tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menilai praktik suap terhadap pejabat negara masih merajalela. Tidak hanya menyasar direktur jenderal dan menteri yang masih menjabat, dia mengaku berkali-kali hendak disogok selama dua tahun terakhir menjabat sebagai Kepala Negara.
"Kita melihat puluhan tahun institusi-institusi kita dirusak. Menteri-menteri kita, dirjen-dirjen kita mau disogok, jangankan menteri, dirjen, saya mau disogok. Dalam dua tahun ini [menjabat presiden] berkali-kali saya mau disogok,” kata Prabowo dalam acara penyerahan denda administratif dan penyelamatan keuangan negara serta penguasaan kembali kawasan hutan, di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).
Meski begitu, Prabowo tidak menyebut nama pihak yang telah berupaya menyuap dirinya maupun bentuk tawaran yang diberikan. Ia hanya mengatakan upaya tersebut menjadi bagian dari tantangan dalam menjalankan agenda pemberantasan korupsi dan penertiban kekayaan negara.
Menurut Prabowo, pemerintah menghadapi perlawanan dari pihak-pihak yang selama ini menikmati praktik korupsi, kecurangan, hingga pencurian kekayaan negara.
“Perlawanan ini kita tahu semua datang dari unsur-unsur yang menikmati korupsi, unsur-unsur yang menikmati kecurangan-kecurangan, unsur-unsur yang menikmati pencurian dan perampokan kekayaan negara,” ujarnya.
Gertakan terhadap Keluarga Pejabat
Ia turut membeberkan adanya tekanan terhadap jajaran pemerintah yang menjalankan agenda penertiban. Bahkan, kata Prabowo, tekanan tersebut tidak hanya ditujukan kepada pejabat atau petugas, tetapi juga dapat menyasar keluarga mereka.
“Saya tahu bahwa ada saudara-saudara yang diancam, yang digertak, tidak hanya saudara, keluarga saudara juga diancam,” tutur Prabowo.
Meski menghadapi tekanan, Prabowo meminta jajaran pemerintah tetap berada di jalur yang menurutnya benar. Ia bahkan mempersilakan pejabat atau aparat yang tidak ingin melanjutkan agenda tersebut untuk menyingkir dari pemerintahan.
“Saya persilakan, saudara-saudara dalam Satgas ini atau dalam jajaran pemerintahan saya, siapa yang tidak mau terus di atas jalan yang benar, saya persilakan saudara minggir dengan baik,” ujarnya.
Oligarki Kerahkan Pasukan Siber
Prabowo juga menyinggung kekuatan finansial yang dimiliki pihak-pihak yang menentang upaya pemerintah. Ia mengatakan uang dalam jumlah besar dapat digunakan untuk membangun perlawanan di ruang publik.
“Biar mereka punya uang ratusan triliun, mereka bayar buzzer, mereka bayar algoritma, mereka serang kita di sosmed, mereka mau biayai demonstrasi, kita tidak gentar,” kata Prabowo.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mundur dari agenda penertiban kekayaan negara. Dalam hal ini, pemerintah telah berupaya memperbaiki kondisi tersebut melalui pendekatan persuasif dan komunikasi.
Namun, ia menilai pemerintah tidak dapat terus melakukan kompromi terhadap pihak-pihak yang berupaya menghambat agenda pemberantasan korupsi.
“Kita bersama rakyat, kita siap mati untuk rakyat,” ujarnya,” tegas Prabowo.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































