Menuju konten utama

Rahasia Orang Jepang Tetap Sehat di Usia 100 Tahun

Hampir 100.000 orang Jepang berusia di atas 100 tahun. Ini rahasia penduduk Jepang tetap sehat dan beraktivitas di usia lanjut.

Rahasia Orang Jepang Tetap Sehat di Usia 100 Tahun
ilustrasi lansia. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pernahkan Anda membayangkan sebuah negara yang memiliki penduduk berusia di atas 100 tahun dengan jumlah hampir 100.000 orang? Bagi banyak orang hal ini mungkin terasa mustahil. Namun kenyatannya, Jepang menjadi negara yang memilikinya.

Jepang termasuk negara yang memiliki angka harapan hidup tertinggi di dunia. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Pemerintah Jepang per September 2025, tercatat 99.763 orang berusia 100 tahun ke atas (centenarian).

Dari total tersebut, 88% atau 87.784 yaitu perempuan dan 11.979 laki-laki. Penduduk tertua di Jepang yaitu perempuan bernama Shigeko Kagawa, asal Yamatokoriyama, pinggiran kota Nara.

Usia yang panjang ini bukan datang tanpa usaha. Penduduk Jepang menerapkan pola hidup sehat hingga mendapat dukungan layanan pemerintah. Bahkan, penduduk Jepang yang berusia lanjut juga masih berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum.

Guna memberikan dukungan bagi lansia yang berusia tepat 100 tahun, pemerintah Jepang memberikan surat ucapan selamat dan cangkir perak. Tak hanay itu, pemerintah juga menetapkan 15 September sebagai Hari Lansia Jepang.

Bagaimana Cara Tetap Sehat dan Kuat hingga Usia 100 Tahun?

Jepang menempati urutan kedua sebagai negara yang memiliki Angka Harapan Hidup Sehat (Healthy Life Expectancy/HALE) tertinggi setelah Singapura. Hal ini mengacu data World Health Organization (WHO) yang dirilis tahun 2021. Mengacu data tersebut, penduduk Jepang rata-rata menjalani hidup sehat sepenuhnya di angka 73,4 tahun, 13 tahun di atas Indonesia yang hanya berada di angka 60,7 tahun.

HALE menjadi indikator penting dalam menggambarkan kesehatan populasi dengan memadukan angka harapan hidup dan kualitas masa hidup yang dijalani. Peringkat ini juga mencerminkan beban penyakit dan cedera secara keseluruhan dalam suatu populasi. Peringkat HALE ini berperan penting dalam memandu kebijakan kesehatan masyarakat dan alokasi sumber daya.

Mesli begitu, kondisi prima penduduk Jepang tidak didapat dalam waktu singkat. Tim peneliti Okinawa Centenarian Study bernama Dr. Bradley Willcox, seorang dokter spesialis geriatri dari University of Hawaii mengkaji mengapa orang Jepang tetap sehat hingga usia 100 tahun.

Ilustrasi Lansia Jepang

Ilustrasi Lansia Jepang. foto/istockphoto

Studi ini dilakukan di Okinawa, sebuah kepulauan di Jepang. Wilayah ini temasuk salah satu Zona Biru di dunia karena penduduknya banyak yang berusia di atas 100 tahun. Wilayah ini memiliki biaya perawatan kesehatan terendah di seluruh Jepang

Penelitian tersebut menganalisis faktor genetik serta gaya hidup dan lingkungan yang berperan dalam proses penuaan yang sehat. Secara umum, penduduk Jepang memiliki kadar kolesterol yang rendah, tulang yang kuat, dan tubuh ramping nan bugar.

Melansir laman resmi World Economic Forum, penduduk Okinawa yang lanjut usia umumnya mengonsumsi bahan makanan berbasis nabati setiap hari mulai dari sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan. Sumber karbohidrat yang dipilih yaitu ubi jalar, yang memiliki beban glikemik rendah dan kaya akan senyawa nabati.

Orang Okinawa juga memiliki kebiasaan makan hingga merasa kenyang 80% atau yang disebut dengan hara hachi bu. Meski begitu, mereka tetap aktif bergerak yang membuat keseimbangan antara asupan dan pembakaran kalorinya selalu terjaga

Selain pola makan, penduduk Okinawa memiliki sikap positif dan tujuan hidup. Hal ini juga menjadi foktor kunci usia panjangnya. Dalam menjalani hidup, mereka pribadi yang ceria, tanpa beban, optimis menatap masa depan.

Hal itu tak lepas dari tujuan hidup yang mereka pegang. Bagi penduduk Jepang, tujuan hidup ini disebut dengan ikigai. Ikigai tak melulu dengan hal besar yang memberatkan. Bagi beberapa orang, merawat hewan peliharaan termasuk ikigai.

Ilustrasi Lansia Jepang

Ilustrasi lansia jepang. Flickr/MHicks

Panjangnya umur juga dikaitkan dengan kondisi mental yang sehat. Meraka melakukan aktivitas yang disuakai mulai dari bertani, berkebun, atau berkegiatan apapun. Sebab, aktif berkegiatan menjadi cara orang Jepang untuk mencapai kepuasan hidup, yang berdampak positif bagi fisik dan mentalnya.

Penduduk Okinawa juga memiliki rutinitas berkumpul dengan kelompok sosial tertentu. Mereka mengobrol, minum teh hijau atau alkohol, dan mungkin menyantap sedikit hidangan penutup. Kelompok ini kerap kali disebut dengan istilah moai.

Bagi orang Okinawa, menikmati aktivitas dengan santai menjadikuci penting dalam mengurangi stres. Mereka tidak pernah terburu-buru dengan waktu namun pekerjaannya tatp terselesaikan. Cara ini cenderung terbalik dengan orang-orang pada umumnya yang mencoba mengejar waktu untuk pekerjaan tertentu. Melalui cara yang santai ini, penduduk Okinawa memiliki kepribadian yang tangguh terhadap stres.

Terakhir, orang Jepang memiliki spiritualitas yang kuat. Sikap religius ini tercermin dalam praktik kesehariannya. Mereka menjaga hubungan ini lintas generasi, sehingga tercipta rasa kesinambungan.

Bagaimana Dukungan dari Pemerintah Jepang?

Secara demogerafi, Jepang menghadapi fenomena meningkatnya penuaan penduduk namun jumlah penduduk usia kerja semakin menyusut. Tantangan ini membuat Jepang menerapkan berbagai upaya untuk menjamin kesejahteraan lansia.

Salah satunya dengan mengesahkan Undang-Undang Asuransi Perawatan Jangka Panjang pada bulan Desember 1997 dan mulai diberlakukan pada bulan April 2000. Dalam regulasi tersebut, perawatan lansia diintegrasikan ke dalam sistem asuransi sosial.

Sistem asuransi perawatan jangka panjang menyediakan layanan perawatan bagi mereka yang berusia 65 tahun ke atas yang membutuhkannya. Namun sistem ini mensyaratkan adanya pemeriksaan awal untuk mendapatkan sertifikasi atas kebutuhan tersebut, sebagaimana dikutip dari The Asia Health and Wellbeing Initiative.

Regulasi tersebut diterapkan setelah Jepang berhasil mewujudkan cakupan layanan kesehatan dan pensiun yang menyeluruh bagi seluruh penduduk (universal coverage). Melalui Undang-Undang tersebut, lansia dapat memilih dan mengadakan kontrak layanan secara mandiri.

Penduduk berusia di atas 40 hingga 64 tahun dianggap sebagai "peserta asuransi sekunder". Sementara, penduduk berusia 65 tahun ke atas dikategorikan sebagai "peserta asuransi utama".

Ilustrasi Lansia Makan Sendiri

Ilustrasi Lansia Makan Sendiri. foto/istockphoto

Pada umumnya, pengguna layanan diwajibkan menanggung 10 persen dari biaya layanan perawatan jangka panjang yang mereka terima. Sementara, biaya lainnya akan ditanggung oleh pemerintah.

Adapun penyelenggara sistem asuransi yaitu pemerintah daerah yang bertugas menyusun rencana perawatan jangka panjang dalam siklus tiga tahunan, sekaligus menetapkan besaran premi untuk membiayai rencana tersebut. Dengan demikian, asuransi perawatan jangka panjang Jepang pada dasarnya merupakan sistem yang terdesentralisasi.

Sistem asuransi perawatan jangka panjang bertujuan mengintegrasikan layanan medis dan kesejahteraan. Cakupan asuransi juga diperluas mencakup layanan baru seperti panduan pengelolaan perawatan jangka panjang medis di rumah, layanan keperawatan kunjungan rumah, dan rehabilitasi rawat jalan.

Layanan baru lainnya yang masuk dalam cakupan asuransi meliputi hunian kelompok kecil bagi penderita demensia serta penyewaan peralatan perawatan jangka panjang yang dibiayai melalui bantuan publik.

Dengan diterapkannya sistem asuransi perawatan jangka panjang, akses terhadap layanan perawatan bagi lansia menjadi lebih luas dan merata. Sementara jumlah penerima layanan serta volume layanan yang tersedia meningkat secara signifikan.

Berbagai regulasi, fasilitas, dan program asuransi kesejahteraan lansia yang matang ini membuat penduduk yang berusia di atas 100 tahun lebih terjamin di masa tua. Dengan begitu, para lansia dapat menikmati sisa hidupnya dengan damai tanpa perlu memikirkan biaya hidup.

Ilustrasi Lansia Jepang

Ilustrasi lansia Jepang. FOTO/REUTERS

Baca juga artikel terkait JEPANG atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - GWS
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora