tirto.id - Pemerintah Iran baru saja merilis informasi dampak serangan Amerika Serikat (AS) pada Selasa (28/7/2026). Menurut informasi tersebut, Bandara Bushehr di barat daya negara itu lumpuh dan sebanyak 12 jembatan rusak akibat serangan udara.
Seturut Anadolu, laporan dampak kerusakan tersebut disiarkan kantor berita resmi Iran, IRNA. Laporan itu menyitir pernyataan juru bicara Pemerintah Iran, Fatameh Mohajerani, bahwa Bandara Bushehr telah lumpuh akibat serangan.
Serangan AS disebut Mohajerani membuat bandara kota itu “praktis tidak beroperasi”. Ia menyebut pesawat komersial Iran menjadi target serangan rudal secara langsung.
“Kami melihat sisa-sisa pesawat yang telah diperbarui yang telah dibeli untuk melayani masyarakat, tetapi pesawat itu hancur oleh rudal yang menghantamnya secara langsung, hanya menyisakan sebagian kecil ekornya yang utuh,” tutur Mohajerani.
Mohajerani tak merinci apa saja kerusakan yang dialami Bandara Bushehr sehingga tak bisa beroperasi. Ia juga tak menjelaskan kapan serangan tersebut terjadi, seiring AS dan Iran mengendurkan intensitas serangan pada akhir pekan lalu.
Akan tetapi, Mohajerani menyebut kerusakan juga telah terjadi di tiga bandara milik Iran yang lain. Ketiga bandara itu berada di Iranshahr, Provinsi Sistan dan Baluchestan; Kota Semnan; dan Bandar Abbas.
Melansir Time of Israel, Mohajerani juga mengatakan serangan AS telah merusak berbagai fasilitas Iran lain selain bandara. Beberapa di antaranya termasuk 12 jembatan, 2 terowongan hingga menara kontrol maritim.
Selain itu, infrastuktur sipil berupa pusat meteorologi, stasiun kereta api utama di Bandar Abbas, dan kapal nelayan juga disebut turut hancur karena serangan. Hal ini disebut Mohajerani telah “memengaruhi segala hal mulai dari kapal nelayan hingga bisnis pariwisata”.
Juru bicara itu juga menjelaskan sebanyak 350 pegawai pemerintah telah terbunuh. Hal ini menambah daftar korban tewas di pihak Iran yang sejak 28 Februari telah melampaui angka 3.000 jiwa.
Kendati telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada April dan melakukan upaya negosiasi penghentian perang pada bulan-bulan berikutnya, Washington dan Teheran kembali berbalas serangan militer pada pertengahan Juli. Pertempuran terjadi dalam kurun waktu sekitar dua pekan, sebelum kedua belah pihak mengendurkan eskalasi pada akhir pekan lalu.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































