tirto.id - Media sosial awalnya dirancang sebagai penjembatan antarmanusia ketika ada ruang fisik yang memisahkan. Pelantar-pelantar ini hadir untuk memberikan manusia modern wadah berkomunikasi di dunia maya. Bahkan, pada suatu masa, ruang-ruang ini pernah disebut sebagai "alun-alun virtual", karena di sanalah semua percakapan terjadi.
Namun, seiring waktu, media sosial mengalami perubahan karakter dan fungsi. Kini, konten adalah kunci, entah dalam bentuk video, utas, maupun foto. Banyak yang sudah tidak lagi natural lantaran dibuat untuk kepentingan komersial. Dan sialnya, konten-konten ini demikian menarik dan menghibur sampai-sampai pengguna media sosial lainnya pun "terpaksa" jadi penikmat dan penonton pasif.
Meski demikian, bukan berarti media sosial telah sepenuhnya kehilangan ke-sosial-annya. Salah satu contohnya adalah bagaimana, dari sana, selalu muncul tren-tren baru. Tiap pengguna mungkin akan mengikuti tren tersebut sendiri-sendiri, tanpa interaksi dengan pengguna lain. Namun, menurut pakar psikologi Pamela B. Rutledge, dengan mengikuti tren itu saja, sebenarnya seseorang sudah "bersosialisasi".
Dengan mengikuti tren, manusia sejatinya tengah menjalin koneksi sosial. Mungkin bukan dengan orang-orang yang secara personal mereka kenal, tetapi dengan kelompok besarnya. Dengan melakukan apa yang juga dilakukan oleh banyak orang lain, seseorang akan merasakan keselarasan dan merasa bahwa ia merupakan bagian dari sebuah kelompok besar. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari evolusi manusia sebagai sebuah spesies.
"Menjalin koneksi sosial adalah motivasi utama (mengapa seseorang mengikuti tren). Bahkan, ini adalah sesuatu yang perlu dilakukan demi kelangsungan hidup kita di masa lalu. Kita semua punya dorongan untuk merapat ke dalam sebuah kelompok," ujar Rutledge, dikutip dari National Geographic.

Dalam sebuah reel Instagram yang diunggah 20 Juni 2026, CEO firma konsultasi teknologi North Star Strategies, Clara Fulks, bertutur mengenai fenomena ini. Fulks menyoroti sebuah tren yang waktu itu sempat populer, di mana para pengguna media sosial mengunggah video diri mereka mengucapkan frasa "wow, okay" dalam empat emosi berbeda: suportif, kecewa, sarkastik, dan menggoda.
Menurut Fulks, yang punya gelar master di bidang pemrosesan bahasa, tren tersebut adalah hasil rekayasa perusahaan-perusahaan yang punya produk LLM AI. Tujuan utamanya, tak lain, adalah untuk mengumpulkan "materi ajar" bagi LLM-LLM tersebut yang, menurut Fulks, masih punya kekurangan mencolok dalam mengenali dan mengidentifikasi emosi manusia. Menurutnya pula, data-data yang diambil dari tren tersebut tidak cuma digunakan sendiri oleh perusahaan-perusahaan teknologi, tetapi juga bisa dijual ke pihak ketiga, termasuk pemerintah.
Klaim Fulks ini memantik perdebatan. Ada yang setuju, ada yang tidak sepenuhnya yakin. John Licato, seorang profesor di Bellini College of Artificial Intelligence, Cybersecurity, and Computing, Universitas South Florida, termasuk yang sangsi. Menurutnya, kebanyakan tren media sosial dilakukan hanya untuk lucu-lucuan semata dan tidak mencerminkan aktivitas atau perilaku sehari-hari yang otentik. "Karena itulah data seperti ini tidak sepenuhnya berguna," ujar Licato kepada Cybernews.
Namun, terlepas dari perdebatan soal kualitas data, satu hal yang tidak bisa disangkal adalah bagaimana rekognisi emosi menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pengembangan LLM. Menurut Olga Kokhan, pendiri dan CEO perusahaan layanan data Tinkogroup, AI saat ini masih kesulitan membedakan makna dari sebuah kata atau frasa yang diucapkan dengan intonasi, jeda, dan penekanan berbeda.
Juga kepada Cybernews, Kokhan pun mengamini analisis Fulks dengan berkata, "Adanya ribuan pengguna yang mengucapkan frasa yang sama dengan ekspresi emosional berbeda menciptakan set data yang mengajarkan sistem AI untuk membedakan apa yang diucapkan dan bagaimana cara mengucapkannya."
Data-data itulah yang kemudian digunakan untuk berbagai keperluan komersial. Salah satu contohnya paling konkret adalah industri call center, di mana perusahaan menjual perangkat lunak AI yang mampu mengenali emosi pelanggan secara real-time dan memberikan petunjuk kepada agen mengenai cara merespons berdasarkan suasana hati penelepon.
Di samping itu, Institute for the Future of Work, sebuah lembaga nirlaba independen asal Inggris, pada 2025 menerbitkan analisis yang memperingatkan bahwa kemampuan AI dalam mengenali emosi bisa pula digunakan untuk memantau keterlibatan atau loyalitas karyawan. "Lama kelamaan, orang-orang akan dipaksa menunjukkan emosi yang sesuai dengan keinginan mesin," tulis mereka.
Tren "wow, okay" bukan yang pertama digunakan untuk kepentingan tersebut. Sebelumnya, ada tren nostalgia 2016 yang, bahkan, mampu mengumpulkan data biologis para pengguna media sosial dengan lebih eksplisit. Dalam tren itu, para pengguna mengunggah foto diri mereka satu dekade lalu.
Hal ini, menurut pendiri firma konsultasi keamanan siber Steele Fortress LLC, Jonathan Drake Steele, adalah tambang emas bagi perusahaan AI. Menurutnya, data wajah yang berubah dari waktu ke waktu biasanya mahal untuk didapat. Dengan adanya tren nostalgia 2016, data itu menjadi gratis. Hal serupa juga terjadi pada tren "Hug My Younger Self" yang viral pada 2025.
Bagi para pengguna, situasinya jadi sangat rumit mengingat hampir semua pelantar media sosial kenamaan kini menggunakan data mereka untuk melatih model AI dengan kebijakan yang berbeda-beda.
Meta, induk dari Facebook dan Instagram, secara terbuka mengakui bahwa perusahaan mereka telah menggunakan unggahan publik dari kedua platform untuk melatih chatbot AI-nya. LinkedIn, milik Microsoft, menggunakan data pengguna termasuk resume, postingan, dan aktivitas grup untuk melatih model AI. X, milik Elon Musk, menggunakan postingan publik pengguna untuk melatih Grok. Reddit, sementara itu, punya perjanjian dengan Google dan OpenAI untuk berbagi data platform guna melatih model AI mereka.

Selain media sosial, perangkat-perangkat yang kita gunakan sehari-hari, termasuk jam tangan pintar, speaker, hingga sikat gigi elektrik, kini dilengkapi kemampuan AI yang terus mengumpulkan data personal. Belum lagi platform-platform AI itu sendiri. Sebenarnya, para produsen serta penyedia jasa macam ini sudah menjelaskan kebijakan privasinya. Akan tetapi, kebijakan privasi ini sering kali disampaikan dengan cara yang sangat kompleks dan membuat pengguna malas membacanya.
Sebuah studi menemukan bahwa rata-rata orang hanya menghabiskan 73 detik membaca dokumen syarat dan ketentuan, padahal rata-rata waktu baca dokumen tersebut adalah 29 hingga 32 menit. Kesenjangan ini bukan kebetulan. Perusahaan-perusahaan teknologi memang cenderung menggunakan kebijakan privasi yang panjang dan penuh jargon teknis untuk mempersulit pengguna dalam memahami apa yang sebenarnya mereka setujui.
Nah, kalau sudah begini, pengguna lantas bisa apa?
Untuk chatbot seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Perplexity, keempatnya kini sudah menyediakan opsi untuk menonaktifkan penggunaan data percakapan dalam pelatihan model. Untuk media sosial, langkahnya lebih bervariasi per platform. LinkedIn memiliki toggle yang bisa dimatikan di menu Settings. X memiliki opsi serupa di bawah menu Data Sharing. Snapchat menyediakan opsi opt-out di menu Generative AI Settings. Namun, untuk produk-produk Meta, pengguna di luar Eropa praktis tidak memiliki pilihan selain membuat akun menjadi privat atau menghapusnya sama sekali.
Sepintas, ini semua terdengar ruwet dan menyebalkan. Akan tetapi, inilah langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk tetap bermedia sosial dan mengikuti perkembangan-perkembangan terbaru tanpa menyerahkan informasi berharga. Memahami secara pasti apa yang kita gunakan adalah kunci utama untuk berdaulat penuh atas apa yang kita serahkan pada perusahaan-perusahaan raksasa itu.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































