Menuju konten utama

Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Kesehatan Anak Laki-Laki?

Meski menjadi langkah maju, perluasan vaksinasi HPV di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.

Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Kesehatan Anak Laki-Laki?
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) ke siswa di Sekolah Dasar Palmerah 09, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Pemerintah Kota Jakarta Barat menargetkan 18.531 siswa sekolah dasar (SD) se-Jakarta Barat mengikuti vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) pada 2026 guna memberikan perlindungan yang lebih luas terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus HPV. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Selama ini, vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) banyak dianggap sebagai upaya melindungi anak perempuan dari infeksi, kanker serviks, dan kanker lainnya. Tak bisa disebut salah karena penelitian WHO juga menyebut hampir seluruh kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV tipe organik. Namun sebenarnya, baik perempuan maupun laki-laki, tetap sama-sama berisiko terinfeksi.

Secara umum, HPV adalah infeksi menular seksual umum yang dapat menyerang kulit, area genital, area anus, dan tenggorokan. Hampir semua orang yang aktif secara seksual akan terinfeksi pada suatu saat dan biasanya tanpa disertai gejala.

Pada kebanyakan kasus, sistem imun mampu membersihkan virus secara alami. Namun, infeksi persisten oleh tipe HPV tertentu dapat menyebabkan perubahan sel yang berkembang menjadi lesi prakanker dan akhirnya kanker serviks bila tidak terdeteksi dan ditangani.

Proses tersebut umumnya berlangsung 15–20 tahun, tetapi dapat terjadi lebih cepat pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV yang tidak mendapat pengobatan.

Mengapa Vaksin HPV Juga Penting untuk Laki-Laki?

Menjadi penting untuk diperhatikan laki-laki sebab HPV juga dapat menginfeksi dan menyebabkan berbagai jenis kanker di sejumlah anggota tubuh, seperti anus, penis, mulut, dan tenggorokan.

Prevalensi HPV pada pria sangat bervariasi berdasarkan tren seksual, misalnya pria yang berhubungan seks dengan sesama pria dan lain sebagainya. Centers for Disease Control and Prevention juga menyebut bahwa kanker orofaring terkait HPV merupakan jenis kanker terkait HPV yang paling sering ditemukan pada laki-laki.

Beberapa infeksi HPV menyebabkan benjolan kecil dan kasar (kutil kelamin) yang dapat muncul di vagina, penis, atau anus, dan jarang di tenggorokan. Kutil ini dapat terasa nyeri, gatal, berdarah, atau menyebabkan pembengkakan kelenjar.

WHO sudah merekomendasikan negara-negara agar memasukkan vaksin HPV ke dalam program imunisasi nasional. Adapun tujuan dari program imunisasi ini adalah mencapai cakupan sebanyak 90% pada anak perempuan dan laki-laki sebelum usia 15 tahun pada 2030.

Di Indonesia, Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menyatakan mulai 2027 anak laki-laki usia 11 tahun akan menerima vaksin Human Papillomavirus (HPV) untuk menekan angka kanker rahim (serviks) di Indonesia.

Meskipun laki-laki tidak bisa menderita kanker serviks, dia menilai mereka bisa menjadi pembawa (carrier) dan menularkan virus HPV penyebab kanker serviks ke pasangan seksualnya.

"Pada 2027 kita akan mulai ke laki-laki usia 11 tahun. Meskipun mereka tidak bisa menderita kanker serviks, tetapi bisa transmitting the disease (membawa penyakitnya ke pasangan," kata Budi Gunadi, Rabu (4/2/2026), dilansir dari Antara.

Vaksinasi HPV di Jakarta Barat

Petugas kesehatan menunjukkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) di Sekolah Dasar Palmerah 09, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Pemerintah Kota Jakarta Barat menargetkan 18.531 siswa sekolah dasar (SD) se-Jakarta Barat mengikuti vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) pada 2026 guna memberikan perlindungan yang lebih luas terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus HPV. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz

Pada Agustus 2026 ini, bertepatan dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), Kemenkes mulai memberikan vaksin HPV kepada siswa laki-laki kelas 5 SD atau berusia sekitar 11 tahun di tiga provinsi.

Dengan jumlah pemberian satu kali, anak-anak di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali akan mendapatkan vaksin di sekolah dan atau di fasilitas kesehatan terdekat.

“Untuk BIAS Agustus, kita akun mulai memperkenalkan pemberian vaksin HPV pada anak laki-laki di tiga provinsi,” kata Direktur Imunisasi Kemenkes Indri Yogyaswari.

Bukti Ilmiah Semakin Kuat, Vaksin Juga Miliki Nilai Ekonomi

Keputusan memperluas vaksinasi HPV kepada anak laki-laki bukanlah kebijakan tanpa dasar. Penelitian yang dipublikasikan di The Lancet menunjukkan bahwa negara dengan cakupan vaksinasi HPV yang tinggi mengalami penurunan signifikan terhadap infeksi HPV, kutil anogenital, dan lesi prakanker serviks pada populasi yang divaksinasi.

Evaluasi program nasional di Inggris bahkan menunjukkan vaksinasi HPV berkaitan dengan penurunan nyata kejadian kanker serviks dan lesi prakanker berat.

Australia menjadi salah satu pelopor setelah memperluas vaksinasi HPV kepada anak laki-laki pada 2013, melengkapi program vaksinasi anak perempuan yang telah berjalan sejak 2007. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan program skrining yang kuat, Australia diproyeksikan menjadi salah satu negara pertama yang mampu mengeliminasi kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat.

Inggris juga mulai menawarkan vaksin HPV kepada anak laki-laki usia 12–13 tahun sejak 2019 melalui program vaksinasi sekolah nasional.

Langkah serupa juga dilakukan Kanada melalui program imunisasi HPV berbasis sekolah yang bersifat gender-neutral, sementara Amerika Serikat merekomendasikan vaksin HPV untuk anak laki-laki dan perempuan usia 11–12 tahun.

Selain penting dari sisi kesehatan, vaksin HPV juga memiliki nilai ekonomi yang besar. WHO menilai vaksinasi HPV, bersama skrining dan penanganan lesi prakanker, merupakan cara yang cost-effective untuk mencegah kanker serviks. Artinya, biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan melalui vaksinasi dinilai lebih efisien dibandingkan beban biaya yang harus ditanggung ketika kanker sudah terjadi.

Tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam jurnal Vaccines pada 2025 juga menunjukkan bahwa investasi pada vaksinasi HPV di negara-negara Asia Pasifik berpotensi mengurangi beban pembiayaan jangka panjang sistem kesehatan karena dapat menekan kejadian kanker serviks dan penyakit terkait HPV.

Dengan kata lain, biaya vaksinasi yang dikeluarkan saat ini berpotensi menghasilkan penghematan yang jauh lebih besar di masa depan melalui berkurangnya kebutuhan pengobatan kanker.

Meski menjadi langkah maju, perluasan vaksinasi HPV masih menghadapi sejumlah tantangan. WHO menilai pemerataan akses imunisasi sangat dipengaruhi oleh distribusi vaksin, ketersediaan tenaga kesehatan, dan sistem rantai dingin yang mampu menjangkau wilayah terpencil.

Tantangan lain adalah edukasi masyarakat, karena WHO melihat vaksin HPV paling efektif diberikan sebelum seseorang terpapar virus, sehingga sasaran utamanya adalah anak-anak dan remaja sebelum aktif secara seksual.

Selain itu, keberhasilan program sangat bergantung pada keberlanjutan pembiayaan dan tingginya cakupan imunisasi. Evaluasi berbagai program vaksinasi HPV di dunia menunjukkan bahwa penurunan infeksi dan lesi prakanker baru terlihat optimal pada negara yang mampu mempertahankan cakupan vaksinasi tinggi secara konsisten.

WHO juga mengingatkan pentingnya menjangkau anak-anak yang berada di luar sistem sekolah agar tidak ada kelompok yang tertinggal dari perlindungan vaksinasi.

Baca juga artikel terkait VAKSIN HPV atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - GWS
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto