tirto.id - "Sadarkah kalian, setelah dia wafat, dunia ini jadi kacau balau? Setelah dia wafat segalanya jadi tidak keruan."
Kata-kata tersebut meluncur dari bibir Sir Gary Oldman dalam sebuah wawancara dengan The Hollywood Reporter, Agustus lalu. Wawancara tersebut sebenarnya berfokus pada peran yang kini dijalani Sir Gary dalam serial Apple TV berjudul Slow Horses. Dalam serial tersebut laki-laki kelahiran 1958 itu memainkan sosok mata-mata kawakan Jackson Lamb yang eksentrik dan punya kesabaran setipis tisu.
Namun, dalam wawancara itu, Sir Gary tidak cuma bicara soal Jackson Lamb. Ada bagian cukup besar di mana pemeran George Smiley dalam Tinker Tailor Soldier Spy (2011) itu berbicara mengenai persahabatannya dengan mendiang David Bowie. Dan sosok yang dibicarakan Sir Gary tersebut, tak lain, adalah Bowie.
Bowie meninggal dunia 10 Januari 2016, tak lama setelah merilis album pemungkasnya yang bertitel Blackstar. Dan setelah itu, muncullah berbagai peristiwa yang sempat membuat 2016 dinobatkan sebagai tahun terburuk. Rangkaian serangan teror, virus Zika, Brexit, perang di Suriah, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, rekor temperatur tertinggi yang pernah tercatat, sampai kematian selebritas-selebritas kenamaan seperti Prince dan Alan Rickman membuat tahun tersebut terasa kelam.
Tren 2016 di Tengah Ketidakpastian
Namun, tidak semua orang merasa demikian. Belakangan ini, di TikTok, khususnya, muncul sebuah tren yang membuat 2016 terasa seperti tahun yang sangat menyenangkan. Tren itu tidak punya nama khusus, hanya berupa postingan yang menunjukkan hal-hal berbau 2016 dan disertai dengan kata kunci atau tagar "2016".
BBC melaporkan, pada pekan pertama Januari 2026, jumlah pencarian di TikTok untuk "2016" mengalami peningkatan pesat hingga 71 persen. Tak cuma itu, video yang dibuat dengan filter TikTok bergaya 2016 juga sudah mencapai lebih dari 55 juta. Ini menunjukkan bahwa ada kerinduan tersendiri pada tahun 2016 yang, secara objektif, sebenarnya kurang begitu menyenangkan.
Kerinduan akan 2016 ini memang terasa begitu spesifik karena, pada dasarnya, kerinduan ini adalah milik Gen Z. Pada tahun tersebut, banyak Gen Z yang merasakan indahnya masa remaja, di mana mereka belum harus memikirkan soal karier, cicilan, tagihan, dan sebagainya. Tahun 2016, bagi para Gen Z, adalah tahun terakhir di mana mereka bisa sepenuhnya menjadi anak-anak.
Harus diakui, dunia tidak semakin membaik setelah 2016. Pandemi Covid-19, misalnya, membuat segalanya jadi lebih kacau balau lagi. Aktivitas belajar mengajar dan bekerja dipindahkan sepenuhnya dari sekolah dan kantor ke rumah. Kondisi perekonomian global luluh lantak. Banyak Gen Z yang lulus sekolah atau kuliah pada tahun tersebut kesulitan mendapatkan pekerjaan. Sudah begitu, sekarang muncul kecerdasan buatan yang mengancam lapangan pekerjaan banyak orang, khususnya Gen Z.
Pendek kata, setelah 2016, banyak Gen Z yang hidup di tengah ketidakpastian. Mereka kesulitan membangun karier dan masa depan. Tak cuma itu, mereka juga harus hidup di dunia yang seakan-akan bisa berakhir kapan saja. Salah satu biang keladi yang membuat tensi politik senantiasa tinggi adalah Trump. Tak cukup dengan menginvasi Venezuela, dia juga terus berusaha merebut Greenland dari Denmark yang notabene merupakan sekutu Amerika Serikat.
Di Indonesia, situasinya tak kalah suram. Janji 19 juta lapangan kerja dari Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka selama ini hanya terwujud dengan penunjukan orang-orang terdekat mereka untuk menjalankan proyek tertentu, salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sisi lain, rakyat jelata masih kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kalaupun bekerja, gajinya juga tidak seberapa, tak sebanding dengan terus meningkatnya harga kebutuhan.
Di tengah situasi serba karut-marut seperti ini, nostalgia pun akhirnya muncul ke permukaan. Dan nostalgia ini bukan nostalgia biasa. Umumnya, tren yang berbau nostalgia punya siklus 20 tahunan. Misalnya, anak muda era 2000-an menyukai hal-hal berbau 80-an, atau anak-anak era 2010-an menyukai hal-hal 90-an. Nostalgia ke 2016 ini seperti mematahkan siklus karena muncul lebih cepat dari biasanya.
Memang, ada juga tren 20 tahunan yang muncul belakangan ini, seperti kebangkitan pop-punk di tangan band-band seperti The Paradox dan Super Sometimes, atau kemunculan kembali tren fesyen ala Y2K yang dulu dipopulerkan Paris Hilton. Namun, tren 2016 ini terasa lebih mendesak dan disengaja, dan berfungsi lebih dari sekadar nostalgia, melainkan jeritan putus asa yang dikemas dalam filter video media sosial.
Tren 2016 seperti punya kaitan erat dengan tren yang sebelumnya muncul, yaitu Great Meme Reset. Fondasinya sama, yaitu nostalgia. Jangkarnya pun sama, yaitu tahun 2016, alias tahun di mana meme-meme penuh makna terakhir, seperti Harambe, bisa ditemukan, sebelum digantikan oleh meme yang "berkualitas rendah" serta meme bikinan AI yang belakangan ramai di media sosial.
Bagi Gen Z, khususnya, 2016 memang mungkin benar-benar punya arti spesial. Ini adalah tahun di mana mereka menjalani kebebasan terakhir; tahun di mana mereka merasakan kebahagiaan hakiki terakhir; tahun di mana semua masih terasa baik-baik saja sebelum akhirnya semua jadi seperti sekarang, yang penuh ketidakpastian dan ancaman.
Lantas, apa sebenarnya tren 2016 yang coba dihidupkan kembali oleh para Gen Z ini?
Respons terhadap Dunia yang Tidak Nyaman
Jika diterjemahkan ke bentuk yang paling konkret, kerinduan itu muncul dalam detail-detail yang sangat spesifik, mulai dari lagu apa yang didengarkan, sampai apa yang muncul di layar ponsel. Kita tidak sedang bicara perjalanan sejarah besar, melainkan keping-keping kehidupan sehari-hari yang sederhana namun penuh makna.
Di dunia musik, 2016 identik dengan lagu-lagu yang terasa ringan tetapi emosional. Lush Life milik Zara Larsson merangkak naik di tangga lagu. The Chainsmokers menguasai radio dan pesta dengan lagu-lagu yang simpel dan lirik yang mudah dirapalkan. Drake dan Justin Bieber mendominasi playlist lewat lagu-lagu yang bisa dinikmati sambil melakukan apa saja.
Di ranah visual, 2016 adalah era filter yang kini dianggap “norak” tetapi justru dirindukan. Snapchat punya dog filter, Instagram dengan preset ala Mayfair dan Sierra, serta foto-foto yang sedikit buram dan overexposed. Estetika ini bukan soal keindahan teknis, melainkan soal ketidaksempurnaan yang diterima apa adanya. Tak perlu foto atau video resolusi tinggi yang membuat konten jadi terasa artifisial, karena yang dirindukan adalah kejujuran.
Di kehidupan sehari-hari, ada fenomena yang kini hampir mustahil terulang: orang-orang berkumpul di ruang publik tanpa agenda jelas. Pokémon Go membuat taman, trotoar, dan pusat perbelanjaan dipenuhi orang asing yang saling menyapa, bukan karena ideologi atau kepentingan, tetapi karena sama-sama mengejar makhluk virtual. Belum lagi fidget spinner yang terkesan tak berguna tetapi, setelah dicoba, lama-lama mengasyikkan juga. Bagi banyak Gen Z, inilah pengalaman terakhir berada di ruang publik tanpa rasa cemas berlebihan.
Namun di balik semua detail itu, yang sebenarnya sedang dihidupkan kembali bukanlah tahunnya, melainkan cara hidupnya. Tren 2016 hadir sebagai antitesis dari kehidupan digital hari ini yang serba cepat, terukur, dan penuh tuntutan. Kini, semua unggahan adalah konten yang bisa dihakimi siapa saja. Dulu, unggahan bisa jadi tak berarti apa pun selain ungkapan perasaan hati yang tak bisa disalurkan lewat cara lain.
Seorang TikToker asal London, Joel Marlinarson, dalam wawancara dengan BBC menjelaskan tren 2016 ini dengan gamblang.
"Di Instagram, pada tahun 2016, tidak ada yang namanya carousel. Orang-orang hanya mengunggah foto alpukat mereka dan itu semua tidak terasa performatif. Tidak ada juga yang namanya video pendek, sehingga tidak ada pula kelelahan algoritmik yang sekarang dirasakan banyak orang," ujarnya.
Dengan kata lain, nostalgia 2016 ini bukan nostalgia biasa, melainkan sebuah kritik akan cara hidup yang, bisa dibilang, tidak lagi natural. Namun, di sisi lain, tren ini juga tidak memberikan visi apa pun. Tren ini semata-mata jadi tempat berlindung sementara bagi mereka yang terlampau lelah untuk menjalani 2026. Analisis ini disampaikan oleh psikolog Clay Routledge, juga kepada BBC.
"Kita cenderung merasa sangat nostalgik ketika dunia terasa seperti sedang menjalani perubahan besar. Ketika ada generasi yang dihadapkan pada perubahan atau tantangan seperti AI yang mengancam kelangsungan hidup, mereka cenderung akan kembali ke masa lalu untuk mendapatkan rasa nyaman, inspirasi, bahkan petunjuk," jelas Routledge.
Tren ini mungkin tidak akan pernah mengubah apa pun. Akan tetapi, di saat yang bersamaan, tren seperti ini bakal terus menerus muncul meski dalam wujud yang berbeda. Selagi dunia masih terasa tidak aman dan tidak nyaman, kita akan selalu mencari tempat berlindung. Dan bernostalgia lewat media sosial sepertinya merupakan cara paling aksesibel yang kita miliki.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























