tirto.id -
Dalam perkara tersebut, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Presiden Direktur Summarecon, Adrianto Pitojo Adhi sebagai salah satu tersangka dalam perkara tersebut. Selain itu, KPK juga menetapkan tujuh tersangka lainnya, di antaranya: Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (PPTR) ATR/BPN Lampri; Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I, Sontang Coin Manurung; dan Rizal Fahlevi selaku pihak swasta.
Lalu, Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq yang juga Politikus Golkar; Arif Sugiyanto yang juga mantan Bupati Kebumen; Erwin; dan Muhammad Fakhry. Empat tersangka ini diduga orang kepercayaan Nusron.
Ramainya pembahasan mengenai keterlibatan Nusron dalam dugaan kasus suap tersebut membuat sejumlah misinformasi muncul di media sosial. Salah satu yang Tirto temukan adalah unggahan di platfom Facebook yang menyebut bahwa Nusron menerima sedikit uang suap. Sementara, Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) disebut menerima uang suap hingga Rp700 miliar yang diantarkan langsung ke kediamannya.
“Nusron Wahid: Saya Menerima Uang Suap Sedikit, Presiden Joko Widodo Menerimanya Banyak dari Anak Buah Saya Mencapai Rp700 Miliyar Diserahkan Kerumahnya”, demikian yang tertulis dalam konten berupa tangkapan layar artikel yang mengatasnamakan CNN Indonesia. Terdapat juga keterangan waktu yang tercantum dalam tangkapan layar artikel tersebut, yakni Kamis, 17 September 2026.
Unggahan tersebut Tirto temukan dalam akun Facebook "Maria Ulfa" (arsip). Kreator konten itu mengunggah kontennya dalam unggahan Group title pending pada Senin (21/9/2026). Hingga Selasa (22/9/2026) siang, unggahan tersebut telah mengumpulkan sebanyak 217 like, 147 komentar, dan 35 kali dibagikan.
Berdasarkan pantauan Tirto, komentar-komentar teranyar menunjukkan bahwa sejumlah pengguna Facebook cukup memercayai unggahan itu. Warganet bahkan meminta KPK untuk memeriksa Nusron dan Jokowi tanpa terkecuali.
Unggahan serupa juga ditemukan pada akun Facebook "Wa Ones S. Karmawan", "Thoyib Hudha", "Muadi Sanita", "Roman", dan akun X @alisyarief.
Pada platform yang sebelumnya dikenal dengan Twitter, konten tangkapan layar yang diunggah oleh akun @alisyarief tersebut juga menambahkan cuitan sebagai berikut: “KPK Telusuri Dugaan Suap di Lingkungan ATR/BPN, Klaim Nusron Terima Suap dan Aliran Rp700 Miliar ke Jokowi Belum Terverifikasi fusilatnews.com/kpk-telusuri-d…,”.
Konten yang diunggah pada 19 September 2026 pukul 7.27 WIB tersebut telah dilihat hingga 29,6K kali, mendapatkan lebih dari 1k like, 176 komentar, dan 610 kali dibagikan.
Meski begitu, tidak seperti pada unggahan di Facebook, banyak pengguna X yang berkomentar bahwa kabar yang disampaikan dalam unggahan @alisyarief tidak benar.
Lalu, bagaimana faktanya? Apakah tangkapan layar dari artikel CNN Indonesia terkait suap yang diterima Nusron Wahid dan Jokowi dalam unggahan Maria Ulfa benar adanya?

Pemeriksaan Fakta
Dengan foto dan waktu tayang yang sama persis, artikel yang diunggah CNN Indonesia justru memiliki judul “Menguak Misteri Keberadaan Nusron Usai KPK OTT Kasus HGB Summarecon”.
Selain itu, dalam artikel yang diunggah CNN Indonesia, sama sekali tidak menyinggung pernyataan Nusron yang mengaku telah menerima sedikit uang suap dan Jokowi menerima suap hingga Rp700 miliar.
Sebaliknya, artikel tersebut justru mempertanyakan keberadaan Nusron Wahid setelah dua hari tidak muncul dalam agenda pemerintahan pasca-OTT KPK terkait dugaan kasus suap HGB Summarecon, serta rangkaian perkembangan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK di lingkungan Kementerian ATR/BPN.
Beberapa poin penting dalam artikel CNN Indonesia tersebut di antaranya adalah, Nusron Wahid absen dalam dua rapat berturut-turut bersama Komisi II DPR (Selasa, 15 September dan Rabu, 16 September 2026) dan diwakili oleh Wakil Menteri ATR/BPN, Ossy Dermawan. Poin lainnya adalah, Ossy Dermawan menyatakan Nusron tidak hadir karena adanya kegiatan lain yang sudah terjadwal dan membantah kabar bahwa Nusron sedang sakit. Meski begitu, Ossy mengaku tidak mengetahui secara pasti keberadaan Nusron.
Lainnya, dalam artikel tersebut juga dilaporkan perihal operasi tangkap tangan terkait dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) tersebut mengamankan 17 orang serta barang bukti berupa 20 koper dan tas berisi uang tunai sekitar Rp100 miliar.
Di situ juga disebutkan perihal KPK menetapkan empat orang dekat/kepercayaan Nusron sebagai tersangka, yaitu Arif Sugiyanto, Fahd El Fouz (Fahd A Rafiq), Erwin, dan Muhammad Fakhry. Selain itu, artikel tersebut juga melaporkan tim penyidik KPK mendalami dugaan keterlibatan Nusron Wahid dalam kasus ini, mengingat namanya muncul dalam proses pemeriksaan. Sumber internal KPK juga menyebutkan dugaan bahwa uang tunai Rp100 miliar yang disita di rumah salah satu tersangka diakui milik Nusron.
Lebih lanjut, Tirto juga menemukan unggahan serupa dalam Threads dengan akun @jazuli_andini70, yang sudah diklarifikasi oleh Meta AI. Di situ, Meta mengklarifikasi demikian, "Gambar itu hoaks editan - tidak ada artikel CNN Indonesia 17 Sep 2026 dengan judul itu. Berita aslinya yang lagi ramai adalah OTT KPK 14 Sep 2026 terkait suap HGB Summarecon, KPK sita sekitar Rp106,3 miliar dalam 20 koper dan tetapkan 8 tersangka, 4 diantaranya disebut orang kepercayaan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid. Nama Nusron memang disebut dalam pemeriksaan tapi KPK bilang masih didalami dan belum ada pemeriksaan terhadap Nusron, apalagi klaim Jokowi terima 700 M diserahkan ke rumahnya."
Kesimpulan
Tirto tidak menemukan artikel CNN Indonesia dengan judul maupun isi seperti yang tercantum dalam tangkapan layar tersebut. Sebaliknya, foto dan waktu tayang yang digunakan dalam tangkapan layar memang berasal dari artikel CNN Indonesia, tetapi judul aslinya adalah “Menguak Misteri Keberadaan Nusron Usai KPK OTT Kasus HGB Summarecon”.
Artikel tersebut tidak memuat pernyataan Nusron mengenai penerimaan uang suap maupun klaim adanya aliran dana Rp700 miliar kepada Jokowi.
Dengan demikian, klaim bahwa Nusron Wahid mengaku menerima suap dan Jokowi menerima uang Rp700 miliar sebagaimana tercantum dalam tangkapan layar tersebut, tidak terbukti. Judul dalam tangkapan layar tersebut telah diubah, sehingga isi artikel CNN Indonesia seolah-olah menjadi pemberitaan mengenai pengakuan suap Nusron dan aliran dana kepada Jokowi.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id

































