tirto.id - Hari ini, Kamis (30/7/2026) waktu Indonesia, Perang Iran-Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan eskalasi konflik. AS baru saja mengumumkan gelombang serangan terbaru ke Iran, sementara Teheran telah menjadikan Kuwait sebagai target serangan mereka.
Dinukil dari AP, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka baru saja menyelesaikan “gelombang serangan besar-besaran terhadap Iran” pada Kamis waktu Indonesia. Serangan ini disebut telah menargetkan lusinan fasilitas militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
“Termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, situs pengawasan dan pertahanan pesisir, dan kekuatan maritim,” tulis CENTCOM dalam keterangannya.
CENTCOM menjelaskan serangan terbaru mereka itu sebagai serangan balasan. Mereka menyebut serangan ke lusinan fasilitas militer IRGC itu merupakan balasan karena Iran telah menyerang fasilitas militer AS di Yordania.
Media pemerintah Iran kemudian melaporkan adanya dua orang yang terluka dalam serangan di Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz. Selain itu, terdapat pula laporan ledakan yang terjadi di Provinsi Khuzestan, bagian barat laut Iran.
Serangan Dialami Pula oleh Kuwait dan Mesir
Beberapa jam setelah pengumuman CENTCOM itu, Teheran dilaporkan telah melancarkan serangan ke sebuah gedung milik perusahaan asal Cina di Kuwait. Serangan itu digambarkan telah membuat struktur bangunan rusak parah dan menewaskan seorang pekerja di sana. Serangan Iran ini telah dikonfirmasi militer Kuwait.
Berlanjutnya serangan AS dan Iran pada hari ini telah meningkatkan kekhawatiran dunia atas risiko kembalinya perang berskala penuh. Selain itu, eskalasi yang terjadi belakangan ini diperkirakan telah memperumit upaya penghentian perang yang selama ini diupayakan secara diplomatik.
Terlebih, serangan pada Kamis waktu Indonesia terjadi setelah AS dan Arab Saudi menggempur fasilitas militer di Irak pada Rabu (29/7). Serangan gabungan AS-Saudi itu sebelumnya dilaporkan telah menargetkan fasilitas milik kelompok bersenjata Syiah yang didukung Iran di Irak.
Presiden Irak Nizar Amedi sebelumnya telah mengutuk serangan AS-Saudi tersebut. Namun, Trump kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa serangan bersama Saudi dilakukan lewat koordinasi bersama Pemerintah Irak.
Sementara itu, pada Kamis, sebuah serangan drone lain telah dilaporkan di Mesir. Menurut perusahaan jasa keamanan maritim Inggris, Ambrey, serangan itu telah merusak dua kapal pengangkut gas alam di Pelabuhan Damietta.
Belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal yang masing-masing berbendera AS dan Yunani tersebut. Selain itu, tak ada laporkan korban luka dalam serangan tersebut.
Namun, Mesir sejauh ini menjadi negara mitra AS yang tak terjamah serangan selama Perang AS-Iran. Serangan terhadap pelabuhan Mesir pada Kamis dikhawatirkan akan berdampak pada eskalasi konflik yang meluas.
Upaya perundingan untuk menghentikan perang juga tak kunjung menunjukkan sinyal positif. Ketidaksepahaman AS dan Iran terkait otoritas pelayaran Selat Hormuz disebut masih menjadi kendala utama.
Melansir CNN, IRGC kembali menekankan bahwa Selat Hormuz kini ditutup dan tidak akan dibuka “selama retorika dan ancaman” AS dan sekutunya terus berlangsung. Dalam keterangan mereka pada Kamis, IRGC menyebut akan menyerang kapal yang berlayar di Selat Hormuz tanpa izin resmi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































