Menuju konten utama

PTBA Beberkan Kelanjutan Proyek DME: Cari Mitra-Incar Insentif

PTBA lanjutkan proyek DME bersama Danantara. Validasi bisnis rampung akhir 2026, FID 2027, sambil cari mitra dan kejar status KEK demi insentif.

PTBA Beberkan Kelanjutan Proyek DME: Cari Mitra-Incar Insentif
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani memaparkan tantangan ketahanan energi nasional dalam sesi talkshow Industri Hilirisasi Batubara & Kedaulatan Energi Indonesia pada acara HIPMI Miners 2026 di Jakarta, Kamis (6/8/2026). tirto.id/Nanda Surya
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memastikan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) tetap berlanjut setelah diambil alih orkestrasinya oleh Danantara. Vice President Pengembangan Hilirisasi PT Bukit Asam Dahlia mengatakan, perusahaan bersama Danantara kini tengah memvalidasi kembali kelayakan bisnis proyek sekaligus menjajaki calon mitra teknologi dari sejumlah negara.

"Timeline-nya untuk 2026 akhir ini adalah business case validation, kemudian di 2027 akan ada final investment decision (FID)," katanya dalam acara HIPMI Miners 2026 di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Dahlia mengungkapkan, hingga kini calon mitra belum diputuskan. Sejumlah perusahaan dari Amerika Serikat maupun Cina telah menjalin komunikasi dengan Danantara, namun seluruh opsi masih terbuka. Selain calon mitra, proses pemilihan teknologi pada proyek gasifikasi baru bara tersebut sepenuhnya juga akan berada di tangan Danantara.

"Semuanya masih terbuka, ini sedang dalam tahap pemilihan oleh Danantara," katanya.

Sebagai informasi, proyek DME kini dijalankan melalui kolaborasi antara PTBA, Pertamina, dan Danantara. Dalam skema tersebut, Danantara juga berperan menyusun ulang struktur proyek agar lebih layak secara ekonomi. "Saat ini terutama untuk DME sudah diorkestrasikan oleh Danantara antara Bukit Asam dan Pertamina. Nanti Danantara akan mengolaborasikan seperti apa peran masing-masing perusahaan," jelas Dahlia.

Dalam proyek tersebut, PTBA akan berperan sebagai penyedia dukungan teknis sekaligus operator pabrik DME setelah beroperasi nanti. Adapun Pertamina nantinya akan bertindak sebagai pembeli (offtaker) DME yang diproduksi untuk menggantikan sebagian impor LPG nasional.

"Kami sebenarnya support di sisi teknisnya. Karena nantipun yang akan mengoperasikan pabrik itu adalah Bukit Asam," ujar Dahlia.

Kejar Status KEK demi Insentif

Dahlia menjelaskan, proyek DME di Tanjung Enim dirancang memiliki kapasitas produksi 1,4 juta ton DME per tahun. Untuk menghasilkan volume tersebut, dibutuhkan sekitar 7 juta ton batu bara setiap tahun sebagai bahan baku. Nantinya batubara akan digasifikasi menjadi synthesis gas (syngas), kemudian diolah menjadi metanol sebelum akhirnya dikonversi menjadi DME.

"Untuk menghasilkan 1,4 juta ton DME dibutuhkan sekitar 7 juta ton batu bara per tahun," kata Dahlia.

Menurut dia, proyek tersebut tidak hanya menghasilkan DME sebagai substitusi LPG, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri metanol yang menjadi bahan baku berbagai produk kimia, seperti formaldehida dan olefin.

Nantinya Proyek DME akan dibangun di kawasan Bukit Asam Coal Based Industrial Estate di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. PTBA telah menyiapkan kawasan industri seluas sekitar 585 hektare, termasuk lahan sekitar 164 hektare khusus untuk pabrik DME.

Saat ini, sekitar 99 persen lahan tersebut telah dibebaskan, dan telah didukung pembangkit listrik berkapasitas 2 x 660 megawatt serta akses sumber air dari Sungai Enim yang berjarak sekitar tiga kilometer dari lokasi proyek.

Selain mematangkan model bisnis, PTBA juga tengah mengupayakan agar kawasan industri tersebut memperoleh status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Dahlia mengatakan, status KEK diharapkan memberikan berbagai insentif fiskal sehingga dapat meningkatkan keekonomian proyek yang selama ini menjadi tantangan utama pengembangan DME.

"Sekarang sedang dalam tahap pengajuan KEK karena saat ini masih kawasan industri. Pengajuan KEK-nya untuk kawasan hilirisasi batu bara," ujarnya.

Ia berharap status tersebut nantinya dapat memberikan fasilitas seperti tax holiday serta berbagai kemudahan investasi, mengingat sebagian besar peralatan utama proyek masih harus didatangkan dari luar negeri.

"Tax holiday, karena tentu nanti banyak barang-barang dari luar yang akan mendukung pembangunan," katanya.

Kurangi Impor LPG

Dalam kesempatan sama, Dahlia menuturkan bahwa proyek DME merupakan bagian dari strategi PTBA untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus agenda hilirisasi sumber daya alam sebagaimana tercantum dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Kehadiran DME diharapkan mampu menggantikan sekitar 1 juta ton impor LPG—dari total sekitar 8 juta ton LPG per tahun—sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri sekaligus menghemat devisa.

Selain memperkuat ketahanan energi, proyek tersebut diproyeksikan mendorong tumbuhnya berbagai industri pendukung di sekitar kawasan Tanjung Enim, mulai dari engineering, EPC, logistik, utilitas, laboratorium, penyedia bahan kimia, hingga sektor digital dan otomatisasi.

"Lebih baik mulai dari sekarang daripada tidak sama sekali," kata Dahlia, merujuk pada pengembangan teknologi gasifikasi yang telah berkembang di China selama sekitar tiga dekade.

Dalam kesempatan sama, Anggota Dewan Energi Nasional, Sripeni Inten Cahyani, proyek DME diharapkan dapat mengurangi subsidi energi yang kini mengalami pembengkakan.

“Saat ini subsidi-nya luar biasa berat, Rp203 triliun. Jadi apakah kuat fiskal anggaran APBN kita? Tentunya tidak kuat. Jadi ini gambaran dan kita sekarang tidak dalam baik-baik saja,” kata Sripeni.

Baca juga artikel terkait PT BUKIT ASAM TBK atau tulisan lainnya dari Nanda Surya

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Surya
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana