Menuju konten utama

Trump Tunda Serangan ke Iran, Klaim Ada Kesepakatan Damai

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan Teheran akan memberikan respons tegas apabila Washington maupun Israel kembali menyerang wilayah Iran.

Trump Tunda Serangan ke Iran, Klaim Ada Kesepakatan Damai
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kepada bangsa dari East Room Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Juli 2026. (Foto oleh SAUL LOEB / POOL / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaku akan menunda rencana serangan baru terhadap Iran setelah mengklaim sejumlah negara di Timur Tengah telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan.

Trump menyebut kesepakatan tersebut akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh serta penghentian ancaman nuklir Iran. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di media sosialnya, Sabtu (1/8/2026).

"Atas permintaan ini, saya telah menyetujui, demi kepentingan masa depan dunia dan juga kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut, dengan syarat kita dapat segera mencapai kesepakatan," tulis Trump, seperti dilaporkan Associated Press (APNews).

Trump mengatakan Israel juga bersedia untuk bergabung dengan Amerika Serikat dalam upaya mencapai kesepakatan dengan Teheran. Namun, hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tersebut.

Pengumuman Trump muncul sehari setelah ia menyatakan Amerika Serikat hampir kembali melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran untuk memaksa negara itu kembali ke meja perundingan.

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Trump menyebut operasi tersebut bertujuan menghancurkan kemampuan rudal Iran, mencegah pengembangan senjata nuklir, serta menghentikan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata sekutunya.

Namun, arah konflik tersebut berubah beberapa kali. Upaya gencatan senjata sebelumnya pada pertengahan Juni juga tidak bertahan lama dan kembali diikuti ketegangan baru.

Arab Saudi Khawatir Konflik Meluas

Sebelum Trump mengumumkan penundaan serangan, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dilaporkan telah berbicara melalui telepon dengan Trump mengenai kemungkinan eskalasi konflik sebagaimana dikutip APNews. Sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kepada AP bahwa Riyadh khawatir Iran akan membalas dengan menyerang fasilitas energi Arab Saudi dan negara-negara Teluk lain jika Amerika Serikat melancarkan serangan baru.

Dalam percakapan itu, Mohammed bin Salman meminta penjelasan Trump mengenai langkah yang tengah dipertimbangkan Washington terhadap Iran. Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin berbicara pada Sabtu, tetapi tidak memberikan rincian mengenai isi pembicaraan tersebut.

Kekhawatiran negara-negara Teluk berkaitan erat dengan posisi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pintu utama distribusi energi dunia. Sejak konflik meningkat, sebagian besar aktivitas pelayaran melalui selat tersebut terganggu akibat ancaman keamanan.

Iran Ancam Respons bila Diserang, AS Keluarkan Peringatan Keamanan

Di sisi lain, Iran memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan tindakan provokatif. Dilansir dari Reuters, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan Teheran akan memberikan respons tegas apabila Washington maupun Israel kembali menyerang wilayah Iran.

Dalam percakapan dengan pejabat Turki, Pakistan, dan Arab Saudi, Araqchi menyebut Iran akan merespons setiap bentuk agresi. Ia juga memperingatkan keterlibatan negara-negara kawasan dalam serangan terhadap Iran akan membawa konsekuensi.

Peringatan serupa muncul dari Nournews, media yang berafiliasi dengan badan keamanan tertinggi Iran. Media tersebut menyebut serangan terhadap infrastruktur energi Iran dapat memicu serangan balasan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, serta fasilitas gas di Qatar dan Israel.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga negaranya di sejumlah negara Timur Tengah.

Peringatan tersebut mencakup Bahrain, Israel, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Warga AS diminta bersiap menghadapi kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, hingga gangguan perjalanan lainnya.

Trump sebelumnya menyatakan masih membuka peluang diplomasi. Dalam rapat kabinet di Camp David pada Jumat, ia mengatakan negosiator AS, termasuk utusan khusus Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan menantunya Jared Kushner, masih dapat mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun, Trump juga mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap Teheran karena menilai Iran kerap mengingkari komitmen.

Selain isu nuklir Iran, Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika konflik. Jalur sempit di antara Teluk Persia dan Teluk Oman itu menjadi rute penting bagi perdagangan minyak global.

Sejak perang pecah pada akhir Februari, harga minyak dunia terus meningkat. Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global tercatat naik 24 persen sepanjang Juli, sementara analis memperkirakan tekanan harga masih dapat berlanjut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz berpotensi berdampak besar terhadap pasokan energi global dan meningkatkan tekanan ekonomi di berbagai negara.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Andrian Pratama Taher