Menuju konten utama
Horizon

Mengapa Pemain Sepak Bola Perlu Jeda 72 Jam Antarlaga?

Jeda 72 jam bukan sekadar aturan tak tertulis. Riset menunjukkan tubuh pemain butuh waktu itu untuk pulih, menjaga performa, dan mencegah cedera.

Mengapa Pemain Sepak Bola Perlu Jeda 72 Jam Antarlaga?
Pesepak bola Persib Bandung Kakang Rudianto (kiri) berebut bola dengan pesepak bola Persija Jakarta Arlyansyah Abdulmanan (kanan) pada semifinal Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (4/8/2026). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jadwal semifinal dan final Piala Presiden 2026 memicu perdebatan mengenai waktu pemulihan pemain. Sebagian pelatih dan suporter menilai jadwal pertandingan yang saling berdekatan berpotensi mengorbankan kondisi fisik para pemain.

Pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, menilai jeda itu terlalu singkat. Persib hanya memiliki waktu sekitar 50 jam setelah mengalahkan Persija di semifinal. Waktu tersebut bahkan masih harus dipotong untuk perjalanan, tidur, latihan, dan persiapan pertandingan.

"Lalu jika ada pemain yang terkena serangan jantung, siapa yang akan bertanggung jawab?" ujar pelatih asal Kroasia itu dalam jumpa pers usai pertandingan.

Polemik itu ramai dibahas di media sosial. Menanggapi kritik soal singkatnya waktu pemulihan, anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga, hanya menjawab, "Semoga aman mereka."

Dalam pernyataan lain, Wakil Ketua Bidang Administrasi Turnamen PSSI, Risha Adi Wijaya, menyebut setiap klub boleh merotasi hingga 12 pemain dalam satu pertandingan.

"Jadi tinggal pelatih saja yang mengatur bagaimana rotasi itu bisa dilaksanakan," katanya.

Persoalan serupa juga terjadi di sepak bola Eropa. Klub-klub elite rutin menghadapi liga domestik, kompetisi antarklub Eropa, piala domestik, hingga turnamen internasional dalam waktu berdekatan. Organisasi perwakilan pesepak bola profesional dunia, FIFPRO, menyebut lebih dari 54 persen pemain elite dunia kini mengalami beban kerja berlebihan.

Kalender pertandingan semakin padat didorong tuntutan hak siar dan kepentingan komersial. FIFPRO menggunakan Rodri sebagai contoh pemain yang menghadapi beban pertandingan tinggi. Setelah menjalani musim 2023/24 dan EURO 2024, gelandang Manchester City itu kembali menghadapi jadwal klub dengan masa pemulihan pramusim yang sangat singkat.

Kasus lain dialami Raphael Varane yang pensiun dari Tim Nasional Prancis pada usia 29 tahun. Ia mengaku jadwal sepak bola internasional dan klub membuatnya mengalami kelelahan fisik serta mental.

Ilmuwan olahraga telah lama meneliti hubungan antara jadwal pertandingan dan pemulihan pemain. Salah satu penelitian yang paling banyak dijadikan rujukan ialah UEFA Elite Club Injury Study pada awal 2000-an. Data yang dikumpulkan selama lebih dari dua dekade membantu tim medis menilai hubungan antara jadwal, pemulihan, dan risiko cedera.

Laws of the Game memang tidak mewajibkan jeda 72 jam untuk semua pertandingan. Angka tersebut lebih sering muncul dalam rekomendasi medis dan panduan perlindungan pemain.

Lantas, mengapa selisih satu atau dua hari pemulihan dapat membuat perbedaan besar bagi tubuh seorang pesepak bola?

Pemulihan Tubuh Bisa Berlangsung Lebih dari 72 Jam

Seorang pemain profesional dapat menempuh 10–14 kilometer dalam satu pertandingan, diselingi ratusan sprint, akselerasi, dan perubahan arah. Menurut Jens Bangsbo dan kolega dalam jurnal "Metabolic response and fatigue in soccer" (2007), selama 90 menit, rata-rata intensitas kerja pemain mencapai sekitar 70 persen kapasitas aerobik maksimal atau VO₂max.

Sumber energi utama otot selama pertandingan adalah glikogen, yaitu cadangan karbohidrat yang tersimpan di dalam otot dan hati. Sprint, akselerasi, dan gerakan eksplosif mempercepat penggunaan glikogen sebagai sumber energi otot. Menjelang akhir pertandingan, jumlahnya dapat berkurang sekitar 40–90 persen sehingga daya ledak otot ikut menurun.

Persebaya melaju ke final Piala Presiden 2026

Pesepak bola Persebaya Surabaya Toni Firmansyah (kiri) menendang bola yang diadang pesepak bola Arema FC Roberto Pimenta (kanan) pada pertandingan semifinal Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (4/8/2026). Persebaya Surabaya melaju ke final usai mengalahkan Arema FC dengan skor 1-0. ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/rwa.

Pemulihan glikogen tidak terjadi dalam semalam. Kajian di Journal of the International Society of Sports Nutrition (2017) menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan sekitar 48–72 jam untuk memulihkan cadangan glikogen setelah pertandingan. Jika pertandingan berikutnya datang sebelum proses ini selesai, pemain berisiko tampil dalam kondisi defisit energi yang mempercepat kelelahan dan menurunkan performa.

Pertandingan juga menimbulkan kerusakan pada serat otot. Gerakan deselerasi, pengereman mendadak, dan perubahan arah menciptakan kontraksi eksentrik yang dapat memicu robekan mikroskopis serta respons inflamasi.

Ketika proses pemulihan belum selesai, jaringan yang masih dalam tahap perbaikan harus kembali menerima beban tinggi. Kerusakan tersebut dapat dilacak melalui peningkatan kadar kreatina kinase (CK), enzim yang dilepaskan saat serat otot mengalami cedera. Kadar CK dapat memberi gambaran mengenai kerusakan otot, meski nilainya berbeda pada setiap pemain dan tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran pemulihan.

Pemulihan juga melibatkan sistem saraf. Beban fisik dan mental selama 90 menit dapat memicu kelelahan mental (mental fatigue) yang memperlambat waktu reaksi, menurunkan akurasi umpan, dan mengganggu pengambilan keputusan. Rasa segar sehari setelah pertandingan belum tentu menandakan cadangan energi, jaringan otot, dan sistem saraf telah pulih sepenuhnya.

Ketika pemain kembali melakukan sprint, pengereman, atau perubahan arah, jaringan yang belum pulih harus menerima beban tinggi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko cedera otot.

Jeda Pendek dan Risiko Cedera Otot

Hubungan antara jeda pertandingan dan cedera diteliti melalui UEFA Elite Club Injury Study. Studi yang dipimpin Prof. Jan Ekstrand dari Universitas Linköping, Swedia, ini mengikuti pemain klub elite Eropa selama lebih dari dua dekade.

Tim medis di klub peserta mencatat secara rinci menit bermain, beban latihan, serta setiap cedera yang menyebabkan pemain absen beserta diagnosisnya. Data yang dikumpulkan selama lebih dari dua dekade membentuk catatan cedera pemain yang dikumpulkan secara berkelanjutan mengenai cedera pemain elite Eropa.

Berbeda dari penelitian laboratorium yang hanya mengamati beberapa atlet dalam waktu singkat, UEFA Elite Club Injury Study mengikuti pemain selama bertahun-tahun di lingkungan kompetisi yang sebenarnya. Setiap cedera, menit bermain, dan beban latihan dicatat dengan metode yang sama dari musim ke musim. Karena berlangsung bertahun-tahun, penelitian ini dapat menangkap pola yang sulit terlihat jika pengamatan hanya dilakukan dalam satu musim atau satu turnamen.

Analisis Jan Ekstrand menunjukkan bahwa jeda kurang dari 72 jam memiliki risiko cedera otot yang jauh lebih tinggi akibat kelelahan yang belum pulih sempurna. Sebaliknya, risiko cedera ini menurun secara signifikan pada pemain yang memiliki waktu pemulihan ideal dengan pembanding enam hari atau lebih di antara pertandingan.

Jeda pertandingan yang semakin pendek membuat tubuh menerima beban baru sebelum proses perbaikan biologis selesai. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko cedera otot. Dengan kata lain, meningkatnya cedera lebih berkaitan dengan keterbatasan proses pemulihan tubuh daripada kualitas teknik maupun latihan pemain.

Dalam kajian turunannya, Jan Ekstrand dan kolega menemukan bahwa sebagian besar cedera otot terjadi pada paha belakang (hamstring), paha dalam (adductor), paha depan (quadriceps), dan betis (calf). Jika proses pemulihan belum selesai, jaringan yang masih dalam tahap perbaikan menjadi lebih mudah mengalami robekan. Dalam kajian tersebut, hamstring mencakup sekitar 37 persen dari seluruh cedera otot, sedangkan 16 persen kasus yang tercatat merupakan cedera berulang.

Hamstring menjadi kelompok otot yang paling rentan karena bekerja sebagai pengendali gerakan ketika pemain berlari kencang lalu mengurangi kecepatan atau mengubah arah secara tiba-tiba. Pada fase tersebut, otot harus menghasilkan gaya besar sambil memanjang. Jika seratnya belum pulih sepenuhnya dari pertandingan sebelumnya, kemampuan menyerap beban ikut menurun sehingga risiko robekan meningkat.

Itulah sebabnya klub-klub elite tidak lagi mengandalkan pengamatan visual untuk menilai kesiapan pemain. Jarak antarlaga kini ikut dipertimbangkan bersama beban latihan, riwayat cedera, dan menit bermain. Semakin pendek waktu pemulihan, semakin besar perhatian tim medis terhadap kemungkinan terjadinya cedera otot.

Persija Jakarta kalahkan PSMS Medan

Pesepak bola Persija Jakarta Denis Kolinger (kanan) berebut bola udara dengan pesepak bola PSMS Medan Angelo Meneses (kiri) dan Asyraq Gufron (tengah) pada pertandingan Grup B Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (1/8/2026). Persija Jakarta mengalahkan PSMS Medan dengan skor 4-1. ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/YU

Rotasi sebagai Langkah Pencegahan Cedera

Klub-klub elite kini melibatkan dokter, fisioterapis, ahli kebugaran, dan analis data sebelum menentukan kesiapan pemain. Kondisi pemulihan ikut menentukan keputusan mencadangkan pemain, selain kebutuhan taktik. Banyak klub profesional memiliki departemen ilmu keolahragaan yang memantau kondisi pemain sebelum pertandingan.

Salah satu teknologi yang paling banyak digunakan adalah perangkat pelacak GPS. Perangkat ini merekam jarak tempuh, sprint, akselerasi, dan perlambatan pemain. Sebuah penelitian yang diterbitkan di Scientific Reports (2022) menunjukkan bahwa data tersebut membantu staf menilai beban yang diterima pemain dan menjadi salah satu pertimbangan dalam mengatur latihan serta menit bermain.

Klub juga mengandalkan laporan harian pemain melalui kuesioner kebugaran (wellness questionnaire). Melalui kuesioner tersebut, pemain melaporkan kualitas tidur, nyeri otot, kelelahan, dan kondisi psikologis. Data subjektif ini kemudian dipadukan dengan hasil GPS untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai tingkat kesiapan pemain.

Seusai pertandingan, pemain biasanya menjalani hidrasi, pemulihan aktif, dan terapi suhu dingin (cryotherapy) sesuai kebutuhan. Metode tersebut digunakan untuk membantu mengurangi nyeri dan mendukung proses pemulihan setelah pertandingan.

Karbohidrat dan protein membantu mengisi kembali glikogen serta memperbaiki jaringan otot. Kualitas tidur juga dipantau karena sebagian besar proses pemulihan otot dan sistem saraf berlangsung saat tubuh beristirahat.

Perbedaan sudut pandang inilah yang sering memunculkan perdebatan antara suporter dan tim pelatih. Suporter sering mempertanyakan keputusan pelatih yang mencadangkan bintang utama mereka. Hasil pemantauan dapat menunjukkan bahwa proses pemulihannya belum selesai meski ia tidak memperlihatkan gejala cedera.

FIFPRO mencatat beban kerja pemain elite terus meningkat. Jürgen Klopp dan sejumlah pelatih lain juga berulang kali mengkritik jadwal yang menyisakan waktu pemulihan terlalu singkat.

Rotasi 12 pemain dapat membantu pelatih menghadapi jeda antarlaga yang pendek, tetapi tidak mengganti waktu pemulihan yang hilang. GPS, nutrisi, tidur, dan terapi hanya membantu tubuh menjalani proses tersebut. Ketika semifinal dan final hanya dipisahkan sekitar 50 jam, pelatih harus memilih antara menurunkan kekuatan terbaik atau mengistirahatkan pemain yang proses pemulihannya belum selesai.

Baca juga artikel terkait PIALA PRESIDEN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi