Menuju konten utama

Ketegangan AS-Iran Mereda, Harga Minyak Dunia Turun 1%

Ketegangan geopolitik AS dan Iran mulai mereda lewat jalur diplomasi. Dampaknya, harga minyak mentah dunia terkoreksi tipis.

Ketegangan AS-Iran Mereda, Harga Minyak Dunia Turun 1%
Peta yang menunjukkan Selat Hormuz, juga dikenal sebagai Madiq Hurmuz, dan tong minyak cetak 3D terlihat dalam ilustrasi yang diambil 26 Maret 2026 ini. REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak mentah dunia merosot sekitar 1 persen pada perdagangan Selasa (28/7/2026) seiring meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar mulai optimistis terhadap langkah diplomasi kedua negara yang diharapkan mampu menormalisasi pasokan energi dari Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent turun 0,54 dolar AS atau 0,6 persen, menjadi 87,82 dolar AS per barel pada pukul 00.46 waktu setempat. Sedangkan, harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,66 dolar AS atau 0,8 persen ke level 81,95 dolar AS per barel.

Kedua kontrak minyak tersebut sempat merosot sekitar 1 persen pada awal perdagangan dan menyentuh level terendahnya dalam lebih dari satu pekan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Senin (27/7/2026) mengatakan bahwa AS tengah melakukan pembicaraan yang "berjalan baik" dengan Iran dan masih terdapat peluang untuk mencapai penyelesaian konflik. Namun, Trump menegaskan serangan militer AS akan kembali dilancarkan jika perundingan gagal.

Di sisi lain, Iran juga menyampaikan pernyataan serupa terkait kemungkinan aksi balasan.

"Untuk saat ini, meredanya ketegangan karena telah ditemukan jalan keluar dari konflik telah mengurangi tekanan terhadap harga minyak dan meredakan kekhawatiran atas potensi serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. Namun, situasinya masih sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu," ujar analis IG, Tony Sycamore, dalam catatannya, dikutip Reuters.

Sementara itu, calon Menteri Luar Negeri Yaman dari pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi, Afrah al-Zouba, mengatakan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman berupaya meniru kendali Iran atas jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan menguasai jalur strategis di Selat Bab el-Mandeb.

"Apakah Houthi memiliki kapasitas militer untuk menerapkan blokade secara menyeluruh masih menjadi tanda tanya, terutama mengingat Arab Saudi kemungkinan akan terus melancarkan serangan terhadap mereka. Namun, tidak diragukan lagi bahwa lalu lintas pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz telah menurun secara signifikan," kata analis Marex, Edward Meir.

"Salah satu alasan utama mengapa harga minyak saat ini tidak melonjak lebih tinggi adalah karena pelemahan permintaan (demand destruction) yang sedang terjadi, terutama di kawasan Asia," imbuhnya.

Terpisah, analis Barclays dalam catatannya pada Senin menyebut arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih berada di level yang rendah. Pada pekan yang berakhir 24 Juli, ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan minyak melalui selat tersebut rata-rata hanya mencapai 2,9 juta barel per hari, turun tajam dibandingkan 5,9 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, berdasarkan survei awal Reuters yang dirilis pada Senin, persediaan minyak mentah Amerika Serikat diperkirakan mengalami penurunan pada pekan lalu, sejalan dengan berkurangnya stok bensin. Sebaliknya, persediaan produk distilat—seperti solar dan bahan bakar pemanas—diperkirakan meningkat.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah