tirto.id - Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi dilaporkan telah menyerang Irak pada Selasa (28/7/2026). Kedua negara menyatakan telah menargetkan fasilitas kelompok milisi syiah di negara tersebut. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi perang yang berpotensi meluas.
Menukil BBC, Komando Pusat AS (CENTCOM) baru saja mengeluarkan pernyataan tentang serangan ke Irak. Menurut mereka, serangan pada Selasa dilakukan untuk menggempur “teroris yang bersekutu dengan Iran”, kelompok tersebut diklaim CENTCOM telah bertindak “menyerang pasukan AS dan infrastruktur energi Saudi”.
CENTCOM juga mengatakan target serangan mereka adalah “beberapa lokasi logistik dan senjata” yang tersebar di “seluruh Irak timur”. Serangan ini disebut sebagai balasan atas serbuan 30 serangan drone udara yang diarahkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam 72 jam terakhir.
“IRGC dan proksi terorisnya harus menghentikan serangan ini untuk menghindari tanggapan militer AS lebih lanjut,” jelas CENTCOM dalam keterangannya.
Pada saat yang sama, kelompok paramiliter Irak, Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), mengeluarkan pernyataan bahwa sedikitnya 20 anggotanya telah terbunuh. Mereka menyatakan jatuhnya korban tewas itu diakibatkan oleh serangan gabungan AS-Saudi.
Seturut Al Jazeera, PMF mengecam serangan AS-Saudi tersebut. Dalam keterangannya, mereka mengatakan aksi AS-Saudi sebagai “serangan teroris keji”. Mereka juga memperingatkan tindakan kedua negara tersebut adalah “eskalasi yang sangat berbahaya”.
PMF sendiri merupakan kelompok payung bagi milisi Irak yang terafiliasi dengan dan setia kepada Iran. Pasukan paramiliter ini telah diintegrasikan ke dalam kekuatan militer Irak.
Di sisi lain, Iran turut mengutuk serangan gabungan AS dan Saudi di Irak. Teheran menyebut serangan itu sebagai “agresi nyata terhadap kedaulatan nasional dan integritas teritorial Irak”.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut bahwa serangan AS-Saudi merupakan “pelanggaran berat”. Serangan itu juga disebut sebagai upaya “Amerika Serikat dan rezim Zionis untuk memperluas cakupan perang”.
“Kementerian Luar Negeri menekankan dukungan penuh dan solidaritas Republik Islam Iran kepada pemerintah dan rakyat Irak, dan menganggap rezim AS yang gemar berperang dan kaki tangannya di kawasan itu bertanggung jawab atas konsekuensi berbahaya dari tindakan kriminal, tidak manusiawi, dan provokatif ini," tulis pihak kementerian.
Presiden Irak Kutuk Serangan AS-Arab Saudi
Presiden Irak Nizar Amedi ikut mengutuk serangan AS-Saudi yang menargetkan fasilitas PMF di negaranya. Dalam sebuah pernyataan, Amedi mengatakan serangan tersebut sebagai “pelanggaran terhadap kedaulatan Irak” dan “bertentangan dengan hukum internasional”.
Amedi menyebut Irak tidak boleh digunakan sebagai medan pertempuran bagi negara-negara tetangga atau untuk menyelesaikan perselisihan regional dan internasional. Ia kemudian mendesak semua pihak untuk menghormati kedaulatan Iran dan menahan diri untuk merusak keamanan dan stabilitasnya.
Hal serupa juga diungkap mantan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani. Menurutnya, serangan AS-Saudi tidak dapat ditoleransi karena melanggar kedaulatan Irak.
“Kami mengutuk, dengan sekeras-kerasnya, serangan Saudi-Amerika yang menargetkan posisi Pasukan Mobilisasi Rakyat di Irak,” kata al-Sudani dalam sebuah pernyataan di Facebook.
Menurutnya, alasan AS-Saudi menyerang Irak tak dapat dibenarkan. Al-Sudani mengatakan Irak baru saja membentuk komite khusus untuk menyelidiki tuduhan bahwa drone telah diluncurkan dari Irak ke fasilitas energi Saudi. Hal ini, katanya, telah menunjukkan bahwa Irak berkomitmen untuk mengatasi masalah melalui kerangka hukum, bukan militer.
Akan tetapi, Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang tampak tak sejalan dengan pernyataan Presiden Irak Nizar Amedi. Trump menyebut serangan AS bersama Saudi ke Irak telah dilakukan dalam koordinasi dengan pemerintah setempat.
Pernyataan Trump itu dilaporkan oleh koresponden Fox News, Trey Yingst, pada Rabu (29/7). Dalam laporannya, Yingst menyebut bahwa Trump kini tengah mempertimbangkan untuk melakukan tindakan tambahan untuk menargetkan kelompok proksi Iran.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































