tirto.id - Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI-PP) meminta kepolisian melakukan sterilisasi usai ditemukannya 995 senjata api (senpi), narkoba, hingga CD porno di ruangan salah satu petinggi. Sterilisasi ini dinilai perlu demi memastikan keamanan para murid yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
"Seiring dengan ini kami sangat mendorong, sangat mendorong agar aparat kepolisian itu untuk segera bisa melakukan sterilisasi kepada tempat-tempat yang mungkin kami tidak ketahui," kata Pengacara YHI-PP, Alvon Kurnia Palma, dalam konferensi pers di daerah Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).
Alvon menyatakan keputusan itu dikeluarkan karena masih adanya dua ruangan yang belum terbuka. Selain itu, kepolisian juga masih memasang garis polisi di ruangan tempat ditemukannya ratusan senpi dan amunisi.
Dia menyampaikan untuk mendukung proses sterilisasi oleh kepolisian, maka pembelajaran jarak jauh (PJJ) diberlakukan selama satu minggu. Keputusan ini juga diberlakukan karena adanya kekhawatiran dari pihak orang tua murid.
"Terhitung pada Senin–Jumat/10-14 Agustus 2026 Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah dilaksanakan secara Daring /PJJ, hal ini dilakukan untuk memastikan aparat Kepolisian melakukan sterilisasi semua ruangan yang masih dicurigai ada senjata atau barang terlarang lainnya serta membuka semua police line," ucap dia.
Di sisi lain, pengacara YHI-PP lainnya, Hermawanto, menjelaskan mengenai kronologi proses ruangan dibuka hingga akhirnya ditemukan 995 senpi. Ruangan yang dulunya digunakan Indra Wargadalem yang menjabat sebagai ketua yayasan saat itu, dibuka setelah dikirimkan surat dua kali oleh pengelola baru.
Hermawanto mengemukakan, pengelola baru menyurati Indra Wargadalem untuk menyerahkan kunci ruangan dan membukanya karena akan digunakan untuk kepentingan pendidikan. Setelah surat ketiga, kata dia, akhirnya disepakati ada pembukaan ruangan secara bersama-sama dengan orang suruhan Indra pada 10 Juli 2026 dan disaksikan TNI-Polri demi alasan keamanan.
"Jadi sampai hari ini kami memang mengelola sekolah, tapi masih ada beberapa ruangan yang kami tidak bisa membuka karena data kunci, mohon maaf, karena kunci itu dipegang sama Pak IWD dan kawan-kawan. Jadi seperti itu," ungkap Hermawanto.
Menurut Hermawanto, sampai saat ini juga masih ada satu ruang keuangan yang tidak bisa dibuka karena kuncinya masih dibawa pihak Indra Wargadalem. Komunikasi antara Indra Wargadalem dengan para pendiri yayasan pun sudah terputus sejak lama.
"Dokumen-dokumen sekolah juga masih berada di tangan dia. Kami sudah meminta secara resmi untuk diserahkan kepada sekolah, itu pun dia sampai sekarang belum menyerahkannya. Jadi seperti itu," tutur Hermawanto.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id





























