Menuju konten utama

Surplus Neraca Perdagangan RI Anjlok ke US$90 Juta di April 2026

Neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 tapi nilainya mengalami penyusutan.

Surplus Neraca Perdagangan RI Anjlok ke US$90 Juta di April 2026
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Selasa (17/9/2024). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi global. Badan Pusat Statistik melaporkan, surplus neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar 0,09 miliar AS atau 90 juta dolar AS.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa surplus pada April masih ditopang oleh komoditas non migas, yakni sebesar 3,53 miliar dolar AS.

"Dengan komoditas penyumbang utamanya adalah lemak dan minyak hewani yaitu HS 15, kemudian bahan bakar mineral HS27 serta besi dan baja HS 72," ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026). “Dengan demikian neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," imbuhnya.

Sebaliknya, penurunan surplus neraca dagang April ini disebabkan oleh defisit sektor minyak dan gas (migas) sebesar 3,44 miliar dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan defisit Maret yang sebesar 1,89 miliar dolar AS. “Komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah, hasil minyak, dan gas alam,” ujarnya.

Sementara itu surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hinggApril 2026 sebesar 5,64 miliar dolar AS.

“Hingga bulan April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 5,64 miliar dolar AS. Surplus sepanjang periode Januari-April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas 14,16 miliar dolar AS, sementara komoditas migas masih mengalami defisit 8,52 miliar dolar AS,” ungkap Pudji.

Pudji melanjutkan bahwa nilai ekspor kumulatif periode Januari-April 2026 mencapai 92,15 miliar dolar AS atau naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan dengan pertumbuhan nilai ekspor 9,78 persen menjadi 75,57 miliar dolar AS.

BPS mencatat tiga negara pasar utama ekspor nonmigas Indonesia, yaitu Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini mencapai 44,52 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-April 2026. Tiongkok masih menjadi pasar ekspor utama dengan nilai mencapai 22,76 miliar dolar AS (25,93 persen), diikuti oleh Amerika Serikat 10,17 miliar dolar AS (11,59 persen), dan India 6,14 miliar dolar AS (7,00 persen).

Ekspor nonmigas ke Tiongkok pada periode Januari-April 2026 didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya (rajutan).

Selanjutnya, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga April 2026 sebesar 86,51 miliar dolar AS, atau naik 13,40 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor 73,58 miliar dolar AS, naik 12,70 persen. Sementara itu, impor migas tercatat 12,93 miliar dolar AS atau naik 17,58 persen.

Dari sisi penggunaan, terjadi peningkatan impor periode Januari-April 2026 baik pada barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong masih mendominasi dengan nilai mencapai 61,82 miliar dolar AS atau naik 11,67 persen. Sedangkan, nilai impor barang modal mencapai 17,11 miliar dolar AS atau naik 19,02 persen. Adapun impor barang konsumsi tercatat 7,58 miliar dolar AS, atau tumbuh 15,68 persen

Sepanjang periode Januari-April 2026, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai 30,79 miliar dolar AS (41,84 persen), diikuti Jepang dengan nilai 4,15 miliar dolar AS (5,64 persen), dan Australia 4,15 miliar dolar AS (5,64 persen). Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 53,12 persen, atau lebih dari separuh total impor nonmigas Indonesia

Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas pada Januari-April 2026 sebagian besar masih ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan/nabati (11,71 miliar dolar AS), bahan bakar mineral (8,34 miliar dolar AS), besi dan baja (5,71 miliar dolar AS), nikel dan barang daripadanya (4,26 miliar dolar AS), serta alas kaki (2,14 miliar dolar AS).

Baca juga artikel terkait NERACAPERDAGANGAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana