Menuju konten utama

Harga Minyak Naik Lagi Imbas Serangan AS-Iran Meningkat

Harga minyak dunia menguat lagi imbas eskalasi konflik AS-Iran yang meningkat dan mengancam pasokan melalui Selat Hormuz hingga Laut Merah.

Harga Minyak Naik Lagi Imbas Serangan AS-Iran Meningkat
kapal-kapal yang berlayar di dekat Selat Hormuz, di lepas pantai timur Uni Emirat Arab tepatnya di Khor Fakkan, pada 13 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menyatakan pada 13 Juli bahwa Amerika Serikat akan "mengambil alih" Selat Hormuz dan akan dibayar untuk melindunginya, di tengah kembali memanasnya perselisihan antara Washington dan Teheran terkait jalur perairan vital tersebut. Foto/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak naik tipis pada perdagangan Jumat (17/7/2026), setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling meningkatkan serangan di kawasan Teluk. Eskalasi tersebut membuat gencatan senjata yang rapuh di antara kedua pihak semakin goyah, sehingga menghambat arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Di saat yang sama, Teheran juga dilaporkan meminta kelompok Houthi untuk bersiap menutup jalur ekspor melalui Laut Merah.

Hingga pukul 01.18 waktu setempat, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,05 dolar AS atau sekitar 1,25 persen, menjadi 85,28 dolar AS per barel.

Di sisi lain, kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,03 dolar AS atau 1,3 persen ke level 79,98 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut sekaligus menghapus pelemahan harga yang terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya.

Kedua kontrak acuan minyak tersebut telah melonjak hampir 12 persen sepanjang pekan ini. Jika tren ini berlanjut hingga penutupan perdagangan, Brent akan mencatat kenaikan mingguan untuk tiga pekan berturut-turut, sementara WTI berpotensi membukukan penguatan mingguan selama dua pekan beruntun.

Sementara itu, untuk pertama kalinya sejak penandatanganan nota kesepahaman yang menghentikan pertempuran bulan lalu, AS melancarkan dua gelombang besar serangan udara dalam satu hari pada Rabu. Serangan tersebut sebagian besar menyasar target-target di dekat pesisir selatan Iran dan berlanjut hingga Kamis (16/7/2026).

"Keamanan pasokan minyak masih menjadi isu yang sangat krusial," kata Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, dalam acara yang diselenggarakan oleh Council on Foreign Relations di Washington pada Kamis, dikutip Reuters, Jumat (17/7/2026).

"Kita harus merasa khawatir, dan saya sendiri khawatir, jika situasi ini tidak membaik dalam beberapa pekan ke depan," sambungnya.

Dalam sebuah pernyataan, Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) mengatakan bahwa pasukan AS memulai "gelombang baru serangan terhadap Iran untuk malam keenam berturut-turut guna semakin melemahkan kemampuan militer Iran" pada pukul 14.00 EDT (18.00 GMT), atau sekitar pukul 21.30 waktu Teheran.

Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara tetangga. Salah satu serangan dilakukan secara besar-besaran terhadap pangkalan udara di Yordania yang baru saja diperluas kapasitasnya.

Kekhawatiran terhadap pasokan minyak semakin meningkat setelah pimpinan Iran dilaporkan meminta sekutunya, kelompok Houthi, untuk bersiap menutup jalur pengiriman minyak melalui Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran. Informasi tersebut disampaikan oleh tiga sumber kepada Reuters.

Analis dari IG menilai, secara teknikal harga minyak mentah WTI berpotensi menguji level pertengahan 80 dolar AS per barel apabila mampu bertahan di atas level dukungan (support) penting di kisaran pertengahan 70 dolar AS per barel.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra