tirto.id - Yoga biasanya identik dilakukan dalam suasana sunyi dan penuh konsentrasi. Namun, di Kanada, Rage Yoga yang dipimpin Lindsay Istace menerapkan sebaliknya. Tidak ada wangi dupa. Tak ada pula keheningan ruangan atau alunan musik instrumental lembut.
Berbeda dengan yoga tradisional, Rage Yoga justru diadakan di ruang bawah tanah Dicken's Pub di Calgary, Alberta dengan iringan musik yang keras. Tak hanya itu, peserta kelas Rage Yoga juga dapat mengumpat dan meluapkan emosi secara bebas.
Meski terkesan nyeleneh, praktik Rage Yoga pada dasarnya tetap berakar pada filosofi yoga. Coraknya memang berbeda dari yoga tradisional. Tapi, Rage Yoga punya tujuan yang sama: menyelaraskan tubuh dan pikiran, juga mencapai kesadaran penuh.
Mengenal Rage Yoga dan Bedanya dengan Metode Konvensional
Secara etimologi, kata benda "Yoga" (योग) dalam bahasa Sanskerta berasal dari "yuj" (युज्), yang dapat diartikan sebagai "menempelkan, menggabungkan, atau mengendalikan". Dasgupta, mengutip Panini, menyebut yoga diturunkan dari yujir yoga (memasang kuk) atau yuj samādhau (pemusatan pikiran).
Melansir laman Britannica, yoga konvensional menekankan fokus fisik, teknik pernapasan, dan meditasi dengan tujuan menciptakan keselarasan antara tubuh, pikiran, dan napas. Praktik ini bertujuan menjaga pikiran tetap tenang, meningkatkan kelenturan tubuh, dan meredakan tekanan psikologis.

Rage Yoga mengusung tujuan dasar yang sama, tetapi lewat jalan yang bertolak belakang. Teknik pernapasan terfokus, peregangan, dan keseimbangan khas yoga tradisional digabungkan dengan pelepasan emosi secara bebas. Peserta diperbolehkan berteriak kencang, mengumpat, hingga menikmati minuman favorit seperti teh kombucha, atau air kelapa di sela-sela gerakan.
Tak hanya itu, kelas Rage Yoga diiringi dentuman musik punk dan metal, suasana yang mustahil ditemukan pada yoga konvensional.
Metode alternatif ini diciptakan oleh Lindsay Istace, seorang instruktur yoga asal Calgary, Kanada, pada 2015. Ide ini muncul ketika Istace berjuang mengatasi emosi negatif akibat patah hati. Saat mencoba berlatih yoga konvensional di rumah, kesedihan dan amarahnya justru membuncah. Alih-alih mendapatkan kedamaian batin, ia justru mengumpat di tengah-tengah pose.
"Tiba-tiba, latihan yoga saya di rumah secara alami mulai melibatkan banyak umpatan dan teriakan. Awalnya hal itu terasa agak konyol. Namun lama-kelamaan, saya menyadari bahwa menggabungkan latihan yoga dengan sesuatu yang terasa seperti pelepasan emosi, ternyata sangat bermanfaat," ujar Lindsay Istace kepada Business Insider.
Melalui Rage Yoga, Istace belajar mengakui amarah. Ia membiarkan diri untuk melepaskan beban emosional tanpa pura-pura.

Menyadari manfaat yang ia rasakan, Istace membagikan metodenya kepada komunitas sekitar. Gayung bersambut. Respons positif mendorongnya membuka kelas resmi di ruang bawah tanah Dicken's Pub, Calgary. Sejak saat itu, Rage Yoga berkembang pesat hingga melahirkan tur lokakarya, pelatihan instruktur bersertifikat, dan penerbitan buku.
"Rage Yoga: sebuah praktik yang memadukan teknik pernapasan, latihan posisi tubuh, dan ekspresi emosi yang jujur serta apa adanya, dengan tujuan meraih kesehatan prima dan mencapai kondisi yang luar biasa. Lebih dari sekadar latihan, Rage Yoga adalah sebuah sikap dan metode untuk menghubungkan Anda dengan sisi diri Anda yang paling tangguh dan garang," demikian keterangan di laman resmi Rage Yoga.
Pendekatan Istace yang mengekspresikan kekesalan secara terbuka ini mungkin terdengar kontradiktif bagi sebagian orang. Lantas, dari sudut pandang sains, apakah benar luapan amarah dapat mengantar seseorang menuju kedamaian batin?
Mengapa Amarah Bisa Menjadi Jalan Kedamaian?
Meluapkan amarah sering kali dicap sebagai tindakan negatif. Padahal jika disalurkan dengan tepat, emosi ini justru dapat menjadi pintu masuk menuju kedamaian batin.
Studi berjudul Swearing: A Biopsychosocial Perspective karya Vingerhoets, menjelaskan bahwa amarah berupa umpatan muncul akibat rasa kesal atau frustrasi. Ia mengibaratkan umpatan sebagai tindakan tutur primitif yang setara dengan geraman hewan.
Geraman hewan bertujuan menyampaikan kondisi emosi sekaligus menurunkan stres agar terhindar dari bentrokan. Dalam konteks ini, umpatan manusia memiliki fungsi serupa, yaitu meredakan stres lewat pelampiasan emosi sekaligus menyampaikan rasa kesal secara terbuka.
Emosi ini menggerakkan sirkuit kemarahan (rage circuit) di dalam otak. Ketika sirkuit ini terpicu oleh rasa sakit atau frustrasi, meluapkannya secara langsung akan memunculkan efek katarsis, sebuah proses melepaskan beban yang melegakan pikiran dan meredakan stres.
Dari sudut pandang neurosains, umpatan refleks saat marah diproses oleh bagian emosi di otak (sistem limbik dan ganglia basalis) serta belahan otak kanan. Namun, jika umpatan sengaja dipakai dalam percakapan biasa, belahan otak kiri pun ikut aktif. Hal ini menunjukkan bahwa umpatan katarsis adalah bentuk adaptasi alami manusia untuk menyampaikan bahwa sebuah keadaan sedang membebani pikiran.
Secara psikologis, melepaskan emosi yang terpendam memberikan dampak kelegaan yang nyata. Melansir Simply Psichology, dengan berani merasakan dan melepaskan emosi terpendam, seseorang dapat membebaskan diri dari beban mental yang berat.
Dalam kondisi normal, pelepasan emosi ini terjadi lewat reaksi alamiah yang disebut abreaksi, seperti menangis atau bercerita. Namun jika emosi terus dipendam, energi psikologis tersebut bisa terperangkap dan berubah menjadi keluhan fisik (somatis), seperti nyeri tubuh tanpa penyebab medis.
Meskipun demikian, amarah tetap perlu disalurkan secara bijak agar tidak berubah menjadi tindakan agresif. Beberapa cara mudah mengelola amarah antara lain melatih pernapasan dalam dari perut, melakukan relaksasi otot dari kepala hingga kaki, atau olahraga ringan seperti jalan cepat.
Menariknya, seluruh elemen pengelolaan amarah tersebut dirangkum dan dikemas dalam Rage Yoga.
Cara Melakukan Rage Yoga & Apa Saja Manfaatnya?
Dalam praktik Rage Yoga, pelepasan amarah dan latihan fisik diwadahi secara terstruktur sekaligus santai.
Mengutip laman GQ Magazine, pada awal sesi, peserta Rage Yoga diajak menarik napas sambil memanjangkan tubuh ke atas, meluruskan tulang punggung, dan mengangkat lengan di atas kepala. Berikutnya, saat mengembuskan napas, semua peserta menjatuhkan tubuh dan berteriak mengucapkan kata-kata kasar favorit mereka secara serempak.

Lindsay Istace, pendiri Rage Yoga, menyebut awal sesi ini dengan istilah "Screaming and Giving Up on Life" (Berteriak dan Pasrah pada Hidup). Ia juga menceritakan beberapa orang akan memaki saat melakukan gerakan seperti Pigeon Pose, yang bagi sebagian orang merupakan peregangan yang sangat intens.
"Bayangkan kelas yoga konvensional. Sekarang tambahkan musik latar yang keren, acungan jari tengah, teriakan, dan banyak gelak tawa. Bumbui juga dengan beberapa kata-kata makian. Kamu akan dibimbing melalui olah napas dan postur tubuh—sebagian tradisional dan sebagian lagi sudah disesuaikan dengan gaya rage," tulis keterangan di laman Rage Yoga.
"Kelas kami menekankan pentingnya menciptakan ruang di mana kamu bisa berpraktik dengan cara apa pun yang paling tepat bagimu saat itu, memberimu sarana untuk terhubung dengan dirimu yang paling tangguh," lanjutnya.
Bagi seseorang yang ingin mengikuti Rage Yoga, tapi takut keliru mengikuti geraknnya, tak perlu khawatir karena Rage Yoga diajarkan oleh instruktur bersertifikat.
Metode ini dilakukan sembari memutar musik hard rock dengan volume tinggi, menikmati minuman dingin (seperti teh kombucha atau bir), dan melontarkan umpatan kasar secara bebas.
Tak hanya itu, peserta kelas juga diperbolehkan mengangkat tangan membentuk simbol unicorn (jari telunjuk dan kelingking tegak) dalam suasana penuh kebahagiaan yang liar.
Rage Yoga mengajarkan seseorang cara membangun rutinitas latihan melalui perpaduan teknik pernapasan, gerakan tubuh, dan kesadaran penuh (mindfulness) untuk melepaskan emosi secara sehat.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id































