Menuju konten utama

BPS Catat Neraca Perdagangan Agustus Surpus 3,55 Miliar Dolar AS

BPS catat neraca perdagangan Agustus 2026 surplus US$ 3,55 miliar, meski defisit migas capai US$ 2,54 miliar. Sementara inflasi September tercatat 3,28%.

BPS Catat Neraca Perdagangan Agustus Surpus 3,55 Miliar Dolar AS
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (4/8/2026). ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono berujar, pihaknya mencatat neraca perdagangan pada Agustus 2026 surplus 3,55 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

"Untuk neraca perdagangan pada kondisi Agustus tahun 2026 ini mengalami surplus sebesar 3,55 miliar US dolar," ucapnya saat konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Kamis (1/10/2026).

Menurut dia, surplus neraca perdagangan pada kondisi Agustus 2026 tersebut utamanya disebabkan surplus pada komoditas non-migas. Tercatat, surplus komoditas non-migas sebesar 6,09 miliar dolar AS.

Komoditas penyumbang surplus pada non-migas ini utamanya berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral dari besi dan baja.

Di satu sisi, Ateng menyatakan, neraca perdagangan migas pada Agustus 2026 mengalami defisit 2,54 miliar dolar AS dengan. Komoditas penyumbang defisit utamanya, yakni hasil minyak dan juga dari minyak mentah.

"Neraca perdagangan secara kumulatif, yaitu neraca perdagangan pada bulan Januari-Agustus 2026. Hingga bulan Agustus tahun 2026, neraca perdagangan barang mencapai surplusnya sebesar 7,25 miliar US dolar," urainya.

"Surplus sepanjang Januari-Agustus tahun 2026 terutama ditopang oleh surplus pada komoditas non-migas, yaitu sebesar 28,54 miliar US dolar. Sedangkan untuk komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 21,29 miliar US dolar," imbuh dia.

BPS Rilis Data Inflasi Tahunan September 2026

Sebagai informasi, BPS mencatat inflasi secara tahunan (year on year/YoY) pada September 2026 mencapai 3,28 persen. Terdapat kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026.

Inflasi secara tahunan pada September 2026 disebabkan tiga kelompok besar. Kelompok pertama, makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,37 persen dengan andil inflasi 1,28 persen.

Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau berupa ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM) dan daging sapi.

Kelompok lain, yakni transportasi yang mengalami inflasi sebesar 4,84 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,58 persen.

Kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi secara year-on-year sebesar 7,77 persen dengan andil inflasi sebesar 0,53 persen. Inflasi pada kelompok itu terjadi pada komoditas emas perhiasan.

Seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan dengan komponen inti mengalami inflasi YoY 2,84 persen dengan andil inflasi 1,82 persen. Lalu, komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 3,25 persen dengan andil inflasi sebesar 0,63 persen.

Baca juga artikel terkait SURPLUS NERACA DAGANG atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah