Menuju konten utama

Menakar Ketahanan Jasad Manusia di Laut, Berapa Lama Tetap Utuh?

Jasad manusia di laut tidak bisa bertahan utuh selamanya. Bagaimana proses dekomposisi, suhu air, hingga biota laut memengaruhi kondisi jasad manusia?

Menakar Ketahanan Jasad Manusia di Laut, Berapa Lama Tetap Utuh?
Ilustrasi Kapal tenggelam. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketahanan jasad manusia di laut dipengaruhi berbagai macam. Di antaranya termasuk suhu air, keberadaan oksigen, hingga mikroorganisme tubuh. Keberadaan jasad manusia di laut tidak bisa bertahan utuh selamanya. Berapa lama jasad manusia bisa tetap utuh di laut?

Arus air dan perubahan fisik akibat kejenuhan jaringan turut mengubah tampilan jenazah yang berada di dalam air. Perubahan jasad dari utuh hingga terurai mulai terjadi hampir seketika saat kulit menyerap air melalui osmosis.

Sedangkan proses dekomposisi berlangsung lebih lambat di dalam air, terutama karena suhu yang lebih dingin dan lingkungan anaerobik. Begitu jenazah diangkat dari air, proses pembusukan (putrefaksi) cenderung berlangsung lebih cepat.

Jasad Purnawirawan TNI

Ilustrasi jasad di laut. Foto/Dok. istimewa.

Tahapan & Perubahan Fisik Jasad di Laut

Perubahan fisik jasad di laut atau dekomposisi cenderung lebih lambat dibanding di darat. Sebab, selama jasad berada di darat, bakteri dan mikroba di dalam tubuh akan berkembang biak dengan cepat dan menguraikan jaringan lunak.

Di lain sisi, jasad di laut cenderung lebih cepat mengalami pelunakan. Saat tubuh masuk ke dalam air, maka cenderung memiliki daya apung negatif. Akibatnya, massa jenis tubuh sedikit lebih besar daripada air dan membuat jasad mengendap di dasar perairan.

Perendaman memicu penurunan suhu inti tubuh sehingga tubuh secara drastis lebih dingin. Fase ini disebut algor mortis, yaitu hilangnya panas secara cepat yang berdampak langsung pada laju awal aktivitas kimia dan bakteri di dalam tubuh.

Setelah jasad terendam, proses dekomposisi mulai berlangsung secara intensif. Proses ini didorong oleh bakteri anaerob, yang secara alami hidup di dalam saluran pencernaan. Mikroorganisme mulai mengurai jaringan lunak tubuh dari dalam menuju ke luar. Proses konsumsi menghasilkan produk sampingan metabolik, terutama gas-gas seperti metana, hidrogen sulfida, dan karbon dioksida.

Gas-gas menumpuk dan terperangkap di dalam rongga tubuh, khususnya di bagian perut dan dada. Seiring bertambahnya volume gas yang terperangkap, kepadatan keseluruhan tubuh menurun secara drastis.

Tubuh yang awalnya tenggelam pada akhirnya memiliki daya apung yang cukup untuk naik ke permukaan air. Waktu yang dibutuhkan tubuh untuk kembali mengapung sangat bervariasi, namun berkaitan erat dengan suhu air dan produksi gas.

Ilustrasi Mayat

Ilustrasi Mayat. foto/Istockphoto

Perubahan fisik eksternal mulai terjadi hampir seketika saat kulit menyerap air melalui osmosis. Tanda awal yang paling nyata adalah maserasi, lapisan keratin pada telapak tangan dan telapak kaki menjadi jenuh oleh air.

Akibatnya, kulit tampak putih, berkerut, dan menebal. Sebagai gambaran, kerutan seperti ini biasanya muncul pada ujung jari hanya dalam waktu 20 hingga 30 menit di dalam air hangat. Selama kurun waktu satu minggu, kulit menyerap air dan terkelupas dari jaringan, sementara ikan, kepiting, dan kutu laut mulai menggerogoti daging.

Melansir laman resmi scientificamerican.com, jaringan tubuh yang berada di suhu air 21 derajat Celsius akan berubah menjadi zat asam lemak menyerupai sabun selama sekitar tiga minggu. Fenomena ini dikenal dengan "grave wax" (lilin kubur), yang berperan menghambat pertumbuhan bakteri.

Grave wax terjadi karena air laut yang dingin mengubah lemak tubuh menjadi zat keras seperti lilin atau sabun, yang dapat mengawetkan jaringan lunak selama berminggu-minggu.

Meski demikian, kulit jenazah tetap akan melepuh dan berubah warna menjadi hitam kehijauan. Laman ini juga memaparkan temuan jenazah yang hanyut di perairan dingin lepas pantai Portugal. Setelah ditemukan pada minggu pertama, jasad tampak utuh. Namun, tanda-tanda awal putrefaksi mulai terlihat pada jenazah yang ditemukan setelah delapan hari.

Berikutnya, jenazah yang ditemukan setelah 20 hari telah mengalami pembusukan parah dan hanya dapat diidentifikasi melalui analisis DNA atau catatan gigi. Sementara itu, jasad yang ditemukan pascakecelakaan pesawat di lepas pantai Sisilia telah menjadi kerangka sebagian setelah 34 hari. Sedangkan jasad di lepas pantai Namibia menjadi kerangka sepenuhnya setelah tiga bulan.

Ilustrasi mayat

Ilustrasi mayat. FOTO/iStockphoto

Perbandingan Suhu Perairan

Sebuah tim penelitian Kanada bereksperimen untuk mengetahui perubahan jasad di dasar laut menggunakan babi. Eksperimen dilakukan dua kali di musim semi dan musim gugur di Belahan Bumi Utara dengan pemantauan sekitar 150 hari. Hasil eksperimen menemukan bahwa jasad yang berada di periaran yang kaya oksigen cenderung lebih cepat membusuk.

"Namun, kami menemukan bahwa di perairan dalam yang kaya oksigen, tubuh semacam itu diperkirakan akan habis menjadi kerangka dalam waktu kurang dari empat hari, meskipun tulang-tulangnya masih bisa ditemukan hingga enam bulan atau lebih," ujar kriminolog Gail Anderson dari Universitas Simon Fraser, dikutip dari sciencealert.com (31/3/2016).

Kecepatan pembusukan juga bergantung pada musim. Saat tim menyelesaikan eksperimen di musim semi, bangkai habis menjadi tulang hanya dalam empat hari. Namun, di musim gugur, proses hanya memakan waktu tiga hari.

Ilustrasi gelombang laut

Ilustrasi gelombang laut. foto/istockphoto

Penelitian berjudul Decomposition Changes in Bodies Recovered from Water karya James L Caruso (2016) menjelaskan bahwa suhu air yang lebih rendah umumnya memperlambat proses pembusukan. Suhu air dan arus akan memengaruhi laju penurunan suhu tubuh di lingkungan cair.

Selain itu, arus di laut memberikan efek mekanis pada jenazah di dalam air. Pada titik tertentu, arus yang kuat tidak hanya dapat memindahkan jenazah dalam jarak menengah atau bahkan jauh, tetapi juga dapat membawa benda-benda lain di dalam air yang kemudian membentur jenazah.

Merujuk laporansciencefocus.com(3/6/2023), aktivitas bakteri di perairan dingin cenderung melambat, sehingga tubuh tetap berada di dasar laut. Jenazah yang ditemukan di perairan bersuhu di bawah 7°C setelah beberapa minggu kondisinya masih hampir utuh. Setelah lima tahun, jenazah tersebut ditemukan dalam bentuk kerangka yang masih dapat dikenali.

Ilustrasi gelombang laut

Ilustrasi gelombang laut. foto/istockphoto

Namun, kondisi akan berbeda di perairan tropis. Jasad cenderung lebih mudah mengapung ke permukaan setelah tiga atau empat hari. Akibatnya, jasad terpapar burung laut dan hantaman ombak.

Di laut tropis, proses pembusukan jasad terjadi dalam kurun waktu satu atau dua minggu. Setelah itu, tulang-tulang perlahan terkubur oleh endapan lumpur laut atau terurai lebih lanjut selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, tergantung pada tingkat keasaman air.

Biota Laut & Perannya dalam Dekomposisi Tubuh Manusia

Pada saat jasad mulai tenggelam di laut, hewan seperti hiu, kepiting dan ikan kecil akan memangsa bagian tubuh lunak terlebih dahulu, yakni mata dan bibir. Selain itu, jasad yang cepat membusuk juga disebabkan oleh aktivitas amfipoda, makhluk kecil mirip udang yang terlihat mengerumuni jasad.

Dalam sebuah eksperimen yang menggunakan babi, amfipoda memakan organ dalam dan jaringan tubuh terlebih dahulu. Setelah amfipoda pergi, udang yang lebih besar memakan sisa-sisa tulang rawan. Sebagaimana dikutip sciencealert.com, babi hanya tinggal tulang belulang.

Ilustrasi ikan salmon

Ilustrasi ikan laut. FOTO/iStockphoto

Laporan worldatlas.com menyebutkan hewan pemakan bangkai, seperti amfipoda kecil, dapat masuk melalui mata, hidung, dan mulut, lalu memakan organ-organ lunak dari bagian dalam tubuh.

Proses pembusukan dapat melambat di perairan yang sangat dalam, minim oksigen, dan bersuhu mendekati titik beku. Bahkan, jika jenazah terhindar dari hewan pemakan bangkai, kondisi dapat tetap terjaga dengan relatif baik selama bertahun-tahun.

Hasil penelitian Gail Anderson, ahli entomologi forensik dari Universitas Simon Fraser di Kanada, menggunakan babi untuk mengetahui proses jasad terurai. Hasilnya, hewan pemakan bangkai berukuran besar seperti kepiting Dungeness dan udang membutuhkan lebih banyak oksigen dibandingkan makhluk yang lebih kecil seperti.

 ilustrasi kepiting

ilustrasi kepiting. wikimedia/Stevage

Sebagaimana dimuat di laman livescience.com, mulut hewan-hewan kecil tidak cukup kuat untuk merobek kulit babi. Jadi, selama bangkai masuk ke air saat kondisi oksigen masih memadai, hewan-hewan besar akan memakannya dan membuka akses bagi makhluk kecil untuk turut menyantapnya.

Sebaliknya, saat kadar oksigen rendah, hewan-hewan besar tidak datang untuk memakan, sehingga hewan-hewan kecil pun tidak bisa makan. Hal ini juga berlaku pada jasad manusia.

Penelitian James L Caruso (2016) juga menjelaskan bahwa predasi oleh hewan memiliki peran penting dalam dekomposisi tubuh manusia. Jasad yang mengapung di permukaan umumnya akan dimakan oleh lalat hijau dan kumbang bangkai, terutama pada jaringan tubuh yang terbuka.

Sementara, bagian tubuh yang terendam air akan dimakan serangga air dan dapat mengubah tampilan serta kondisi jenazah. Hewan berukuran besar, seperti penyu, ikan besar, dan krustasea besar, juga bisa menyebabkan kerusakan jasad.

Konservasi penyu lekang di Aceh

Seorang wisatawan bersiap untuk melepas tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea) hasil penangkaran Lembaga Konservasi Penyu Babah Dua Lampuuk di Aceh Besar, Aceh, Selasa (31/3/2026). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/tom.

Baca juga artikel terkait MANUSIA atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo