tirto.id - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak menegangkan. AS meningkatkan serangan 6 hari berturut-turut yang kini tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga infrastruktur strategis. Teheran dilaporkan menyiapkan strategi untuk perang yang lebih besar.
Amerika Serikat dilaporkan memperluas serangan udaranya dengan menghantam sejumlah jembatan di Iran sebagai bagian dari upaya menekan Teheran agar melonggarkan penguasaannya atas Selat Hormuz.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, ancaman baru muncul dari Laut Merah. Sejumlah sumber menyebut Iran telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup Selat Bab al-Mandab apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik.
Jika ancaman itu benar-benar diwujudkan, maka dua jalur pelayaran energi paling strategis di Timur Tengah yakni Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab berpotensi terganggu secara bersamaan.
AS Gempur Iran 6 hari Berturut-turut
Amerika Serikat kembali meningkatkan operasi militernya terhadap Iran dengan melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran pada Jumat (17/7/2026) dini hari.
Dalam fase terbaru ini, militer AS tidak hanya menyasar fasilitas militer, namun juga mulai menyerang infrastruktur strategis seperti jembatan di Provinsi Hormozgan, termasuk di kawasan Bandar Khamir yang berada di pesisir Selat Hormuz.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Presiden Donald Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran agar menghentikan penguasaannya atas Selat Hormuz.
Pemerintah Iran melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas akibat serangan tersebut. Pada serangan sebelumnya di sekitar Teheran dan Provinsi Semnan juga menargetkan fasilitas yang berkaitan dengan produksi rudal balistik dan program antariksa Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui unggahan di X @CENTCOM mengumumkan telah menyelesaikan gelombang serangan besar terbaru terhadap Iran pada pukul 21.40 waktu setempat.
Operasi yang menjadi malam keenam berturut-turut itu melibatkan pesawat tempur, drone, dan kapal perang yang menembakkan amunisi presisi ke puluhan sasaran militer Iran.
Target serangan mencakup fasilitas pengawasan pesisir, sistem pertahanan udara, infrastruktur logistik militer, serta kemampuan maritim Iran.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut dilakukan atas perintah langsung Presiden Trump untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran sekaligus meminta pertanggungjawaban Teheran atas serangan terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut.
CENTCOM juga menegaskan lebih dari 50.000 personel militer AS saat ini masih dikerahkan di berbagai wilayah Timur Tengah dan berada dalam kondisi siaga penuh menghadapi potensi eskalasi konflik lebih lanjut.
“Lebih dari 50.000 anggota militer AS beroperasi di seluruh Timur Tengah dan tetap waspada, mematikan, dan siap,” tulis CENTCOM.
Peningkatan serangan AS terjadi di tengah runtuhnya gencatan senjata sementara yang sempat disepakati bulan lalu. Sejak perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari, kawasan Timur Tengah kembali dilanda aksi saling serang.
Iran mengklaim lebih dari 35 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka akibat serangan udara AS, dengan jumlah korban diperkirakan terus bertambah setelah gelombang serangan terbaru.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di kawasan, termasuk Qatar, Bahrain, dan Kuwait. Di Qatar, pemerintah bahkan mengeluarkan peringatan kepada masyarakat untuk segera berlindung ketika sistem pertahanan udara mencegat rudal-rudal Iran yang melintas di atas wilayah negara tersebut.
Situasi ini juga mengganggu upaya diplomasi, mengingat Qatar selama ini menjadi salah satu mediator penting dalam pembicaraan untuk mengakhiri konflik.
Ketegangan semakin meningkat karena konflik tidak lagi hanya berfokus pada serangan militer, tetapi juga perebutan kendali atas Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan pintu keluar utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk, yang pada masa damai dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia.
Setelah perang dimulai, Iran secara efektif menutup akses pelayaran di selat tersebut sehingga memicu lonjakan harga minyak global dan memberikan posisi tawar yang kuat bagi Teheran dalam perundingan.
Sebagai respons, Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menghentikan ekspor minyak mentah negara itu.
Sebaliknya, Iran memperingatkan bahwa setiap upaya AS menyerang infrastruktur strategis, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, akan dibalas dengan serangan yang lebih luas terhadap infrastruktur di kawasan Timur Tengah.
Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan negara asing mencampuri urusan Selat Hormuz.
“Dalam keadaan apa pun dan dalam cara apa pun kami tidak akan membiarkan Amerika, sebagai negara asing dan ekstraregional, melakukan campur tangan di Selat Hormuz. Ini adalah garis merah Iran yang tak terkalahkan.” tegasnya dikutip AP News, Jumat (17/7/2026).
Iran Minta Houthi Tutup Jalur Laut Merah
Di tengah meningkatnya konflik dengan AS, Iran dilaporkan telah meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap menutup jalur pelayaran di Laut Merah apabila Washington benar-benar menyerang infrastruktur energi, khususnya pembangkit listrik, di wilayah Iran.
Menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, rencana itu telah dibahas di tingkat kepemimpinan Iran dan pesan kepada Houthi sudah disampaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari Kementerian Luar Negeri Iran maupun juru bicara Houthi, langkah tersebut menunjukkan bahwa Teheran tengah menyiapkan opsi balasan yang tidak hanya bersifat militer langsung, tetapi juga ekonomi dengan mengganggu jalur perdagangan energi dunia.
Sumber yang dekat dengan Houthi menyebut kelompok tersebut telah menyelesaikan persiapan untuk menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Persiapan itu dilakukan dengan menempatkan rudal dan drone di sekitar Selat Bab al-Mandab, pintu masuk menuju Laut Merah yang menghubungkan Teluk Aden dengan Terusan Suez.
Posisi senjata ditempatkan di wilayah dataran tinggi Yaman yang menghadap ke Hodeidah dan Teluk Aden, sedangkan para pejuang Houthi disebut hanya menunggu perintah untuk memulai operasi.
Selain itu, sumber tersebut mengungkapkan bahwa keputusan kapan Selat Bab al-Mandab akan ditutup berada di bawah kendali perwakilan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang telah berada di Yaman.
Ancaman terhadap Laut Merah dinilai berpotensi memperburuk krisis energi global yang telah dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk, sedangkan Bab al-Mandab menjadi pintu masuk menuju Laut Merah dan Terusan Suez yang menghubungkan perdagangan energi ke Eropa dan berbagai wilayah lainnya.
Jika Houthi benar-benar menyerang kapal atau pelabuhan di Laut Merah ketika Selat Hormuz masih ditutup, maka dua jalur ekspor minyak utama di Timur Tengah akan terganggu secara bersamaan. Kondisi tersebut berisiko menghambat distribusi minyak dan gas dunia, memicu lonjakan harga energi, serta memperburuk ketidakstabilan ekonomi global.
Ketegangan semakin meningkat setelah Houthi melancarkan serangan rudal ke Arab Saudi usai menuduh kerajaan itu membombardir bandara yang mereka kuasai pada awal pekan.
“Jika pertempuran meningkat dan meluas ke infrastruktur ekspor dan pelayaran Laut Merah, hal itu akan mengancam satu-satunya jalur alternatif utama untuk ekspor minyak dari kawasan tersebut,” kata analis Timur Tengah dari Verisk Maplecroft, Torbjorn Solvedt dikutip The Japan Times, Jumat (17/7/2026).
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































