Menuju konten utama

Salah, Vaksin HPV Adalah Upaya Depopulasi & Sterilisasi Anak

Tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin HPV menyebabkan infertilitas, merusak organ reproduksi, maupun digunakan untuk mengurangi populasi.

Salah, Vaksin HPV Adalah Upaya Depopulasi & Sterilisasi Anak
Periksa Fakta Vaksin HPV untuk depopulasi. foto/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim vaksin Human Papillomavirus (HPV) merupakan bagian dari agenda “depopulasi” melalui “sterilisasi senyap”. Unggahan tersebut menyebut sejumlah kandungan vaksin, seperti polysorbate 80 dan aluminium, dapat merusak organ reproduksi serta menyebabkan kemandulan pada anak laki-laki dan perempuan.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Arum Nuswantari” (arsip) pada Minggu (9/8/2026). Dalam unggahan tersebut juga menyertakan gambar koran Yogya Tribun terkait jangkauan imunisasi HPV sebanyak 3146 anak laki-laki yang dijadikan sasaran mulai Agustus 2026.

Pengunggah menuliskan keterangan dalam unggahan bahwa pemberian vaksin HPV sebagai upaya depopulasi atau pengurangan jumlah penduduk.

"Apa sebenarnya di balik ini? Depopulasi?" Jawaban singkatnya: YA.

Tapi bukan dgn cara Thanos (jentikkan jari & separuh mati seketika). Itu terlalu dramatis & picu pemberontakan.

Metode mereka adalah "SOFT KILL" (Pembunuhan Halus) atau lebih tepatnya "STERILISASI SENYAP".

Mari kita bedah isi "Cocktail" yg akan disuntikkan ke anak laki-2 & perempuan Anda, & knp target utamanya adalah RAHIM dan TESTIS.

KESIMPULAN : Vaksin HPV adalah Gerbang Sterilisasi. Dulu sasarannya hanya "Pabrik" (Rahim Wanita). Sekarang sasarannya diperluas ke "Penyuplai Bahan Baku" (Sperma Pria). Jika kedua sisi sudah "dikunci" secara kimiawi pd usia 11 tahun… Maka selamat datang di masa depan yg sunyi. Di mana sekolah TK akan kosong, & taman bermain akan berkarat krn tidak ada anak kecil. Anda tidak sedang selamatkan anak Anda dari kanker. Anda sedang serahkan cucu masa depan Anda kpd Tuhan Farmasi.

Side Effect HPV

Sindrom Guillain-Barré (GBS) dan Cedera Vaksin https://share.google/O3VKVV5YoJEpWfFVa

Dapatkah vaksin HPV menyebabkan Guillain-Barré? Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan bahwa kasus Guillain-Barré telah dilaporkan setelah vaksinasi HPV.” Begitu narasi tertulis dalam keterangan unggahan.

Sampai artikel ini ditulis pada Rabu (12/8/2026), unggahan tersebut masih beredar di media sosial. Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Sae Fudinov” yang telah mendapatkan 23 tanda suka, 2 komentar dan 45 kali dibagikan.

Unggahan tersebut juga mengaitkan program vaksinasi HPV dengan agenda “globalis elit” dan menyebut pemberian vaksin kepada anak sebagai upaya mengurangi jumlah penduduk. Unggahan yang sama juga menyinggung laporan Guillain-Barré syndrome (GBS) setelah vaksinasi HPV sebagai bukti adanya cedera akibat vaksin.

Juga ditemukan unggahan serupa pada akun Facebook "Aserika Buulolo" dan "Paulspretel Warung PaulHobby".

Lantas, benarkah pemberian vaksin HPV sebagai upaya depopulasi dan sterilisasi anak?

Periksa Fakta Vaksin HPV untuk depopulasi

Periksa Fakta Vaksin HPV untuk depopulasi. foto/Hotline periksa fakta tirto

Penelusuran Fakta

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) telah meninjau penelitian mengenai vaksin HPV dan infertilitas. Setelah menelaah lebih dari 160 studi, WHO menyatakan tidak terdapat bukti yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antara vaksin HPV dan infertilitas. Penelitian mengenai primary ovarian insufficiency (POI) atau gangguan fungsi ovarium, juga tidak menemukan hubungan kausal dengan vaksin HPV.

Dalam laman WHO terkait polysorbate 80, juga dijelaskan bahwa klaim polysorbate 80 menyebabkan infertilitas berasal dari penelitian pada tikus baru lahir yang diberikan dosis 20–200 kali lebih tinggi dibandingkan jumlah polysorbate 80 dalam vaksin Gardasil. WHO menyatakan, tidak terdapat bukti bahwa kandungan polysorbate 80 pada vaksin HPV membahayakan reproduksi atau kesuburan manusia.

Sementara itu, aluminium memang digunakan pada sejumlah vaksin sebagai adjuvant, yakni bahan yang membantu meningkatkan respons imun. WHO menyatakan, vaksin yang mengandung garam aluminium aman dan jumlah aluminium dalam vaksin sangat kecil dibandingkan paparan aluminium dari makanan sehari-hari.

Dengan demikian, klaim bahwa kandungan polysorbate 80 dan aluminium dalam vaksin HPV merupakan “agen kebiri kimiawi” atau sengaja ditujukan untuk merusak ovarium dan testis tidak didukung bukti ilmiah.

Lebih lanjut, klaim terkait “depopulasi” juga tidak didukung bukti ilmiah, faktanya vaksin HPV diberikan untuk mencegah infeksi HPV yang dapat berkembang menjadi berbagai jenis kanker, termasuk kanker serviks.

WHO menjelaskan vaksin HPV menggunakan virus-like particles (VLP) dan tidak mengandung materi genetik virus maupun virus hidup sehingga tidak dapat berkembang biak atau menyebabkan infeksi.

Senada dengan hal itu, Kementerian Kesehatan lewat pesan WhatsApp pada Selasa (11/08/2026) menyatakan kepada Tirto, bahwa isu yang menyebut vaksin HPV menyebabkan kemandulan, menopause dini, maupun merupakan bagian dari upaya depopulasi adalah tidak benar atau hoaks.

⁠Faktanya, imbuh Kemenkes, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa vaksin HPV menyebabkan kemandulan pada laki-laki maupun perempuan. Vaksin HPV diberikan untuk melindungi dari infeksi Human Papillomavirus (HPV), yang menjadi penyebab utama berbagai jenis kanker, seperti kanker serviks, anus, penis, vulva, vagina, dan kanker orofaring (tenggorokan)

"Vaksin HPV telah melalui uji keamanan dan efektivitas yang ketat serta memperoleh izin edar dari BPOM RI. Vaksin HPV juga direkomendasikan oleh WHO, Komite Imunisasi Nasional (KIN), dan Kementerian Kesehatan RI," tegas Kemenkes, Selasa.

Kemenkes juga terus memantau keamanannya melalui sistem pemantauan nasional maupun global. Hingga saat ini, menurut Kemenkes, vaksin HPV telah digunakan secara luas di berbagai negara sebagai bagian dari program imunisasi untuk mencegah kanker akibat infeksi HPV.

Kementerian Kesehatan RI memasukkan vaksin HPV dalam strategi eliminasi kanker serviks. Pemerintah menargetkan 90 persen anak perempuan dan laki-laki mendapatkan vaksin HPV sebelum usia 15 tahun pada 2030. Kemenkes juga menjalankan skrining kanker serviks, sehingga vaksinasi dan skrining merupakan dua strategi pencegahan yang saling melengkapi.

Klaim bahwa kanker serviks hanya dapat dicegah dengan “seks sehat” dan skrining juga tidak tepat. Skrining penting untuk mendeteksi perubahan pra kanker atau kanker secara dini, tetapi vaksinasi berfungsi mencegah infeksi HPV yang menjadi penyebab utama kanker serviks. Karena itu, vaksinasi tidak menggantikan skrining, dan skrining juga tidak menggantikan vaksinasi.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah melakukan sejumlah strategi untuk mengatasi masalah kanker serviks di Indonesia antara lain vaksinasi HPV kepada anak-anak perempuan usia sekolah dan melakukan skrining deteksi kanker serviks sedini mungkin untuk perempuan-perempuan Indonesia. Bahkan, pemerintah sudah melakukan pilot project vaksinasi HPV gratis di sekolah-sekolah di Jakarta. Pemerintah juga sudah melakukan treatment atau perawatan yang adekuat untuk kanker serviks di Indonesia.

Selanjutnya, Kementerian Kesehatan mengembangkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pemberantasan Kanker Serviks untuk Indonesia (2023-2030). Visi masa depan rencana aksi ini, yakni membuat kanker serviks sebagai penyakit masa lalu, serta setiap perempuan pada semua demografi sosial ekonomi dapat hidup sehat dan bebas dari ancaman kanker serviks.

WHO menyatakan vaksin HPV ditujukan untuk mencegah infeksi HPV dan kanker yang berkaitan dengan HPV, terutama kanker serviks. WHO juga telah meninjau lebih dari 160 studi keamanan dan menyimpulkan bahwa bukti yang tersedia tidak mendukung hubungan vaksin HPV dengan infertilitas maupun primary ovarian insufficiency (POI).

Tidak ditemukan bukti ilmiah yang mendukung klaim vaksin HPV sebagai sarana depopulasi. Bukti keamanan yang ditinjau WHO juga tidak menunjukkan hubungan antara vaksin HPV dan infertilitas. Vaksin HPV ditujukan untuk mencegah infeksi HPV dan kanker terkait HPV.

Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa terdapat laporan GBS setelah vaksinasi HPV. Namun, adanya laporan setelah vaksinasi tidak otomatis membuktikan vaksin sebagai penyebabnya.

Dalam laman American Academy of Neurology, pada 2006–2008 memang terdapat 36 laporan GBS setelah vaksinasi HPV di Amerika Serikat. Sebanyak 75 persen laporan menyebut kejadian berlangsung dalam enam minggu setelah vaksinasi. Namun, analisis yang dikutip American Academy of Neurology menyimpulkan, bahwa GBS tidak terjadi lebih sering setelah vaksinasi HPV dibandingkan angka yang ditemukan pada populasi umum.

Vaksin HPV tidak meningkatkan risiko terkena sindrom Guillain-Barré, menurut sebuah studi yang dirilis dan dipresentasikan pada Pertemuan Tahunan ke-61 American Academy of Neurology di Seattle, 25 April hingga 2 Mei 2009.

Sebagai informasi, Guillain-Barré adalah gangguan yang menyebabkan kelemahan otot dan kesemutan yang dapat berkembang menjadi kelumpuhan. Meskipun dapat mengancam jiwa, sebagian besar orang pulih dengan sedikit masalah yang tersisa.

Children’s Hospital of Philadelphia menyatakan bahwa studi lain juga tidak menemukan peningkatan risiko GBS yang bermakna setelah vaksinasi HPV. Penelitian Vaccine Safety Datalink yang memantau lebih dari 2,7 juta dosis vaksin HPV kuadrivalen pada periode 2006–2015 menemukan angka GBS terkonfirmasi dalam 42 hari setelah vaksinasi sebesar 0,36 kasus per satu juta dosis, lebih rendah daripada angka latar belakang yang dipublikasikan pada populasi umum usia 11–18 tahun.

Dalam laman National Library of Medicine, temuan tersebut sejalan dengan tinjauan sistematis dan meta-analisis Boender dkk. (2022) yang mencakup 25 penelitian dan lebih dari 10 juta laporan. Meta-analisis menghasilkan rasio risiko gabungan 1,21 (95% CI 0,60–2,43), yang tidak menunjukkan peningkatan risiko GBS yang signifikan secara statistik. Para peneliti menyimpulkan risiko absolut dan relatif GBS setelah vaksinasi HPV sangat rendah.

Centers for Disease Control and Prevention menyatakan bahwa vaksin HPV aman dan risiko GBS setelah vaksinasi HPV sangat jarang, sementara pemantauan keamanan vaksin terus dilakukan.

Lebih dari 15 tahun pemantauan dan penelitian telah mengumpulkan bukti yang meyakinkan bahwa vaksinasi HPV memberikan perlindungan yang aman, efektif, dan tahan lama terhadap kanker yang disebabkan oleh infeksi HPV.

Kesimpulan

Hasil penelusuran menunjukkan bahwa klaim vaksin HPV merupakan bagian dari agenda depopulasi atau sterilisasi anak bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

Tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin HPV menyebabkan infertilitas, merusak organ reproduksi, maupun digunakan untuk mengurangi populasi. WHO juga menyatakan tidak ada hubungan sebab-akibat antara vaksin HPV dan infertilitas.

Selain itu, laporan GBS setelah vaksinasi tidak membuktikan hubungan sebab-akibat, berbagai penelitian juga menunjukkan tidak ada peningkatan risiko GBS yang signifikan. Faktanya, vaksin HPV diberikan untuk mencegah infeksi HPV dan kanker terkait HPV, terutama kanker serviks.

Kepada Tirto, melalui pesan WhatsApp, Kementerian Kesehatan menyampaikan imbauan, agar masyarakat mencari informasi kesehatan dari sumber resmi yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti berbagai kanal resmi dari Kementerian Kesehatan, BPOM, dan WHO. Masyarakat juga diharapkan tidak mudah mempercayai atau menyebarluaskan informasi kesehatan yang belum terverifikasi kebenarannya.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto