Menuju konten utama

Benarkah Gula Membuat Anak Hiperaktif? Simak Faktanya

Apakah gula menyebabkan anak hiperaktif? Simak fakta ilmiah dari berbagai penelitian, penyebab mitos ini muncul, serta batas aman konsumsi gula pada anak.

Benarkah Gula Membuat Anak Hiperaktif? Simak Faktanya
Ilustrasi anak makan permen. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pernahkah melihat anak berlarian ke sana kemari setelah makan kue, permen, atau cokelat? Banyak orang yang langsung menyalahkan makanan manis sebagai penyebabnya. Gula membuat anak hiperaktif adalah anggapan yang sudah lama berkembang, tapi apakah hal ini benar?

Gagasan tentang makanan dapat memengaruhi perilaku anak berkembang di tahun 1973 ketika ahli alergi anak, Benjamin Feingold, memperkenalkan Feingold Diet. Pola makan ini menganjurkan pembatasan salisilat, pewarna makanan, dan perisa buatan untuk mengatasi hiperaktivitas anak.

Diet ini memang tidak secara khusus melarang konsumsi gula. Namun, karena pola makan ini menganjurkan pembatasan zat aditif pada makanan, tak heran jika masyarakat beranggapan bahwa gula menjadi salah satu yang harus dihindari.

Akibatnya, banyak orang tua yang membatasi konsumsi gula pada anaknya. Di satu sisi, membatasi makanan manis agar tidak kelebihan gula adalah hal yang positif, tapi anggapan tentang gula menyebabkan anak hiperaktif tetap harus ditelusuri kebenarannya agar tidak terjadi miskonsepsi.

Benarkah Gula Bikin Anak Hiperaktif?

Jajanan Anak

Ilustrasi jajanan anak. Getty Images/iStockphoto

Hubungan antara gula dan perilaku anak telah diteliti sejak puluhan tahun silam. Berbanding terbalik dengan anggapan yang beredar saat ini, gula ternyata tidak berkaitan dengan perilaku maupun hiperaktivitas anak.

Salah satu yang populer adalah jurnal The Effect of Sugar on Behavior or Cognition in Children yang terbit pada 1995. Studi ini menggunakan metode meta-analisis, yaitu menggabungkan hasil dari 16 penelitian sebelumnya yang melibatkan 23 uji klinis dengan desain double-blind.

Para peneliti membandingkan kondisi ketika anak mengonsumsi gula dengan saat mereka menerima placebo (berupa pemanis pengganti) untuk melihat apakah terdapat perubahan pada perilaku maupun kemampuan kognitif.

Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi gula tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku, tingkat aktivitas, maupun fungsi kognitif anak. Temuan ini juga berlaku pada anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) maupun yang dianggap sensitif terhadap gula oleh orang tuanya.

Hal yang sama juga ditunjukkan jurnal bertajuk Hyperactivity: Is Candy Causal? yang dipublikasikan pada 1996. Studi ini mengevaluasi berbagai penelitian mengenai hubungan antara permen, gula, cokelat, pewarna makanan, dan hiperaktivitas pada anak.

Para peneliti menelaah hasil dari sejumlah uji klinis, termasuk penelitian double-blind dengan kontrol placebo, untuk menilai apakah konsumsi gula atau permen benar-benar dapat memicu perilaku hiperaktif.

Hasilnya, peneliti menyimpulkan bahwa belum ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan bahwa gula menyebabkan hiperaktivitas. Oleh karena itu, studi ini menyarankan agar penanganan anak dengan masalah perilaku tidak berfokus pada pembatasan gula semata.

Pengaruh Persepsi Orang Tua

ilustrasi hiperaktif
ilustrasi hiperaktif. FOTo/iStockphoto

Sebagian orang mungkin tetap bersikukuh dan yakin bahwa anaknya benar-benar menjadi hiperaktif setelah mengonsumsi makanan manis. Menariknya, hal tersebut bisa saja hanya sebatas persepsi karena terlanjur percaya dengan anggapan “gula membuat anak hiperaktif”.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa persepsi orang tua memang dapat memengaruhi penilaian terhadap perilaku anak. Salah satunya jurnal bertajuk Effects of Sugar Ingestion Expectancies on Mother-Child Interactions.

Dalam penelitian ini, anak-anak yang dilibatkan sudah diberi minuman yang mengandung pemanis pengganti, bukan gula. Akan tetapi, sebagian ibu diberi informasi bahwa minuman tersebut mengandung gula.

Hasilnya, kelompok ibu yang mengira anaknya mengonsumsi gula cenderung menilai anak mereka lebih hiperaktif, padahal semua anak menerima minuman yang sama.

Penelitian ini menunjukkan bahwa keyakinan orang tua dapat memengaruhi cara mereka menilai anak. Karena ibu mengira anak mereka telah mengonsumsi gula, mereka jadi punya pandangan berbeda, dan perilaku yang sebenarnya normal dapat ditafsirkan sebagai tanda hiperaktif.

Dikutip dari CNN Health, ahli diet pediatrik di Texas Children’s Hospital, Kristi L. King, menjelaskan bahwa anak umumnya mengonsumsi makanan manis saat acara yang menyenangkan, seperti pesta ulang tahun, liburan, atau perayaan lainnya.

Suasana yang penuh kegembiraan tersebut dapat membuat anak tampak lebih bersemangat dan aktif. Namun, di mata orang tua, sikap aktif anak mungkin disalahartikan sebagai efek gula.

Anak yang Perlu Menghindari Gula

Ilustrasi Anak hiperaktif
Ilustrasi Anak hiperaktif. foto/istockphoto

Meskipun sebagian besar penelitian tidak menemukan bukti bahwa gula menyebabkan anak hiperaktif, para peneliti tidak sepenuhnya menutup kemungkinan adanya kaitan antara gula dengan perilaku anak.

Setiap anak memiliki respons tubuh yang berbeda dan mungkin ada sebagian kecil anak yang lebih sensitif terhadap konsumsi gula. Akibatnya, anak yang sensitif gula tersebut mungkin menjadi lebih bersemangat setelah mengonsumsi makanan manis.

Masih merujuk pada CNN Health, ahli gizi anak Jill Castle mengungkapkan bahwa sebagian anak dengan kondisi ADHD diduga lebih sensitif terhadap gula. Perilakunya juga bisa jadi lebih agresif, lebih aktif, atau lebih sulit diatur setelah mengnsumsi gula.

Namun, makanan tinggi gula juga sering mengandung pewarna, perisa, dan bahan tambahan lain yang berpotensi memengaruhi perilaku. Jadi, ilmuwan masih sulit memastikan apakah gula benar-benar menjadi penyebabnya sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.

Batas Konsumsi Gula pada Anak

Ilustrasi Sindrom Biskuit Susu

Ilustrasi Anak Makan Biskuit. foto/IStockphoto

Dari berbagai penelitian yang sudah dilakukan, terbukti bahwa gula tidak berkaitan dengan perilaku atau tidak menyebabkan anak hiperaktif. Meski demikian, orang tua tetap perlu waspada dengan konsumsi gula sehari-hari.

Banyak makanan di sekeliling kita yang mengandung gula, contohnya buah-buahan. Bagi anak-anak, gula alami seperti ini tidak masalah jika dimakan. Gula yang justru patut dihindari adalah gula tambahan yang sering ada dalam kue, permen, dan berbagai camilan.

Menurut American Heart Association (AHA), asupan gula tambahan pada anak dan remaja sebaiknya dibatasi hingga 25 gram per hari atau sekitar 6 sendok teh. Minuman manis, seperti soda atau minuman berpemanis lainnya, juga sebaiknya dikonsumsi tidak lebih dari satu porsi 240 ml setiap minggu.

Sementara untuk bayi dan balita di bawah usia 2 tahun, AHA menganjurkan agar tidak diberikan makanan atau minuman yang mengandung gula tambahan.

Dilansir dari situs Cleveland Clinic, mengonsumsi terlalu banyak gula tambahan sejak usia dini juga dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas, tekanan darah tinggi, hingga diabetes tipe 2.

Jika kondisi tersebut terjadi sejak masa kanak-kanak, risikonya dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan peluang terkena penyakit jantung di kemudian hari.

Demikian penjelasan terkait mitos bahwa gula bisa membuat anak jadi hiperaktif. Sekali lagi, meski anggapan tersebut tidak terbukti secara ilmiah, orang tua tetap harus bijak dalam menyediakan makanan bagi buah hatinya.

Batasi konsumsi gula tambahan, perbanyak makanan bergizi seimbang, serta biasakan pola makan sehat sejak dini. Dengan begitu, anak tidak hanya terhindar dari risiko konsumsi gula berlebihan, tapi juga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai usianya.

Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Kesehatan

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - GWS
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani