tirto.id - Pelan tapi pasti, Timnas Brasil mulai diperhitungkan di Piala Dunia 2026. Setelah tampil seperti kurang darah pada pertandingan pembuka menghadapi Maroko, tim asuhan Carlo Ancelotti itu berbenah dan sukses memenangi dua laga berikutnya dengan skor meyakinkan. Haiti dan Skotlandia sama-sama mereka empaskan dengan skor 3-0.
Tentu perubahan tersebut tidak datang tiba-tiba. Ada perubahan fundamental yang dilakukan Ancelotti dalam menentukan sebelas awalnya. Bek tengah Roger Ibanez yang dipaksa main jadi bek kanan pada laga kontra Maroko akhirnya ditepikan dan digantikan bek kanan kawakan Danilo. Di depan, Igor Thiago yang acap terisolasi saat melawan Maroko juga akhirnya diistirahatkan dan posisinya diisi oleh Matheus Cunha yang lebih rajin bergerak.
Pakem dasar Brasil pun lantas berubah. Dari 4-2-3-1 yang rigid menjadi 4-3-3 yang lebih luwes. Pemilihan pemain Ancelotti pada pertandingan melawan Skotlandia, Kamis (25/6/2026) pagi WIB, juga layak diacungi jempol. Untuk menggantikan Raphinha yang harus absen karena cedera, pelatih asal Italia itu memilih bintang muda Rayan sebagai starter. Penyerang sayap Bournemouth itu pun tampil agresif, termasuk dalam melakukan aksi-aksi defensif di area pertahanan lawan, hingga akhirnya sukses menorehkan satu assist untuk Vinicius Junior.
Dua kemenangan beruntun itu membuat Brasil berhak melenggang ke babak 32 besar. Dan perjalanan mereka yang sesungguhnya bisa dibilang baru saja dimulai. Meski meraih dua kemenangan telak, Haiti dan Skotlandia bukan lawan sepadan bagi Brasil. Haiti sebelumnya baru sekali tampil di putaran final Piala Dunia, itu pun pada 1974. Sedangkan bagi The Tartan Army, ini adalah putaran final Piala Dunia pertama mereka setelah 28 tahun. Saat melawan Maroko yang merupakan semifinalis Piala Dunia 2022, Brasil pun kesulitan. Jadi, meski berhasil bangkit, memang masih terlalu dini untuk menyandingkan Selecao dengan unggulan-unggulan lain macam Argentina, Prancis, Spanyol, atau Jerman.
Tapi, terlepas dari itu, bukan berarti kebangkitan Brasil tak bisa diapresiasi. Sebab, perbaikan hasil yang mereka tunjukkan tadi jelas-jelas berasal dari perubahan pendekatan, mulai dari soal pemilihan pemain sampai cara bermain. Dan usut punya usut, untuk menentukan itu semua, Brasil punya senjata rahasia. Wujudnya bukan dalam sosok Neymar Junior yang akhirnya bisa tampil lagi di Timnas, bukan Ancelotti yang punya koleksi lima trofi Liga Champions, bukan pula para legenda macam Claudio Taffarel dan Juan yang juga terlibat di dalam tim.
Senjata rahasia Timnas Brasil itu adalah rompi pintar.
Merekam Kapasitas Pemain dengan Rompi Pintar
Sejak sebelum turnamen dimulai kita sudah dijejali berbagai informasi soal betapa hebatnya teknologi yang digunakan di Piala Dunia 2026.
FIFA, bekerja sama dengan Lenovo selaku Official Technology Partner, memperkenalkan serangkaian inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) di turnamen ini. Mulai dari Football AI Pro yang membantu staf pelatih menganalisis data taktis secara instan, avatar pemain 3D bertenaga AI untuk mendukung keputusan offside yang lebih akurat, hingga teknologi Referee View yang mampu mengurangi distorsi gambar kamera wasit hingga 50 persen. Di luar lapangan, ada pula Intelligent Command Center yang memantau seluruh operasional di 16 kota tuan rumah secara real-time.
Penggunaan teknologi canggih pun dilakukan oleh tim-tim peserta, termasuk Brasil. Sebagai wujud persiapan pra-turnamen, Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) sudah menyiapkan infrastruktur yang luar biasa detail untuk para pemainnya.
Harian O Globo melaporkan, selama hampir 40 hari Piala Dunia, para pemain Brasil akan dipantau menggunakan pemindai dan sensor untuk memperluas monitoring fisik mereka selama pertandingan. CBF juga menyewa koki khusus untuk menu makanan berimbang, menyusun manual perilaku internal yang mengatur penggunaan ponsel dan media sosial, serta menyiapkan sistem keamanan berlapis di hotel dan pusat latihan mereka di New Jersey.
Satu detail menarik lain dari laporan O Globo, sejak skuad final berisikan 26 pemain ditentukan, para pemain Brasil sudah menggunakan alas kaki yang dikembangkan berbasis neurosains, yaitu Nike Mind 001. Menurut klaim Nike, sepatu ini dirancang dengan 22 foam nodes pada solnya yang bergerak saat pemakainya melangkah, lantas mengaktifkan ribuan ujung saraf di telapak kaki untuk meningkatkan fokus dan kesadaran tubuh atlet.
Di antara semua itu, yang paling menyita perhatian media adalah penggunaan rompi pintar. Perangkat ini tampilannya mirip rompi kompresi atau bra olahraga dan dikenakan di balik jersey sehingga tidak terlihat dari luar lapangan. Tapi, di dalamnya tersimpan pod kecil yang memuat GPS, akselerometer, dan magnetometer. Baterainya mampu bertahan selama tujuh jam dan perangkat ini juga sanggup menyimpan 1.250 jam data.
Metrik yang dikumpulkan mencakup kecepatan lari, jarak tempuh, jumlah dan jarak sprint, tingkat kelelahan, hingga apa yang disebut "player load", yaitu ukuran total tekanan fisik yang dialami tubuh pemain selama satu sesi. Teknologi ini bukan cuma dipakai saat latihan, melainkan juga dikenakan dalam setiap pertandingan untuk memberikan data langsung yang membantu staf pelatih memutuskan siapa yang paling oke performanya, siapa yang kelelahan, dan siapa yang kira-kira bisa dijadikan pengganti.

Brasil mengintegrasikan sistem ini secara menyeluruh ke dalam seluruh ekosistem sepak bola mereka, mulai dari tim putra, putri, hingga tim junior. Setiap klub yang memiliki pemain timnas pun diwajibkan mengirim data latihan dan pertandingan ke departemen ilmu olahraga tim nasional setiap harinya. Ini penting karena pemain Brasil tersebar di berbagai liga dan benua, dan staf pelatih timnas hanya punya waktu terbatas bersama mereka.
Guilherme Passos, kepala ilmu olahraga Timnas Brasil, menjelaskan, "Setiap harinya, ketika kami tidak bersama para pemain, kami berkomunikasi dengan klub-klub dan mereka mengirimkan data pemain dari sistem pelacak, sehingga mudah bagi kami untuk terus mengumpulkan data dan menganalisis pemain meski mereka tidak bersama kami."
Teknologi pelacak semacam ini sebenarnya bukan monopoli Brasil. FIFA sudah mengizinkan penggunaan sistem rompi GPS dalam pertandingan resmi sejak 2015, dan sebagian besar dari 48 tim di Piala Dunia 2026 menggunakan perangkat serupa dari produsen seperti Catapult dan STATSports. Yang membedakan Brasil adalah kedalaman dan konsistensi integrasinya: data dikumpulkan sepanjang musim, bukan hanya saat pemain berkumpul di kamp timnas.
Salah satu aplikasi paling krusial dari sistem ini adalah pemantauan rehabilitasi cedera hamstring, masalah yang kerap menghantui pesepak bola kelas dunia. Dengan melacak metrik seperti frekuensi dan intensitas lari kecepatan tinggi, tim ilmu olahraga dapat menilai apakah otot seorang pemain sudah pulih dengan aman sebelum mereka diturunkan. Data juga memengaruhi keputusan taktis. Pemain berkecepatan tinggi, misalnya, lebih cocok ditempatkan dalam sistem yang mengandalkan serangan balik.
Pemilihan Pemain Tak hanya Soal Fisik
Namun, bagian paling menarik dari cerita rompi pintar ini justru bukan tentang apa yang berhasil diungkapkan datanya, melainkan tentang batasannya. Passos menceritakan satu contoh yang sangat berkesan bagi dirinya dan tim. Suatu kali, data pelacak menunjukkan seorang pemain hanya menempuh sekitar enam kilometer per pertandingan, sementara rekan-rekan setimnya rata-rata berlari hampir dua kali lipat jarak itu. Dilihat dari angka semata, pemain itu tampak seperti tidak bekerja keras.
Namun, ketika para pelatih meninjau rekaman video, mereka menemukan sesuatu yang sama sekali berbeda. "Pemain ini selalu berada di posisi yang tepat dengan pemahaman taktis sempurna. Dia pemain yang sangat efisien," kata Passos. Identitas pemain itu sendiri sampai sekarang tidak pernah dibocorkan.
Ini berarti, sepak bola tidak hanya bisa diukur dari satu metrik belaka. Perlu konteks untuk menjelaskan mengapa suatu hal bisa terjadi. Pemain dengan data fisik paling mengesankan belum tentu pilihan tepat untuk sistem permainan tertentu. Penempatan posisi yang cerdas, pengambilan keputusan yang tepat, dan kepemimpinan di lapangan jauh lebih berharga dari kecepatan sprint atau jarak tempuh sepanjang laga.
Passos juga menegaskan bahwa faktor psikologi tidak bisa diabaikan oleh data mana pun. "Terkadang kami bisa mendapatkan data fisik yang sangat bagus dari seorang pemain. Tapi pelatih memilih untuk tidak memilihnya karena secara teknis dan mental ia tidak yakin pemain itu bisa tampil di bawah gaya bermainnya," ungkapnya.
Di sinilah kemudian penggunaan rompi pintar itu jadi sangat menarik. Ia mengajarkan secara gamblang bahwa data tidak boleh ditelan mentah-mentah begitu saja. Justru, ada baiknya kadang data tertentu diabaikan karena ada faktor-faktor lain yang lebih krusial. Dengan kata lain, lewat rompi ini, teknologi menemukan batasannya. Suatu perangkat hanya akan membantu apabila penggunanya tahu persis cara memanfaatkannya.
Sejauh ini, perjalanan Brasil bisa dibilang sudah cukup baik. Akan tetapi, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, perang sesungguhnya baru akan dimulai pada fase knock-out. Apakah senjata rahasia Brasil ini nantinya bisa akan menjadi penentu? Mari kita lihat dan tunggu kiprah mereka selanjutnya.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id































