Menuju konten utama

Benarkah Makan Banyak Garam Menyebabkan Hipertensi? Ini Faktanya

Benarkah semakin banyak garam menyebabkan hipertensi? Yuk, ketahui apa saja penyebab hipertensi, kaitannya dengan garam, dan berapa batas aman konsumsinya.

Benarkah Makan Banyak Garam Menyebabkan Hipertensi? Ini Faktanya
Ilustrasi garam menyebabkan hipertensi. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Garam termasuk kunci kelezatan masakan, tapi juga sering dikaitkan dengan penyakit darah tinggi jika dikonsumsi berlebihan. Hal ini membuat banyak orang berusaha mengurangi garam, bahkan menghindarinya. Namun, benarkah semakin banyak garam menyebabkan hipertensi?

Makanan gurih sudah sering kita konsumsi sehari-hari, sebut saja mie instan, keripik, gorengan, hingga makanan cepat saji. Rasa gurih juga sering membuat kita ketagihan sehingga terkadang sulit untuk berhenti makan.

Tanpa disadari, kandungan garam atau natrium dalam makanan akhirnya menumpuk di tubuh kita. Padahal, garam disebut-sebut sebagai penyebab hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Jika diabaikan, hal ini bisa berujung pada penyakit yang lebih parah seperti stroke maupun penyakit jantung. Lalu, bagaimana faktanya? Apa benar garam menyebabkan hipertensi?

Mengenal Hipertensi, Gejala, dan Penyebabnya

Header Advertorial Le Minerale Hipertensi

Ilustrasi seorang dokter mengukur tekanan darah pasiennya. FOTO/iStockphoto

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding pembuluh darah meningkat atau terlalu tinggi secara konsisten. Menurut WHO, seseorang dianggap hipertensi jika pengukuran tekanan darahnya menunjukkan angka 140/90 mmHg atau lebih.

Kondisi ini memaksa jantung bekerja ekstra keras untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Jika diabaikan atau dibiarkan dalam jangka panjang, tekanan berlebih tersebut akan merusak arteri sekaligus organ jantung, bahkan memicu komplikasi fatal seperti serangan jantung dan stroke.

Gejala Hipertensi

Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena sebagian besar penderitanya tidak mengalami gejala yang khas dan jelas. Oleh karena itu, seseorang bisa saja mengalami tekanan darah tinggi tanpa menyadarinya. Namun, pada tekanan darah yang sangat tinggi, beberapa gejala yang muncul meliputi:

  • Pusing
  • Sakit kepala hebat
  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Mual
  • Muntah
  • Pandangan kabur atau gangguan penglihatan lainnya
  • Mengalami kecemasan
  • Telinga berdenging
  • Mimisan
  • Irama jantung tidak normal

Penyebab Hipertensi

Mengutip dari laman Mayo Clinic, tekanan darah ditentukan oleh dua hal, yaitu jumlah darah yang dipompa jantung dan seberapa besar hambatan aliran darah saat melewati pembuluh darah arteri.

Semakin banyak darah yang dipompa jantung dan semakin sempit pembuluh darah arteri, semakin tinggi pula tekanan darahnya. Sementara itu, tekanan darah terbagi menjadi dua jenis dengan penyebab yang berbeda:

1. Hipertensi Primer

Hipertensi primer atau yang juga dikenal sebagai hipertensi esensial merupakan jenis tekanan darah tinggi yang paling umum. Pada sebagian besar orang dewasa, penyebab spesifiknya tidak dapat diketahui secara pasti.

Kondisi ini biasanya berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun. Risiko hipertensi juga dapat meningkat ketika terjadi penumpukan plak di dalam pembuluh darah atau aterosklerosis.

2. Hipertensi Sekuder

Hipertensi sekunder terjadi akibat adanya kondisi atau penyakit tertentu. Berbeda dengan hipertensi primer yang berkembang secara bertahap, hipertensi jenis ini dapat muncul secara tiba-tiba dan menyebabkan tekanan darah meningkat tinggi.

Kondisi dan obat-obatan yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder meliputi:

  1. Tumor kelenjar adrenal
  2. Masalah pembuluh darah bawaan lahir atau kelainan jantung bawaan.
  3. Penggunaan obat-obatan tertentu, misalnya obat batuk dan pilek, beberapa jenis obat pereda nyeri, hingga pil KB.
  4. Narkoba atau obat-obatan terlarang
  5. Penyakit ginjal
  6. Obstructive sleep apnea (henti napas saat tidur)
  7. Gangguan tiroid

Benarkah Makan Banyak Garam Menyebabkan Hipertensi?

Ilustrasi Garam dan Hipertensi

Ilustrasi garam menyebabkan hipertensi. FOTO/iStockphoto

WHO menyebutkan bahwa risiko hipertensi bisa meningkat karena beberapa faktor, salah satunya adalah pola makan tidak sehat. Mengonsumsi garam berlebihan juga termasuk dalam pola makan tak sehat yang bisa menyebabkan tekanan darah tinggi.

Dilansir dari situs American Heart Association, konsumsi garam berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah karena kandungan natrium di dalamnya memengaruhi keseimbangan cairan tubuh.

Ketika terlalu banyak natrium masuk ke dalam tubuh, natrium akan menarik air masuk ke dalam pembuluh darah dan otomatis meningkatkan volume darah di dalamnya. Kondisi ini akhirnya membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Jika berlangsung terus-menerus, tekanan berlebih pada pembuluh darah dapat menyebabkan kerusakan pada dindingnya serta mempercepat penumpukan plak yang berpotensi semakin menghambat aliran darah.

Apa Kata Studi?

Penelitian tentang hubungan garam dan hipertensi telah banyak dilakukan, salah satunya dalam studi bertajuk Sodium Intake and Risk of Hypertension: A Systematic Review and Dose–Response Meta-analysis of Observational Cohort Studies.

Studi ini meneliti hubungan antara asupan natrium dan risiko terjadinya hipertensi berdasarkan studi kohort. Peneliti menganalisis 11 studi dan membandingkan risiko hipertensi pada berbagai tingkat asupan natrium.

Hasilnya menunjukkan bahwa dibandingkan asupan 2 gram natrium per hari, peningkatan risiko hipertensi mulai terlihat pada asupan sekitar 3 gram natrium per hari. Artinya, semakin tinggi konsumsi natrium, semakin tinggi pula risiko mengalami hipertensi.

Temuan terkait garam menyebabkan hipertensi juga diperkuat oleh studi lain berjudul Effect of Dose and Duration of Reduction in Dietary Sodium on Blood Pressure Levels: Systematic Review and Meta-Analysis of Randomised Trials.

Studi ini menganalisis 133 uji klinis acak dengan melibatkan total 12.197 peserta untuk melihat hubungan antara pengurangan natrium dan perubahan tekanan darah.

Hasilnya menunjukkan bahwa pengurangan natrium secara signifikan menurunkan tekanan darah, baik pada orang yang sudah mengalami hipertensi maupun yang belum. Studi ini pun menyimpulkan bahwa semakin besar pengurangan asupan natrium, semakin besar penurunan tekanan darah.

Batas Konsumsi Garam Sehari-hari

Ilustrasi garam dapur

Ilustrasi garam dapur. (FOTO/iStockphoto)

Garam menyebabkan hipertensi sudah terbukti secara ilmiah, lebih tepatnya adalah garam dapat meningkatkan risiko terjadinya tekanan darah tinggi. Lantas, berapa batas konsumsi garam yang aman agar bisa terhindar dari hipertensi?

WHO menganjurkan orang dewasa untuk membatasi konsumsi natrium kurang dari 2 gram per hari. Kandungan natrium tersebut setara dengan kurang dari 5 gram garam per hari atau sekitar 1 sendok teh.

Perlu diingat, batas tersebut merupakan total asupan garam dalam sehari, bukan hanya garam yang ditambahkan saat memasak. Sebagai informasi, kandungan garam juga dapat berasal dari makanan kemasan, makanan olahan, makanan siap saji, bumbu, camilan, serta berbagai produk makanan lainnya.

Oleh karena itu, WHO juga merekomendasikan pola makan rendah garam sebagai bagian dari gaya hidup sehat untuk membantu menurunkan dan mengendalikan tekanan darah. Misalnya memperbanyak makan sayur dan buah, serta mengurangi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans.

Demikian penjelasan tentang apakah garam menyebabkan hipertensi. Konsumsi garam berlebih otomatis akan meningkatkan asupan natrium yang berkontribusi terhadap kenaikan tekanan darah. Mulai sekarang, batasi konsumsi garam dan jalankan pola makan seimbang untuk membantu menjaga tekanan darah tetap sehat.

Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Kesehatan

Baca juga artikel terkait HIPERTENSI atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani