Menuju konten utama
Byte

Influencer Virtual Minggir Dulu, Waktunya Robot Beraksi

Sudah satu dekade sejak kemunculan pemengaruh virtual pertama di dunia. Kini, "inovasi" baru telah lahir: pemengaruh robot, yang benar-benar punya tubuh.

Influencer Virtual Minggir Dulu, Waktunya Robot Beraksi
ilustrasi robot pemengaruh. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemengaruh (influencer) telah hadir dalam berbagai wajah, rupa, dan bentuk. Dalam sejarah panjang industri "manipulasi pola konsumsi" seperti sekarang, manusia hampir selalu jadi pemain utama. Mulai dari Josiah Wedgwood dari abad ke-18, yang perangkat minum tehnya laris manis usai membawa nama Kerajaan Inggris dalam promosinya, hingga Tasya Farasya, yang begitu berpengaruh dalam ceruk kecantikan di Indonesia, manusia selalu jadi pemengaruh tersukses.

Namun, bukan berarti manusia adalah satu-satunya pemain dalam industri pemengaruh. Hewan pun dapat menyandang status serupa. Salah satunya JiffPom, anjing jenis Pomeranian yang punya 8,5 juta pengikut di Instagram dan telah mempromosikan berbagai produk, mulai dari makanan anjing sampai gim video.

Belakangan, seiring dengan makin berkembangnya teknologi, jenis pemengaruh makin pun bertambah. Lil Miquela atau Miquela, misalnya. Karakter rekaan yang lahir sebagai produk CGI pada 2016 tersebut telah menjalin kerja sama dengan berbagai jenama besar, termasuk Calvin Klein dan Prada. Ia juga telah berkolaborasi dengan sejumlah selebritas papan atas, seperti Bella Hadid dan Millie Bobby Brown.

Kini, karakter seperti Miquela sudah menjamur seiring dengan makin aksesibelnya AI. Akan tetapi, karakter-karakter seperti itu bukanlah bentuk terakhir dari evolusi wujud pemengaruh.

Pada 2026, telah muncul pemengaruh baru dengan wujud lebih mencengangkan. Namanya Edward Warchocki, dan ia merupakan sebuah robot.

Robot Pemengaruh Pertama di Dunia

Edward adalah unit robot humanoid G1 buatan Unitree, perusahaan asal Hangzhou, Cina. Tingginya 132 sentimeter dengan bobot kurang lebih 35 kilogram, seukuran anak usia 8-10 tahun. Seperti dikisahkan oleh Wired, ia dibawa ke Polandia oleh dua pengusaha muda, Radosław Grzelaczyk dan Bartosz Idzik, yang sebelumnya membangun karier di dunia kripto lewat platform bitcoin.pl.

Semuanya bermula ketika Grzelaczyk mengikuti pelatihan robotika di Cina pada 2025. Sepulangnya dari sana, dia membeli sebuah unit G1 yang tadinya cuma diperuntukkan sebagai bahan percobaan.

Awalnya, robot G1 yang dibeli Grzelaczyk tidak mampu berbicara. Namun, itu semua kemudian diubah oleh Idzik, yang berlatar belakang keilmuan soal pengembangan piranti lunak. Olehnya, robot G1 tersebut disambungkan ke model bahasa besar (LLM) agar bisa bercakap-cakap dalam Bahasa Polandia.

 ilustrasi robot pemengaruh

ilustrasi robot pemengaruh. foto/istockphoto

Setelah bisa bicara, robot yang kemudian diberi nama Edward itu langsung dibiarkan beraksi. Video pertama sang robo-fluencer diunggah pada 21 Februari 2026, memperlihatkan dirinya memesan makanan di gerai McDonald's di Warsawa, ibu kota Polandia.

Hasilnya, hanya dalam kurun kurang lebih satu setengah bulan, video-video Edward telah ditonton lebih dari 1,5 miliar kali. Kini, jumlah pengikut akun Instagram miliknya sudah mencapai 258 ribu.

Namun, video yang benar-benar melambungkan nama Edward adalah ketika ia mengejar sekawanan babi hutan yang berkeliaran di sebuah lahan parkir kosong di Warsawa. Di takarir video tersebut tertulis: "Saya sedang menggiring babi-babi hutan ini ke hutan." Video itu membuat popularitasnya sampai ke luar Polandia, sampai-sampai media sekelas BBC pun mengangkat momen tersebut jadi berita.

Sejak itu, Edward makin rajin bertualang, mulai dari sekadar berjalan-jalan "menikmati" kota, mengobrol dengan warga setempat, tampil di acara televisi, menggelar siaran langsung di TikTok, hingga berkunjung ke gedung parlemen Polandia (menjadi robot pertama yang menginjakkan kaki di gedung tersebut) dan bertemu pejabat menteri.

Sepintas, penampilan Edward tampak sederhana. Bentuk aslinya tak banyak diubah. Hanya saja, ada teks bertuliskan "Edward Warchocki" di bagian dadanya. Ia pun hanya mengenakan dua aksesoris. Aksesoris pertama adalah tas ransel biasa yang membuatnya "sama seperti manusia yang kadang membawa tas ransel". Namun, aksesoris kedualah yang membuat Edward spesial karena di lengannya melingkar satu jam tangan Rolex bertakhtakan berlian yang merupakan hasil kerja samanya dengan sebuah perusahaan.

Untuk urusan "kepribadian", Edward dibuat sangat berbeda dari citra robot yang kaku dan formal. Dia didesain menjadi sosok yang percaya diri, blak-blakan, dan tidak takut menyuarakan pendapatnya.

Ketika berkunjung ke sebuah pantai di Ustka pada awal Juli 2026, misalnya, Edward sempat berseru kepada para pengunjung, "Ada banyak yang bisa dilihat di sini. Laut yang bergemuruh, angin yang bertiup kencang, dan pantai yang luas. Apa lagi yang kau mau?" Setelah itu, dengan penuh percaya diri, Edward berjalan ke arah air sembari berteriak, "Waktunya cannonball!" demikian sebagaimana diberitakan TVP World.

Meski kepribadiannya dianggap menyenangkan, perjalanan Edward tidak selalu mulus. Ia pernah diusir petugas keamanan saat mencoba masuk ke Pusat Sains Copernicus yang termasyhur di Warsawa. Ia "terlihat" kecewa setelah diminta pergi, lalu membela diri dengan berkata, "Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi mereka memperlakukan saya seperti, entah seperti apa."

Insiden lain yang lebih serius terjadi belum lama ini, pertengahan Agustus 2026. Edward diizinkan masuk ke pangkalan Angkatan Laut (AL) Polandia di Świnoujście, kota pelabuhan di barat laut Polandia dekat perbatasan Jerman, untuk keperluan video promosi parade Hari Angkatan Bersenjata.

Video kunjungan Edward sempat diunggah akun resmi AL Polandia, sebelum dihapus beberapa jam kemudian. Alasannya, kunjungan tersebut menuai kritik keras. Maklum saja, sejak Februari 2026, Polandia melarang kendaraan buatan Cina masuk ke fasilitas militer sensitif karena khawatir perangkat pintar di dalamnya bisa mengumpulkan data. Robot pun dinilai masuk dalam klasifikasi tersebut, dan Unitree masuk "daftar hitam" Pentagon.

Upaya Memfabrikasi Robot Pemengaruh

Di balik sensasi Edward di dunia maya, Grzelaczyk dan Idzik tengah membangun bisnis serius di bidang sama. Mereka mendirikan perusahaan bernama MERA Robotics, yang mengintegrasikan sistem operasi buatan sendiri bernama MERA OS ke dalam platform Unitree.

Menurut laporan Wired, pada pertengahan 2026, MERA Robotics telah memiliki sebanyak 20 unit robot humanoid. Sebagian besarnya adalah Unitree G1, yang beroperasi di Polandia, Asia Barat, dan Asia Tenggara, dengan kepribadian berbeda-beda.

 Mera Robotic.

Tangkapan layar Mera Robotic. foto/Dok. Merarobotic

Model bisnis semacam itu pun telah menyebar ke luar Polandia.

Di Amerika Serikat (AS), warga Miami bernama Jake Cooperstein terinspirasi oleh kesuksesan Edward dan menciptakan robot pemengaruh serupa yang dinamai Brickell Clanker, mengacu pada nama kawasan pusat kota Miami. Ia kini menyewakan robotnya untuk berbagai acara, dengan tarif antara 800 hingga 1.200 dolar AS per jam.

Pola sama juga muncul lewat robot bernama Rizzbot di Austin dan Bart Robot di New York. Semuanya berbasis platform Unitree G1 yang sama persis.

Popularitas robot-robot sejenis Edward tak lepas dari strategi penetapan harga Unitree yang agresif. Unit G1 dasar dibanderol mulai dari sekitar 13.500 hingga 16.000 dolar AS, jauh lebih murah dibanding robot humanoid generasi sebelumnya yang bisa mencapai 90.000 dolar AS atau lebih. Harga yang jauh lebih terjangkau itulah yang membuat proyek-proyek seperti Edward Warchocki jadi mungkin dilakukan oleh pengusaha kecil dan menengah.

Fenomena Edward Warchocki sesungguhnya merupakan cermin kecil dari gelombang besar yang sedang terjadi di industri robotika Cina secara keseluruhan.

Unitree dijadwalkan melakukan initial public offering alias IPO di Bursa Shanghai pada 19 Agustus 2026. Sejauh ini, saham Unitree sudah menarik minat banyak investor ritel. Bahkan, menurut laporan CNBC, permintaan yang muncul sudah mencapai 5 ribu kali lipat dibanding saham yang tersedia. Untuk itu, tak heran bila nilai Unitree telah mencapai 9 miliar dolar AS.

Unitree kini menjadi simbol betapa majunya industri robotika Cina. Sebanyak 70 persen instalasi robot industri global dan 90 persen dari seluruh humanoid yang dikirim ke seluruh dunia pada 2025 berasal dari sana. Bahkan, insinyur-insinyur Jepang saja sampai kewalahan. Secara terbuka, mereka mengakui takkan bisa mengejar ketertinggalan dari Cina dalam waktu dekat di bidang robotika.

Tentu saja, tetap ada keraguan yang menyelimuti seluruh industri tersebut, termasuk soal Edward.

Sejumlah analis mempertanyakan bisa atau tidaknya robot-robot humanoid itu melampaui fungsinya sebagai bahan hiburan viral dan menghasilkan sesuatu secara ekonomi. Dominik Pross, analis ekuitas di VP Bank, mencatat bahwa bahkan robot humanoid tercanggih biasanya hanya mampu mengerjakan sedikit jenis tugas. Itu pun hanya berjalan beberapa jam, sebelum baterainya harus diisi ulang.

Namun, barangkali justru di situ poin dari keberadaan robot-robot seperti Edward. Mereka memang belum bisa menggantikan manusia, tetapi tetap mampu memberikan hiburan yang tidak bisa dihasilkan oleh manusia.

Meski tak bisa disuruh bekerja, Edward, Rizzbot, Brickell Clanker, dan Bart Robot, tetap bermanfaat ekonomi bagi orang-orang yang lihai melihat celah. Dan selagi konsep semacam ini masih segar, jangan heran bila nantinya muncul lebih banyak lagi robo-fluencer seperti Edward.

Baca juga artikel terkait INFLUENCER atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin