tirto.id - Beredar di media sosial unggahan yang menarasikan bahwa susu formula merek Bebelac mengandung maltodekstrin yang dianggap berbahaya. Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Instagram @m.favia(arsip) pada (15/9/2026).
Dalam unggahan tersebut, maltodekstrin disebut memiliki indeks glikemik lebih tinggi dibandingkan gula pasir sehingga dapat menyebabkan kenaikan gula darah secara drastis dan membuat anak lebih rentan mengalami obesitas.
Unggahan tersebut juga mempertanyakan penggunaan maltodekstrin dalam susu formula Bebelac dan menyebut bahan tersebut dapat meningkatkan kadar gula darah serta menyebabkan anak rentan mengalami obesitas.
“Kemarin ada yang DM nanya, emang kenapa sih sufor inisial B pakai maltodextrin? Pas aku riset, jujur speechless. Kok bisa sufor pakai bahan yang indeks glicamic-nya ngalahin gula pasir? Ini bahaya banget, karena bikin gula darah cepat naik drastis. Apalagi bahan ini tuh masuknya kalori kosong. Nggak kasih nutrisi penting, cuma kalori, bisa bikin anak rawan banget kena obesitas.” demikian pernyataan narator dalam cuplikan video tersebut.
Tirto juga menemukan unggahan serupa dari akun TikTok @ria458(arsip) pada Selasa (1/9/2026). Unggahan tersebut mengaitkan Bebelac dengan kasus kontaminasi cereulide serta penarikan produk Bebelac dan Aptamil di Arab Saudi. Narasi tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa produk Bebelac secara umum berbahaya.
Sementara itu, akun TikTok @say_tteh (arsip) pada Rabu (2/9/2026) mengunggah narasi yang mengajak para ibu membuang susu Bebelac dengan alasan untuk mencegah anak mengalami gangguan pencernaan.
Lantas, benarkah susu Bebelac berbahaya karena mengandung maltodekstrin, menyebabkan gangguan pencernaan, dan berkaitan dengan penarikan susu formula di Arab Saudi?
Penelusuran Fakta
Tirto terlebih dahulu menelusuri situs resmi Bebelac untuk memeriksa komposisi produk. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa Bebelac memang mencantumkan maltodekstrin sebagai salah satu bahan dalam beberapa produknya, termasuk Bebelac Plain dan Bebelac Chocolate.
Komposisi Bebelac Plain yang tercantum pada situs resmi antara lain: susu segar (68%), air, galakto-oligosakarida (GOS), campuran lemak nabati (mengandung antioksidan askorbil palmitat), laktosa, susu bubuk skim, maltodekstrin, pengatur keasaman, vitamin dan mineral, penstabil nabati, perisa alami, frukto-oligosakarida (FOS), lemak susu, serta minyak ikan.
Sementara itu, Bebelac Chocolate mengandung susu segar (68%), air, sukrosa, galakto-oligosakarida (GOS), campuran lemak nabati, laktosa, susu bubuk skim, bubuk kakao 0,5%, maltodekstrin, pengatur keasaman, vitamin dan mineral, penstabil nabati, perisa sintetik, frukto-oligosakarida (FOS), lemak susu, minyak ikan, gula, dan perisa alami.
Dengan demikian, keberadaan maltodekstrin dalam komposisi Bebelac merupakan fakta. Namun, keberadaan suatu bahan dalam produk tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa produk tersebut berbahaya.

Apa Itu Maltodekstrin?
Mengutip Okezone, Doktor Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Rosyanne Kushardina, S.Gz., M.Si., menjelaskan bahwa maltodekstrin merupakan salah satu bahan tambahan pangan (BTP) yang dinilai aman dan tidak hanya digunakan dalam susu formula.
Menurut Rosyanne, maltodekstrin tidak terdapat secara alami dalam bahan pangan, tetapi dibuat dari bahan alami, seperti pati yang berasal dari sumber karbohidrat berupa umbi-umbian, serealia, dan jagung. Pati tersebut kemudian melalui proses hidrolisis hingga terbentuk maltodekstrin.
“Yaitu pati dari sumber karbohidrat seperti umbi-umbian, serealia, dan jagung. Dilakukan proses hidrolisis terhadap zat pati dari sumber karbohidrat tersebut, lalu terbentuklah maltodekstrin,” jelas doktor Rosyanne dikutip dari Okezone (4/9/2024).
Rosyanne juga menyoroti informasi yang mengaitkan maltodekstrin dengan peningkatan kandungan gula dalam susu. Menurutnya, anggapan bahwa maltodekstrin secara langsung meningkatkan kandungan gula dalam suatu produk tidak tepat.
“Tidak tepat maltodekstrin dikaitkan dengan peningkatan kandungan gula pada susu, dan menyebabkan gagal ginjal pada anak,” tegasnya.
Ia menambahan, juga tidak ada korelasinya antara kandungan maltodekstrin dengan jumlah gula dalam produk pangan. “Susu yang mengandung maltodekstrin tidak berarti memiliki kandungan gula lebih tinggi. Ini bisa kita cek pada label di kemasan,” tandasnya.
Masih dari sumber yang sama, maltodekstrin telah dinyatakan aman oleh Food and Drug Administration (FDA) dan Codex. FDA mengategorikan maltodekstrin sebagai Generally Recognized as Safe (GRAS).
Maltodekstrin dan Indeks Glikemik
Dikutip dari DetikHealth, Spesialis Anak dan Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), menjelaskan bahwa maltodekstrin merupakan rantai glukosa yang dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat yang relatif mudah dicerna dan diserap. Bahan ini juga banyak digunakan pada formula dengan kandungan laktosa rendah atau tanpa laktosa.
Menurut Rini, maltodekstrin dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat untuk bayi yang membutuhkan formula khusus. Namun, ia juga menjelaskan bahwa maltodekstrin memiliki indeks glikemik (GI) yang tinggi. Karena itu, konsumsi dalam jumlah tertentu dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar glukosa darah.
Temuan mengenai indeks glikemik tersebut juga sejalan dengan penelitian terhadap produk susu anak di Indonesia dan Malaysia. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 itu menganalisis 58 produk growing-up milk dan menguji indeks glikemik tujuh produk pada orang dewasa sehat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk yang mengandung maltodekstrin, sirup jagung, atau sirup glukosa memiliki indeks glikemik lebih dari dua kali lipat dibandingkan produk susu tanpa tambahan karbohidrat. Beban glikemiknya (glycemic load) juga meningkat hingga sekitar tujuh kali lipat.
Namun, terdapat catatan penting. Penelitian tersebut tidak dilakukan pada anak dan tidak secara khusus menguji produk Bebelac. Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa anak yang mengonsumsi Bebelac pasti mengalami lonjakan gula darah atau kemudian mengalami obesitas.
Dengan kata lain, adanya maltodekstrin dalam suatu produk dan karakteristik indeks glikemiknya tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat antara konsumsi Bebelac dan obesitas pada anak. Sejauh ini belum ada pernyataan ahli, penelitian dan jurnal kredibel yang mendukung klaim itu.
Penarikan Produk Bebelac di Arab Saudi
Selain mengaitkan maltodekstrin dengan obesitas, sejumlah unggahan di media sosial juga menghubungkan Bebelac dengan penarikan produk susu formula di Arab Saudi. Informasi mengenai penarikan sebagian produk Bebelac dan Aptamil di Arab Saudi memang benar. Namun, alasan penarikan tersebut berbeda dari narasi yang beredar di media sosial.
Melansir Saudi Press Agency, pada 27 Februari 2026, Saudi Food and Drug Authority (SFDA) mengeluarkan peringatan terkait sejumlah produk formula bayi produksi Nutricia-Danone dengan merek Aptamil dan Bebelac.
SFDA menjelaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan setelah perusahaan memberikan notifikasi secara sukarela dan melakukan precautionary recall terhadap bets tertentu karena adanya potensi kontaminasi cereulide. Cereulide merupakan toksin yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus dan dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila terdapat dalam produk formula bayi.
SFDA menyatakan bahwa penarikan tersebut merupakan tindakan pencegahan yang dilakukan setelah penilaian terhadap potensi risiko paparan cereulide. Paparan tersebut dapat menyebabkan gejala dalam waktu sekitar 30 menit hingga enam jam setelah konsumsi, antara lain mual, muntah berulang, dan sakit perut. Gejala tersebut umumnya bersifat jangka pendek dan dapat berlangsung hingga sekitar 24 jam.
Dengan demikian, penarikan sebagian produk Bebelac di Arab Saudi bukan dilakukan karena produk tersebut mengandung maltodekstrin, melainkan karena adanya potensi kontaminasi cereulide pada bets tertentu.
Kondisi di Indonesia
Kondisi di Indonesia juga perlu dibedakan dari kasus di Arab Saudi. Pada 14 Januari 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan penjelasan mengenai penarikan formula bayi impor yang berkaitan dengan potensi cemaran cereulide. BPOM menyebut produk yang terdampak di Indonesia adalah S-26 Promil Gold pHPro 1 dengan nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1, yang diproduksi oleh Nestlé Suisse SA.
Kedua bets tersebut memang telah diimpor ke Indonesia. Namun, hasil pengujian sampel oleh BPOM menunjukkan bahwa cereulide tidak terdeteksi, dengan batas kuantifikasi kurang dari 0,20 µg/kg.
Meski demikian, BPOM tetap memerintahkan penghentian distribusi dan penghentian sementara importasi produk tersebut sebagai langkah kehati-hatian. Perusahaan juga melakukan voluntary recall terhadap bets yang terdampak di bawah pengawasan BPOM.
BPOM menyatakan bahwa hingga penjelasan tersebut diterbitkan, belum terdapat laporan kejadian sakit yang terkonfirmasi di Indonesia yang berkaitan dengan konsumsi formula bayi tersebut.
Melansir laman InfoPublik pada Januari 2026, BPOM juga menyampaikan bahwa susu formula di Indonesia aman. Penarikan yang dilakukan terbatas pada dua bets S-26 Promil Gold pHPro 1 dan tidak mencakup merek susu formula lain.
Tindak lanjut penarikan kemudian dilakukan hingga tahap pemusnahan produk. Pada April 2026, Balai POM Banyumas mencatat pemusnahan sebanyak 1.492,2 kilogram produk hasil penarikan.
Dengan demikian, terdapat kekeliruan jika kandungan maltodekstrin dikaitkan secara langsung dengan kasus kontaminasi cereulide.
Penarikan yang diumumkan SFDA di Arab Saudi berkaitan dengan potensi kontaminasi cereulide pada bets tertentu produk Nutricia-Danone. Sementara itu, penarikan yang diumumkan BPOM di Indonesia berkaitan dengan potensi cemaran cereulide pada bahan baku arachidonic acid (ARA) oil tertentu.
Artinya, fakta bahwa suatu produk formula mengandung maltodekstrin tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa produk tersebut terkontaminasi cereulide. Dasar penarikan harus merujuk pada produk dan bets yang secara resmi dinyatakan terdampak oleh otoritas pengawas pangan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang mengaitkan bahaya Bebelac dengan kandungan maltodekstrin merupakan informasi yang salah dan menyesatkan (false and misleading).
Narasi yang beredar di media sosial mencampurkan dua hal yang berbeda. Di satu sisi, terdapat dasar ilmiah bahwa maltodekstrin merupakan sumber karbohidrat yang relatif mudah dicerna dan dapat memiliki indeks glikemik tinggi. Namun, fakta tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa maltodekstrin yang terdapat dalam Bebelac menyebabkan obesitas, diabetes, atau gangguan pencernaan pada anak.
Penarikan sebagian produk Bebelac di Arab Saudi juga memang terjadi. Namun, berdasarkan keterangan SFDA, penarikan tersebut dilakukan karena adanya potensi kontaminasi cereulide pada bets tertentu, bukan karena kandungan maltodekstrin.
Dengan demikian, keberadaan maltodekstrin dalam komposisi Bebelac tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa seluruh produk Bebelac berbahaya atau menyebabkan obesitas dan gangguan pencernaan pada anak.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id

































