tirto.id - Anggota Pimpinan Pusat Lembaga Kebudayaan Rakyat (salah satu organisasi sayap PKI), Sugiarti Siswadi, dalam presentasinya pada Konferensi Nasional I tahun 1963 Lembaga Sastra (Lestra) di Medan, mengatakan bahwa menumbuhkan kesadaran sastra anak sejak usia belia serupa dengan menyiapkan mereka menjadi manusia zaman. Menurutnya, Lestra menyiapkan sastra anak sepenuh-penuhnya bergerak di bidang penyuluhan dan edukasi.
Bagi Lestra, tambah Sugiarti, sudah sepantasnya sejak masa belia, anak-anak telah ditanamkan bekal ideologi sosialisme, yakni sosialisme yang selaras dengan nilai praktis keindonesiaan.
"Mencintai sosialisme harus sekaligus dibarengi dengan ketidaksukaan—apabila kita tidak mau memakai istilah kebencian—kepada semua yang anti-sosialisme. Jadi di samping pendidikan mencinta, harus kita tanamkan perasaan tidak suka, benci," tulisya dalam artikel berjudul "Literatur kanak2" yang dimuat di koran Harian Rakjat edisi 18 Mei 1963.
Sugiarti menambahkan, Lestra menginginkan anak-anak membenci musuh sosialisme sejak usia dini. Barang tentu karena itu, banyak opini publik yang mempertanyakan balik maksudnya. Akan tetapi, katanya, yang tanpa disadari dan telah menjamur: selama ini anak-anak telah dicekoki paham kebencian yang mengurat kepada penjajahan. Misalnya benci kepada kejorokan, dusta, mencuri, berkhianat, sombong, menjilat, malas, dan boros.
Menurutnya, infiltrasi kebencian terhadap sosialisme juga harus dipertegas, kepada apa dan siapa musuhnya. Itu diperlukan agar anak-anak bisa memahami "semangat kebencian" guna bekal menyambut dunia baru.
"Memberikan watak yang tegas, apa yang mesti dicinta dan apa yang mesti dibenci. Sebab apabila tidak demikian, sastra kanak-kanak akan ketinggalan dengan perkembangan kanak-kanak sendiri. Kanak-kanak sudah biasa menyanyikan dan menyatakan misalnya: 'Hancur lebur Belanda kita gempur' dan 'Minggir nyingkir pimpinan yang curang'," tambah Sugiarti memperjelas maksudnya.
Seturut Sugiarti, mengajarkan kebencian kepada anak-anak tidak berarti sama dengan menyeret masa kanak-kanak ke dalam gelanggang politik. Ia mengklaim bahwa fakta Lestra berusaha mendidik anak-anak dengan sosialisme itu benar, tetapi mereka mengajarkannya dengan penuh cinta kasih. Baginya, kebencian yang dimaksud bukanlah absolut dan radikal, melainkan sebuah sikap tegas insan berdikari yang bebas dari kolonialisme.
Ia terus mengentak-entak. Baginya, literatur sastra anak harus konsekuen menjunjung tinggi Panca Cinta: cinta tanah air, kerja, manusia, perdamaian, dan orang tua yang diabdikan kepada sosialisme. Dasar-dasar ini yang mesti dipenuhi terlebih dahulu, sebelum berangsur-angsur dibekali dengan watak sosialisme yang lebih kompleks.
Tentu bukan semata wayang, bahwa literatur kanak-kanak menjadi satu-satunya bintang penolong bagi anak zaman. Namun jelasnya, literatur ini mempunyai peran besar dalam membantu memahami realitas kehidupan.
Panca Cinta ala Lekra
Bila ditelisik akarnya, Panca Cinta ala Lekra bersumber dari gagasan manifesto politik yang lahir seusai pidato Sukarno pada 17 Agustus dengan judul "Penemuan Kembali Revolusi Kita". Lepas itu, seolah seluruh arah kebijakan negara harus dilakukan berlandaskan Manifesto Politik atau lazimnya disebut Manipol. Tak terkecuali bidang pendidikan pedagogis.
Dalam artikel bertajuk "Penyusupan Komunisme dalam Pelaksanaan Pendidikan Pancawardhana" yang termuat di buku Historisitas Kebangsaan Demokrasi (2013: 219), landasan Manipol bertujuan untuk merevolusi pendidikan. Revolusi sistem pendidikan kala itu diwacanakan demi menumbuhkan spirit nasionalisme yang kuat di bangku sekolah.
Hasilnya, presiden membentuk sistem kurikulum pendidikan dengan bantuan perpanjangan tangan Menteri Muda urusan Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (P&K), yang lantas dikenal dengan "Panca Wardhana".
Dalam implementasinya, Panca Wardhana kemudian termaktub lewat instruksi Menteri P&K No. 2 tanggal 17 Agustus 1961. Perinciannya, Panca Wardhana ditetapkan sebagai sistem pendidikan yang berisi prinsip-prinsip perkembangan cinta bangsa dan tanah air, moral nasional/internasional, kecerdasan, emosional artistik, dan juga kerajinan tangan serta perkembangan jasmani. Praksisnya, Menteri P&K menetapkan "Hari Krida" yang berisi kegiatan-kegiatan lapangan kebudayaan, kesenian, olahraga, dan permainan pada tiap Sabtu.
Asas Panca Wardhana ini lantas menjadi bangunan yurisdiksi golongan-golongan yang mendukung paham Manipol. Misalnya Baperki, ormas yang memperjuangkan hak dan kepentingan warga Tionghoa, tetapi bernasib buruk setelah dibubarkan oleh kroni Soeharto lantaran dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September.
Sesuai dengan Amanat Presiden Sukarno pada Kongres Nasional ke-VIII Baperki (Maret, 1963) yang termuat di buku Gotong Rojong Nasakom untuk Melaksanakan Ampera (1963: 59-60), Siauw Giok Tjhan membuat beberapa pertimbangan kesimpulan. Seturut dengan pasal 2 UU No. 22/1961 tentang Perguruan Tinggi, seorang terpelajar mesti ikut serta aktif dalam usaha "me-Manipol-kan" pendidikan. Pasal ini dipersiapkan untuk membentuk manusia berjiwa Pancasila yang bertanggung jawab akan terwujudnya masyarakat sosialis Indonesia.
Sosok "terpelajar" yang dimaksud ditujukan secara khusus kepada anggota Baperki. Anggota Baperki diharapkan menanamkan nilai Panca Cinta sebagai usaha realisasi Panca Wardana kepada anak didik. Konsep Panca Cinta yang ditentukan dalam Kongres Baperki di Semarang adalah:
Tjinta Tanah Air dan Rakjat Indonesia
Tjinta kemanusiaan dan perdamaian dunia
Tjinta Ilmu dan Kebudajaan
Tjinta kerdja
Tjinta Ibu-bapak
Tak ada yang aneh atau kontradiktif ketika prinsip Panca Wardhana dan Panca Cinta menjadi pedoman bagi beberapa lembaga pendidikan. Apalagi sistem pendidikan ini diselaraskan dengan kebutuhan dunia pengajaran yang direstui langsung oleh Panglima Besar Revolusi. Termasuk Lestra, yang mengadopsi asas ini guna mengimplementasikan pendidikan pedagogis. Maka tak ayal ketika Konferensi Nasional I tahun 1963, istilah Panca Cinta digunakan sebagai palang pendidikan sosialisme.
Namun lambat laun, terjadi salah kaprah di antara Manipol, sosialisme kiri, dan komunisme. Acap kali paham-paham ini dicampurbaur dan dianggap bertentangan dengan Pancasila. Reaksi penolakan terhadapnya bermunculan rentang 1964-1965, dan kerap bersumber dari kalangan religi.
Misalnya surat kabar Duta Masjarakat, yang berulang kali mewakili kelompok religi memerangi Panca Cinta. Surat kabar ini begitu konsisten dan getol menolak Panca Cinta dengan terus memublikasikan artikel dengan nada persis. Beberapa di antaranya:
"Larang Pantjatjinta! Laksanakan Dengan Konsekwen Pendidikan Agama" (1 Juli 1964)
"Pemuda Katolik Djawa Barat Menolak Pantjatjinta" (2 Juli 1964)
"Segera Tindak Golongan Pantjatjintais dan Pantjainggris" (4 Juli 1964)
"Menuju Masjarakat Sosialis Indonesia Berdasarkan Pantjasila Bukan Berdasrkan Pantjatjinta" (5 Juli 1964)
"Ansor dan PMII Siap Ganjang Aksi Sefihak dan Pantjatjinta" (7 Juli 1964)
"Tadjuk Rentjana: Larang Pantjatjinta" (7 Juli 1964)
"PERGUNU Desak Presiden Agar Pantjatjinta Dilarang" (11 Juli 1964).
Sikap Duta Masjarakat juga mendecap-decap dalam imaji surat kabar dengan haluan sejenis macam Suluh Indonesia. Mereka menerbitkan artikel berjudul "Pantja Wardhana & Pantjatjinta, Penjelewengan Terhadap Pantjasila" (3 Agustus 1963) dan "Pendidikan Nasional Harus Bersumber Pada Nilai-Nilai Pantjasila" (17 Juli 1964).
Akan tetapi, tak sedikit pula yang mendukung Panca Wardhana dan Panca Chinta. Dari organisasi pendidikan, Berita Indonesia "PGRI Djakarta tolak kebidjaksanaan PB-nja" edisi 19 Mei 1964 melaporkan, PGRI Djakarta berkomitmen mendukung penuh sistem Panca Wardhana. Mereka bahkan menyatakan menolak hasil keputusan Pengurus Besar PGRI, yang kemudian dikenal dengan istilah PGRI Vaksentral.
Diikuti pula organisasi besar macam Front Nasional dan PKI. Ketua CC PKI D. N. Aidit dalam Kongres I Lembaga Pendidikan Nasional (LPN) tahun 1962 menyatakan, bahwa pendidikan selalu memiliki "watak tertentu" dan tidak mungkin ada pendidikan yang bersifat universal, atau dengan kata lain berlaku di setiap situasi zaman. Artinya, paham Manipol, yang bermanifestasi ke ajaran sosio-komunisme ala Sukarno perlu dihayati sebagai pedoman pendidikan dan karakter bangsa.
Kendati begitu, konflik ini berakhir anti-klimaks. Kubu penentang Panca Wardhana dan Panca Cinta terus saja menggonggong dan menuntut adanya perbaikan di departemen LPN. Sementara antek-antek kiri di barisan pemerintahan juga terus menyusupkan sistem pendidikan ini ke sekolah-sekolah tanpa hambatan yang berarti.
Membenci sekaligus Mencintai
Menurut Dwi Susanto dalam Lekra, Lesbumi, Manifes Kebudayaan: Sejarah Sastra Indonesia Periode 1950-1965 (2018: 46), alasan kuat penerapan Panca Cinta dalam metode pedagogis Lekra karena sistem ini seia sekata dengan realisme sosial.
"Gagasan ini menuntut seseorang memberikan penilaian yang patuh, membela kebenaran, dan nyata berdasarkan ideologi dan latihan para buruh atau pekerja dalam semangat sosialisme," tulisnya.
Maka tak perlu kaget ketika persoalan yang kelihatannya tampak berat bagi anak-anak, telah coba Lekra ajarkan sebagai bagian dari penguatan semangat revolusi anti-kolonialisme. Itu membuat Lekra menjadi cenderung "sensitif" terhadap bahan ajar yang bersumber dari Barat.
Salah satu persoalan yang diangkat dalam paradigma sastra anak ala Lestra adalah membanjirnya komik-komik terjemahan di Indonesia sejak awal 1950-an. Kebanyakan komik-komik tersebut diimpor dari Amerika Serikat dan Singapura, dengan pusat penerbitan di daerah Bandung dan Medan. Komik-komik itu kerap menyajikan cerita pertualangan anarkisme, sensasi, manusia super, hingga genre science-fiction yang dicap "sok ilmiah".
Kala itu, muncul karakter-karakter tiruan, yang oleh Arswendo Atmowiloto disebut "asembling" atau rakitan hero dari Amerika. Misalnya Sri Asih anggitan R.A. Kosasih atau Putri Bintang dan Garuda Putih karya John Lo.
Selain komik-komik Barat yang dicap bertendensi imperialis, Lestra juga memberantas cerita-cerita yang mereka anggap murahan. Bagi mereka, dunia anak-anak tak pantas dijejali dengan heroisme picisan yang bermuatan moral menyimpang.
"Terutama dalam cerita detektif dan spionase (yang suka dikatakan cerita nyata, padahal isapan jempol saja), telah dengan sadar dimasukkan American way of life dia punya seks dan Perang Dingin (tegasnya anti-komunis)," kata Sugiarti Siswadi dalam Konferensi Nasional I Lekra di Medan.
Mirisnya, kata dia, justru rekaan macam itu menjadi sumber imajiner reproduksi penulis-penulis lokal yang "memuakkan" Lestra. Memang buku heroisme picisan ini tak lagi menonjolkan kisah ndoro sinyo, bendoro, noni, tuan besar, jongos, dan babu. Akan tetapi, misalnya pada buku R. Soekardi dalam Si-Pitak: Pahlawan Kechil Tiga Sa-Rangkai (1956), yang justru menyebarkan rasialisme.
Buku ini berkisah tentang buruh perkebunan Tionghoa di pedalaman Kalimantan yang memberontak karena terlambat mendapat "catu madat". Oleh penulis, Pitak digambarkan sebagai seorang pahlawan, yang memerangi kebatilan, karena menumpas madat atau candu.
"Dan dengan ini saya perkenalkan kepada khalayak ramai, Munir atau Pitak, sa-orang pahlawan kechil, pembela keadilan, penentang kejahatan, dibantu oleh dua orang kawan-nya Aman dan Amin yang ketiganya merupakan tiga-sarangkai, pengawas keamanan dalam kampong dan kota kita," tulis R. Soekardi dalam bagian terakhir seri ini, "Di-muka Sidang Pengadilan" (hlm. 84).
Masalahnya ialah, majikan Pitak adalah sosok kulit putih berkebangsaan Inggris, yang oleh Soekardi digambarkan teramat istimewa. Dia juga seolah berkuasa tanpa cela, dan karena itu, di titimangsa ini Lestra merasa perlu memerangi kesusastraan macam ini.
Contoh bacaan Si-Pitak itu kiranya mengingkari konsep 1-5-1 ala Lekra yang menjadi pedoman kreatif para seniman. Namun, Lekra berdalih tak dapat membendung banjir distribusi buku-buku picisan macam itu, sebab orang-orang sudah terlampau keranjingan. Yang bisa dilakukan adalah dengan terus menguatkan kontrol orang tua.
Lain itu, penguasa kerap melarang masuknya bahan ajar buku dan cergam dari negeri sosialis seperti Cina. Alasannya belum dapat dimafhumkan dengan seksama, apakah lantaran diselubungi histeria pada ideologi yang menggaungkan sosialisme atau lainnya. Namun yang jelas, peredaran buku dengan penceritaan gangster, science-fiction, manusia super dari industri Amerika Serikat telah masif.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































