Menuju konten utama
Edusains

Serupa Manusia, Hewan Juga Melakukan Persiapan Sebelum Bertempur

Persiapan sebelum pertarungan yang kerap dilakukan manusia juga ditemukan pada berbagai spesies hewan sosial, mulai dari semut sampai primata.

Serupa Manusia, Hewan Juga Melakukan Persiapan Sebelum Bertempur
Serigala abu-abu. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Fail to prepare, prepare to fail. Kata-kata itu terlontar dari mulut salah satu kapten sepak bola paling sukses dan disegani sepanjang sejarah, Roy Keane, dalam sebuah wawancara dengan The Irish Times tentang kontroversi yang terjadi di kamp Timnas Republik Irlandia pada Piala Dunia 2002.

Waktu itu, Keane seharusnya memimpin negaranya tampil di Jepang dan Korea Selatan. Akan tetapi, pertengkaran hebat dengan sang pelatih, Mick McCarthy, membuat pria kelahiran 1971 itu harus rela ditendang dari skuad dan pulang lebih dulu tanpa memainkan satu pun laga. Dan dalam wawancara bersama The Irish Times tersebut, Keane membeberkan segalanya.

Menurut Keane, yang juga merupakan kapten Manchester United saat itu, timnas Republik Irlandia tidak mempersiapkan diri dengan baik. Mulai dari pelatih McCarthy, federasi, sampai beberapa rekan setim menjadi sasaran tembak Keane. Menurutnya, buruknya persiapan akan berujung pada capaian yang mengecewakan.

Kebenaran ucapan Keane masih bisa diperdebatkan, yang jelas Republik Irlandia terhenti pada babak 16 besar usai kalah adu penalti kontra Spanyol. Itu berarti, mereka gagal menyamai capaian edisi Piala Dunia 1990 yang sukses menapaki perempat final. Namun, di sisi lain, lolos ke 16 besar berarti mereka lolos dari fase grup dan, dalam perjalanannya, sukses menahan imbang Jerman yang akhirnya jadi finalis serta menundukkan Arab Saudi dengan skor telak 3-0.

Terlepas dari terbukti tidaknya prediksi Keane, tidak ada yang salah dari ucapannya soal persiapan. Dalam hal apa pun, persiapan memang dipandang sebagai faktor kunci dari keberhasilan. Itulah mengapa, misalnya, dalam Piala Dunia 2026 lalu, tim-tim seperti Brasil menggunakan rompi canggih untuk mendeteksi performa pemain. Lalu, ada pula persiapan khusus yang dilakukan untuk menghadapi adu penalti.

Yang Dilakukan Hewan Sebelum Bertempur

Mempersiapkan diri sebaik-baiknya ternyata bukan hanya dilakukan oleh manusia. Hewan pun melakukan hal serupa. Dalam makalah berjudul "Pre-emptive behaviour in a landscape of intergroup conflict" yang dimuat dalam jurnal Trends in Ecology & Evolution, Josh Arbon dan Andrew Radford dari Universitas Bristol menjabarkan bagaimana beberapa jenis hewan mempersiapkan diri mereka jelang konfrontasi dengan kelompok rival. Bentuk persiapan yang mereka lakukan pun, bisa dibilang, mirip dengan apa yang dilakukan oleh manusia.

Manusia, sebagaimana dijelaskan Arbon dan Radford, sudah lama dikenal melakukan berbagai persiapan sebelum perang, mulai dari pengintaian, memanfaatkan dataran tinggi, mengumpulkan informasi, sampai infiltrasi ke wilayah musuh untuk menghindari deteksi. Rupanya, pola semacam ini juga ditemukan pada berbagai spesies hewan sosial, mulai dari semut sampai primata.

Ambil contoh simpanse. Mereka memilih berdiam di puncak bukit ketika berada di wilayah yang rawan pertemuan dengan kelompok rival, alih-alih melakukan aktivitas yang lebih berisik seperti mencari makan atau berpindah tempat. Posisi ini memungkinkan mereka memantau keberadaan lawan dari kejauhan, sekaligus mendengar suara-suara yang mengindikasikan datangnya ancaman.

Mongoose kerdil (dwarf mongoose) menunjukkan pola serupa. Ketika mendeteksi jejak bau atau suara dari kelompok rival, hewan kecil pemakan serangga ini akan bergerak lebih lambat dan lebih sering melakukan perilaku "sentinel", yaitu berdiri tegak sambil mengawasi sekeliling. Perilaku itu membuat mereka bisa mengumpulkan informasi tentang posisi musuh dengan lebih akurat sebelum memutuskan langkah selanjutnya.

Selain memantau, hewan-hewan ini juga menyiapkan wilayahnya. Mongoose kerdil akan memperbanyak jejak aroma di sekitar wilayah kekuasaannya saat ancaman dari kelompok tetangga meningkat untuk menegaskan kepemilikan teritorial. Meerkat melakukan hal yang mirip, yakni menandai area di sekitar liang mereka yang sempat "diperiksa" oleh penyusup, sementara monyet howler hitam kerap kembali ke lokasi konfrontasi sebelumnya, kemungkinan untuk menunjukkan eksistensi mereka kepada tetangga atau rival.

Ada pula perilaku yang jauh lebih ekstrem, yaitu melakukan serangan preemtif dengan menyerbu wilayah musuh. Simpanse jantan, misalnya, diketahui menyusup ke wilayah kelompok tetangga secara diam-diam dalam satu barisan, lalu bergerak menuju sumber suara vokalisasi kelompok lain untuk melakukan serangan. Mongoose berpita bahkan diketahui melakukan serangan mematikan secara berkelompok, termasuk melakukan penyerbuan cepat untuk membunuh anak-anak dari kelompok rival mereka.

Menjelang potensi konflik, hewan-hewan tadi juga cenderung memperkuat ikatan dengan sesama anggota kelompok. Simpanse, contohnya, lebih sering saling merawat bulu (grooming) dan bermain bersama sebelum melakukan pertahanan wilayah secara kolektif. Perilaku semacam ini diyakini membantu komunikasi antaranggota, mengurangi kecemasan, mempererat ikatan sosial, sekaligus mempersiapkan kekuatan tempur yang lebih solid ketika benar-benar dibutuhkan.

dwarf mongoose

Dwarf Mongoose. FOTO/iStockphoto

Semua bentuk kesiapsiagaan ini, menurut Arbon dan Radford, sangat bergantung pada seberapa besar ancaman yang dirasakan oleh suatu kelompok. Semakin besar kemungkinan bertemu rival, semakin besar ukuran kelompok lawan, semakin asing kelompok tersebut, dan semakin tinggi kemungkinan mereka menyerang, maka semakin banyak pula perilaku antisipatif yang ditunjukkan. Dengan kata lain, hewan-hewan ini tidak asal bersiaga, melainkan menyesuaikan tingkat kewaspadaan dengan tingkat bahaya yang sesungguhnya.

Ambang batas ancaman itu terbentuk dari kombinasi informasi yang mereka tangkap secara langsung, semisal suara atau bau musuh, dengan memori dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Hal ini menjadi semacam peta mental risiko yang terus mereka perbarui, mirip dengan bagaimana manusia mengingat area mana yang rawan dan mana yang relatif aman.

Pertimbangan Matang

Kesiapsiagaan semacam ini bukan cuma soal menyerang atau bertahan saja. Sebab, sebelum sampai pada tahap itu, hewan sesungguhnya melalui proses pertimbangan yang cukup rumit soal apakah konfrontasi tersebut layak dilakoni atau tidak. Proses pertimbangan semacam ini dijelaskan secara mendalam dalam sebuah kajian lain yang dipublikasikan pada 2021, juga di jurnal yang sama.

Dalam makalah berjudul "Assessment during Intergroup Contests", Patrick Green, Mark Briffa, dan Michael Cant menjelaskan bahwa kelompok hewan tidak asal terjun ke pertarungan begitu saja. Mereka lebih dulu menimbang sejumlah faktor, mulai dari kekuatan diri sendiri, kekuatan lawan, sampai seberapa berharga sumber daya yang sedang diperebutkan.

Salah satu faktor yang paling menentukan adalah resource holding potential atau RHP, yakni kemampuan bertarung suatu individu atau kelompok secara keseluruhan. Dalam konteks kelompok, ukuran jumlah anggota kerap menjadi indikator RHP yang paling kuat, dan hal ini terbukti berlaku pada primata, semut kayu, singa, sampai burung wood hoopoe hijau.

Akan tetapi, jumlah bukan segalanya. Pada serigala abu-abu, misalnya, kelompok yang lebih kecil namun memiliki lebih banyak individu jantan, yang secara fisik lebih besar dan kuat dibanding betina, ternyata mampu mengalahkan kelompok yang jumlahnya lebih banyak. Artinya, komposisi sama pentingnya dengan kuantitas.

Motivasi juga menjadi variabel penting. Kelompok meerkat yang memiliki anak-anak, misalnya, kerap mampu memenangi konfrontasi meski kalah jumlah karena wilayah yang mereka rebut memiliki lebih banyak makanan untuk keturunan mereka. Dorongan untuk melindungi generasi berikutnya rupanya bisa menutupi kekurangan dari sisi jumlah pasukan.

Faktor lain yang turut dipertimbangkan adalah nilai serta kepemilikan atas sumber daya yang diperebutkan. Semut kura-kura, yang memiliki banyak sarang sekaligus, lebih memprioritaskan pertahanan sarang dengan pintu masuk sempit karena lebih mudah dijaga dibanding sarang dengan pintu masuk lebar. Dengan begitu, mereka bisa memusatkan kekuatan pada wilayah yang benar-benar bisa dipertahankan alih-alih menyebar tenaga secara percuma.

Pengalaman masa lalu turut memengaruhi pengambilan keputusan lewat apa yang disebut sebagai winner-loser effect. Kelompok baboon yang kalah dalam suatu konfrontasi antarkelompok, misalnya, diketahui menghabiskan lebih sedikit waktu di area tempat mereka pernah kalah dibanding sebelumnya, seolah menghindari lokasi yang mengingatkan pada kekalahan tersebut.

Semua pertimbangan itu, pada akhirnya, juga berpengaruh pada dinamika di dalam kelompok itu sendiri. Simpanse, sebagai contoh, cenderung lebih kohesif dan jantannya menjadi kurang agresif terhadap sesama anggota kelompok pada bulan-bulan ketika konflik antarkelompok lebih sering terjadi. Kekompakan menjadi modal penting ketika ancaman dari luar sedang tinggi-tingginya.

Dengan segala pertimbangan yang begitu rumit ini, tidak mengherankan apabila hewan juga kerap memilih untuk tidak bertarung sama sekali. Sebab, di balik semua persiapan dan kalkulasi itu, ada satu kemungkinan yang juga sering terjadi, yaitu meredakan ketegangan sebelum benar-benar sampai pada level baku hantam.

Fenomena ini tergambar jelas dalam riset yang dilakukan Orlando Vivanco-Montané dan koleganya dari Universitas Veracruzana, Meksiko, terhadap kelelawar buah Jamaika (Artibeus jamaicensis) yang dipublikasikan dalam jurnal Biology pada Oktober 2025. Kelelawar ini hidup dalam kelompok harem, di mana satu jantan dominan menguasai dan melindungi sekumpulan betina dari gangguan jantan lain yang disebut sebagai jantan satelit.

simpanse

simpanse. FOTO/iStockphoto

Tim peneliti menganalisis 50 interaksi agonistik dari rekaman video yang diambil di gua Cantil Blanco, Veracruz, Meksiko, sepanjang Mei hingga Oktober 2021. Hasilnya menunjukkan bahwa jarak jantan satelit dari kelompok betina menjadi penentu utama seberapa cepat jantan dominan bereaksi, bukan jumlah betina dalam harem tersebut. Ketika jantan satelit berada dalam jarak sekitar 100 milimeter dari kelompok, jantan dominan akan merespons dengan sangat cepat, biasanya kurang dari 5 detik.

Dari 50 interaksi yang diamati, 15 di antaranya atau sekitar 30 persen tidak sampai berujung pada kontak fisik sama sekali. Bahkan, separuh dari seluruh interaksi yang diamati bermula dengan semacam peringatan sebelum kontak fisik terjadi, baru kemudian berujung pada gigitan apabila peringatan tersebut tidak digubris. Urutan perilakunya kira-kira seperti ini: deteksi, pendekatan, kepakan sayap sebagai peringatan, tinju menggunakan pergelangan sayap, gigitan, sampai kejaran, dengan eskalasi yang jarang langsung meloncat ke level kekerasan penuh.

Hewan Sejatinya Tidak Menikmati Pertarungan

Pola semacam ini sebenarnya sudah lama diamati, jauh sebelum riset-riset modern tadi dilakukan. Pada 1921, seorang ahli perilaku hewan dari Universitas Maine bernama Wallace Craig menulis makalah berjudul "Why Do Animals Fight?" yang dimuat dalam International Journal of Ethics. Uniknya, tulisan Craig ini justru lahir sebagai bantahan atas argumen kaum militeris yang kerap memakai alam sebagai pembenaran bagi peperangan antarmanusia.

Craig, yang mengkhususkan diri pada studi burung merpati, berpendapat bahwa pertarungan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang dicari atau dinikmati oleh hewan. Menurutnya, pertarungan lebih merupakan kebutuhan yang terpaksa dilakukan demi mempertahankan kepentingan tertentu, entah itu makanan, pasangan, atau sarang, dan bukan sesuatu yang dikejar demi kesenangan semata.

Ia bahkan menyebut bahwa burung merpati yang dipelihara tanpa pernah bertemu musuh sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehilangan atau kekurangan apa pun. Justru, mereka tampak lebih bahagia dibanding merpati yang harus sering bertarung. Bagi Craig, ini menjadi bukti bahwa pertarungan bukanlah naluri yang harus dipenuhi, melainkan konsekuensi dari benturan kepentingan semata.

Lebih jauh, Craig juga menegaskan, bahkan ketika hewan benar-benar bertarung, tujuannya bukanlah untuk membunuh lawan. Dia mencontohkan bagaimana burung merpati yang berhasil mengusir lawannya akan berhenti mengejar begitu lawan tersebut sudah cukup jauh, dan tidak akan melanjutkan serangan apabila lawan tadi menyerah atau berbaring pasrah.

Argumen inilah yang kemudian dipakai Craig untuk membantah anggapan bahwa peperangan merupakan keniscayaan biologis yang menopang evolusi. Menurutnya, justru sebaliknya. Tren evolusi pada burung dan mamalia mengarah pada semakin berkurangnya bentuk pertarungan yang destruktif, digantikan oleh perilaku yang sifatnya seremonial atau sekadar unjuk kekuatan tanpa harus melukai lawan.

Satu abad lebih setelah tulisan Craig tersebut, gagasan itu ternyata masih relevan dan justru semakin diperkuat oleh temuan-temuan terbaru. Baik Green, Briffa, dan Cant lewat kerangka penilaian mereka, maupun Vivanco-Montané dan koleganya lewat studi soal kelelawar buah Jamaika, sama-sama menunjukkan bahwa hewan senantiasa mempertimbangkan untung rugi sebelum benar-benar baku hantam.

Dan Arbon serta Radford, lewat tinjauan mereka yang paling anyar, melengkapi gambaran ini dengan menunjukkan bahwa pertimbangan tersebut sesungguhnya sudah dimulai jauh sebelum dua kelompok benar-benar berhadapan. Ada pengumpulan informasi, ada pengelolaan wilayah, ada penguatan ikatan sosial, semuanya dilakukan demi memaksimalkan peluang menang sekaligus meminimalkan risiko kalah maupun cedera.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN ILMIAH atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi