tirto.id - Kacamata pintar Meta (Ray-Ban Meta Smart Glasses atau Meta Glasses) menawarkan banyak fitur kecanggihan teknologi terkini. Sayangnya, kecanggihan itu justru rawan disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak semestinya.
Dengan kacamata pintar Meta, seseorang dapat merekam, memotret, dan melakukan live streaming tanpa perlu memegang ponsel. Kacamata ini juga telah terintegrasi dengan platform sosial media milik Meta.
Bentuk Meta Glass seperti kacamata biasa yang membuat orang tidak sadar bahwa sebenarnya sedang direkam menggunakan kacamata pintar yang dilengkapi dengan fitur artificial intelligence (AI) tersebut.
Ada yang membuat konten dengan merekam secara diam-diam, tanpa izin, lalu diunggah di media sosial untuk menarik followers. Tak sedikit konten seperti ini yang menjurus kepada pelecehan dan mengganggu privasi serta mengancam kenyamanan di ruang publik
Canggihnya Kacamata Pintar Meta Glasses
Meta Glasses adalah kacamata pintar yang dilengkapi teknologi terintegrasi secara tersembunyi. Alat bertenaga AI Meta ini menggabungkan kinerja, konektivitas, dan kenyamanan bertemu jadi satu. Tak heran jika Meta Glasses kini semakin populer.
Sekilas, kacamata ini terlihat seperti kacamata hitam atau kacamata biasa. Namun, di dalamnya terdapat speaker kecil, mikrofon, kamera sudut pandang (POV), konektivitas bluetooth, tahan air, dan layar kecil yang berada di bidang pandang pengguna.
Melalui kacamata pintar Meta, pengguna dapat terhubung untuk menerima panggilan, pesan, dan notifikasi dari aplikasi seperti WhatsApp, Messenger, Instagram, dan Facebook Live. Di saat yang sama, pengguna juga dapat menjawabnya dengan perintah suara sederhana.
Melansir laman resmi Meta, pengguna juga dapat menikmati musik, podcast, atau panggilan melalui speaker tersembunyi di dalam bingkai. Adanya kamera di kacamata pintar Meta, tentu memungkinkan pengguna untuk mengabadikan foto atau video yang ada di depannya melalui lensa tersebut.

Melalui kamera yang tersemat di kacamata pintar, seseorang dapat dengan mudah merekam cerita dari perspektif sendiri melalui kamera ultra-wide 12MP bawaan, menghasilkan foto yang tajam dan video POV 3K berkualitas tinggi yang halus dan lebih tajam dengan fitur baru seperti hyperlapse dan slow motion.
Dengan kacamata pintar ini, pengguna dapat menikmati pemandangan menakjubkan saat mendaki atau menikmati pameran seni yang sama epiknya dengan aslinya.
Meta Glasses versi terbaru telah didukung oleh Platform Qualcomm Snapdragon AR1 Gen1 yang memungkinkan pemrosesan foto dan video berkualitas lebih tinggi dan komputasi yang lebih cepat.
Pengguna Meta Glasses dapat langsung berbagi foto ke teman dan keluarga dari kacamata dengan perintah suara sederhana "kirim foto". Tak heran jika banyak konten kreator yang menggunakan kacamata pintar Meta yang lebih praktis.
Sebagai contoh, seseorang yang menggunakan Meta Glasses di pesta ulang tahun dapat dengan mudah mengabadikan potret kegembiraan yang ada di depan mata.
Melalui kacamata ini, pengguna mengabadikan kenangan dari sudut pandang, sambil tetap membebaskan tangan tanpa perlu repot mencari ponsel, dan menyantap hidangan atau mengawasi anak.
Dengan perintah suara sederhana, Meta AI dapat menyarankan tempat-tempat terdekat yang sesuai dengan konten serupa atau adegan yang ingin Anda buat.
Secara sederhana, kacamata pintar Meta menjadi perpanjangan dari ponsel seseorang. Melalui kacamata pintar Meta, pengguna dapat bergaya lebih nyaman dengan tetap terhubung kebutuhan sehar-hari.
Adapun spesifikasi kacamata pintar Meta memiliki daya tahan baterai hingga 8 jam. Apabila dipasangkan dengan wadah pengisian daya portabelnya terdapat dukungan penggunaan tambahan hingga 40 jam.
Kacamata pintar ini diproduksi oleh Meta bersama produsen kacamata EssilorLuxottica. Pada 31 Maret 2026, Meta memperkenalkan kacamata pintar Ray-Ban Meta terbarunya.
Dikutip dari laman resmi Meta, Ray-Ban Meta keluaran terbaru memiliki audio dan kamera yang lebih baik. Lebih dari 150 kombinasi bingkai dan lensa yang berbeda dapat dimanfaatkan pengguna. Kacamata pintar Meta kali ini lebih ringan dan nyaman.
Pembaruan fitur tersebut bertujuan untuk mendukung pemakaian sepanjang hari dengan lebih baik, Fitur ergonomis seperti engsel yang dapat diperpanjang, bantalan hidung yang dapat diganti, dan ujung gagang yang dapat disesuaikan oleh ahli optik membantu menjadikan gaya Ray-Ban Meta terbaru ini mudah beradaptasi dengan bentuk wajah individu.
Melalui kacamata pintar Ray-Ban Meta terbaru, pengguna dapat melakukan siaran langsung dari kacamata ke Facebook atau Instagram dengan bantuan Meta AI. Selama siaran langsung, pengguna dapat melihat komentar dan mendengarnya dengan lantang lalu berinteraksi dengan komunitas tersebut.
Harga kacamata pintar Meta keluaran terbaru ini dibanderol mulai dari $499 USD atau setara dengan Rp8,9 juta yang tersedia di beberapa pasar internasional mulai 14 April 2026.
Kacamata versi terbaru dapat mempermudah pelacakan nutrisi yang masuk dalam tubuh. Melalui perintah suara sederhana atau foto cepat, pengguna dapat mencatat apa yang dimakan tanpa menggunakan tangan. Di waktu yang sama, Meta AI akan mengekstrak detail nutrisi penting dan menambahkannya ke catatan makanan di aplikasi Meta AI.
Widget yang baru kini mudah dilihat dengan menempatkan informasi yang paling sering seperti pengingat, cuaca, saham, dan kalender yang dapat mucul langsung di layar. Terbaru berikutnya yaitu memperluas fitur terjemahan langsung ke 20 bahasa, termasuk bahasa Mandarin, Korea, Jepang, dan Arab.
Hadir dengan casing pengisian daya berwarna coklat tua yang didesain ulang dan ramping, yang dapat menyimpan baterai hingga 36 jam penggunaan sekaligus. Secara bentuk, kacamata pintar Ray-Ban Meta terbaru hadir dengan tampilan retro bergaya Wayfarer.
Versi terbaru ini hadir dalam dua bingkai. Pertama, desain persegi panjang atau Blayzer Optics yang tersedia dalam ukuran standar dan besar. Kedua, bingkai scriber optics yang lebih bulat ringan dan ramping.
Kecanggihan Teknologi yang Disalahgunakan
Kecanggihan teknologi yang ditawarkan Meta justru disalahgunakan untuk merekam tanpa izin, termasuk untuk sarana membuat konten di sosial media. Ini dapat memicu kekhawatiran dan ketidaknyamanan publik serta ancaman hilangnya privasi di ruang terbuka.
Salah satu contoh yang paling anyar adalah kejadian yang menimpa seorang usher dalam perhelatan pameran mobil GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten.
Melalui akun Threads pribadinya @leonnyluhendo pada 31 Juli 2026, usher tersebut mengungkapkan bahwa ia telah menjadi objek dalam sebuah konten tanpa mengetahui adanya proses perekaman.
Cerita berawal ketika Leonny didatangi oleh dua konten kreator yang bertanya tentang spesifikasi mobil di booth tersebut. Leonny kemudian menjelaskan spesifikasi dan informasi mengenai mobil tersebut sebagai bagian dari tugasnya sebagai usher.
Setelah itu, konten kreator memuji kemampuannya dalam menjelaskan produk. Konten kreator itu juga bertanya tentang identitas pribadi termasuk nama dan usia dan dijawab oleh usher secara sopan.
Menurut Leonny, saat itu ia mengira kamera hanya digunakan untuk mengambil gambar suasana booth atau kendaraan yang sedang dipamerkan, sesuatu yang menurutnya masih diperbolehkan dalam area pameran.
Namun, beberapa waktu kemudian, pemilik akun ini justru mendapati video yang memuat dirinya sebagai objek dengan narasi "cara deketin cewe di pameran".
Dalam unggahannya, Leonny menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah memberikan persetujuan untuk dijadikan objek utama konten. Ia juga mengaku tidak diberi informasi sebelumnya mengenai konsep video yang dibuat, termasuk penggunaan kamera tersembunyi yang disebut berada pada kacamata milik kreator konten.
Merasa tidak nyaman dengan konten itu, Leonny kemudian menghubungi kreator untuk meminta agar video itu ditarik dari sosial media. Permintaan itu sempat ditolak oleh oknum kreator konten dengan alasan direkam di ruang publik. Leonny juga menyebut teman-temannya sempat diminta membayar sejumlah uang apabila ingin video tidak dipublikasikan.
"Bahkan teman aku sesama usher yang meminta mereka untuk tidak mempost video mereka malah DIMINTAI SEJUMLAH UANG (pemerasan kah?). Kita tidak meminta dikontenin, bahkan dri awal kita tidak tau kita dijadikan object konten oleh mereka, kenapa kita yang harus bayar biaya cost mereka? Beginikah cara mereka mencari uang?" tulis akun @leonnyluhendo di Threads.
Setelah ramai menjadi perbincangan publik, usher tersebut mengabarkan bahwa video dirinya telah diturunkan. Belakangan, kreator konten ini diketahui bernama Emanuel Bryan alias Ebe Martono.
Melalui akun instagram pribadinya @ebemartono, pada 3 Agustus 2026, Ebe Martono kemudian menyampaikan permintaan maaf atas tindakan yang dinilai telah menimbulkan kerugian atau ketidaknyamanan bagi sejumlah pihak.
"Sebelumnya saya Bryan, saya ingin minta maaf atas semua kesalahan yang timbul dari kelakuan saya. Saya tidak membenarkan, saya hanya meminta maaf atas semua pihak yang merasa dirugikan," ucapnya.
Menurut pengakuan Bryan alias Ebe Martono, konsep video yang ia bikin adalah iseng mengajak kenalan dengan orang tanpa punya niat negatif.

Penyalahgunaan teknologi ini ternyata juga menjadi perhatian DPR-RI. Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, menegaskan bahwa tindakan merekam seseorang tanpa izin lalu menjadikannya materi konten untuk mengejar popularitas maupun kepentingan komersial tidak hanya berkaitan dengan persoalan etika, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan hukum.
Menurut Habiburokhman, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @habiburokhmanjkttimur, ruang publik seharusnya tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua orang, termasuk para pekerja yang sedang menjalankan tugas profesionalnya.
“Korban dapat menuntut si pelaku perekaman dan penyebarluasan rekaman tanpa izin. Dasarnya antara lain pasal 12 dan pasal 115 UU Hak Cipta,” kata Habiburokhman.
Di sisi lain, Meta ternyata juga tersangkut persoalan terkait produknya itu. Awal tahun ini, Meta disebut-sebut dalam gugatan di Kenya. Tuduhannya, momen-momen intim yang direkam oleh pengguna kacamata pintar dilihat oleh pekerja yang meninjau materi tersebut untuk membantu melatih model AI Meta.
“Orang-orang berganti pakaian, menggunakan kamar mandi, melakukan aktivitas seksual, menangani informasi keuangan, dan melakukan aktivitas pribadi lainnya di dalam rumah mereka yang tidak akan pernah diharapkan oleh konsumen yang wajar untuk ditonton oleh orang asing,” demikian bunyi gugatan, dikutip dari laman Fortune, Sabtu (11/7/2026).
Foto dan video yang diambil oleh pengguna tetap bersifat pribadi kecuali mereka memilih untuk membagikannya. Namun, ketika konten tersebut dibagikan dengan Meta AI, perusahaan seharusnya dapat meninjaunya untuk meningkatkan keamanan produk. Misalnya dengan memilah konten untuk melindungi privasi dan menghapus informasi identitas.
Keamanan Perangkat dan Respons Tegas Meta
Menanggapi sejumlah penyalahgunaan penggunaan kacamata pintarnya, Meta tengah menguji prototipe untuk melindungi privasi. Perusahaan ini menambahkan fitur privasi dan keamanan pada kacamata AI-nya. Melalui kacamata pintar ini, seseorang dapat dengan mudah merekam orang lain.
Dalam konsepnya, Meta melengkapi kacamata pintar dengan lampu LED perekam. Fitur standar pada lini kacamata pintar akan menyala saat proses perekaman berlangsung.
“Pendekatan kami adalah mengembangkan teknologi baru yang akan membantu orang sepanjang hari dengan privasi yang dibangun sejak awal," kata juru bicara Meta, El-Kassaby, dikutip dari Fortune, Sabtu (11/7/2026).
"Meskipun kami tidak berkomentar tentang prototipe internal, kami berkomitmen untuk membuat kacamata kami tepat karena kacamata tersebut perlu disukai oleh orang yang memakainya dan orang-orang di sekitarnya,” imbuhnya.
Bentuk kacamata pintar Meta yang kecil membuatnya luput dari perhatian banyak orang. Tak sedikit pula orang yang tidak memahami arti lampu tersebut.
Bukan hanya itu, ada pengguna yang dengan sengaja menutupi lampu indikator tersebut dengan selotip, lapisan film, bahkan melubangi bagian tertentu agar lampu tidak terlihat saat proses perekaman berlangsung. Hal ini memungkinkan pengguna untuk merekam dengan kacamata pintar tanpa menyalakan lampu indikator.
Fitur keamanan ini otomatis beroperasi jika perangkat mendeteksi LED yang menyala selama perekaman telah dirusak, dimanipulasi, atau dihancurkan pengguna. Secara otomatis, Meta akan menonaktifkan kacamata ketika LED tertutup.
Meta juga menghapus daftar marketplace dan Facebook bagi orang yang menawarkan jasa menonaktifkan LED pada kacamata. Laporan Engadget, Kamis (23/7/2026) menyebutkan bahwa Instagram kini melarang pengguna yang membuat konten secara diam-diam dengan kacamata Meta.

Instagram menemukan sejumlah oknum kreator konten mulai menggunakan kacamata Meta untuk merekam orang tanpa persetujuan. Banyak kreator konten arogan yang melakukan lelucon pada pekerja layanan, sambil diam-diam merekam semuanya dengan kacamata Meta atau produk serupa. Bahkan, banyak dari rekaman ini yang mendekati pelecehan.
"Jika Anda memposting konten yang memanfaatkan orang dan melecehkan mereka, seperti banyak video rayuan yang telah kami dengar dan lihat, maka kami akan menghapus konten tersebut," kata Kepala Instagram Adam Mosseri saat menanggapi pertanyaan di Instagram Story-nya, dikutip dari Business Insider, Kamis (23/7/2026).
"Kami tidak ingin orang-orang diam-diam merekam video orang lain dan melecehkan mereka lalu mengunggahnya di platform kami. Jadi kami mencoba memerangi hal itu dengan segala cara yang kami bisa," lanjutnya.
Sejak larangan ini berlaku, Instagram telah menghapus banyak video yang direkam secara diam-diam menggunakan kacamata pintar. Setidaknya ada dua akun besar lebih dari 1 juta pengikut milik para "pick-up artist" yang merekam diri mereka sendiri mendekati wanita di tempat umum sambil mengenakan kacamata tersebut telah dinonaktifkan.
Akun-akun ini dihapus karena melanggar kebijakan tentang memposting konten pelecehan yang telah direkam dengan kacamata tersebut. Kondisi ini membuat kacamata pintar Meta mendapat julukan negatif seperti "kacamata mesum" (pervert glasses) dan "kacamata predator" (predator glasses).
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id


































