tirto.id - Saat memilih lipstik, banyak hal yang akan dipertimbangkan oleh seseorang. Misalnya komposisi yang digunakan, intensitas warna, tingkat ketahanan, hingga sensori rasa dan aroma.
Hal ini juga telah dipikirkan oleh pegiat industri lipstik di era 1950-an. Mereka memiliki pekerja khusus untuk posisi kendali mutu dan penguji lipstik yang disebut lipstick tester. Profesi tersebut memiliki keunikan yang terus di kenang hingga kini.
Dalam catatan sejarah, tahun 1950-an menjadi zaman keemasan bagi kosmetik lipstik. Lipstik tak hanya tentang bersolek. Lebih dari itu, lipstik diproduksi menjadi ikon yang melambangkan feminitas, modernitas, dan kepercayaan diri. Pada tahun tersebut, tren lipstik yang tengah berkembang pesan yaitu lipstik tahan lama atau kiss-proof yang diuji coba langsung pada kulit manusia.
Sejarah Munculnya Profesi Lipstick Tester
Sejumlah aktivitas masyarakat dan tren industri kecantikan mengalami perubahan yang signifikan setelah tragedi Perang Dunia II. Seorang ahli kimia bernama Nona Bishop yang pernah bekerja di di laboratorium dokter kulit, memutuskan untuk mengembangkan lipstik.
Pada tahun 1950, ia membentuk Hazel Bishop Inc. untuk memproduksi dan memasarkan penemuannya. Melansir laman New York Times, brand tersebut mempopulerkan jenis lipstik yang tidak membuat kering, tidak menyebabkan iritasi, dan tahan lama.
''Never again need you be embarrassed by smearing friends, children, relatives, husband, sweetheart,'' atau "Anda tidak perlu lagi malu karena mengotori teman, anak-anak, kerabat, suami, kekasih," menjadi tagline utamanya. Tagline ini menjadi antitesa dari produk lipstik lainnya yang cenderung meninggalkan noda.
Produk lipstik tahan ciuman pertama ini berhasil menguasai 25 persen pasar lipstik. Hazel Bishop Inc dapat berkembang pesat dan bersaing ketat dengan merk besar lain seperti Charles Revson dari Revlon. Mereka tengah memperebutkan pasar dalam perang lipstik.
Untuk mendominasi pasar, berbagai perusahaan ini menawarkan inovasi terbaru berupa lipstik anti luntur, anti ciuman, dan tahan lama. Salah satu pembuktiannya dengan menggandeng lipstick tester.
Dalam berjalannya waktu, pengujian lipstik tidak semata berkaitan dengan formula produk. Tapi ada trik pemasaran yang turut berkelindan. Jangan bayangkan pengujian ini akan berada di laboratorium yang canggih. Pengujian justru dilakukan di wajah dan kepala botak laki-laki.
Tugas Utama Lipstick Tester Tahun 1950-an
Profesi lipstick tester tahun 1950an pernah dipotret oleh fotografer Yale Joel untuk majalah LIFE. Foto tersebut menjadi arsip penting bagaimana melihat industri lipstik yang berevolusi hingga kini.
Dalam proses pengujian, perusahaan menggunakan pria berkepala botak sebagai medium untuk menguji produk. Mengutip laporan Medium.com yang terbit 2 Oktober 2025, seorang penguji pria akan duduk sementara peneliti perempuan mengoleskan lipstik dan menciumnya sepanjang hari. Wajah dan kulit kepalanya menjadi tempat pengujian. Bekas lipstik yang menempel di kulit memberikan data visual tentang daya tahan setiap formula yang dirancang.
Melalui pengujian unik tersebut, penguji akan menelaah dan mengevaluasi produk yang dihasilkan. Setidaknya ada beberapa komponen yang dapat diukur dari proses pengujian itu. Di antaranya ketahanan lipstik di bawah kontak berulang.
Melalui cara itu, lipstick tester dapat mengetahui ketahanan warna, termasuk luntur atau tidak jika bersentuhan dengan benda lain. Pengujian ini dilakukan secara berulang untuk memastikan beragam kondisi dan skenario bagi pengguna lipstik.
Selain proses pengujian, lipstick tester kala itu juga menjadi tontonan yang dapat menarik pasar. Eksperimen ini membuka jalan bagi obsesi industri terhadap daya tahan dan kinerja lipstik.
Mengapa Lipstick Tester Masih Dibutuhkan hingga Kini?
Di era modern, kebutuhan lipstik masyarakat tidak hanya soal daya rekat yang lama. Isu keamanan produk, bahan baku, konstruksi budaya, kepuasan konsumen, hingga standar etik juga turut mewarnai industri lipstik masa kini.
Sebab itu, lipstick ester tetap dibutuhkan dan bertransformasi menjadi posisi profesional yang berbasis sains, analisis sensori, dan pengujian klinis. Industri hari ini tetap membutuhkan lipstick tester sebagai tolok ukur utama validasi kenyamanan, efektivitas klaim, dan inklusivitas produk yang dipadukan secara ilmiah dengan instrumen laboratorium.
Di dunia industri kosmetik, dikenal Ilmu Sensori dan Klinis (Sensory & Clinical Science). Berdasarkan jurnal ilmiah yang berjudul Sensory Science in Cosmetics kaya Felicia Andrei disiplin ilmu ini menggabungkan pengujian persepsi panca indra manusia (sensory) dengan metodologi evaluasi medis/biologis (clinical).
Pendekatan ini menyelidiki bagaimana preferensi konsumen dan efektivitas produk dipengaruhi oleh persepsi sensorik, yang meliputi sentuhan, penglihatan, penciuman, dan bahkan pendengaran. Dalam hal ini, seorang Analis Sensorik akan menelaah kualitas sensorik seperti tekstur, aroma, dan daya tarik estetika suatu produk dirancang dengan cermat untuk meningkatkan kebahagiaan pengguna.
Disiplin ini juga melibatkan emosional dengan menggabungkan konsep dari psikologi, fisiologi, dan ilmu material. Di industri modern, disiplin ilmu sensorik menjadi jembatan antara formulasi laboratorium dan pengalaman nyata konsumen. Tak hanya itu, standardisasi dan inovasi industri menyebabkan evaluasi sensorik menjadi lebih sistematis, seiring dengan perkembangan teknologi industri.
Aplikasi praktis pengembangan produk dalam disiplin Ilmu Sensorik dapat dilihat dari berbagai aspek, misalnya penyesuaian formulasi. Para perumus kosmetik menggunakan berbagai teknik untuk mencapai tekstur, konsistensi, dan daya sebar yang diinginkan.
Dalam hal pencocokan warna, para perumus sering menggunakan teori warna dan riset warna kulit untuk mengembangkan produk yang cocok untuk berbagai pengguna. Berikutnya, perumus juga mengamati warna produk kosmetik dan kaitannya dengan emosi dan asosiasi.
Misalnya, lipstik merah menyala dapat dikaitkan dengan kepercayaan diri dan pemberdayaan, sementara warna merah muda lembut dapat menyampaikan feminitas dan kelembutan. Terakhir, daya tarik visual keseluruhan produk kosmetik berupa warna, kemasan, tekstur, dan hasil akhir juga menjadi tugas yang dipikirkan oleh para perumus.

Dalam jurnal berjudul Evaluation of Beeswax Influence on Physical Properties of Lipstick Using Instrumental and Sensory Methods yang ditulis oleh Giedre Kasparaviciene dan kawan kawan yang terbit di laman National Library of Medicine menjelaskan bahwa terdapat pergeseran nilai seseorang dalam memilih lipstik. Pergeseran ini penting diketahui oleh lipstick tester untuk menciptakan lipstik sesuai permintaan pasar.
Salah satunya tentang keamanan formula produk yang ramah lingkungan. Banyak konsumen mencari produk kosmetik berbasis alami untuk menghindari reaksi alergi dan efek samping lainnya.
Selain itu, konsumen juga memiliki tekstur dan daya sebar yang sesuai. Kesesuaian tersebut perlu dilakukan oleh lipstick tester menggunakan alat ukur profiling sensorik deskriptif yang menilai karakteristik kualitatif dan kuantitatif suatu produk.
Berikutnya, industri lipstik juga perlu mengukur kekerasan dan titik leleh guna memastikan stabilitas lipstik dalam semua periode penggunaan. Sebab, karakteristik ini dapat bervariasi sesuai dengan komposisi bahan. Komposisi campuran yang tepat hanya dapat diperoleh melalui desain eksperimen yang berpengalaman.
Dengan demikian, Lipstick Tester era 1950-an kini bertransformasi menjadi seperangkat analisis yang lebih canggih, sistematis, dan terukur.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































