tirto.id - Eskalator seharusnya bekerja sesuai arah. Namun, eskalator arah naik bisa saja mendadak malah bergerak mundur. Salah satu penyebabnya adalah kapasitas yang berlebihan, selain sistem yang bermasalah.
Insiden eskalator bergerak mundur terjadi di Stasiun Duri, Jakarta Barat, pada Sabtu (3/10/2026) pukul 07.45 WIB. Eskalator menghubungkan akses pengguna menuju peron jalur 5.
Akibat gangguan fasilitas tersebut, 12 orang dilaporkan mengalami luka ringan, yang mencakup 10 orang dewasa dan dua anak-anak. KAI Commuter bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan mitra terkait langsung menghentikan operasional eskalator dan melakukan pengecekan. Eskalator yang bergerak mundur itu katanya disebabkan oleh gangguan sistem penggerak.
Secara teknis, kejadian ini tidak terjadi begitu saja. Terdapat alasan yang membuat eskalator bergerak mundur tanpa kendali atau runback. Penyebabnya mulai dari rantai penggerak yang putus, rem utama dan rem darurat yang tidak berfungsi dengan baik, hingga kapasitas yang melebihi muatan.
Guna menghindari insiden runback, otoritas terkait perlu meninjau aspek desain dan pemeliharaan eskalator. Selain runback, eskalator juga kerap mengalami overspeedpada mode turun, yaitu penurunan kecepatan tinggi yang tak terkendali.

Rantai Penggerak Utama Putus
Eskalator menjadi sarana transportasi antar-lantai atau tingkat di sejumlah ruang publik, baik stasiun maupun mall perbelanjaan. Tangga berjalan ini sangat efektif untuk menunjang mobilitas pengguna.
Secara teknis, eskalator bergerak menggunakan tumpuan tenaga listrik melalui sistem rantai dan roda gigi (sprocket). Sebagaimana dikutip dari Britannica, moda ini dilengkapi dengan dua rel pemandu, guna menjaga konsistensi jarak laju.
Laju pergerakan bisa mencapai 120 kaki (36 m) per menit dan dapat disesuaikan sesuai kebutuhan. Dalam skala yang lebih besar, eskalator bisa bergerak dengan kecepatan 145 kaki (44 meter) per menit, dan mampu mengangkut lebih dari 10.000 orang per jam.
Secara operasional, rangkaian rantai eskalator berfungsi menggerakkan sederet anak tangga. Ketika rantai bergerak, posisi anak tangga selalu tetap mendatar. Di bagian atas dan bawah eskalator, anak-anak tangga melipat dan menyatu, membentuk platform datar. Hal ini memudahkan pengguna untuk naik dan turun dari eskalator.

Melansir laman science.howstuffworks.com, anak tangga eskalator memiliki dua pasang roda yang bergerak di atas dua jalur rel yang terpisah. Rangkaian roda bagian atas terhubung dengan rantai yang berputar, sehingga ditarik oleh roda gigi penggerak di bagian atas eskalator. Rangkaian roda lain hanya meluncur di sepanjang jalur, mengikuti rangkaian roda pertama.
Jarak jalur diatur secara konstan sehingga setiap anak tangga akan selalu tetap mendatar dan rata. Anak tangga memiliki deretan alur, agar dapat saling mengunci dengan anak tangga di belakang dan depan saat proses perataan.
Apabila rantai penggerak utama sebagai pusat kendali putus, maka eskalator mengalami gangguan. Terparah, eskalator dapat meluncur mundur tak terkendali hingga overspeed. Kegagalan mekanis mengganggu operasional eskalator dan memicu pembalikan arah gerak.
Facilities Management Journal menjelaskan rantai penggerak utama merupakan bagian vital sistem transmisi daya eskalator. Jika rantai putus, eskalator akan kehilangan koneksi dengan rem maupun perangkat penggerak, dan pergerakan anak tangga menjadi tidak terkendali.
Selain menggerakkan rangkaian rantai utama, motor listrik eskalator juga menggerakkan pegangan tangan. Pegangan tangan ini adalah sabuk konveyor karet yang melingkari serangkaian roda. Sabuk diatur agar bergerak dengan kecepatan yang sama persis dengan anak tangga, guna memberikan stabilitas bagi pengguna.
Guna menghindari rantai penggerak putus, pengelola perlu melakukan pemeliharaan secara berkala, demi memastikan komponen eskalator dan sistem kelistrikan. Beberapa eskalator yang canggih telah dilengkapi dengan fitur keselamatan dan sistem pemantauan mutakhir. Fungsinya mendeteksi gangguan sejak dini dan memungkinkan respons cepat untuk mencegah kecelakaan.
Kegagalan Rem Utama & Rem Darurat
Eskalator meluncur mundur mungkin terjadi karena rem utama tidak berfungsi untuk mempertahankan posisi diam. Mengutip elevatorworld.com, kegagalan rem utama atau rem darurat disebabkan oleh rem magnetik aus atau celah yang tidak tepat.
Akibatnya, rem terlambat atau gagal berfungsi ketika perangkat pengaman memutus daya motor. Saat rem utama tak mampu menahan beban, eskalator yang tengah melaju maju justru meluncur mundur. Ketika rem utama dan rem darurat beroperasi normal, rem eskalator pada umumnya langsung menerapkan torsi pengereman penuh.
Kegagalan rem dapat terjadi jika prosedur pengaturan dan perawatan tidak berjalan optimal, sehingga pemelihara tidak mengenali rem yang aus dan tidak dapat disetel. Dengan demikian, kecepatan berlebih karena kegagalan rem bisa saja disebabkan oleh kelalaian perawatan, bukan hanya kegagalan peralatan yang tiba-tiba.
Guna menyiasati kejadian tersebut, sejumlah eskalator telah dilengkapi dengan rem tambahan anti balik. Mengutip laman ljelevator.com, rem anti balik berperan dalam deteksi dini kesalahan eskalator yang mulai berbalik arah secara tiba-tiba.
Saat tanda pertama eskalator bergerak mundur, rem anti balik secara aktif menyalakan sensor pintar dan mengirimkan sinyal ke unit kontrol agar rem segera berfungsi. Rem anti balik secara otomatis memperlambat eskalator secara perlahan.
Sistem mencapai tingkat deselerasi 0,6 m/s², yang lebih rendah dari standar 1,0 m/s² yang dipersyaratkan pedoman umum. Pengereman mencegah berhenti mendadak yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan atau cedera penumpang.
Respons cepat sistem memastikan bahwa setiap gerakan abnormal terdeteksi dan dikoreksi sebelum meningkat menjadi insiden serius, bahkan dalam situasi lalu lintas tinggi.
Kapasitas Berlebihan
Selain rantai penggerak dan rem, jumlah penumpang yang melebihi kapasitas desain juga bisa menjadi penyebab eskalator bergerak turun. Eskalator bergerak dengan beban berlebih memicu terjadi slip sistem pengereman.
Jika beban orang yang berada di atasnya melebihi kekuatan rem motor, rem bisa gagal menahan beban, sehingga anak tangga eskalator dapat meluncur turun dan menyebabkan kecelakaan atau cedera
Namun, pada eskalator modern, hal ini dapat teratasi dengan sensor pintar yang terpasang. Biasanya, eskalator modern memberi sinyal atau notifikasi khusus jika eskalator telah overload kapasitas.

Menurut konsultan teknik independen khusus lift dan eskalator, David Cooper dalam fmj.co.uk, perilaku penumpang merupakan faktor minor dalam insiden pergerakan tak terkendali. Saat eskalator mengalami percepatan tak terkendali, penumpang sering kali tetap menaiki eskalator yang sedang bergerak turun karena tidak menyadari adanya masalah tersebut.
Agar eskalator berfungsi optimal, pemeliharaan menjadi faktor kunci dalam menekan situasi eskalator yang bergerak tak terkendali. Terutama terkait kegagalan rem akibat pelumas yang mengenai permukaan pengereman, penyetelan yang buruk, atau kampas rem yang aus. Hal ini dapat terjadi jika rem sering digunakan untuk menghentikan eskalator setiap hari, sehingga menyebabkan keausan secara bertahap.
Guna memberikan perlindungan yang prima, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Ketengakerjaan Nomor 6 Tahun 2017 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Elevator dan Eskalator.
Menurut aturan tersebut, eskalator perlu memenuhi sejumlah syarat sesuai persyaratan K3. Persyaratan mencakup beberapa aspek, yaitu telah menerbitkan kerangka, ruang mesin, dan lekuk dasar (pit), peralatan penggerak, anak tangga & palet, serta bidang landas. Lalu pagar pelindung, ban pegangan, lintasan Luncur (void), peralatan pengaman, dan instalasi listrik.

Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id

































