijakan luar negeri.

Kecurigaan itu bertemu dengan rasa jengkel atas dominasi negara-negara Teluk dalam kalender, lokasi turnamen, dan politik AFC. Semuanya menjadi contoh yang terus diingat publik.

Krisis AFC dan Masa Depan Sepak Bola Asia

Menjelang akhir 2025, kritik terhadap dominasi Qatar dan Arab Saudi di tubuh AFC semakin tajam. Isu keluarnya Jepang dari AFC dan wacana pembentukan konfederasi sepak bola Asia Timur sempat beredar, meski belum menjadi sikap resmi federasi Jepang (JFA). Narasi itu lebih tepat dibaca sebagai cerminan frustrasi publik dan media terhadap tata kelola sepak bola Asia yang dianggap timpang.

Salah satu pemicu utama adalah format baru AFC Champions League Elite. AFC menunjuk Arab Saudi sebagai tuan rumah babak akhir musim 2024/25 dan 2025/26, sehingga perempat final hingga final digelar terpusat di Jeddah. Klub-klub Asia Timur dari Jepang, Korea, dan China, harus menempuh perjalanan panjang, kehilangan keuntungan laga kandang, sementara klub Saudi mendapatkan keuntungan psikologis sebagai tuan rumah.

Final 2025 memperkuat keresahan itu. Kawasaki Frontale kalah 0-2 dari Al-Ahli di King Abdullah Sports City, Jeddah, di hadapan puluhan ribu pendukung tuan rumah. Hasil itu sah secara regulasi, namun dari sisi politik sepak bola, laga tersebut menjadi janggal. Kompetisi yang disebut elite, namun lokasi pertandingan menguntungkan pihak yang berada di sekitar Teluk.

Kritik terhadap AFC kini semakin menguat. Penunjukan tuan rumah, format kompetisi, hingga distribusi keuntungan menjadi sorotan banyak federasi dan suporter. Di mata para pengkritiknya, rangkaian keputusan tersebut memperlihatkan perlunya tata kelola yang lebih terbuka agar kepercayaan publik tidak terus terkikis.

Dalam konteks itu, kegagalan Qatar—termasuk Arab Saudi—di Piala Dunia 2026 memberi ironi tersendiri. Investasi besar, infrastruktur megah, dan pengaruh yang luas di sepak bola Asia tidak otomatis menjamin keberhasilan di lapangan. Bagi sebagian kalangan, hasil tersebut memperkuat pandangan bahwa prestasi tetap ditentukan oleh kualitas permainan, bukan besarnya "sumber daya" di luar pertandingan--yang selama ini dicurigai publik.

Ke depan, tantangan terbesar AFC adalah memulihkan kepercayaan. Transparansi dalam pengambilan keputusan, mekanisme penunjukan tuan rumah yang lebih akuntabel, serta perlakuan yang setara bagi seluruh anggota akan menjadi ujian penting bagi kredibilitas konfederasi.

Selama AFC belum mampu menjawab keraguan itu melalui keputusan yang lebih transparan dan konsisten, setiap kontroversi akan terus dibaca melalui kacamata yang sama. Dalam sepak bola, kepercayaan adalah modal yang sama pentingnya dengan regulasi.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi