Rahadian Rundjan
Jurnalis dan kolumnis yang senang menjelajahi sejarah, khususnya tema sains, teknologi, dan medis....

Jejak Dusta dan Kontroversi Ilmuwan di Indonesia

17 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Terungkap sudah kebenaran dari kata-kata muluk seorang Dwi Hartanto. Mahasiswa doktoral berusia 35 tahun itu membualkan prestasi akademis secara meyakinkan dan mendapat porsi perhatian pemberitaan media di Indonesia, sebagaimana kisah-kisah keberhasilan diaspora Indonesia lainnya.

Nyatanya itu semua dusta. Dwi bukanlah ilmuwan roket, perancang jet tempur, ataupun “The Next Habibie”, pentolan sains Indonesia yang saat seusianya sudah, dan tanpa banyak membual, berkiprah fantastis dalam sains kedirgantaraan di Jerman.

Kasus Dwi mengingatkan kembali bagaimana dinamika ilmuwan Indonesia belakangan ini yang penuh bencana dan bahaya dari berbagai sisi. Pertama dari sisi akademis seperti kasus plagiarisme di Universitas Negeri Jakarta. Kedua, dari sisi praktisi, yakni penangkapan sebagian guru besar universitas kenamaan seperti Rokhmin Dahuri, Nazaruddin Sjamsuddin, dan Rudi Rubiandini karena kasus korupsi. Dan ketiga, rontoknya moralitas, khususnya di kalangan mahasiswa, mengingat masih marak tawuran antar dan intra kampus, seperti yang belakangan terjadi di Universitas Riau.

Namun, fenomena dalam dunia sains Indonesia, yang membuat publik umum mempertanyakan keabsahan ilmuwannya, sama sekali bukanlah hal baru. Ada beberapa skandal yang tercatat dalam sejarah di masa Hindia Belanda.

Baca juga:
Skandal Dwi Hartanto dan Pantangan Etis Para Peneliti
Temuan Plagiat Disertasi di UNJ

Valentijn, Douwes Dekker, dan Ratulangie

Salah satu naturalis terbesar di Hindia pernah tinggal di Ambon, namanya Georg Eberhard Rumphius. Pegawai Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC) kelahiran Jerman ini mungkin orang pertama yang meneliti lingkungan hidup Ambon, laboratorium alam yang masih perawan, dengan pendekatan ilmiah ala Barat. Karya terbaiknya adalah buku ensiklopedia botani berjudul Herbarium Amboinense (Kitab Jamu-jamuan Ambon), yang penerbitan dan publikasinya sempat dilarang VOC karena buku ini dianggap memuat informasi sensitif tentang aset-aset VOC di Hindia.

Herbarium Amboinense selesai ditulis pada 1690, dan baru diperbolehkan terbit pada 1741. Namun, pada 1724, sebagian penelitian Rumphius telah diplagiat koleganya di VOC bernama Francois Valentijn dalam buku Oud en Nieuw Oost-Indiën. Valentijn adalah pendeta yang bertugas di Ambon dan Rumphius merupakan mentor bahasa Melayunya. Tidak hanya Rumphius, Valentijn juga mengambil sumber orang-orang sezaman tanpa memberikan kredit yang pantas, mengingat bukunya membahas VOC dan cakupan wilayah kerjanya yang amat luas di Asia, termasuk India, Tiongkok, Persia, dan Jepang.

Oud en Nieuw Oost-Indiën menjadi rujukan bacaan sejarah dan geografi penting bagi pegawai-pegawai VOC sebelum mereka berlayar ke Hindia, setidaknya sampai abad 19. Tidak hanya itu, Valentijn sempat berkonflik dengan petinggi-petinggi gereja di Batavia setelah terjemahan Injil ke bahasa Melayu yang ditulisnya ditolak akibat dugaan plagiarisme—kemungkinan ia menjiplaknya dari Rumphius juga. Para petinggi gereja kemudian menerbitkan hasil terjemahan Melchior Leydekker yang lebih meyakinkan, dan menjadi Kitab Injil berbahasa Melayu pertama yang bahkan terus digunakan sampai paruh pertama abad 20.

Kritik keras dilontarkan sejarawan kepada Valentijn atas plagiarismenya, terutama sejarawan F. de Haan dan E.M. Beekman. Tulisan R.Z. Leirissa dalam “Francois Valentijn: Antara Etika dan Estetika” (Jurnal Wacana, vol. 10, no. 2, Oktober 2008) merupakan bacaan baik untuk menilai kontroversi popularitas Valentijn. Leirissa menyimpulkan. meski Oud en Nieuw Oost-Indiën kontroversial karena banyak menjiplak, tetapi memiliki nilai estetika mengingat penceritaannya yang menarik, setidaknya sebagai sebuah sejarah.

Memang saat itu penulisan karya ilmiah, khususnya sejarah, belum memiliki aturan padu yang menekankan pada kritik sumber, sebelum diperkenalkan oleh Leopold von Ranke pada 1824. Hal itulah yang membuat para penulis-cum-penjelajah di Hindia cenderung bebas mengambil catatan-catatan penulis lain begitu saja. History of Java, buku yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles, juga diterpa isu plagiarisme akibat hal tersebut.

Lalu bagaimana dengan kontroversi pengakuan palsu?

Topik ini kemudian membawa saya kepada dua tokoh perjuangan kemerdekaan: Ernest Douwes Dekker dan Sam Ratulangie. Keduanya, dalam beberapa literatur, dikatakan sebagai lulusan doktor dari Universitas Zurich di Swiss, yang tentu saja menjadikan mereka sebagai segelintir pejuang kemerdekaan berpendidikan paling tinggi dalam kelompok pergerakan nasional pada paruh awal abad 20.

Ernest adalah pejuang kemerdekaan Indonesia yang kisahnya paling militan, liar, dan tragis. Cucu dari saudara laki-laki Edward Douwes Dekker alias Multatuli ini adalah tokoh anti-kolonialisme Eropa. Ia turun ke medan tempur Perang Boer di Afrika Selatan melawan Inggris, membuat perkumpulan politik subversif Indische Partij di Hindia Belanda, menjadi penyeludup senjata untuk memicu pemberontakan orang-orang India dari jajahan Inggris, berperan sebagai mentor bagi orang-orang pergerakan Indonesia, sampai akhirnya menjadi orang Indo-Belanda paling terkemuka di masa Indonesia merdeka.

Ernest mengubah namanya menjadi Setiabudi Danudirja, dengan gelar doktor (Dr.) yang kerap disematkan di depan namanya. Ia mengklaim menyelesaikan studi doktor di bidang ekonomi dan politik dengan predikat cum laude pada 1915, dan seperti disebut beberapa buku, hanya dalam waktu 10 bulan. Kecuali Ernest mengikuti program doktoral khusus, klaim ini rasanya mustahil dipercaya. Yang jelas, selama di Zurich, ia menjalin kontak dengan pejuang-pejuang India anti-Inggris yang kemudian merekrutnya menjadi penyeludup senjata.

Hal sama terjadi pada Sam Ratulangie, tokoh pergerakan asal Sulawesi Utara. Ratulangie disebut meraih gelar doktor Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (Filsafat) selama empat tahun studi (1915-1919). Ernest dan Ratulangie adalah kawan personal maupun perjuangan. Menurut sejarawan Universitas Amsterdam dan peneliti senior KITLV, Geert Arend van Klinken, Ratulangie kemungkinan mengikuti jejak Ernest dalam mengklaim kelulusannya dari Zurich dan menyatakan bahwa Ratulangie hanya berkuliah dua semester kelas psikologi, fisika, dan matematika.

Semua itu tercantum dalam sebuah paragraf dalam buku Klinken berjudul Minorities, Modernity and the Emerging Nations (2003)—telah diterjemahkan oleh penerbit LKiS berjudul 5 Penggerak Bangsa yang Terlupa (2010).

Baca juga:
Orang-Orang Indo dalam Pergerakan Nasional
Minoritas Kristen dalam Kancah Pergerakan Nasional

Saya menghubungi Klinken melalui surat elektronik, meminta konfirmasinya. Ia membalas dan mengatakan bahwa ia menemukan transkrip akademik Ratulangie dari arsiparis Universitas Zurich pada 1993, yang sayangnya tak bisa ia tunjukkan karena disimpan di Australia. Sedangkan informasi mengenai Ernest, ia temukan dari artikel tentang Ernest yang ditulis Paul van der Veur pada 1958.

Saya juga menemukan bahwa anak Ratulangie, Lani Ratulangi, menulis artikel berjudul “Sam Ratu Langie Belajar di Eropa (1914-1919)", di blognya. Ia menelusuri arsip-arsip Ratulangie di Belanda terkait studi sang ayah. Hasilnya, tidak ditemukan salinah ijazah kelulusan Ratulangie dari Zurich, yang menurutnya sengaja dihilangkan mengingat Belanda benci dengan aktivitas politik dan perkumpulan radikal Ratulangie selama di Zurich. Artikel itu dipublikasikan pada 2009. sayangnya surat elektronik saya kepada Lani, dengan tujuan ingin mengetahui perkembangan penelusuran tersebut, belum dibalas.

Kontroversi Ernest dan Ratulangie sebaiknya diluruskan, mengingat mereka berdua adalah pahlawan nasional dan di masa kini juga kerap dirujuk, dan dikonotasikan, dengan hal-ihwal narasi sejarah dan pendidikan.

Pentingnya Kejujuran Akademis

Citra eksklusif dunia akademik selama ini agaknya mulai tidak relevan mengingat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat publik bisa, misalnya, mencari tahu rekam jejak penelitian seorang ilmuwan, melacak para penerima beasiswa negara yang enggan pulang, bahkan membuat karya ilmiah yang tak kalah menarik dari akademisi.

Pengawasan publik ini semestinya membuat para ilmuwan Indonesia sadar untuk mempertajam keahlian akademis dan membuka akses luas atas hasil penelitiannya, bukan menimbulkan sensasi yang bikin citra sains sebagai instrumen pendorong kemajuan umat manusia menjadi buruk.

Ilmuwan adalah (dan seharusnya) titel mulia yang jika penyematnya membuat kontroversi akademis, maka tanggung jawabnya bisa luas, baik kepada integritas keilmuan, institusi tempatnya bernaung, bahkan negaranya. Namun, jika seorang ilmuwan Indonesia mengalami musibah akademik, harapan agar ia berintrospeksi, atau bahkan bangkit mencapai prestasi jauh lebih tinggi kelak, adalah sesuatu yang sebaiknya kita dukung.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.