tirto.id - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Kamis (31/7/2026), seiring mulai pulihnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.
Meski begitu, pelaku pasar masih mencermati eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Iran, hingga kawasan Laut Hitam.
Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 1 persen dan ditutup di bawah level 84 dolar AS per barel. Sementara, harga minyak mentah Brent berakhir di kisaran 89 dolar AS per barel.
Pelemahan harga terjadi di tengah perdagangan yang relatif sepi pada musim panas dan menurunnya open interest kontrak berjangka Brent yang akan jatuh tempo pada Jumat (31/7/2026). Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan harga minyak di pasar.
Pelaku pasar saat ini masih menahan diri untuk mengambil posisi besar. Mereka menimbang perkembangan terbaru konflik antara AS dan Iran dengan mulai meningkatnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Data dari perusahaan intelijen pasar Kpler menunjukkan, sebanyak 14 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz dari kedua arah pada Rabu. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pekan lalu yang hanya tercatat satu digit kapal per hari.
Di sisi lain, tingginya cadangan minyak mentah Cina juga menjadi salah satu faktor yang membantu menenangkan pasar. Persediaan yang masih melimpah membuat pembeli di negara tersebut belum perlu meningkatkan impor minyak secara signifikan dalam jangka pendek.
Pasar energi memang kembali dibayangi volatilitas dalam beberapa pekan terakhir. Setelah sempat terjadi jeda ketegangan antara Teheran dan Washington, konflik kembali memanas dengan sejumlah serangan militer di berbagai kawasan.
Ketegangan AS-Iran
Pada Kamis dini hari, AS melancarkan serangan terhadap puluhan target militer Iran. Komando Pusat AS melalui unggahan di platform X menyebut operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam pasukan AS, negara-negara sekutu di Timur Tengah, serta jalur pelayaran komersial di kawasan.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam konflik tersebut. Iran menegaskan akan mempertahankan kendalinya di wilayah itu dan menyerang kapal tanker yang dianggap melanggar otoritasnya.
Untuk mengurangi risiko gangguan pengiriman minyak, Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui pipa East-West yang terhubung ke Laut Merah. Namun, jalur alternatif tersebut juga menghadapi ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Ketegangan regional turut meluas setelah pasukan Arab Saudi bergabung dengan AS dalam serangan terhadap sejumlah target di Irak yang dikaitkan dengan milisi pro-Teheran.
Selain Timur Tengah, pasar minyak juga mencermati perkembangan di Laut Hitam. Dua serangan dilaporkan menargetkan kapal-kapal yang tengah memuat minyak di terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di Rusia. Terminal tersebut merupakan salah satu jalur utama ekspor minyak mentah Kazakhstan ke pasar internasional.
Serangan serupa yang terjadi pekan lalu sempat menghentikan aktivitas pengiriman selama beberapa hari dan menjadi salah satu pemicu lonjakan harga minyak hingga menembus level 100 dolar AS per barel.
Analis TD Cowen menilai meskipun sejumlah pelaku pasar melakukan aksi jual terhadap kontrak WTI, kondisi fundamental pasokan minyak global masih menunjukkan tren yang semakin ketat.
"CTA menjadi penjual minyak mentah WTI pada hari ini, tetapi gambaran pasokan terus mengetat,” tulis analis TD Cowen dalam sebuah catatan.
Menurut mereka, serangan terhadap terminal CPC berpotensi memangkas ekspor minyak Rusia sekitar 1 juta hingga 2 juta barel per hari dibandingkan rata-rata pengiriman pada Juni. Gangguan pasokan bahkan dapat berlangsung lebih lama apabila serangan drone terus terjadi.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Rusia juga memutuskan memperpanjang larangan ekspor diesel hingga 1 September. Kebijakan itu mendorong harga kontrak berjangka heating oil melonjak hingga 3,7 persen pada perdagangan Kamis.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id







































