Menuju konten utama

Sugiarti Siswadi, Sastrawan Tanpa Biografi

Sugiarti Siswadi, sastrawan Lekra dengan nama pena Damaira. Kumpulan cerpennya berjudul Sorga di Bumi (1960) dinyatakan sebagai bacaan terlarang.

Sugiarti Siswadi, Sastrawan Tanpa Biografi
Header Mozaik Sugiarti Siswadi. tirto.id/Quita

tirto.id - Sugiarti Siswadi adalah pengarang Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan nama pena “S.S” dan “Damaira”. Menurut Fairuzul Mumtaz, penulis buku Karya-Karya Lengkap Sugiarti Siswadi (2016), warsa 1957-1965 setidaknya 22 karyanya menghiasi media cetak terutama di Harian Rakyat.

Selain itu, beberapa karyanya juga dihimpun dalam buku antologi seperti kumpulan cerpen Sorga di Bumi (1960) dan kumpulan puisi dengan tajuk Gelora Api 26 (2010).

Hersri Setiawan yang juga sastrawan Lekra dalam majalah Inside Indonesia (No. 15 Juli 1988, hlm. 28-29) mengenang Mbak Gig (panggilan akrab Sugiarti Siswadi) sebagai sosok yang tangguh dan berani. Nama perempuan pengarang ini kerap muncul dalam surat kabar Revolusioner milik Pesindo.

Hersri mengungkap Sugiarti Siswadi mulai aktif menulis sejak awal kemerdekaan, di mana pada 1947 terpilih sebagai salah satu pemenang dalam ajang lomba menulis cerita yang mengusung tema perjuangan kemerdekaan.

Dalam buku Yang Terlupakan dan Dilupakan (2021), Ni Made Purnamasari mengungkap persahabatan Hersri Setiawan dengan Sugiarti Siswadi. Mereka bertemu ketika sama-sama tergabung dalam Lekra cabang Yogyakarta.

Sugiarti Siswadi kemudian meninggalkan Yogyakarta dan terpilih sebagai anggota pusat Lekra cum wakil ketua Lestra (komisi sastra Lekra). Ia juga tercatat sempat bergabung dengan Front Nasional dan mengambil peran sebagai perumus materi kursus politik bagi kader-kader organisasi masa tersebut.

Selain itu, Sugiarti Siswadi juga dikenang sebagai sosok yang tangguh dalam berdebat.

"Suatu kali saya mendengar Mbak Gig berdebat dengan Bandaharo (sebutan lain penyair Banda Harahap) di Tjidurian. Saya lupa apa topiknya, tetapi cara keduanya berargumen begitu mengesankan, sampai pada titik, Bandaharo tak bisa lagi menyanggah apa pun," ujar Putu Oka Sukanta kepada Ni Made Purnamasari (2021).

Bergiat dalam Sastra Anak dan Penerbitan Majalah

Sugiarti Siswadi dikenal sebagai sastrawan yang memberi perhatian lebih pada perempuan dan perkembangan sastra anak. Perhatiannya itu ia manifestasikan dalam cerpen berjudul “Budak Ketjil”, “Orang-Orang Sebatang Kara”, “Soekaesih”, “Rumah Jang Kesembelian”, serta “Anak-Anak Muda” yang pernah dimuat dalam majalah Api Kartini No.12 Tahun II, Desember 1961.

Seruan perkembangan anak juga turut ia sampaikan pada sastrawan lainnya dalam Konferensi Nasional I Lembaga Sastra Lekra tahun 1963 di Medan. Itu dilakukannya sebagai upaya membendung maraknya peredaran buku bacaan, seperti komik dari Amerika Serikat dan Singapura.

Ia merasa bertanggung jawab dan menyeru kepada seluruh penulis Lestra untuk menciptakan karya sederhana yang mudah dimengerti anak-anak. Ia juga mendorong karya yang dihasilkan harus sesuai dengan pertumbuhan jiwa anak dengan memegang nilai-nilai sosialisme.

Menurutnya, sebagaiman dikutip Muhidin M. Dahlan dan Rhoma Dwi Arya dalam Lekra Tak Membakar Buku (2008), masa kanak-kanak adalah waktu penting untuk pembibitan ide dan moral agar kelak dapat memihak semangat kerakyatan. Utamanya agar tercapai tujuan pembentukan “Panca Cinta,” yakni cinta tanah air, kerja, manusia, perdamaian dan orang tua.

Ni Made Purnamasari (2021) menceritakan bahwa tulisan dan puisi ciptaan Sugiarti Siswadi tidak selalu soal perempuan dan anak, tetapi banyak juga yang terinspirasi dari orang-orang terpinggirkan yang tidak kuasa melawan lingkungan sekitar, dan mereka yang sudah tercerahkan dengan pemahaman ideologi.

Hal ini dibuktikan dalam penciptaan cerpennya yang berjudul “Pengadilan Tani”. Ia mengamati konflik yang terjadi antara tuan tanah dengan massa petani bersama Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia di Klaten sekitar tahun 1964. Konflik ini timbul sebagai dampak dari penerapan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) dan Undang-undang Bagi Hasil (UUPBH).

Sugiarti Siswadi tidak hanya aktif menulis, tetapi juga menyadur dan menerjemahkan karya-karya dari penulis negeri sosialis, termasuk cerpen “Musim Panas Budak” karya Ivan Osirikov, “Tjinta Pertama” karya Nu Nam, dan cerpen “Madjikan” dari Nyuyen Cong Hoan.

Dirujuk dari David Setiadi, dkk dalam The Portrayal of Women in the Works of Sugiarti Siswadi as the Manifestation of Lekra and Gerwani Ideology, aktivitas menyadur ini dilakukan saat ia aktif di Jajasan Pembaruan dan majalah Api Kartini.

Infografik Mozaik Sugiarti Siswadi

Infografik Mozaik Sugiarti Siswadi. tirto.id/Quita

Pelarangan Karya dan Penguburan Riwayat

Peristiwa G30S 1965 turut berdampak pada karya-karya Sugiarti Siswadi. Buku kumpulan cerpen Sorga di Bumi dinyatakan sebagai bacaan terlarang berdasarkan instruksi No. 1381/1965 yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia turut ditahan di Bukit Duri sebelum dipindahkan ke Plantungan.

Sejak saat itu, sosoknya hilang dalam lintasan sastra Indonesia. Biografinya sangat sulit untuk dilacak. Bahkan Hersri Setiawan pun tidak dapat memberi penjelasan yang rinci terkait biografinya.

Ia hanya mengingat kebersamaannya saat berkunjung ke Tiongkok, Vietnam, dan Korea dalam rangka perumusan materi pendidikan rakyat, dan saat menghadiri pertemuan organisasi pengarang Asia Afrika di Tashkent pada 1964.

Pertemuan terakhir mereka terjadi pada 26-30 Agustus 1965, saat bersama-sama menjadi panitia acara peringatan satu tahun Konferensi Seni dan Sastra Revolusioner di Jakarta.

Hanya informasi tentang kematiannya yang terkonfirmasi secara jelas. Menurut Fairuzul Mumtaz, Sugiarti Siswadi yang dikenal berteman dekat dengan Gesang (penggubah lagu "Bengawan Solo") mengembuskan napas terakhirnya di Yogyakarta pada 1983.

Satu hal yang sangat disayangkan oleh Fairuzul Mumtaz, saat menerbitkan bukunya yang berjudul Karya-karya Lengkap Sugiarti Siswandi: Hayat Kreatif Sastrawan Lekra (2016), tak seorang pun kerabat atau keluarganya yang muncul untuk memberikan informasi terkait biografi sastrawan ini.

Baca juga artikel terkait SASTRA atau tulisan lainnya dari Andika Yudhistira Pratama

tirto.id - Politik
Kontributor: Andika Yudhistira Pratama
Penulis: Andika Yudhistira Pratama
Editor: Dwi Ayuningtyas