12 Januari 2000

Kisah Sudharnoto: Seniman Lekra, Penggubah Lagu Garuda Pancasila

Oleh: Petrik Matanasi - 11 Januari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Sudharnoto adalah pencipta lagu "Garuda Pancasila" yang terus dikumandangkan hingga kini. Namun si pencipta lagu ini namanya tenggelam.
tirto.id - Sultan Hamid II, perancang lambang negara Republik Indonesia Garuda Pancasila bukan satu-satunya tokoh yang apes dalam sejarah Indonesia. Tokoh lain, yang juga terkait Garuda Pancasila, adalah Sudharnoto, sang pencipta lagu "Garuda Pancasila". Dulu, ada masa lagu ini diperdengarkan di TVRI. Lagu wajib nasional ini termasuk lagu yang bagi banyak pihak di Indonesia, pantang untuk dipelesetkan.

Setelah Orde Baru tumbang, musisi Harry Roesli, cucu Marah Roesli sang penulis roman Siti Nurbaya, pernah akan diperkarakan karena mempelesetkan lagu itu. Padahal, bisa jadi apa yang dilakukan Harry adalah bentuk kritik terhadap pelaksanaan Pancasila di Indonesia yang jauh dari ideal. Pemerkaraan Harry itu, tentu merupakan bukti "Garuda Pancasila" ini bukan lagu main-main.

Diakui atau tidak, Sudharnoto pernah menjadi anggota pimpinan pusat dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Menurut Subagio Sastrowardoyo, yang berseberangan dengan PKI dan Lekra, dalam Bakat Alam dan Intelektualisme (1983:70) Sudharnoto adalah tokoh musik di Lekra bersama Amir Pasaribu yang menggubah lagu "Andhika Bhayangkari", yang dipesan ABRI dan masih dipakai lagunya setelah ABRI berganti nama.


Lekra berkaitan erat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Soal siapa Sudharnoto, tentu tidak diceritakan dalam buku pelajaran sejarah atau seni di sekolah. Semua tahu Orde Baru anti PKI.

Lagu "Garuda Pancasila", seperti disebut dalam buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 (1981:732) digubah pada tahun 1956. “Dialah penggubah lagu 'Mars Pancasila' bersama Prahar, atau yang umum mengenal [lagu itu] sebagai 'Garuda Pancasila' (1956),” tulis Hersri Setiawan dalam Kamus Gestok (2003:274).

Pada tahun 1956 Orde Baru belum lahir, sementara Lekra yang berdiri pada 17 Agustus 1950 masih berjaya dan anggota-anggotanya berkarya dengan bebas.

Setelah PKI disikat, orang-orang Lekra juga kena garuk. Sudharnoto ikut ditahan sebagai Tahanan Politik di Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba. Tak cukup hanya dipenjara, Sudharnoto juga kehilangan pekerjaannya. Pada tahun 1965, seperti dicatat Hersri, Sudharnoto dipecat dari Radio Republik Indonesia (RRI), tempat dia menjadi Kepala Seksi Musik sejak 1952 dan juga jadi pengisi acara Hammond Organ Sudharnoto.

Hidup Getir Usai G30S

Sudharnoto tak pernah sekolah musik secara formal. Dia lahir dari keluarga dokter. Ayahnya adalah dokter Keraton Mangkunegaran yang hobi bermain musik dan biasa memainkan seruling, biola dan gitar di waktu luang. Sementara ibunya bisa bermain akordeon. Sejak kecil, kuping Sudharnoto tak asing mendengarkan lagu-lagu-lagu klasik.

Sudharnoto yang lahir di Kendal pada 24 Oktober 1925, kerap bergaul dengan seniman dari Solo. Dia belajar not balok dari musisi keroncong Maladi yang kelak jadi Menteri Penerangan (1959-1962), juga pada Daldjono yang menciptakan lagu "Bintang Kecil". Sedangkan untuk aransemen lagu, dia belajar dari Sutedjo dan RAJ Sudjasmin. Agar jagat pergaulannya makin luas, Sudharnoto juga bergaul dengan banyak musisi luar negeri. Dia dikenal berkawan dengan musisi dari Belanda seperti Jos Cleber. Sedangkan musisi lokal yang dikaguminya adalah Ismail Marzuki. Dia pernah membuat rekaman kaset berjudul Mengenang Ismail Marzuki.

“Karya Bang Mail padat kata-katanya," ujarnya.

Sudharnoto belajar mencipta lagu ketika masih belasan tahun. Lagu pertamanya adalah "Bunga Sakura". Lagu ciptaannya yang juga populer adalah lagu "Mars Dharma Wanita", juga lagu-lagu pop seperti "Setitik Kasih" dan "Di Tokyo Kita kan Bertemu". Namun tentu saja, karya terbesarnya adalah "Garuda Pancasila".


Infografik Mozaik Sudharnoto
Infografik mozaik Sudharnoto. tirto.id/quita


Setelah keluar dari tahanan, dengan nama dan hidup yang dirusak, Sudharnoto harus memulai hidup dari bawah lagi. Hidup seorang bekas tapol selalu harus susah di zaman Orde Baru, apalagi tapol yang dikaitkan dengan G30S.

Seperti dicatat dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982, pria yang punya nama samaran Damayanti ini harus menjadi penyalur es batu di Petojo dan supir taksi. Taksinya pernah menjadi langganan hostess yang bekerja di klub malam LCC. Di sana, Sudharnoto jadi pemain organ sejak 1969, juga bermain di restoran Shangri-La pada 1978. Hasratnya untuk menulis lagu tak pernah padam. Semasa jadi pemain organ di Shangri-La, Sudharnoto diketahui "...selalu menyelipkan kertas di sakunya. Ilham yang muncul langsung dicorat-coret notnya.”

Meski rusak nama, Sudharnoto tetap dipercaya orang-orang dunia perfilman untuk menggarap ilustrasi musik di beberapa film, pekerjaan yang juga pernah dia lakoni di zaman Sukarno jadi Presiden. Ilustrasi musik garapannya antara lain ada di Juara Sepatu Roda (1959)—yang merupakan film pertama Wim Umboh--dan Kabut Sutra Ungu (1980)—yang membuatnya dapat Piala Citra.

Meski hidupnya dihancurkan oleh Orde Baru, dia tetap menaruh perhatian terhadap rezim itu. Sudharnoto merasa prihatin karena lagu-lagu mars tidak berkembang di era Orde Baru. Padahal orde militer butuh lebih banyak lagu-lagu mars. Secara umum, menurut Sudharnoto, lagu-lagu yang berkembang di zaman Orde Baru adalah lagu-lagu tentang gagalnya percintaan.

Sudharnoto tutup usia pada 11 Januari 2000, tepat hari ini 20 tahun lalu. Meski nama baiknya dicemari noktah bikinan penguasa, namanya akan tetap dikenang sebagai pencipta lagu "Garuda Pancasila". Orde Baru bisa membuat namanya rusak, membikin hidupnya jadi ruwet, tapi mereka tak bisa merampas "Garuda Pancasila" darinya. Dan terbukti lagu itu jauh lebih kuat dari rezim yang memenjarakan Sudharnoto.

Orde Baru ambruk pada 1998, dan lagu "Garuda Pancasila" masih terus dikumandangkan hingga hari ini.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 24 Juni 2020. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait GARUDA PANCASILA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight