tirto.id - Selama lebih dari satu dekade, Rosalina Ariesta Laeliocattleya, peneliti di Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya, menaruh perhatian pada rambut jagung. Limbah pertanian yang biasanya dibuang atau dibakar itu ia bedah hingga ke tingkat molekuler.
Dari serangkaian uji ekstraksi dan proses pengujian panjang, lahirlah temuan asam ferulat, senyawa yang kemudian diracik menjadi tabir surya alami dengan perlindungan SPF 50. Produk tersebut diberi nama Hi-To-Go Sun Protector, bagian dari jenama Boumi yang fokus pada perawatan anak usia 4–14 tahun.
Hi-To-Go Sun Protector disinyalir ramah lingkungan, aman untuk anak-anak, dan digadang-gadang siap bersaing dengan merek besar di industri kosmetik. Saat ini, produk itu tengah diproduksi dan dipasarkan terbatas di kota Malang, Jawa Timur.
Namun ada kekhawatiran—sebagaimana riset-riset sebelumnya—saat dana hibah habis, mesin produksi tak lagi beroperasi, sehingga purwarupa itu tidak berlanjut dan berhenti di meja laboratorium. Inovasi hanya berakhir sebagai laporan penelitian atau arsip akademik.
Lantas, mengapa investasi besar dalam riset sering berhenti sebagai wacana? Mengapa hasil penelitian tidak pernah benar-benar dirasakan manfaatnya secara luas oleh masyarakat?
Pusara Inovasi di Negeri Sendiri
Banyak penelitian berhasil menghasilkan purwarupa, tetapi gagal memasuki tahap industrialisasi. Itu disinyalir terjadi karena riset nasional berorientasi pada publikasi, seminar, dan paten, bukan keberlanjutan produksi maupun penetrasi pasar.
Contohnya kompor biomassa ciptaan Muhammad Nurhuda, dosen Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Sejak 2006, ia mengembangkan kompor biomassa berbasis gasifikasi yang mampu memanfaatkan limbah biomassa, seperti kayu, pelet sawit, dan ranting kering, sebagai bahan bakar.
Dengan sistem pembakaran dua tahap dan suplai udara sekunder, kompor tersebut menghasilkan nyala api lebih bersih, stabil, dan minim asap, dibandingkan dengan tungku biomassa tradisional. Sejumlah pengujian menunjukkan, efisiensi pembakarannya kompetitif dan ramah lingkungan.
Keunggulan lain kompor itu adalah efisiensi termodinamikanya. Dengan desain aliran udara ganda, ia membakar gas hasil gasifikasi kayu secara sempurna, menghasilkan nyala biru stabil dengan suhu setara kompor gas elpiji.
Nurhuda percaya temuannya melampaui produk biomassa sejenis di pasar global. Namun di Indonesia, teknologi tersebut sulit berkembang sebab tak ada dukungan serius dari pemerintah sehingga masyarakat lebih memilih LPG bersubsidi yang lebih praktis dan murah.
Kesempatan justru datang dari investor Norwegia melalui Prime Cookstoves, yang mendanai produksi dan implementasi di sejumlah negara berkembang. Kompor tersebut sempat dipasarkan ke Asia dan Afrika, sebelum produksinya melemah akibat persoalan bisnis dan manajemen mitra sekitar 2017–2018.
Kegagalan serupa terjadi di sektor kesehatan. Sejak 2006, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bambang Widyatmoko, mengembangkan alat penghancur jarum suntik bernama Destromed atau APJS untuk mencegah penyalahgunaan limbah medis tajam. Alat tersebut menggunakan sistem penghancur mekanik berkecepatan tinggi untuk melumat jarum bekas menjadi serpihan kecil yang aman.
Saat pandemi COVID-19 meningkatkan volume limbah medis, APJS sempat didorong untuk diproduksi massal. Namun. proses hilirisasi tersendat karena persoalan biaya produksi, desain alat, serta tantangan industrialisasi dan pengadaan di sektor kesehatan.
Bersamaan dengan itu, GeNose C19 karya Universitas Gadjah Mada muncul sebagai inovasi penting saat pemeriksaan laboratorium virus Covid-19 (PCR) masih mahal dan terbatas pada masa awal pandemi. Dengan sensor gas dan kecerdasan buatan, alat tersebut menawarkan skrining COVID-19 murah dan mudah, berbasis embusan napas.
Setelah melalui perdebatan ilmiah dan validasi klinis tambahan, GeNose mendapat izin edar sehingga bisa digunakan luas di stasiun kereta. Namun seiring perkembangan varian virus, meningkatnya penggunaan antigen dan PCR, serta perubahan regulasi perjalanan, pemakaiannya perlahan dihentikan dan banyak unitnya tidak lagi dioperasikan.

Kemandekan serupa juga tampak di dunia robotika kampus. Sejumlah perguruan tinggi rutin melahirkan robot-robot kompetitif di ajang nasional maupun Asia Pasifik. Namun, kebanyakan inovasi itu berhenti sebagai purwarupa pendidikan atau kompetisi karena minimnya jalur hilirisasi ke industri. Data International Federation of Robotics (IFR) menunjukkan, tingkat adopsi robot di industri manufaktur Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara industri Asia, seperti Korea Selatan, China, dan Jepang.
Sementara itu, Kementerian Perindustrian dan berbagai publikasi industri nasional berkali-kali menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor mesin dan peralatan manufaktur. Dalam jurnal Indonesia Manufacturing Center, industri nasional disebut-sebut masih sangat bergantung pada mesin dan peralatan industri impor untuk menopang produksi manufaktur.
Belenggu Birokrasi dan Terasingnya Para Ilmuwan
Mengamati lautan inovasi yang tenggelam sebelum sempat berlabuh di pasar, ada cacat bawaan dalam ekosistem riset nasional. Merujuk pada studi Andika Salsabilah (2025), dalam literatur global, situasi kritis itu dikenal sebagai lembah kematian inovasi atau valley of death—jurang finansial, teknis, dan manajerial, yang memisahkan purwarupa laboratorium dan produk komersial siap edar. Untuk mengatasinya, negara-negara maju mengandalkan kemitraan erat antara universitas dan industri (UIP), model yang masih sulit diterapkan konsisten di Indonesia.
Salah satu akar persoalan riset Indonesia adalah terputusnya hubungan mutualisme antara bidang akademik dan bisnis. Penelitian akademik berorientasi pada publikasi ilmiah, sitasi, dan paten. Ketika produk sudah terbukti secara ilmiah, dukungan bisnis nyaris nol, termasuk dari pemerintah.
Masalahnya, aktivitas seperti mencari investor, mengurus sertifikasi BPOM atau SNI, hingga membangun rantai pasok, bukanlah keahlian para akademisi. Akibatnya, banyak inovasi kampus unggul secara teknis, tetapi sulit diproduksi massal dan gagal menembus pasar bisnis.
Kondisi itu diperparah oleh struktur pendanaan. Ekosistem riset Indonesia masih sangat bergantung pada pendanaan pemerintah, sementara kontribusi industri swasta relatif rendah dibanding negara industri maju.
Ketergantungan tersebut membuat banyak penelitian tersandera birokrasi hibah tahunan, administrasi keuangan yang kaku, dan target keluaran jangka pendek. Pada saat sama, belanja riset Indonesia masih berada di kisaran 0,3 persen dari Produk Domestik Bruto, jauh tertinggal dari Korea Selatan yang telah melampaui 4,5 persen berkat investasi besar sektor swasta dan konglomerasi industrinya.
Profesor Irwandi Jaswir salah satunya. Ia dikenal sebagai salah satu pionir sains halal dunia melalui riset biomaterial halal, deteksi DNA babi, analisis alkohol, serta pengembangan senyawa bioaktif untuk pangan dan farmasi. Hasil penelitiannya banyak dipublikasikan di berbagai jurnal.
Meski Indonesia memiliki pasar halal terbesar sedunia dan gemar melabeli berbagai produk dengan cap halal, pengembangan industri bahan baku halal domestik masih terbatas dan banyak bergantung pada impor.
Alhasil, karier riset Irwandi justru berkembang pesat di Malaysia melalui dukungan International Islamic University Malaysia dan kolaborasi industri halal. Pada 2018, ia menerima King Faisal International Prize atas kontribusinya di bidang sains halal dan teknologi pangan.
Siasat Negara Mengurai Benang Kusut
Pemerintah sebenarnya mulai menyadari bahwa masalah utama riset Indonesia adalah lemahnya hilirisasi. Untuk berusaha mengatasinya, beberapa kebijakan pun dikeluarkan, termasuk dengan membentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2021, menggabungkan beberapa lembaga riset, termasuk LIPI.
Sebagaimana dikampanyekan melalui buku InovasiVisioner Pendidikan Tinggi, Sains, Dan Teknologi: Membangun Kampus Transformatif dan Berdampak (2025), Kementerian Pendidikan Tinggi dan BRIN kemudian meluncurkan beberapa program, termasuk Hilirisasi Riset, Kedaireka, dan matching fund industri, untuk mendorong riset berdampak ekonomi.

Satu contoh yang dianggap berhasil adalah hasil penelitian Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Atsiri Research Center (ARC). Mereka melakukan hilirisasi produk minyak nilam murni (patchouli oil), komoditas yang membuat Aceh menyumbang sekitar 90 persen pasokan dunia.
Para peneliti turun ke lapangan, membina petani nilam dengan varietas unggul, budidaya standar, dan teknologi penyulingan lebih baik. Sejak itu nilainya melonjak, membuka peluang ekspor ke Eropa.
Sinergi kampus dan korporasi itu melahirkan jenama kosmetik Elgeena, produk kecantikan pertama di Indonesia yang menggunakan fraksi minyak nilam murni hasil riset perguruan tinggi.
Pada akhir 2024, ARC dan mitranya, PT. Focustindo Focustindo, meluncurkan empat varian baru sekaligus, mulai dari pembersih wajah, toner, krim siang, dan krim malam. Keberhasilan itu membuat harga minyak nilam di tingkat petani, yang sempat jatuh di angka 900 ribu rupiah per kilogram, melonjak hingga 6 juta rupiah.
Lain itu, pemerintah mulai membuka jalur pendanaan untuk startup berbasis riset. BRIN, misalnya, diklaim bakal memberikan pembiayaan senilai 300 juta rupiah per tahun bagi perusahaan rintisan inovasi. Skema ini ditujukan untuk membantu peneliti membangun model bisnis, validasi pasar, dan scaling industri.
BRIN juga membangun ekosistem business matching antara peneliti dan investor. Salah satunya melalui Rumah Inovasi Indonesia, yang dirancang sebagai hub kolaborasi antara kampus, industri, perusahaan rintisan, investor, dan UMKM.
Meski demikian, tantangannya masih besar. BRIN mewarisi ribuan paten, tetapi hanya segelintir yang benar-benar dilisensikan industri. Hingga akhir 2022, dari 2.842 paten, hanya 62 yang berhasil diproduksi komersial. Sisanya tetap menjadi dokumen hukum tanpa daya tarik pasar, terlalu mentah atau tidak selaras dengan kebutuhan manufaktur.
“Dari 2.842 itu hanya sekitar 10 sampai 15 persennya saja yang sedang diincar oleh industri,” ucap Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek/BRIN, Muhammad Dimyati.
Banyak program hilirisasi masih bergantung pada hibah tahunan. Di sisi lain, industri Indonesia juga belum agresif mendanai riset dan pengembangan, seperti di Korea Selatan, Jepang, atau Tiongkok.
Akibatnya, Indonesia saat ini berada di fase transisi. Negara mulai sadar pentingnya hilirisasi dan membangun berbagai instrumen pendukung, tetapi ekosistem riset–industri nasional masih rapuh.
Hilirisasi riset membutuhkan perubahan budaya dari riset untuk publikasi menjadi riset untuk solusi dan nilai ekonomi. Tanpa itu, riset bernilai triliunan rupiah akan terus lahir, dipuji sebentar di seminar dan media massa, lalu mati perlahan di laboratorium dan rak perpustakaan.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id



































