tirto.id - Pernah kepikiran nggak, kalau orang zaman Mesir Kuno sudah memakai eyeliner tebal ala Cleopatra? Ini membuktikan bahwa sejarah kosmetik sudah dimulai sejak lama. Lantas, sejak kapan sebenarnya manusia mulai menggunakan kosmetik?
Secara umum, kosmetik adalah produk yang digunakan untuk membersihkan, merawat, atau mempercantik tampilan tubuh, terutama kulit dan wajah. Namun, di masa lampau, fungsi kosmetik jauh lebih luas daripada sekadar estetika.
Di berbagai peradaban kuno, riasan digunakan dengan berbagai tujuan, termasuk ritual keagamaan dan simbol status sosial. Zaman dulu, beberapa kosmetik (seperti makeup mata) dipercaya dapat mengusir roh jahat, sementara jenis kosmeti lain dapat mencerminkan kemewahan dan penanda status bangsawan.
Tak hanya itu, kosmetik pada zaman dahulu juga berfungsi sebagai perlindungan tubuh. Di Mesir Kuno, misalnya, penggunaan kohl pada mata dipercaya mampu melindungi dari silaunya sinar matahari.
Dikutip dari laman Cosmetics Europe, mereka juga menggunakan minyak-minyak tertentu untuk melembutkan kulit sekaligus melindunginya dari angin dan matahari. Sementara pada 3000 SM, orang-orang Turki menggunakan krim dari lemak hewan untuk melembutkan sekaligus menenangkan kulit.
Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan bahwa sejarah kosmetik sudah dimulai sejak ribuan tahun lalu dan dimanfaatkan untuk kecantikan, perlindungan, ritual, hingga penanda status sosial. Semuanya terjadi jauh sebelum kita mengenal kosmetik dengan berbagai merek di zaman modern seperti sekarang.
Sejarah Panjang Kosmetik dari Masa ke Masa

Kosmetik bukanlah tren yang baru muncul dalam beberapa dekade terakhir. Sejak ribuan tahun lalu, manusia dari berbagai peradaban telah mengenal dan menggunakan bahan-bahan alami untuk merawat tubuh dan mempercantik diri.
Berikut ringkasan sejarah kosmetik dari masa ke masa seperti dikutip dari situs American Cosmetic Association:
1. Awal Mula Kosmetik di Peradaban Kuno
Sejarah kosmetik telah dimulai ribuan tahun lalu, setidaknya sejak 7.000 tahun silam. Di berbagai peradaban zaman dulu seperti Mesir Kuno, kosmetik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.Pria dan wanita sama-sama menggunakan riasan, bukan hanya untuk mempercantik diri, tapi juga untuk tujuan spiritual. Gambaran Cleopatra dengan mata berbingkai kohl dan bibir merah menyala menjadi ikon standar kecantikan pada masa itu.
Kohl (campuran jelaga dan bahan lainnya) dipakai untuk mengurangi silau matahari sekaligus dipercaya melindungi diri dari roh jahat.
Tak hanya Mesir, masyarakat di wilayah Mesopotamia seperti bangsa Sumeria dan Babilonia juga memanfaatkan batu permata yang dihancurkan untuk membuat riasan mata dan bedak wajah.
Pada masa ini, kosmetik erat kaitannya dengan status sosial dan praktik keagamaan. Semakin mahal bahan yang digunakan, semakin tinggi pula posisi sosial pemakainya.
2. Masa Yunani dan Romawi
Di era peradaban klasik seperti Yunani dan Romawi Kuno, kosmetik terus berkembang dengan ciri khas masing-masing. Dulu, perempuan Yunani memiliki standar kecantikan berupa kulit pucat sebagai simbol kemewahan dan kehidupan para bangsawan.Untuk mendapatkannya, mereka menggunakan bedak berbahan dasar timbal (yang di zaman modern diketahui berbahaya bagi kesehatan).
Sementara itu, perempuan Romawi cenderung menyukai tampilan yang lebih natural, tapi tetap menggunakan kosmetik dari bahan kapur dan timbal putih sebagai pencerah serta perona pipi untuk mempercantik wajah.
Bangsa Romawi juga terkenal dengan penggunaan parfum, bahkan memperkenalkan konsep minyak dan losion beraroma.
3. Abad Pertengahan: Saat Riasan Dianggap Dosa
Memasuki Abad Pertengahan di Eropa, penggunaan kosmetik mengalami kemunduran drastis. Pengaruh gereja Kristen sangat kuat, dan menghias diri sering dianggap sebagai bentuk kesombongan atau dosa.Standar kecantikan pun beralih pada tampilan alami tanpa riasan mencolok. Akibatnya, praktik makeup tidak lagi populer seperti sebelumnya. Namun, kondisi ini tidak berlaku di seluruh dunia.
Di wilayah kekuasaan Islam, penggunaan parfum dan perawatan tubuh tetap berkembang. Tradisi merawat diri justru terus dipelihara, menunjukkan bahwa pandangan terhadap kosmetik sangat dipengaruhi oleh nilai budaya dan agama masing-masing masyarakat.

4. Masa Renaissance: Kebangkitan Tren Kecantikan
Era Renaissance membawa angin segar bagi dunia kecantikan di Eropa. Minat terhadap seni, budaya, dan estetika kembali bangkit, termasuk dalam hal penampilan.Kulit putih pucat kembali menjadi tren, dan perempuan menggunakan timbal putih untuk mencapainya. Bibir dan pipi merah juga kembali populer sebagai simbol vitalitas dan status sosial.
Parfum juga semakin diminati, terutama di kalangan bangsawan yang memesan aroma khusus sesuai selera pribadi. Meski banyak bahan kosmetik yang berbahaya, termasuk penggunaan timbal, permintaan terhadap produk kecantikan terus meningkat.
5. Abad 18 dan 19: Revolusi Industri Kosmetik
Revolusi Industri menjadi titik balik penting dalam sejarah kosmetik. Teknik produksi massal membuat produk kecantikan lebih terjangkau dan tidak lagi terbatas pada kalangan bangsawan. Di Prancis, perusahaan seperti Guerlain muncul sebagai pelopor parfum modern yang reputasinya bertahan hingga kini.Di Amerika Serikat, tokoh seperti Elizabeth Arden dan Helena Rubinstein membuka salon kecantikan dan mengembangkan lini produknya sendiri. Hal ini pun membuat industri kosmetik semakin berkembang pesat.
6. Abad 20: Lahirnya Raksasa Kosmetik
Memasuki abad ke-20, perkembangan kosmetik berkembang menjadi bisnis global dengan nilai yang jauh lebih besar. Pada 1909, Eugène Schueller mendirikan L'Oréal yang awalnya berfokus pada pewarna rambut. Perusahaan ini kemudian berkembang pesat dan menjadi salah satu pemimpin pasar dunia.Di Amerika Serikat, merek seperti Estée Lauder dan Revlon memperkenalkan strategi pemasaran inovatif, termasuk penggunaan selebritas dan iklan massal. Pendekatan ini mengubah cara produk kecantikan dipromosikan dan menciptakan standar baru dalam industri.
7. Perkembangan Kosmetik di Era Modern
Akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21 ditandai dengan diversifikasi besar-besaran. Industri kecantikan mulai lebih inklusif, menghadirkan pilihan warna dan formula untuk berbagai warna serta jenis kulit.Transformasi digital turut semakin mempercepat perubahan. E-commerce, media sosial, ulasan online, hingga influencer marketing memainkan peran besar dalam keputusan pembelian konsumen.
Selain itu, tuntutan terhadap produk ramah lingkungan dan kosmetik yang diproduksi secara etis semakin menguat. Industri kosmetik pun bukan hanya soal tampil cantik, tapi juga tentang nilai, transparansi, dan tanggung jawab sosial.
Sejarah Perkembangan Kosmetik di Indonesia

Di Indonesia, praktik kecantikan juga memiliki sejarah yang tak kalah panjang dan kaya akan nilai budaya. Sejarah kosmetik di Indonesia sejatinya sudah dimulai sejak puluhan, bahkan ratusan tahun silam, jauh sebelum masa penjajahan Belanda.
Mengutip salah satu dokumen dari Repository UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, terdapat sejumlah naskah kuno yang menceritakan kebiasaan para putri raja yang merawat diri menggunakan bahan-bahan alami seperti kunyit, bengkuang, beras tumbuk, hingga telur untuk masker rambut.
Ramuan ini tidak hanya bertujuan mempercantik, tapi juga menjaga kesehatan kulit dan rambut. Pengetahuan tersebut lantas diwariskan secara turun-temurun, dari orang tua kepada anak, dan perlahan menyebar dari lingkungan istana ke masyarakat luas yang terinspirasi oleh kecantikan para permaisuri dan putri raja.
Memasuki abad 20, praktik perawatan tradisional mulai berkembang menjadi industri kosmetik yang lebih terstruktur. Salah satu kisah penting dalam sejarah kosmetik Indonesia datang dari Ciamis, Jawa Barat, melalui sosok Siti Marijah yang dikenal sebagai pelopor Saripohatji.
Saripohatji sendiri merupakan merek bedak dingin yang sampai saat ini masih dicari oleh banyak orang. Siapa sangka, merek kosmetik legendaris ini memiliki sejarah panjang yang berakar dari perawatan kulit tradisional.
Dilansir dari laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Saripohatji lahir dari kebiasaan merawat diri yang dilakukan oleh Siti Marijah. Di masa itu, perempuan cantik ini merawat wajah dan tubuh dengan bahan-bahan alami hingga tampak semakin bercahaya.
Alhasil produk racikannya langsung menarik perhatian para tetangganya, bahkan perempuan Belanda di masa itu. Terinspirasi oleh respons positif tersebut, Siti Marijah akhirnya mendirikan industri rumahan sekitar tahun 1927.
Nama “Saripohatji” pun dipilih dan terinspirasi dari legenda Sunda tentang Dewi Padi, Nyai Pohaci Sanghyang Asri yang merupakan simbol kesuburan.
Pada periode 1960-1980, Saripohatji mencapai masa kejayaan dan menjadi primadona di Ciamis. Produk ini tidak hanya laris di pasar lokal, tapi juga dikenal hingga mancanegara.
Meski sempat berhenti produksi pada 2007 karena persaingan industri yang semakin ketat, Saripohatji kembali aktif pada 2011 untuk memenuhi permintaan pasar yang tetap ada.
Di masa sekarang, kosmetik Indonesia tak hanya mengenal Saripohatji, tapi terus berkembang pesat dengan munculnya berbagai merek produk lokal yang diproduksi dan dikemas dengan cara yang lebih modern.

Demikian penjelasan singkat tentang sejarah kosmetik di dunia. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa kosmetik telah berkembang sejak ribuan tahun lalu, dan Indonesia sudah mengenal tren kecantikan dari masa kerajaan hingga berkembang menjadi industri modern yang dinamis di masa sekarang.
Tradisi perawatan diri yang dahulu berbasis ramuan alami dan diwariskan secara turun-temurun kini bertransformasi menjadi inovasi produk yang didukung riset, teknologi, dan standar keamanan yang semakin ketat.
Meski bentuk dan kemasannya berubah, esensi kosmetik sebagai bagian dari identitas, budaya, dan cara manusia merawat dirinya tetap bertahan.
Dari masa keraton hingga era digital, dari lulur tradisional hingga brand global dan lokal yang mendunia, kosmetik terus beradaptasi mengikuti zaman tanpa sepenuhnya meninggalkan akar sejarahnya.
Temukan berbagai informasi menarik lain seputar kosmetik, termasuk tips dan rekomendasi produk, melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id


































