Menuju konten utama
Byte

Kutub Selatan Bulan, Obsesi Terbaru Perlombaan Antariksa

Kutub selatan Bulan menyimpan air es dan potensi energi listrik. Temuan ini memicu persaingan baru antara AS, Tiongkok, India, dan negara lainnya. 

Kutub Selatan Bulan, Obsesi Terbaru Perlombaan Antariksa
Fenomena bulan purnama biru (blue moon) terlihat dari langit di Jakarta, Minggu (31/5/2026). Bulan purnama biru adalah bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender yang secara astronomi diperkirakan akan terjadi pada periode satu hingga tiga tahun sekali dan diperkirakan akan terjadi lagi pada 31 Desember 2028. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Keberhasilan Amerika Serikat (AS) mengirimkan tiga astronot ke Bulan pada 20 Juli 1969 secara efektif menjadi akhir dari perlombaan antariksa pada era Perang Dingin. Uni Soviet, seteru AS, sebenarnya lebih dulu mereguk kesuksesan dalam perlombaan tersebut. Mereka jadi negara pertama yang mengirim kosmonotnya, Yuri Gagarin, yang mengitari orbit Bumi pada 1961. Empat tahun berselang, kosmonot lain, Aleksei Leonov, menjadi manusia pertama yang sukses melayang bebas di ruang angkasa.

Namun, menjejakkan kaki di Bulan adalah pencapaian yang akhirnya tidak pernah bisa ditandingi oleh Uni Soviet. Leonov bertutur bahwa, sejatinya, Uni Soviet sudah merencanakan misi ke Bulan sejak awal 1960-an. Akan tetapi, program tersebut menerima pukulan telak manakala Sergei Korolyov, kepala program antariksa Soviet, meninggal dunia secara mendadak pada 1966. Dari sana, program tersebut seperti kehilangan arah. Bahkan sebelum Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjejakkan kaki di Bulan, Uni Soviet pun sudah kalah ketika Frank Borman, pada 1968, memimpin misi Apollo 8 mengitari orbit Bulan.

Pelan tapi pasti, program antariksa Soviet jadi semakin tak keruan. Dalam perlombaan pengembangan pesawat ulang alik, misalnya, mereka tertinggal tujuh tahun. AS sudah meluncurkan pesawat ulang alik pertamanya, Columbia, pada 1981. Sementara itu, Uni Soviet baru berhasil melakukannya pada 1988 lewat Buran yang berarti Badai Salju. Tak cuma bentuknya sangat mirip dengan pesawat ulang alik AS sehingga muncul dugaan spionase, misi Buran juga cuma dilakukan sekali, itu pun tanpa awak.

Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya diwariskan juga pada program antariksa Rusia yang, hingga kini, tak kunjung mampu melakukan gebrakan signifikan. Terbaru, pada 2023, misi pertama Rusia ke Bulan dalam 47 tahun yang disebut Luna-25 mengalami kegagalan ketika wahana antariksa nirawak yang mereka kirimkan jatuh di permukaan Bulan. Akan tetapi, dalam konteks perlombaan antariksa modern, Rusia memang bukanlah pemain utama.

AS, tentu saja, masih menjadi salah satu pemain utama. Namun, peta persaingan sudah berubah total. Posisi Uni Soviet atau Rusia telah digantikan oleh Tiongkok, India, Jepang, serta Uni Eropa. Selain itu, proyek antariksa pun kini tidak cuma jadi milik organisasi plat merah saja. Sebab, perusahaan-perusahaan swasta macam SpaceX dan Blue Origin (AS), Arianespace (Eropa), dan ispace (Jepang) juga kini punya andil besar dalam misi eksplorasi ruang angkasa.

Bicara soal eksplorasi ruang angkasa, belakangan ini, Bulan kembali menjadi topik perbincangan hangat, wabilkhusus kutub selatannya. Lantas, apa spesialnya kawasan ini dan siapa saja pemain-pemain krusial dalam perlombaan ini?

Jawaban dari pertanyaan pertama adalah air. Lebih tepatnya, air yang membeku jadi es di bagian kutub Bulan.

Pendaratan di bulan

Pendaratan di bulan. foto/pxhere

Benarkah di Bulan Ada Air?

Tak seperti Bumi yang sumbu rotasinya miring hingga 23,5 derajat sehingga bagian kutubnya masih sesekali terkena sinar matahari, kondisi di Bulan sama sekali berbeda. Kemiringan sumbu rotasi Bulan sangat kecil, hanya 1,5 derajat. Ini artinya, ada sejumlah kawah di kedua kutub Bulan yang dasarnya sama sekali tidak pernah tersentuh cahaya matahari bahkan hingga miliaran tahun lamanya.

Oleh NASA, lembaga antariksa AS, wilayah yang tak pernah terkena cahaya matahari itu disebut permanently shadowed regions, atau wilayah yang secara permanen berada dalam bayangan. Beberapa titik di sana diperkirakan bersuhu sangat rendah hingga -203 derajat Celcius. Atmosfer Bulan yang tipis membuat distribusi panas jadi tidak optimal dan akhirnya lahirlah wilayah-wilayah bersuhu ekstrem semacam ini.

Namun, di wilayah-wilayah itu pulalah air berada. Kombinasi kegelapan abadi dan suhu sangat rendah membuat air, yang berwujud es, terjebak di dasar kawah tanpa pernah mengalami penguapan. Inilah yang sekarang sedang jadi target utama misi ke Bulan.

Dugaan soal keberadaan air di Bulan sebenarnya sudah muncul sejak awal 1960-an. Akan tetapi, sampel-sampel yang dibawa pulang pada masa itu belum mampu membuktikan dugaan yang ada. Semua sampel terlihat kering. Baru pada 1998 segalanya berubah ketika wahana Lunar Prospector milik NASA menemukan indikasi bahwa konsentrasi es air tertinggi kemungkinan besar ada di kawah-kawah gelap kutub selatan.

Sepuluh tahun berselang, pada 2008, peneliti Brown University meneliti ulang sampel Apollo lawas dengan teknologi yang jauh lebih canggih dan menemukan kandungan hidrogen di dalam butiran-butiran kecil kaca vulkanik. Setahun kemudian, giliran instrumen NASA yang menumpang di wahana Chandrayaan-1 milik India mendeteksi keberadaan air di permukaan Bulan.

NASA sendiri, pada tahun 2009 itu pula, akhirnya berhasil menemukan bukti paling meyakinkan dari dugaan soal air di Bulan. Cara mereka terbilang brutal, yakni dengan sengaja menabrakkan roket kosong ke sebuah kawah di kutub selatan Bulan. Dari sana, mereka kemudian meneliti pecahan material hasil tumbukan yang terlontar dan, secara definitif, ditemukanlah kandungan air.

Dalam konteks eksplorasi ruang angkasa, air adalah material yang amat, sangat penting. Air bisa dimurnikan untuk diminum, bisa dipecah jadi oksigen untuk bernapas, dan bisa dikonversi menjadi hidrogen dan oksigen untuk bahan bakar roket. Semua kebutuhan itu, kalau harus dibawa dari Bumi, ongkosnya luar biasa mahal.

Sebagai gambaran, biaya mengangkut satu kilogram muatan ke Bulan pada 2023 saja sudah mencapai 1 juta dolar AS. Memang, angka itu bisa berubah jadi lebih murah seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, logikanya tidak berubah. Apa yang sudah ada di Bulan tidak perlu lagi dibawa dari Bumi dan itu bakal sangat menghemat biaya yang bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.

Kendati demikian, profesor geologi Universitas Notre Dame, Clive Neal, mengingatkan bahwa, kendati bukti keberadaan air di Bulan sudah ditemukan secara definitif, memanfaatkan sumber daya tersebut adalah persoalan yang sama sekali berbeda. Hingga kini, belum ada satu pun pihak yang bisa memastikan apakah es air tersebut bisa benar-benar diakses dan ditambang secara ekonomis. Selain itu, jumlah air yang ada di Bulan juga belum diketahui secara pasti, pun demikian dengan persebarannya karena memang belum ada misi yang benar-benar sampai ke tahap eksplorasi penuh.

NASA Rilis Foto Bulan Dari Artemis II

Gambar yang dirilis pada 9 April 2026 oleh NASA ini menunjukkan pemandangan Bulan, dengan tepian kawah di sepanjang garis terminator –batas antara siang dan malam di Bulan– di bagian atas gambar, yang difoto oleh awak Artemis II dari pesawat ruang angkasa Orion pada 6 April 2026. (Foto oleh Handout / NASA / AFP)

Potensi Listrik, Risiko Topografi, dan Klaim Kedaulatan

Selain air, ada dua hal lain yang membuat kutub selatan Bulan menarik. Pertama, meski memiliki kawasan gelap permanen, ada pula kawasan di kutub tersebut yang justru nyaris selalu terkena sinar matahari, bahkan sampai 200 hari tanpa henti. Wilayah ini dinilai potensial sebagai lokasi pemasangan panel surya untuk suplai listrik.

Kedua, kutub selatan Bulan terletak di dekat cekungan raksasa bernama South Pole-Aitken Basin, yang merupakan kawah terbesar di Bulan. Kawah ini merupakan "hasil karya" sebuah asteroid raksasa yang membentur Bulan 4,3 miliar tahun silam. Di sini bisa ditemukan material-material purba yang terlontar dari perut Bulan akibat hantaman asteroid tadi yang bisa jadi bahan pembelajaran mengenai sejarah satelit tersebut.

Namun, meski punya daya tarik besar, risiko misi yang menyertai juga tak kalah besar. Pasalnya, topografi wilayah kutub Bulan jauh lebih kasar ketimbang di ekuatornya. Wilayah ini penuh dengan kawah dan lereng curam yang membuat navigasi jadi lebih rumit. Selain itu, bayangan di wilayah kutub juga lebih panjang dari di ekuator sehingga wilayah yang tersembunyi pun jauh lebih banyak pula.

Debu Bulan atau regolith juga jadi momok tersendiri, karena partikelnya tajam, mudah menempel secara elektrostatis, dan bisa merusak sambungan mekanis maupun pakaian antariksa. Ini pernah dikeluhkan oleh astronot Apollo 17 Gene Cernan yang menyebutnya sebagai salah satu penghambat terbesar operasi normal di Bulan.

Sejauh ini, baru India yang berhasil mendaratkan wahananya di kawasan dekat kutub selatan Bulan, lewat misi Chandrayaan-3 pada Agustus 2023. Mereka pun sudah menyiapkan langkah selanjutnya lewat Chandrayaan-4 dan Chandrayaan-5. Chandrayaan-4 dijadwalkan meluncur pada 2028 untuk mengambil sampel langsung dari permukaan Bulan. Dan Chandrayaan-5 merupakan misi kolaborasi dengan Jepang untuk menjelajahi kutub selatan Bulan lebih jauh.

AS, sementara itu, baru menetapkan Artemis IV, yang merupakan kelanjutan dari Artemis II yang terbang mengitari Bulan baru-baru ini, sebagai misi berawak pertama ke kutub selatan Bulan. Rencananya, wahana yang berisikan para astronot nanti bakal mendarat tak jauh dari South Pole-Aitken Basin tadi.

Untuk Tiongkok, linimasanya memang kini terkesan lebih lambat karena mereka baru menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada 2030. Akan tetapi, rencana masa depan mereka lebih ambisius dan terstruktur. Negara pimpinan Xi Jinping itu sudah berencana membangun permukiman permanen di Bulan pada 2040. Selain itu, pendekatan teknis mereka juga lebih canggih karena cukup mengandalkan peluncuran dua roket; satu untuk kapsul awak Mengzhou dan satu lagi untuk wahana pendarat Lanyue.

Apa yang direncanakan Tiongkok itu disebut membuat Washington, D. C. ketar-ketir, dan respons itu memang wajar. Sebab, rekam jejak misi Tiongkok sendiri terbilang mulus. Chang'e 4 sukses mendarat di sisi jauh Bulan pada 2019, disusul Chang'e 5 yang membawa pulang sampel Bulan pada 2020, sebelum Chang'e 6 mengulang capaian serupa dari sisi jauh Bulan pada 2024. Misi robotik berikutnya, Chang'e-7, bahkan sudah masuk jadwal peluncuran dalam waktu dekat untuk mensurvei langsung kondisi kutub selatan memakai empat wahana sekaligus, mulai dari pengorbit, pendarat, penjelajah, sampai wahana pelompat kecil.

Apa yang dilakukan Tiongkok sedikit banyak nantinya bisa pula bergantung pada Rusia. Meski program antariksanya kini remuk redam, Rusia masih punya teknologi nuklir yang bisa diandalkan. Ini berpotensi membuat mereka jadi mitra penting untuk menyuplai listrik pangkalan Tiongkok di Bulan.

Namun, di luar persoalan-persoalan teknis tadi, sebenarnya ada satu persoalan fundamental yang belum terjawab. Yakni, siapa sebenarnya yang berhak atas sumber daya yang ditemukan di Bulan? Perjanjian 1967 menegaskan bahwa ruang angkasa, termasuk Bulan, tidak bisa diklaim kedaulatannya oleh negara mana pun. Akan tetapi, perjanjian itu tidak secara eksplisit melarang aktivitas ekstraksi sumber daya Bulan.

AS sendiri menafsirkannya seperti ini: Memang tidak boleh ada negara yang mengklaim satu wilayah pun di Bulan. Akan tetapi, hasil dari ekstraksi secara otomatis jadi hak milik negara, atau pihak, yang mengekstraksinya. Tafsir ini kemudian dituangkan dalam Artemis Accords, perjanjian yang kini sudah diteken sekitar tujuh puluh negara sebagai kerangka kerja sama eksplorasi Bulan milik AS.

Tiongkok dan Rusia sama sekali tidak ikut serta dalam perjanjian itu. Sebagai gantinya, keduanya mendorong kerangka tandingan bernama International Lunar Research Station, yang sejauh ini sudah menggaet belasan negara lain, mulai dari Azerbaijan, Belarusia, Mesir, Nikaragua, Serbia, Pakistan, Afrika Selatan, Thailand, Venezuela, Kazakhstan, sampai Senegal. Perpecahan semacam ini membuat sejumlah pengamat khawatir. Sebab, itu berarti dunia akan punya dua rezim aturan berbeda yang sama-sama mengklaim keabsahan atas kawasan kutub selatan yang sama.

Terpecahnya dua kubu itu membuat satu hal terasa sangat jelas. Kutub selatan Bulan, berkat sejarah dan berbagai kandungannya, telah menjadi panggung baru bagi persaingan geopolitik abad ke-21. Pertaruhannya kini bukan soal siapa yang bisa menjejakkan kaki di Bulan, melainkan siapa yang berhasil mengambil sesuatu dari Bulan lalu mengubahnya jadi sesuatu yang bernilai.

Baca juga artikel terkait ANTARIKSA atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi