Menuju konten utama

Perang AS-Iran Belum Usai: Kenapa Bertahan & Siapa Dirugikan?

Di masa pemerintahan Trump, AS-Iran sering tidak mencapai sepakat terkait pengayaan uranium dan kebijakan di Selat Hormuz. Hal ini membuat dampak global.

Perang AS-Iran Belum Usai: Kenapa Bertahan & Siapa Dirugikan?
Konfilk Iran dan Amerika . FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perang Iran vs Amerika Serikat (AS) tak kunjung usai hingga Senin (20/7/2026). Setelah sempat bersepakat melakukan gencatan senjata, kedua negara kembali saling serang sejak pekan lalu. Namun, mengapa perang kedua negara tak kunjung berakhir, meski seluruh dunia telah dirugikan karenanya?

Akhir pekan lalu merupakan waktu yang menegangkan bagi publik Iran. Pada Minggu (19/7) waktu Indonesia, AS melancarkan serangan terbarunya. Pihak Pusat Komando AS (CENTCOM) telah menghantam fasilitas pengawasan pantai dan pertahanan udara militer Iran dalam serangan itu.

Seturut Internazionale, CENTCOM melancarkan serangan itu dengan dua alasan. Pertama, adalah untuk memperlemah “kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz”, dan kedua adalah sebagai balasan kepada Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) atas “serangan terhadap anggota militer Amerika di Yordania”.

Serangan IRGC yang dimaksud CENTCOM itu merujuk pada serangan Iran ke Yordania sehari sebelumnya pada Sabtu (18/7) waktu Indonesia. Dalam serangan ini, dua tentara AS dilaporkan terbunuh akibat serangan dan satu lainnya dinyatakan hilang.

Seiring konfirmasi Pentagon tentang terbunuhnya tentara mereka, IRGC mengklaim bertanggung jawab atas serangan ke pangkalan militer AS di Al-Azraq, Yordania. Mereka mengklaim telah “menghancurkan sepenuhnya” sejumlah pesawat dengan rudal dan drone.

Kabar tersebut menandai eskalasi terbaru dalam konflik AS-Iran. Serangan pada akhir pekan lalu juga menandai korban jiwa pertama dari pihak AS sejak kesepakatan gencatan senjata yang rapuh pada April.

Usai pecahnya peperangan langsung pada 28 Februari lalu, AS dan Iran telah terlibat upaya diplomasi penghentian perang. Gencatan senjata disepakati pada April dan kemudian menghasilkan nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata permanen pada Juni.

Akan tetapi, MoU penghentian perang itu semula disambut publik dunia dan negosiasi terkaitnya dilaporkan berjalan mulus. Namun, di tengah jalan, negosiasi terhenti dan kedua negara kembali saling serang sejak pekan lalu.

Kenapa AS-Iran Masih Belum Gencatan Senjata Permanen?

Sejauh ini, ketidaksepahaman utama antara AS dan Iran untuk menghentikan perang bersandar pada dua isu. Keduanya adalah persoalan nuklir dan otoritas Selat Hormuz.

Peperangan antara AS dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 ketika AS bersama Israel melancarkan serangan meluas ke Iran. Serangan itu menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan jajaran pejabat seniornya.

Ribuan orang kemudian terbunuh dalam peperangan sejak 28 Februari. Seturut Al Jazeera, Per Juni 2026, korban tewas di pihak Iran telah menyentuh angka 3.400 orang.

AS mengklaim bahwa tujuan serangan itu adalah mencegah Iran memproduksi senjata nuklir, walaupun hal ini terus dibantah dalam pernyataan resmi Iran. Dalam perkembangan situasi perang ini, hal ini juga yang terus diperdebatkan kedua negara.

Sementara itu, Selat Hormuz, jalur sempit yang penting bagi perdagangan energi dan produk petrokimia dunia, terdampak usai Iran menutupnya. Teheran menggunakan penutupan Hormuz sebagai strategi perang asimetris.

Menukil CNN, dua hal itu kini jadi alasan utama mengapa perang tak kunjung benar-benar diakhiri. Meskipun gencatan senjata tercapai pada April, kedua negara saling tuduh dan menyebut negara lain telah melanggar kesepakatan.

Rumah rusak di Iran

Bendera Iran terlihat di atas sebuah bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan baru-baru ini di kota Vahdat di Karaj, barat daya Teheran pada 3 April 2026. (Foto oleh ATTA KENARE / AFP)

Pada Mei, kedua negara dilaporkan telah mencapai kesepahaman untuk menghentikan perang. Titik temu ini bahkan disebut telah berbentuk draf MoU dan siap ditandatangani.

MoU ini dilaporkan berisi tiga kesepakatan penting. Pertama, kesepahaman untuk pembicaraan terkait nuklir selama 60 hari. Kedua, membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial. Ketiga, merilis aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Akan tetapi, memasuki bulan Juni, kesepahaman itu menguap. AS menuduh Iran melanggar kesepahaman dengan terus menutup Hormuz. Iran, di sisi lain, juga menuduh AS telah melanggar kesepahaman dengan tidak melakukan kewajibannya.

Melansir The Conversation, profesor bidang praktik ilmu politik dan hubungan internasional dari USC Dornsife College of Letters, Jeffrey Field, menjelaskan bahwa sulitnya kedua negara untuk mencapai kesepakatan berakar dari intrik yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya.

Menurut Field, Iran dan AS telah saling bermusuhan, setidaknya, sejak 1953. Dimulai dari operasi rahasia AS untuk menyingkirkan perdana menteri Mohammed Mossadegh di masa lalu, kedua negara terus memupuk rasa tidak percaya satu sama lain.

Sulitnya kedua negara untuk berunding terus berlangsung dalam berbagai periode. Dari kudeta Mossadegh oleh AS pada 1953, otoritarianisme Shah Reza Pahlavi setelahnya, Revolusi Islam Iran 1979 dan penyanderaan warga AS yang mengikutinya, semua periode itu telah memupuk rasa tak saling percaya antara Washington dan Tehran.

Hal itu, kemudian kembali tampak dalam konflik di masa kini. Sejak 2025, kedua negara telah terlibat upaya diplomasi, baik langsung maupun tak langsung. Berkali-kali upaya itu dilakukan, sebanyak itu pula upaya itu gagal dan berujung pada saling tuduh.

Sikap Negara-negara Besar soal Konflik AS-Iran

Perang Iran dan AS yang pecah sejak 28 Februari lalu telah menimbulkan dua dampak besar secara global. Keduanya adalah dampak politik dan ekonomi.

Secara politik, perang telah meruncingkan konflik AS-Iran yang berlangsung selama berdekade-dekade yang lalu. Hal ini, pada akhirnya, juga memengaruhi peta politik dunia yang selama ini ada.

Banyak negara di luar Iran dan AS telah menyatakan sikap terkait konflik. Sikap-sikap dari berbagai negara ini telah membuat peta geopolitik dalam setahun terakhir tak menentu.

Ketika Iran diserang oleh AS dan Israel pada Februari, sejumlah negara besar telah memilih sikap untuk mengecamnya. Beberapa di antaranya adalah sekutu Iran macam Cina dan Rusia. Selain kedua negara itu, Turki yang notabene termasuk sekutu AS dalam NATO, juga turut mengecam serangan AS pada 28 Februari.

Keputusan Turki sebagai anggota NATO yang turut mengecam serangan AS rupanya juga diikuti anggota lain dari pakta persekutuan militer Atlantik Utara itu. Tak sedikit negara Eropa anggota NATO turut menyayangkan keputusan AS untuk memulai serangan.

Spanyol, Jerman, Belgia, dan Inggris secara resmi menyatakan penolakan mereka untuk membantu serangan militer AS ke Iran. Negara-negara itu secara resmi menolak izin armada AS untuk menggunakan pangkalan militer negara mereka untuk menyerang Iran.

Hal itu sempat membuat aliansi NATO mengalami perpecahan. Pemerintahan Donald Trump berulang kali menyampaikan kekecewaan kepada para anggota NATO dan mengisyaratkan penarikan diri AS dari aliansi tersebut.

Perang AS-Iran sejauh ini telah mengguncang tatanan geopolitik yang selama ini ajeg. Namun, dampak terbesar perang ini sejauh ini tak berada di sana. Perang ini telah membuat seluruh dunia merugi lewat dampak ekonomi yang mengikutinya.

Dampak Konflik AS-Iran pada Ekonomi Global

Pecahnya perang antara AS dan Iran pada tahun ini telah menyeret seluruh dunia dalam pusaran konflik. Kerugian atas konflik ini tak hanya terjadi pada negara yang berkonflik, tetapi juga dialami negara-negara yang tak ikut serta di medan perang.

Hal itu dikarenakan taktik Iran untuk melawan balik serangan AS sepanjang perang. Mereka tak hanya menyerang situs militer AS yang tersebar di wilayah Teluk, tetapi juga mencekik jalur perekonomian dunia.

Sepanjang perang, Iran telah menghambat laju pelayaran komersial di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur sempit yang penting bagi perdagangan produk energi dan petrokimia dunia.

Sebelum pecah perang, Hormuz merupakan jalur bagi seperlima pasokan energi global. Selat ini selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran komersial paling sibuk di dunia.

Ketika pecah peperangan, Iran telah menutup jalur tersebut dengan serangan ke tiap kapal yang melintas. IRGC juga diduga telah memasang ranjau laut dalam selat tersebut, membuatnya jadi jalur yang berbahaya untuk dilewati.

Kapal dan Perahu di Selat Hormuz

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 20 April 2026.. REUTERS

Alhasil, roda distribusi energi global terhambat dalam skala yang belum pernah terjadi. Hal ini membuat harga minyak mentah melambung dan berdampak ke banyak negara. Seturut Bloomberg, harga minyak mentah Brent yang selama ini jadi acuan global telah meningkat lebih dari 50 persen karena perang.

Banyak negara macam Sri Lanka, Bangladesh, Bhutan, Pakistan, Vietnam, Kamboja, Laos, Mesir, Kenya, Afrika Selatan, Slovakia, dan Slovenia sampai harus membuat kebijakan khusus skala nasional demi menghemat energi dan mencegah krisis akibat perang.

Jepang juga menjadi salah satu negara paling terdampak. Negara Matahari Terbit ini berulang kali merilis cadangan minyak mereka guna mencegah krisis, sembari kelabakan mencari distributor minyak baru.

Filipina bahkan sempat mengumumkan situasi darurat energi nasional akibat perang yang berlangsung. Status ini dikeluarkan usai lonjakan harga minyak mentah dunia.

Dampak Perang AS-Iran pada Indonesia

Indonesia, yang selama ini tak terkait langsung dengan perang, juga turut menerima getahnya. Sejumlah kebijakan skala nasional turut diputuskan pemerintah untuk menghadapi dampaknya.

Dampak langsung yang dirasakan Indonesia adalah keselamatan warga. Iran turut menjadi negara tempat warga negara Indonesia menetap. Karenanya, pada Maret 2026, Pemerintah Indonesia harus mengevakuasi 329 WNI dari Iran.

Tak hanya keharusan evakuasi, perang juga telah mengharuskan Indonesia menghadapi situasi ekonomi yang tak mudah. Indonesia turut terdampak tren kenaikan harga dan potensi krisis energi.

Pada Juni lalu, harga BBM jenis Pertamax resmi dinaikkan pemerintah. Pertamina menyebut kebijakan ini diambil sebagai salah satu dampak kenaikan harga minyak dunia.

Kekhawatiran akan ketersediaan stok BBM nasional juga sempat menjadi perhatian publik. Tren kelangkaan BBM di banyak negara turut memicu panic buying yang sempat terjadi pada awal Maret lalu.

Pada awal April, pemerintah merilis 8 paket kebijakan untuk menghemat konsumsi energi nasional. Hal ini berdampak pada mekanisme kerja ASN di tiap daerah yang diwajibkan untuk memenuhi target penghematan dari pemerintah pusat.

Selain itu, tren kenaikan harga juga telah dirasakan masyarakat Indonesia pada produk turunan komoditas energi dan petrokimia. Salah satu yang sempat jadi yang paling terasa adalah kenaikan harga plastik.

Pada April lalu, kenaikan harga plastik terpantau terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Kenaikan ini terjadi karena Indonesia memasok bahan baku plastik dari Asia Barat.

Menteri Perdagangan Budi Santoso kala itu menyatakan bahwa perang telah membuat distribusi bahan baku plastik di Indonesia tersendat. Hal ini kemudian membuat harga produk plastik meningkat tajam.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - News Plus
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar