Menuju konten utama

Harga Minyak Mentah Melorot ke US$82,41 di Tengah Dialog AS-Iran

Sementara itu, yen Jepang menunjukkan penguatan mendadak setelah AS dan Jepang mengumumkan intervensi untuk dukung yen.

Harga Minyak Mentah Melorot ke US$82,41 di Tengah Dialog AS-Iran
Sebuah truk melintas di dekat area kilang minyak di Pertamina Rifinery Unit III Plaju di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (10/9/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pasar keuangan global mengalami dinamika yang cukup menarik pada perdagangan Senin (3/8/2026). Pasalnya, harga minyak mencatatkan penurunan tajam, sementara yen Jepang menunjukkan penguatan mendadak setelah Amerika Serikat dan Jepang mengumumkan intervensi bersama untuk mendukung mata uang Negeri Sakura tersebut.

Harga minyak mentah Brent anjlok lebih dari 6 persen ke level US$82,42 per barel. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengonfirmasi bahwa pembicaraan diplomatik dengan Iran akan digelar pada hari yang sama.

Melansir Reuters, langkah ini dinilai sebagai upaya untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz sekaligus mencari solusi atas kebuntuan terkait program nuklir Iran.

https://www.reuters.com/world/china/global-markets-global-markets-2026-08-03/

Sebelumnya, Trump membatalkan rencana serangan militer yang akan segera dilancarkan demi memberi ruang bagi kesepakatan damai.

Sementara itu, indeks saham Asia menunjukkan kinerja beragam. Nikkei Jepang melemah 1 persen, sementara KOSPI Korea Selatan terpukul lebih dalam dengan penurunan 3,6 persen.

Koreksi ini terjadi setelah pergerakan volatil pada bulan Juli yang lalu, saat indeks saham Korea sempat kehilangan 22 persen nilainya. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang juga terkoreksi 1 persen di awal perdagangan.

Mata uang yen mencatat lonjakan lebih dari 1 persen ke level 155,39 per dolar AS, sebuah pergerakan mendadak yang memicu kewaspadaan para pelaku pasar akan kemungkinan gelombang intervensi berikutnya.

Kementerian Keuangan Jepang secara resmi pun mengumumkan pada hari Senin bahwa kedua negara telah melakukan operasi pembelian yen secara terkoordinasi.

Kementerian Keuangan Jepang menyatakan tidak akan ragu untuk mengambil langkah serupa jika diperlukan, mengonfirmasi tindakan bilateral yang tergolong langka guna menghentikan pelemahan yen yang telah menyentuh level terendah dalam 40 tahun.

Masayuki Nakajima, ahli strategi di Mizuho Bank, menilai intervensi ini kemungkinan besar tidak dirancang untuk membalikkan tren dolar/yen secara keseluruhan.

“Sulit untuk membantah bahwa tren depresiasi jangka panjang yen telah berubah secara fundamental. Namun, dalam jangka pendek, momentum mungkin bergeser mendukung apresiasi yen karena nada komunikasi AS-Jepang baru-baru ini mengandung peringatan tajam kepada para pedagang spekulatif,” katanya dikutip dari Reuters.

Trump pada hari Minggu sebelumnya menyatakan bahwa keterlibatan AS dalam menopang yen merupakan bentuk persahabatan dan dukungan terhadap perekonomian Jepang.

"Yen mereka melemah dan mereka menginginkan sedikit bantuan. Dan kami selalu ada untuk Jepang," ujar Trump.

Namun demikian, Nick Twidale, kepala ahli strategi pasar di ATFX Global, menyuarakan skeptisismenya. Menurutnya, pernyataan Trump yang menyebut intervensi sebagai “perdagangan persahabatan” justru mengurangi kredibilitas partisipasi AS.

"Mereka menekan harga tanpa memperhatikan fundamental, jadi saya memperkirakan pasar pada akhirnya akan mengoreksi pergerakan tersebut setelah intervensi selesai, kecuali jika kita melihat perubahan pada faktor-faktor yang mendasarinya," ujar Twidale.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi