tirto.id - Fitriatunnisa Bahri alias Nisa resmi ditetapkan sebagai tersangka baru dalam kasus penyelewengan dana umrah Hanania Travel. Ia merupakan istri dari bos biro perjalanan umrah itu, Ahmad Syah Farhan. Bagaimana sepak terjang sosok Nisa?
Sebelumnya, penetapan Nisa sebagai tersangka telah dikonfirmasi pihak Polda Metro Jaya pada Jumat (31/7/2026) lalu. Kini, Nisa dan suaminya sama-sama disangkakan pasal berlapis, mulai dari penipuan, pelanggaran pasal penyelenggara ibadah umrah hingga tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Penetapan Nisa sebagai tersangka dilakukan polisi setelah meminta keterangan lebih dari 1.500 korban dari total 2.921 jemaah. Total kerugian dalam kasus ini ditaksir mencapai Rp49 miliar dari yang sudah melapor. Namun, taksiran kerugian dari semua 2.921 jemaah diperkirakan mencapai 94 miliar.
Meski kini Nisa telah menjadi tersangka, namun Polda Metro Jaya tak menjebloskannya ke rumah tahanan. Kini, ia berstatus sebagai tahanan kota.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin menyebut bahwa tahanan kota diterapkan kepada Nisa karena kondisi anaknya yang masih balita. Iman menyebut bahwa keputusan ini diambil untuk menjamin terwujudnya hak asasi manusia para tersangka sebagai orang tua.
Sosok Fitriatunnisa Bahri dan Rekam Jejaknya
Fitriatunnisa Bahri atau Nisa merupakan pemilik PT Khazanah Tamma Internasional atau Hanania Group. Perusahaan itu dimiliki Nisa bersama suaminya, Ahmad Syah Farhan.
Ditilik dari akun LinkedIn miliknya, Nisa merupakan lulusan Al Azhar University. Dari universitas itu, ia mendapat gelar licentiate (Lc) bidang tafsir pada 2018 lalu.
Akan tetapi meskipun memiliki latar belakang pendidikan bidang agama Islam, karier profesional Nisa justru tak berawal dari sana. Usai lulus, akun LinkedIn Nisa mencatat ia punya rekam jejak di bidang pemasaran atau marketing.
Usai lulus dari Al Azhar University, Nisa memulai Hanania Group bersama suaminya. Di perusahaan biro perjalanan umrah itu, Nisa bertindak sebagai business operation lead yang berfokus pada pengembangan pemasaran perusahaan itu.
Selama masih aktif, Hanania Group memang menjadikan teknik marketing sebagai kekuatan utama untuk menggaet para jemaah. Nisa dan Farhan sukses mengembangkan biro perjalanan umrah mereka dengan mengemas perjalanan ibadah yang ramah untuk anak muda.
Jika kini ibadah umrah mulai ramai dilakukan anak muda, Hanania Group merupakan salah satu biro perjalanan yang memprakarsainya. Biro perjalanan ini menawarkan konsep perjalanan umrah dengan paket wisata dan fasilitas yang digemari anak muda.
Dalam upaya untuk menggaet jemaah muda itu, Hanania Group kemudian turut menggunakan jasa para influencer untuk memasarkan paket perjalanan mereka. Hal ini sukses menggerakkan jemaah muda untuk ikut serta dalam perjalanan yang diinisiasi Hanania.
Lambat laun, bisnis Nisa dan Farhan mampu memberangkatkan ribuan jemaah. Bisnis pasangan suami istri itu lalu berkembang seiring waktu.
Seiring perkembangan Hanania Group, Nisa mengembangkan lini bisnisnya. Alumni Pondok Pesantren Assalam Sukabumi ini membuat layanan jasa titip (jastip) lewat jenama Titip Nona Aja pada 2023.
Kemudian pada 2024, Nisa mencoba untuk menjadi manajer operasional retail. Ia membentuk tim untuk mengerjakan manajemen industri ritail secara independen.
Seiring Hanania Group berkembang, Nisa juga tak lagi terlibat secara aktif dalam operasional perusahaan itu. Kini ia tercatat sebagai komisaris, berbeda dengan suaminya yang bertindak sebagai direktur utama biro perjalanan itu.
Akan tetapi, pada Mei 2026, Nisa dan Farhan disorot karena terlibat kasus. Hanania Group kedapatan gagal memberangkatkan ribuan jemaah mereka ke Tanah Suci.
Kasus ini bergulir setelah ratusan jemaah melaporkan Hanania Group atas dugaan penipuan. Ratusan jemaah ini merupaka bagian dari klien Hanania Group yang gagal diberangkatkan umrah, kendati telah melakukan pembayaran.
Kasus ini kian menjadi sorotan publik usai pihak kepolisian memeriksa sejumlah influencer yang pernah mempromosikan Hanania Group. Beberapa di antara para pesohor itu adalah Dara Arafah, Keanu Agl, Awkarin, hingga Davina Karamoy.
Seiring bergulirnya kasus, polisi mengungkap bahwa Hanania Group ternyata mengalami kesulitan keuangan pada 2023. Untuk merespons hal itu, Nisa dan Farhan lalu melakukan skema gali lubang tutup lubang.
Sejak 2023, pemberangkatan jemaah rupanya dilakukan perusahaan ini dengan uang calon jemaah kloter berikutnya. Kemudian, kloter berikutnya akan diberangkatkan dengan uang pembayaran kloter berikutnya lagi dan seterusnya.
Hal itu dilakukan hingga akhirnya terdapat hampir 3.000 jemaah yang gagal diberangkatkan. Kini, lebih dari 1.000 di antara mereka telah melapor secsra resmi ke polisi.
Akhir Juli lalu, kasus ini mencapai babak baru. Nisa ditetapkan sebagai tersangka baru setelah suaminya, Farhan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































