tirto.id - Aktor senior sekaligus seniman teater Indonesia, Diding Boneng, meninggal dunia pada Senin (3/8/2026). Namanya sempat populer bersama film-film Warkop DKI era 1990-an dulu. Berikut profil Diding Boneng dan bagaimana dunia hiburan mengenang aktor senior tersebut.
Sebelumnya, kabar meninggalnya Diding Boneng telah dikonfirmasi Sanggar Perkasa yang menjadi ruang seni tempat Diding turut mengajar kelas akting. Dalam unggahan akun Instagram resminya, Sanggar Perkasa menyebut Diding berpulang pada Senin.
“Kebaikan serta dedikasi Bung dalam berbagi ilmu akan selalu menjadi bagian dari perjalanan dan kenangan kami,” tulis Sanggar Perkasa.
Didin meninggal dunia pada usia 76 tahun. Menurut keterangan pihak keluarga, jenazah Didin direncanakan akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Pusat. Prosesi pemakaman akan dimulai pada Senin sore.
Sebelum meninggal dunia, Diding sempat beberapa kali dilaporkan masuk rumah sakit pada tahun ini. Seperti pada Februari 2026 lalu, ia sempat dirawat di rumah sakit untuk menjalani perawatan pada penyakit asma yang ia derita.
Publik Indonesia selama ini mengenal Diding Boneng lewat film-film komedi tahun 1990-an. Namun rekam jejak Diding di dunia seni Indonesia ternyata lebih lebar dari layar film yang menayangkan karyanya.
Sosok Diding Boneng dan Rekam Jejaknya di Dunia Akting
Bagi publik Indonesia, Diding Boneng dikenal terutama lewat perannya dalam film-film grup lawak Warkop DKI. Ia tercatat telah menjadi pemain peran pembantu dalam 10 film Warkop DKI dari 1989 hingga 1994.
Kendati menjadi pemeran pembantu, Diding cukup mudah dikenang dalam sinematografi Warkop DKI. Ia kerap tampil dalam sejumlah adegan ikonik film komedi tersebut.
Salah satu adegan ikonik itu adalah Didin Boneng menjadi komandan satpam yang rupanya gila di film Bisa Naik Bisa Turun (1992). Dalam film ini, Didin menjadi seorang pasien rumah sakit jiwa yang menyamar sebagai komandan satpam dan bertindak melatih trio Dono, Kasino, Indro.
Akan tetapi, meskipun namanya populer berkat aktingnya dalam film-film Warkop DKI, Diding Boneng telah memulai kariernya sebagai aktor jauh hari sebelumnya. Ia tercatat sebagai aktor sejak 1980, ketika ia menjadi pemeran untuk film Tiga Dara Mencari Cinta.
Selain itu, sebelum kemudian identik dengan film Warkop DKI, Diding juga lebih dulu menjadi bagian dalam film seri Catatan Mas Boy. Ia turut mengambil peran di Catatan Si Boy I (1987), Catatan Si Boy II (1988), dan Catatan Si Boy III (1989).
Pada era 80-an hingga 90-an, aktor bernama asli Zainal Abidin ini hilir mudik dari satu judul film ke judul film yang lain. Namun, kemampuan akting Diding justru diasah tidak bermula dari film, melainkan teater.
Ia lebih dulu terjun ke dunia teater ketimbang layar lebar. Ia aktif terlibat dalam berbagai pertunjukan drama sejak dekade 1970-an.
Di sanalah ia mendedikasikan dan mengasah kemampuannya dalam berakting, yakni untuk dipentaskan di atas panggung teater. Dedikasinya pada teater ini pula lah yang kemudian menjadi salah satu hal yang paling dikenang dari sosok Diding.
Pada masa tuanya, Diding masih terlibat dalam industri seni teater. Ia turut serta melatih akting para aktor teater muda, seperti yang ia lakukan melalui Sanggar Perkasa di Kota Bekasi.
Dua medium seni peran itu kemudian jadi kehidupan Diding Boneng. Ia terus bermain teater sembari terus tampil di layar lebar.
Belakangan, setidaknya sejak awal dekade 2020-an, Diding Boneng kembali mewarnai jagat sinema Indonesia. Pada 2022, ia membintangi film laris KKN di Desa Penari.
Film KKN di Desa Penari itu seolah menjadi awal yang baru dalam karier panjang Diding Boneng. Ketika usianya sudah senja, ia terlibat produksi film horor setelah lama dikenal sebagai aktor film komedi.
Aktingnya sebagai pemain film horor itu juga tampaknya tak mengecewakan. Setelah KKN di Desa Penari, ia kembali bermain dalam film horor lainnya, yakni Badarawuhi di Desa Penari(2024) dan The Torture: Beranak dalam Kubur (2024).
Akan tetapi, kemunculannya dalam film horor Indonesia ternyata menandai akhir karier bagi Diding Boneng. Ia meninggal dunia hari ini setelah mengalami penurunan kesehatan dalam beberapa bulan terakhir.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































