Menuju konten utama

Menelusuri Apakah Fragrance Aman Dipakai untuk Kosmetik?

Fragrance kerap ditambahkan dalam kosmetik, tapi apakah aman bagi kulit? Simak penjelasannya di sini, termasuk risiko dan tips memilih kosmetik yang aman.

Menelusuri Apakah Fragrance Aman Dipakai untuk Kosmetik?
Ilustrasi Fragrance Kosmetik. foto/istockphoto

tirto.id - Penggunaan fragrance pada kosmetik, termasuk produk skincare, adalah hal yang sangat umum. Fragrance membuat produk menjadi lebih wangi, dan aroma inilah yang kadang disukai oleh pengguna karena membuat pengalaman memakai kosmetik jadi lebih menyenangkan.

Fragrance adalah campuran senyawa aromatik yang kerap ditambahkan ke produk kosmetik untuk memberikan aroma tertentu. Dalam label komposisi, kandungan ini biasanya ditulis sebagai “fragrance”, “parfum”, atau nama bahannya, misalnya essential oil atau ekstrak tanaman tertentu.

Dalam dunia kosmetik, fragrance sering ditambahkan ke berbagai jenis produk, mulai dari skincare, produk rias wajah, sabun, parfum, hingga berbagai produk perawatan rambut.

Fragrance atau pewangi digunakan untuk meningkatkan kenyamanan dan pengalaman penggunaan, misalnya membuat aroma produk terasa lebih segar atau menutupi bau kurang sedap dari bahan aktif yang digunakan di dalamnya.

Namun, karena diaplikasikan langsung ke kulit maupun rambut, penggunaan fragrance pada kosmetik sering menjadi perhatian, terutama bagi pemilik kulit sensitif. Lantas, apakah fragrance aman digunakan pada produk kosmetik?

Jenis-Jenis Fragrance atau Pewangi pada Kosmetik

Header Diajeng Rosemary

Ilustrasi Fragrance Kosmetik. foto/IStockphoto

Fragrance atau wewangian menjadi salah satu komponen penting dalam produk kosmetik, mulai dari skincare, sabun, hingga parfum seperti fragrance mist. Dikutip dari situs Cosmetics & Toiletries, pewangi terbagi menjadi dua jenis, yaitu pewangi yang berasal dari bahan alami serta pewangi sintetis.

Fragrance Alami

Fragrance atau wewangian alami merujuk pada komponen aroma yang diperoleh langsung dari sumber alam, tanpa modifikasi struktur kimiawi melalui proses sintesis.

Standar internasional seperti ISO 9235 mendefinisikan bahan baku aromatik alami sebagai bahan aroma yang diambil melalui proses fisik murni seperti distilasi, ekspresi/cold pressing, atau ekstraksi dari bahan alami seperti tumbuhan.

Bahan alami yang digunakan untuk fragrance biasanya berupa minyak esensial atau ekstrak yang diambil dari bunga, daun, kulit kayu, maupun bagian tumbuhan lainnya. Contoh ekstrak alami yang digunakan wewangian antara lain minyak lavender, mawar, patchouli, hingga sandalwood.

Karena kealamiannya, bahan‑bahan ini sering dianggap memiliki nuansa aroma yang lebih kompleks, “hidup”, dan menyegarkan. Namun, wewangian dari bahan alami memiliki keterbatasan.

Komposisi bahan alami bisa dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti iklim, musim, hingga kondisi tanah, sehingga aroma yang dihasilkan juga bisa berbeda pada tiap batch-nya (tidak stabil).

Fragrance Sintetik

Fragrance sintetik adalah wewangian yang dibuat di laboratorium menggunakan proses kimia, dan terdiri dari molekul‑molekul aroma yang tidak sepenuhnya berasal dari sumber alam.

Sebuah fragrance bisa dikategorikan sebagai sintetik jika setidaknya satu bahan komponennya bukanlah bahan alami, atau jika seluruh komponennya memang dirancang secara sintetis sepenuhnya.

Bahan‑bahan sintetik ini sendiri bisa dibagi menjadi beberapa jenis:

  • Nature Identical: Molekul yang secara struktural identik dengan bahan alami, tapi dibuat melalui reaksi kimiawi di laboratorium.
  • Semi Sintetik (Modifikasi Bahan Alami): Bahan fragrance berasal dari sumber alami, tapi telah mengalami perubahan struktur melalui proses kimia.
  • Sintetik Penuh: Wewangian ini memiliki molekul unik yang hanya muncul melalui sintesis kimia dan tidak ditemukan secara alami di alam, baik pada tanaman maupun hewan.
Keunggulan utama fragrance sintetik adalah konsistensi dan kestabilannya. Karena dibuat secara terstandar, aromanya selalu identik setiap kali diproduksi, menjadikannya ideal untuk produk kosmetik dalam skala besar.

Di sisi lain, seperti halnya fragrance alami, wewangian dari bahan sintetik juga memiliki tantangan tersendiri. Muncul persepsi pada konsumen bahwa bahan sintetis tidak aman digunakan, bahkan berdampak pada lingkungan.

Risiko Kesehatan dari Fragrance

Header Diajeng Sensasi Minyak Wangi

Ilustrasi Fragrance. foto/SItockphoto

Fragrance atau pewangi sering ditambahkan ke produk kosmetik untuk memberikan aroma yang menyenangkan. Namun, selain manfaat sensorialnya, fragrance juga dapat menimbulkan berbagai efek samping, terutama bagi mereka yang sensitif, alergi, atau memiliki kondisi kulit tertentu.

Berikut beberapa risiko kesehatan dari fragrance dikutip dari situs The Ohio State University:

1. Reaksi Alergi Jangka Pendek

Efek jangka pendek dari paparan fragrance adalah bisa memicu reaksi alergi yang dapat mengganggu aktivitas, misalnya mata berair/gatal, hidung tersumbat, iritasi tenggorokan, batuk, bahkan mengi.

Hal Ini terjadi karena banyak bahan wewangian merupakan senyawa yang mudah menguap dan dapat mengiritasi saluran napas serta membran mukosa saat dihirup.

2. Gangguan Pernapasan Lebih Serius

Bagi mereka yang punya penyakit paru seperti asma maupun COPD (penyakit paru obstruktif kronik/PPOK), paparan wewangian yang tajam dan intens dapat memperburuk gejala, menyebabkan sesak napas, atau lebih sering mengi.

Orang tanpa penyakit dasar pun kadang bisa merasakan iritasi atau rasa tidak nyaman di pernapasan jika aroma fragrance terlalu kuat.

3. Gangguan Fungsi Jantung

Beberapa orang bisa mengalami perubahan detak jantung atau tekanan darah setelah terpapar wewangian tertentu. Gangguan fungsi jantung ini dikaitkan dengan bahan kimia phthalate yang kadang dipakai dalam wewangian.

Jurnal bertajuk Plastics and Cardiovascular Health: Phthalates May Disrupt Heart Rate Variability and Cardiovascular Reactivity menyebutkan bahwa senyawa phthalate dapat memengaruhi kerja jantung, antara lain dengan mengubah irama dan respons detak jantung.

4. Sakit Kepala atau Migrain

Bau tajam sering dihubungkan dengan munculnya sakit kepala atau migrain pada orang yang sensitif. Senyawa dalam wewangian bersifat volatil (mudah menguap) dan dapat berinteraksi langsung dengan sistem saraf pusat.

Senyawa-senyawa ini dapat melewati penghalang darah-otak (blood-brain barrier) dan memengaruhi aktivitas otak, tekanan darah, serta denyut nadi, yang pada beberapa orang memicu rasa sakit kepala atau bahkan migrain.

5. Gangguan Sistem Endokrin

Wewangian, terutama dari bahan sintetik, berpotensi mengganggu sistem endokrin. Hal ini dibuktikan dalam beberapa studi ilmiah, salah satunya dalam jurnal berjudul Synthetic Endocrine Disruptors in Fragranced Products.

Studi menunjukkan bahwa komponen tertentu yang sering ditemukan dalam fragrance kosmetik (seperti phthalates) bersifat endocrine-disrupting chemicals (EDCs). Senyawa seperti ini dapat mengganggu sistem hormon tubuh yang berperan dalam regulasi hormon tubuh.

6. Gangguan Metabolik

Dampak ini masih berkaitan dengan gangguan sistem endokrin yang disebabkan oleh paparan fragrance jangka panjang. Senyawa EDCs bisa menyebabkan gangguan metabolik seperti naiknya kadar glukosa darah yang mirip dengan kondisi pada diabetes tipe 2.

Jurnal Endocrine-Disrupting Chemicals Exposure: Cardiometabolic Health Risk in Humans menyebutkan bahwa senyawa EDCs berpotensi menyebabkan peningkatan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

Paparan EDCs, terutama pada masa prenatal dan awal kehidupan, dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan metabolisme di masa dewasa. Sementara paparan pada usia dewasa berkontribusi langsung pada munculnya sindrom metabolik dan komplikasi jantung.

7. Risiko Kanker

Paparan tinggi, berkepanjangan, dan terus-menerus terhadap bahan fragrance disebut-sebut berpotensi meningkatkan risiko kanker. Ada banyak penelitian terkait hal ini, misalnya dalam jurnal The Impact of Perfumes and Cosmetic Products on Human Health.

Studi tersebut menyebutkan bahwa bahan kimia sintetis seperti phthalate, paraben, dan senyawa organik volatil (VOC) berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah kanker.

Sementara pada jurnal berjudul Fragrance Compounds: The Wolves in Sheep’s Clothings dipertegas bahwa senyawa fragrance bisa meningkatkan risiko kanker payudara dan prostat.

Batas Aman Penggunaan Fragrance pada Kosmetik

Parfum Kemenyan

Ilustrasi Fragrance Kosmetik. FOTO/iStockphoto

Regulasi internasional terkait fragrance dibuat untuk melindungi konsumen dari risiko kesehatan. Sistem regulasi ini mencakup larangan penggunaan bahan berisiko, pembatasan konsentrasi bahan tertentu, serta kewajiban pelabelan agar konsumen dapat membuat keputusan yang lebih aman.

Zat pewangi atau fragrance terdiri dari berbagai jenis dan semuanya memiliki batasan tertentu untuk digunakan dalam kosmetik. Salah satu pedoman yang dapat dijadikan acuan terkait hal ini adalah IFRA Standards.

IRFA Standards merupakan standar yang disusun oleh International Fragrance Association yang mengatur penggunaan bahan wewangian dalam produk konsumen, termasuk kosmetik dan skincare.

Dalam situs resminya, IFRA telah mencantumkan daftar standar lengkap terkait fragrance, mulai dari bahan yang dilarang hingga batasan penggunaan bahan wewangian tertentu menurut kategori produk.

Sebagai contoh, bahan fragrance seperti citral yang dikenal dengan aroma lemon/citrus memiliki batasan yang beragam tergantung kategori produk. Misalnya jika digunakan untuk produk kategori (digunakan pada wajah, termasuk makeup), maka batas maksimalnya 0,10 %.

Sementara untuk kategori 5A, 5B, 5C (produk leave-on untuk wajah dan badan, termasuk beragam jenis skincare), batas maksimalnya adalah 0,15 %.

Sekali lagi, citral bukan satu-satunya bahan fragrance yang digunakan dalam kosmetik dan masih banyak bahan lainnya. Untuk informasi lebih lengkap terkait jenis fragrance dan batasan amannya pada produk kosmetik, silakan kunjungi langsung website resmi IFRA.

Cara Memilih Kosmetik Aman: Fragrance atau Fragrance-Free?

Header Diajeng Pewangi Skincare

Ilustrasi Kosmetik dengan Fragrance. foto/istockphtoo

Memilih kosmetik yang aman dan sesuai dengan kondisi kulit adalah kunci dalam perawatan diri. Fragrance membuat produk lebih menyenangkan dari segi aroma, tapi juga berpotensi menyebabkan iritasi dan reaksi alergi, khususnya bagi kulit sensitif.

Meski demikian, produk kosmetik yang mengandung fragrance tidak selalu berbahaya. Jadi, mana yang harus dipilih, produk kosmetik yang mengandung fragrance atau tidak?

Memilih kosmetik bebas pewangi (fragrance-free) sangat disarankan bagi individu dengan kulit sensitif atau memiliki kondisi medis seperti eksim dan rosacea, mengingat pewangi dapat memicu alergi kulit.

Di sisi lain, penggunaan kosmetik berpewangi tetap dapat menjadi pilihan selama kulit dan tubuh pengguna tidak memiliki riwayat alergi, mudah iritasi (sensitif), maupun gangguan lainnya.

Secara keseluruhan, berikut beberapa tips terkait produk yang mengandung fragrance:

  • Baca label kemasan dengan cermat, pilih produk yang benar‑benar fragrance‑free, bukan hanya “unscented”.
  • Hindari istilah fragrance, pewangi, dan parfum jika memiliki kulit sensitif.
  • Gunakan istilah seperti hypoallergenic atau allergy‑tested sebagai panduan tambahan.
  • Lakukan patch test sebelum pemakaian penuh, terutama pada wajah atau area sensitif.
  • Pastikan produk berasal dari produsen tepercaya dan sudah mendapat izin BPOM.
Demikian penjelasan terkait penggunaan fragrance dalam kosmetik. Penting untuk diingat bahwa meskipun fragrance bisa menciptakan sensasi wangi yang menyenangkan, kandungan bahan pewangi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.

Sebaliknya, bahan dengan kandungan fragrance juga tidak otomatis berbahaya selama berada di ambang batas aman sesuai standar. Bagi konsumen, penting sekali untuk mengenali dan memperhatikan respons kulit terhadap kosmetik, bahkan dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dermatolog jika diperlukan atau ragu saat hendak menggunakan kosmetik.

Tertarik dengan info lain seputar kosmetik dan perawatan kulit? Temukan berbagai produk pilihan hingga tips kecantikan di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel tentang Kosmetik

Baca juga artikel terkait KOSMETIK atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - GWS
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani