Menuju konten utama

Kenapa Roket SpaceX Tabrak Bulan? Ini Penyebab dan Dampaknya

Bagian roket Falcon 9 SpaceX menghantam bulan usai melayang tanpa kendali. Simak penyebab tabrakan, dampaknya bagi bulan, dan riset sampah antariksa.

Kenapa Roket SpaceX Tabrak Bulan? Ini Penyebab dan Dampaknya
Fenomena bulan purnama biru (blue moon) terlihat dari langit di Jakarta, Minggu (31/5/2026). Bulan purnama biru adalah bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender yang secara astronomi diperkirakan akan terjadi pada periode satu hingga tiga tahun sekali dan diperkirakan akan terjadi lagi pada 31 Desember 2028. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bagian roket Falcon 9 milik SpaceX menghantam permukaan bulan pada Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 13.35 WIB setelah hampir satu tahun melayang tanpa kendali di luar angkasa. Meski momen benturannya tidak sempat terekam kamera, teleskop di Chile berhasil mendeteksi semburan debunya.

Para ilmuwan menilai tabrakan tersebut dapat memberikan data penting untuk penelitian mengenai permukaan bulan dan risiko sampah antariksa.

Bagian roket SpaceX yang menghantam bulan sebenarnya bukan roket yang sedang menjalankan misi, melainkan tahap atas (upper stage) roket Falcon 9 yang sudah menyelesaikan tugasnya.

Saat peluncuran pada Januari 2025, Falcon 9 membawa dua wahana pendarat bulan, yakni Blue Ghost dan Resilience. Setelah kedua wahana dilepaskan menuju lintasan bulan, bagian atas roket tidak lagi memiliki bahan bakar maupun sistem kendali untuk kembali ke bumi.

Akibatnya, benda seberat sekitar 4 ton dengan panjang lebih dari 12 meter itu terus melayang di luar angkasa sebagai objek pasif tanpa kemampuan mengubah arah.

Selama hampir satu tahun, bagian roket tersebut perlahan mengalami perubahan lintasan akibat pengaruh gravitasi bumi, bulan, dan matahari, ditambah tekanan dari angin matahari.

Akibat kombinasi faktor itu, lintasan roket perlahan bergeser hingga akhirnya mengarah langsung ke bulan. SpaceX menegaskan bahwa tabrakan tersebut bukan disengaja dan bukan bagian dari rencana misi, melainkan kecelakaan akibat dinamika alami di ruang angkasa.

Saat menghantam permukaan bulan, bagian roket itu melaju dengan kecepatan sekitar 8.690 kilometer per jam atau sekitar 5.400 mil per jam. Kecepatan tersebut cukup besar untuk menghasilkan energi tumbukan yang sangat kuat.

Benturan diperkirakan membentuk kawah baru berdiameter sekitar 20 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter, sekaligus menyemburkan debu dan batuan bulan hingga puluhan kilometer ke angkasa.

Karena bulan hampir tidak memiliki atmosfer, debu yang terlontar tidak membentuk awan seperti di bumi, melainkan langsung menyebar ke ruang angkasa.

Momen tabrakan tidak berhasil direkam secara langsung karena terjadi di dekat garis terminator bulan. Lokasi tersebut sulit diamati dari bumi dan tidak ada satelit yang kebetulan melintas tepat di atas titik tumbukan saat kejadian berlangsung.

Namun, para astronom tetap memperoleh bukti kuat melalui Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory (ESO) di Chile. Teleskop itu menangkap jejak spektrum berupa pancaran unsur natrium dan litium yang muncul dari semburan debu selama sekitar lima hingga sepuluh menit setelah benturan.

Natrium diduga berasal dari tanah bulan yang terpental akibat tabrakan, sedangkan litium kemungkinan berasal dari material roket itu sendiri.

Dampak Tabrakan Roket Space X ke Bulan

Berikut dampak dari tabrakan bagian roket SpaceX ke bulan pada Rabu, 5 Agustus 2026:

1. Membentuk kawah baru di permukaan bulan

Benturan roket yang melaju sekitar 8.690 kilometer per jam menghasilkan energi yang sangat besar. Menurut astrofisikawan Sara Webb, dikutip The Guardian (6/8/2026), tabrakan tersebut diperkirakan menciptakan kawah baru dengan diameter sekitar 20 meter dan kedalaman sekitar 5 meter.

2. Menyemburkan debu dan material bulan ke luar angkasa

Saat menghantam permukaan bulan, roket memicu semburan debu dan batuan yang terlontar hingga puluhan kilometer. Karena bulan hampir tidak memiliki atmosfer, debu tersebut tidak membentuk awan seperti di bumi, melainkan langsung menyebar ke ruang angkasa.

Semburan inilah yang kemudian dideteksi teleskop VLT milik European Southern Observatory (ESO) di Chile melalui jejak unsur natrium dan litium selama sekitar lima hingga sepuluh menit setelah benturan.

3. Menjadi acuan untuk mempelajari risiko sampah antariksa

Menurut ilmuwan Benjamin Fernando dari Laboratorium Nasional Los Alamos di New Mexico, tabrakan ini memberikan gambaran nyata mengenai dampak sampah antariksa terhadap bulan.

"Bahaya dari dampak puing-puing antariksa buatan," ucapnya.

Selama ini perhatian terhadap sampah antariksa lebih banyak tertuju pada orbit bumi, padahal aktivitas di sekitar bulan diperkirakan akan semakin padat dalam beberapa tahun mendatang.

Data dari insiden ini dapat membantu para peneliti menyusun strategi untuk mengurangi risiko sampah antariksa dari buatan manusia.

Baca juga artikel terkait PESAWAT ANTARIKSA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra