tirto.id - Di tengah perang dengan Amerika Serikat (AS) yang kembali berkecamuk, pemerintahan Iran justru tampak terpecah. Para pejabat tinggi Iran kini dituduh telah melakukan kudeta terselubung, seiring pemimpin tertinggi Iran kini, Mojtaba Khamenei, yang masih tak menampakkan diri. Berikut duduk perkaranya.
Seturut CNN, perpecahan itu tampak dalam upacara pemakamanan mendiang pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada awal Juli lalu. Pada kesempatan itu Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut hadir, namun para pelayat yang datang justru bereaksi keras kepadanya.
Sejumlah pelayat mengerubungi Pezeshkian sambil meneriaki Presiden Iran itu sebagai pengkhianat. Mereka meneriakkan, “mati bagi pihak yang berkompromi,” tepat ke arah Pezeshkian.
Hal serupa juga dialami Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Ia hadir dalam prosesi pemakaman, namun ia terpaksa melarikan diri karena sejumlah massa pelayat melemparinya dengan batu sambil menuduhnya sebagai pengkhianat yang menjual negaranya sendiri.
Peristiwa itu terjadi seiring spekulasi tentang Pemerintah Iran berkembang sebulan terakhir. Para pejabat tinggi Iran dituduh telah melakukan kudeta terselubung.
Sejumlah faksi di dalam Iran sendiri telah menuduh pejabat senior Iran macam Pezeshkian dan Araghchi berupaya untuk mendelegitimasi kekuasan pemimpin tertinggi. Pejabat itu juga dituduh pula mengkhianati cita-cita revolusioner negara tersebut dengan bersikap lunak kepada AS.
Siapa yang Menuduh Kudeta dan Apa Kata Mereka?
Tuduhan tersebut dilaporkan telah berembus di Iran dalam beberapa bulan terakhir. Para pejabat parlemen bahkan telah menyerukan tuduhan itu secara terbuka.
Ditilik dari para pejabat parlemen yang telah menyerukan tuduhan secara terbuka, tuduhan kudeta terselubung di Iran tampak dimotori oleh faksi konservatif garis keras. Beberapa anggota parlemen yang dikenal radikal merupakan sejumlah pihak yang terus membawa tuduhan itu ke publik.
Salah satunya adalah Mahmoud Nabavian. Ia selama ini dikenal sebagai politisi radikal yang terafiliasi dengan partai ultrakonservatif Front Paydari (Front Stabilitas Revolusi Islam). Nabavian juga merupakan ulama syiah garis keras di Iran.
Sehari sebelum Ali Khamenei dimakamkan di Mashhad, Nabavian menulis di akun X miliknya, menuding adanya upaya kudeta yang sedang terjadi di pemerintahan Iran kini. Ia tak merinci tuduhan itu, namun ia menyatakan akan melawan upaya tersebut.
“Pada saat-saat perpisahan dengan Imam syahid (Khamenei), kami mengibarkan panji pembalasan atas darahnya dan berdiri teguh melawan kudeta,” tulisnya.
Tuduhan juga telah secara terbuka dilayangkan Kamran Ghazanfari, seorang anggota parlemen Iran garis keras lainnya. Sama halnya Nabavian, Ghazanfari juga merupakan politisi yang terafiliasi dengan partai ultrakonservatif Front Paydari.
Dalam keterangannya di awal Juli lalu, Ghazanfari menuduh pejabat senior Iran yang kini bertindak atas nama Mojtaba Khamenei tengah berupaya untuk melucuti pemimpin tertinggi Iran tersebut. Menurutnya, para pejabat seperti Pezeshkian dan Araghchi “mencoba meningkatkan peran Dewan Tertinggi Keamanan Nasional” guna “mengurangi peran pemimpin tertinggi”.
“Ini adalah kudeta politik yang telah mereka rancang dan sedang mereka laksanakan langkah demi langkah,” kata Ghazanfari.
Faksi garis keras di Iran juga dilaporkan telah menuduh para pejabat senior macam Pezeshkian telah mengingkari perintah Mojtaba Khamenei dengan menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Washington. Menurut mereka, para pejabat tersebut telah bersikap melunak karena tidak membalas kematian Ali Khamenei dengan cara yang mereka anggap patut.
Kini, ada tiga pejabat yang jadi target para penuduh tersebut. Selain Pezeshkian dan Araghchi, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga jadi sasaran ketidakpuasan faksi garis keras.
Kendati Ghalibaf selama ini dikenal sebagai politisi eks komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan bersikap lebih keras dari dua pejabat lain, namun ia menjadi salah satu target ketidakpuasan dan dituduh telah ikut melakukan kudeta terselubung.
Ghalibaf, Pezeshkian, dan Araghchi sebelumnya bertindak sebagai salah satu negosiator utama dalam kesepakatan gencatan senjata dan upaya diplomatik untuk menghentikan perang dengan AS.
Misteri Keberadaan Mojtaba Turut Memperuncing Konflik
Para pakar bidang Iran juga menyebut bahwa konflik internal Iran ini telah diperuncing dengan tak kunjung tampaknya Mojtaba Khamenei di depan publik.
Sejak terpilih sebagai suksesi ayahnya pada awal Maret lalu, Mojtaba tak tampil di hadapan publik, sejumlah pihak menduga hal ini terjadi karena ancaman keselamatan sang pemimpin tertinggi. Mojtaba juga bahkan tak muncul dalam proses pemakaman ayahnya pada awal Juli.
Arash Azizi, pakar bidang Iran dan penulis What Iran Want (2024), menyebut misteri keberadaan Mojtaba merupakan pemicu ketidakpuasan faksi garis keras Iran. Menurutnya, faksi garis keras Iran tak puas dengan kinerja Pezeshkian, Ghalibaf, dan Araghchi, dan di saat yang sama tak kunjung mendapatkan akses ke Mojtaba.
“Absennya Mojtaba yang terus-menerus berarti mereka tidak memiliki akses terhadapnya dan juga bahwa Ghalibaf dan sekutunya secara efektif memimpin negara… kelompok ultra-garis keras menuduh Ghalibaf dan Pezeshkian merencanakan ‘kudeta’ terhadap Mojtaba,” kata Azizi kepada CNN.
Apa Dampak Konflik Internal Iran Sejauh Ini?
Isu perpecahan di dalam pemerintahan Iran itu berembus seiring kembali pecahnya pertempuran antara Iran dan AS sejak pekan lalu. Iran maupun AS kini saling berbalas serangan dan membuat situasi kawasan Teluk Persia kembali tak menentu.
Sejak perang pecah karena serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu, faksi ultrakonservatif di Iran menuntut pembalasan secara besar-besaran. Mereka juga telah menjadi pengkritik utama di pihak Iran terkait upaya negosiasi perdamaian yang kemudian diupayakan.
Seiring isu kudeta meluas, IRGC telah menyerang kapal komersial di Selat Hormuz pada awal Juli. Serangan ini kemudian menyulut kembali pertempuran usai AS memilih untuk menyerang balik dengan skala yang luas di wilayah pelabuhan Iran.
Sementara itu, perpecahan di tubuh pemerintahan itu juga tampak dalam sebuah keterangan Presiden Iran Masoud Pezeshkian belakangan ini. Seturut media Iran International, pemerintahan yang dipimpin Presiden Iran Masoud Pezeshkian belakangan membuat pernyataan kecaman kepada stasiun televisi Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB).
IRIB merupakan stasiun televisi milik pemerintah Iran. IRIB sejauh ini dikenal memiliki afiliasi dengan IRGC dan dianggap kubu Pezeshkian telah bertindak pro terhadap faksi garis keras.
Dalam pernyataannya, Pezeshkian mengecam IRIB karena telah menghilangkan sebagian keterangannya terkait mendiang Ali Khamenei dalam liputan. Menurut Pezeshkian, sebelum tewas terbunuh karena serangan, Ali Khamenei telah menginstruksikannya untuk memulai dialog dengan AS pasca-Perang 12 Hari pada 2025 lalu.
Pezeshkian menyebut para pejabat senior sempat mengadakan sebuah pertemuan. Di dalamnya, situasi negara pasca-Perang 12 Hari dibahas dan Ali Khamenei menjelaskan bahwa situasi damai di Iran tak berkelanjutan.
“Beliau [kemudian] menginstruksikan kami untuk pergi dan bernegosiasi [dengan AS],” kata Pezeshkian.
Akan tetapi, keterangan tersebut disebut kubu Pezeshkian telah dihapus oleh IRIB dalam liputannya. Hal ini kemudian memicu kecaman dan tuduhan bahwa IRIB telah berlaku bias dalam memberitakan peristiwa.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































