Menuju konten utama

WHO: 915 Kasus Ebola dari Virus Bundibugyo di Kongo dan Uganda

Kasus penularan virus Ebola semakin tinggi di Kongo dan Uganda. Wilayah Ituri di Kongo menyumbang paling banyak hingga 91,1 persen atau 817 kasus.

WHO: 915 Kasus Ebola dari Virus Bundibugyo di Kongo dan Uganda
Ilustrasi Virus Ebola. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali merilis laporan mutakhir mengenai penyebaran penyakit Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo (BVD) di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

Dalam keterangan pers yang dirilis pada Jumat, 19 Juni 2026, situasi penularan di kawasan tersebut dilaporkan terus berkembang cepat dengan grafik kasus yang merangkak naik.

WHO menyampaikan akumulasi kasus terkonfirmasi di kedua negara telah menyentuh angka 915 pasien, dengan total korban jiwa mencapai 234 orang. Sebanyak 896 kasus dan 232 kematian terdeteksi di Kongo, sementara Uganda mencatat 19 kasus konfirmasi dengan 2 kematian, ditambah 1 kasus yang berujung meninggal dunia.

Meskipun angka kematian (Case Fatality Ratio) yang tercatat saat ini berada di kisaran 26 persen, WHO memperingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan besar merupakan estimasi yang terlalu rendah.

Di wilayah Kongo, jumlah penularan melonjak tajam dalam sepekan terakhir. Otoritas kesehatan setempat melaporkan adanya tambahan 220 kasus baru dan 96 kematian sejak pertengahan Juni. Lonjakan ini sebagian dipicu oleh peningkatan kapasitas diagnostik dan percepatan pemeriksaan sampel yang sebelumnya sempat tertunda.

Dalam sejumlah provinsi di Kongo, Ituri menjadi episentrum utama dengan menyumbang 91,1 persen (817 kasus) dari total keseluruhan infeksi di DRC. Sebaran kasus terkonsentrasi di zona kesehatan Bunia (247 kasus), Rwampara (195 kasus), Mongbwalu (189 kasus), dan Nyankunde (68 kasus).

Kendati demikian, virus dilaporkan telah meluas ke 33 zona kesehatan yang tersebar di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Penanganan wabah di Kongo menghadapi tantangan yang sangat pelik. Selain masalah kesehatan, tim medis di lapangan harus berhadapan dengan situasi keamanan yang tidak stabil akibat konflik bersenjata berkepanjangan.

Saat ini, setidaknya ada lebih dari 6.300 kontak erat di Kongo yang masih berada dalam pengawasan ketat. Atas kejadian tersebut, WHO menetapkan status risiko penularan di Republik Demokratik Kongo tetap berada pada level Sangat Tinggi (Very High) mengingat transmisi lokal yang masih aktif dan ekspansi geografis ke zona kesehatan baru.

Di sisi lain, tingkat risiko untuk Uganda dikategorikan Tinggi (High) karena adanya keterkaitan epidemiologis yang kuat di sepanjang koridor perbatasan negara tersebut dengan Kongo.

Baca juga artikel terkait WABAH EBOLA DI KONGO atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Ilham Choirul Anwar