Menuju konten utama

Digitalisasi dan AI Ubah Cara PT KAI Layani Pelanggan Lebih Baik

Meski begitu, Endang menyebut ukuran keberhasilan transformasi PT KAI bukan semata kecanggihan teknologi, tetapi peningkatan pelayanan.

Digitalisasi dan AI Ubah Cara PT KAI Layani Pelanggan Lebih Baik
Petugas menunjukkan aplikasi Access by KAI di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Kamis (14/8/2025). PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat selama periode Januari hingga Juli 2025, sebanyak 72,47 persen dari total transaksi penjualan KAI dilakukan melalui Access by KAI atau setara 14.940.840 pembelian tiket kereta api jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI. ANTARA FOTO/Fauzan/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Komisaris Independen PT Kereta Api Indonesia (Persero), Endang Tirtana mengungkapkan kemampuan manusia semakin penting di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin canggih. Menurutnya, teknologi tidak boleh menggeser manusia sebagai pusat pelayanan.

Hal itu disampaikan dalam orasi ilmiah pada Wisuda Program Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Periode 123 Tahun 2026.

“Cara membeli tiket berubah, cara memperoleh informasi berubah, cara berinteraksi dengan pelanggan berubah. Tetapi di tengah seluruh perubahan itu, ada satu hal yang tidak boleh berubah yaitu manusia. Sebab, secanggih apa pun teknologi dan sebaik apa pun sistem yang kita bangun, pada akhirnya manusialah yang menentukan kualitas pelayanan,” kata Endang dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (29/9/2026) dilansir dari Antara.

Endang menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi, kompetensi, empati dan kemanusiaan di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Dalam orasinya bertajuk “Menyiapkan Generasi Transformatif yang Kompeten, Adaptif dan Berdampak di Era Artificial Intelligence”, Endang mengangkat perjalanan transformasi PT KAI sebagai contoh perubahan organisasi di era digital.

Menurut dia, transformasi KAI tidak hanya ditandai oleh digitalisasi layanan, tetapi juga perubahan cara perusahaan melayani pelanggan.

Ia mencontohkan penggunaan aplikasi Access by KAI yang pada Semester I 2026 mencatat 17 juta transaksi penjualan tiket KA Jarak Jauh dan KA Lokal.

“Semua perubahan ini bagian dari transformasi KAI yang kita lihat bersama hari ini. Dari sekadar menjalankan kereta, KAI berkembang menjadi perusahaan yang semakin berorientasi pada pengalaman pelanggan dan membangun ekosistem transportasi terintegrasi yang menghubungkan kereta api, commuter line, LRT, MRT, kereta cepat, kerata logistik, kereta bandara, layanan digital, hingga berbagai moda dan layanan pendukung lainnya,” jelasnya.

Ia menyebut ukuran keberhasilan transformasi bukan semata kecanggihan teknologi. Pada Semester I 2026, Customer Satisfaction Index KAI mencapai 4,53 dari skala 5, dengan lebih dari 2,2 juta interaksi pelanggan melalui berbagai kanal pelayanan.

“Karena itu, bagi saya, pelayanan bukan sekadar prosedur. Pelayanan adalah bagaimana kita memanusiakan manusia,” ujarnya.

Menurut Endang, AI telah memasuki kehidupan dan dunia kerja. Ia mengutip data Goldman Sachs Research pada April 2026 yang memperkirakan AI telah mengurangi pertumbuhan payroll Amerika Serikat sekitar 16.000 pekerjaan per bulan selama satu tahun terakhir.

Sementara itu, World Economic Forum melalui Future of Jobs Report 2025 memperkirakan hingga 2030 akan muncul sekitar 170 juta pekerjaan baru dan sekitar 92 juta pekerjaan terdampak displacement.

Karena itu, menurut dia, tantangan generasi muda bukan sekadar menghadapi AI, melainkan memastikan kompetensi mereka tetap relevan.

“Dunia kerja berubah, dan karena itu kita harus berubah bersamanya,” tegasnya.

Ia menilai kemampuan manusia yang berkaitan dengan kreativitas, komunikasi, kerja sama, pengambilan keputusan, empati, serta kemampuan memahami konteks akan semakin penting ketika pekerjaan rutin semakin banyak dibantu teknologi.

Endang juga mengajak publik untuk tidak melihat AI semata sebagai ancaman. Teknologi, menurutnya, harus dikuasai dan dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan manusia tanpa kehilangan rasa, empati, iman dan kemanusiaan.

“Semakin pintar teknologi, manusia harus semakin bijaksana,” katanya.

Baca juga artikel terkait PT KAI

tirto.id - Sosial Budaya
Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto