tirto.id - September 2026, tiga spesies baru ditemukan di tiga belahan Bumi yang berbeda. Ada kucing liar dari hutan awan Bolivia, ular tanah dari rimba Papua Nugini, dan katak dari sebuah rawa di hutan Amazon. Penemuan ketiga spesies ini diumumkan dalam jeda yang cukup berdekatan pada pertengahan bulan.
Kucing liar dari Hutan Yungas, Bolivia itu diberi nama Leopardus tilcayo. Ini merupakan spesies kucing liar pertama yang berhasil ditemukan dalam lebih dari satu abad. Kucing yang oleh warga lokal disebut tilcayo ini ditemukan sekelompok peneliti dan penjelajah, termasuk dari National Geographic.
Bobot kucing itu hanya 1,4 kg, alias lebih kecil dari kucing peliharaan pada umumnya. Warna bulunya terlihat pudar tetapi memiliki "bercak" besar yang mencolok. Kucing ini didapuk sebagai spesies baru setelah para peneliti melakukan pengurutan genom (genome sequencing) dan membandingkannya dengan spesies-spesies lain.
Hasilnya, tilcayo pun diidentifikasi sebagai spesies yang berbeda dari yang sudah ada, sekaligus menambah jumlah spesies "kucing harimau" di Amerika Selatan menjadi lima. Saat ini, baru ada satu individu Leopardus tilcayo yang diketahui berada dalam keadaan hidup, dan ia sudah tinggal di habitatnya sejak 2017.
Berikutnya, ada Leilaphis slashi, sebuah spesies ular tanah baru yang namanya diambil dari Slash, gitaris band rock Guns N' Roses yang merupakan seorang penggemar reptil. Ular ini sebenarnya sudah ditemukan sejak 2006 oleh seorang peneliti bernama Chris Austin. Akan tetapi, baru kali ini ular tersebut resmi menjadi spesies anyar lewat sebuah analisis genetika yang menunjukkan perbedaan signifikan dari ular sejenis. Ular ini tidak berbisa dan, ditengarai, makanannya adalah kadal licin dan telur reptil lain.
Spesies ketiga adalah katak Adenomeravarcena yang ditemukan di kawasan Sungai Jurua Hulu, Acre, Brasil, yang masih masuk kawasan hutan Amazon. Nama "varcena" merujuk pada hutan dataran banjir (floodplain forest) Amazon, yakni ekosistem yang terendam air pada musim-musim tertentu.
Katak satu ini terbilang unik lantaran spesies-spesies dari genus Adenomera biasanya ditemukan di kawasan hutan kering, bukan rawa. Para ilmuwan membedakan katak ini dari kerabat dekatnya lewat kombinasi DNA, rekaman suara panggilan kawin, bentuk tubuh, dan ketiadaan bercak gelap di bagian bawah lengan depannya.
Masa Keemasan Penemuan Spesies Baru
Hanya dalam sebulan, setidaknya ada tiga spesies baru yang diumumkan. Ini mungkin terdengar seperti sesuatu yang mengejutkan. Akan tetapi, menurut sebuah studi dari University of Arizona yang terbit pada Desember 2025, kita sebenarnya sedang berada pada masa keemasan penemuan spesies baru. Laporan tersebut menunjukkan bahwa laju penemuan spesies baru kini sedang mengalami percepatan.
Antara 2015 dan 2020, rata-rata lebih dari 16.000 spesies baru diumumkan tiap tahun, dan tahun dengan catatan tertinggi sepanjang sejarah adalah 2020, dengan lebih dari 17.000 spesies baru. Dari jumlah itu, lebih dari 10.000 di antaranya merupakan serangga dan arthropoda lain, diikuti sekitar 2.500 tumbuhan, dan sekitar 2.000 jamur.
Ada beberapa alasan di balik peningkatan laju penemuan spesies baru ini. Pertama, teknologi saat ini jauh lebih canggih, bahkan jika dibandingkan dengan satu dekade lalu saja. Dulu, ilmuwan cuma mengandalkan apa yang bisa mereka kumpulkan secara fisik lewat ekspedisi. Sekarang, ada kamera jebak, perekam suara, pemodelan ekologi berbasis komputer, dan, yang paling menentukan, pengurutan genom yang jauh lebih cepat dan murah.
Kedua, ada fenomena yang disebut "spesies kriptik". Ini adalah makhluk yang secara fisik terlihat identik dengan kerabatnya, tapi ternyata secara genetik merupakan spesies yang sama sekali berbeda. Kucing tilcayo dan katak Amazon di atas adalah dua contoh nyatanya.

Ketiga, banyak spesies yang sebenarnya sudah ditemukan dan dikumpulkan dari ekspedisi lama tapi belum sempat diteliti. Christopher Mah, ahli biologi kelautan dari Smithsonian, pernah menjelaskan bahwa cukup banyak spesimen yang "menganggur" bertahun-tahun di museum sebelum akhirnya ada peneliti yang menelitinya ulang, karena memang ada kelompok-kelompok hewan tertentu yang jarang sekali digarap ilmuwan.
Artinya, spesies-spesies ini bukan benar-benar "baru muncul". Mereka sudah ada sejak lama, hanya saja baru dikenali dan diakui secara ilmiah sekarang. Menariknya, tidak semua kelompok makhluk hidup punya pola penemuan yang sama. Serangga, misalnya, mencatat laju penemuan tertinggi sekitar tahun 1900-an, sebelum menurun tajam akibat Perang Dunia I dan II, dan sampai sekarang lajunya belum sepenuhnya pulih. Sebaliknya, kelompok seperti jamur, arachnida, moluska, dan ikan terus meningkat lajunya, dengan puncak penemuan baru terjadi di abad ke-21.
Bagaimana Sebuah Spesies Bisa Dinyatakan Baru?
Tentu saja, semuanya dimulai dari lapangan. Ilmuwan mengumpulkan spesimen, biasanya lebih dari satu individu, lewat metode yang berbeda tergantung jenis hewannya. Serangga biasanya ditangkap dengan jaring atau perangkap cahaya. Tumbuhan dipres dan diawetkan. Vertebrata dikumpulkan lewat perangkap, jaring, atau metode yang lebih ramah seperti kamera jebak dan perekam bioakustik. Setiap spesimen difoto, diukur, dan dicatat detail habitatnya lengkap dengan koordinat GPS.
Setelah spesimen terkumpul, proses identifikasi dimulai. Ilmuwan membandingkan ciri morfologi, seperti warna, struktur tubuh, dan kadang bentuk organ tertentu, dengan spesies yang sudah dikenal sebelumnya. Kalau cocok, berarti bukan spesies baru. Kalau ada perbedaan yang konsisten, di situlah dugaan spesies baru mulai muncul.
Akan tetapi, morfologi saja sering tidak cukup, apalagi untuk kasus spesies kriptik yang secara fisik terlihat identik. Di sinilah DNA barcoding berperan besar. Teknik ini menganalisis potongan kecil dari satu gen tertentu, biasanya gen COX1 pada hewan, lalu membandingkannya seperti cara barcode produk di kasir supermarket. Teknik ini pertama kali dikembangkan oleh ilmuwan Paul Hebert dari University of Guelph, Kanada, dan sekarang jadi alat paling mumpuni untuk memisahkan spesies yang terlihat sama tapi genetiknya berbeda jauh.
Setelah bukti dirasa cukup, baik dari morfologi, genetika, suara, maupun pola perilaku, barulah spesies itu diberi nama resmi. Setiap spesies baru membutuhkan satu spesimen acuan yang disebut holotipe, yaitu individu yang menjadi identitas resmi seluruh spesies dan wajib disimpan di museum agar bisa diakses peneliti lain kapan saja.
Nama ilmiahnya disusun dari dua kata, nama genus dan nama spesies, mengikuti sistem nomenklatur binomial yang diperkenalkan naturalis Swedia Carl Linnaeus sekitar 300 tahun lalu. Langkah terakhir adalah publikasi. Deskripsi lengkap spesies itu harus diterbitkan di jurnal ilmiah yang bisa diakses secara internasional dan terarsip di berbagai tempat, supaya nama dan datanya diakui resmi dalam sistem taksonomi dunia.
Penemuan Spesies Baru sebagai Landasan Hukum Konservasi
Apakah dengan begitu lantas proses sudah selesai? Ternyata tidak. Jadi, banyak ilmuwan menyebut spesies baru sebagai sebuah "hipotesis" alias bukan fakta yang final. Artinya, deskripsi tentangnya bisa saja direvisi di masa depan seandainya muncul bukti baru atau pendekatan ilmiah yang lebih canggih. Meski bagian dari eksakta, taksonomi sejatinya tidak "benar-benar" eksak karena perkembangannya terus mengikuti perkembangan alat yang tersedia serta data yang dihasilkan.
Tapi, apa sebetulnya kegunaan dari penemuan spesies-spesies baru ini? Toh, banyak dari kita yang mungkin tidak akan pernah melihat makhluk-makhluk itu secara langsung.
Jawaban pertamanya, soal landasan hukum konservasi. John Wiens dari University of Arizona menyatakan bahwa suatu spesies baru bisa ditentukan status perlindungannya setelah dideskripsikan panjang lebar secara ilmiah. Sebab, dokumentasi adalah langkah pertama dalam proses konservasi.
Status "spesies baru" punya konsekuensi hukum dan kebijakan yang nyata. Contoh paling terkenal adalah paus North Pacific Right Whale, yang baru diakui sebagai spesies terpisah lewat bukti genetik pada tahun 2000. Status baru itu membuka jalan bagi paus tersebut untuk masuk daftar spesies dilindungi secara resmi pada 2008, yang berarti ada pembatasan aktivitas kapal, penangkapan ikan, dan pengeboran minyak di sebagian wilayah Pasifik utara demi menjaga habitatnya.
Penemuan spesies baru sering juga jadi alarm untuk konservasi. Ambil contoh katak Amazon yang baru saja disebut. Menurut peneliti Thiago Carvalho, laju kerusakan hutan sekarang jauh lebih cepat dibanding kemampuan ilmuwan mendeskripsikan spesies baru. Akibatnya, banyak spesies yang belum sempat dinamai justru lebih dulu punah, atau setidaknya tidak masuk daftar spesies terancam karena secara teknis "belum ada" dalam catatan ilmiah resmi.
Ada juga manfaat yang lebih praktis, yaitu untuk kesehatan manusia. Obat penurun berat badan populer berbasis GLP-1, misalnya, terinspirasi dari hormon yang pertama kali ditemukan pada biawak monster gila (Heloderma suspectum). Racun laba-laba dan ular, serta senyawa dari berbagai tumbuhan dan jamur, juga sedang diteliti potensinya untuk pengobatan nyeri dan kanker.
Yang menarik, sebagian besar temuan spesies baru ini sebenarnya tidak membutuhkan ekspedisi ke tempat yang jauh nan eksotis. Ini, salah satunya, terbukti lewat penemuan serangga ranting bernama ilmiah Nesiophasma sobesonbaii n.sp oleh seorang remaja asal Kab. Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Davis Marthin Damaledo.
Davis, yang sejak kecil memang tertarik pada serangga, pertama kali menemukan serangga ranting tersebut pada 2021 saat sedang berjalan-jalan bersama ayahnya. Setelah melalui serangkaian proses ilmiah, pada 2024 serangga itu diumumkan sebagai spesies baru.
Pada akhirnya, mencari dan mengidentifikasi spesies baru adalah bagian penting dari bagaimana manusia mengenali Bumi sebagai habitatnya. Tidak ada satu pun hewan dan tumbuhan yang tidak punya peran secara ekologis. Oleh karena itu, apabila memang ada spesies yang perlu dilindungi, perlu ada landasan hukum yang jelas dan, sekali lagi, itu hanya bisa muncul jika sudah ada dokumentasi ilmiah yang lengkap.
Kita mungkin takkan pernah melihat kucing hutan Bolivia dari dekat, pun demikian dengan biawak monster gila. Namun, di kemudian hari, mungkin spesies-spesies ini akan menjadi penyelamat bagi manusia. Maka, semakin banyak spesies yang ditemukan, semakin jauh kita mengenal planet tempat kita tinggal, semakin besar pula kans kita untuk terus bertahan hidup.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





































